The Girl, Oneshoot

Image

Title : The Girl

Author : magnaegihyun

Length : 1.421 words

Genre : Romance, Sad

Rating : T

Cast : Myungso Infinite, Suzy Miss A, and others.

 

***

When we are first meet –

“Perkenalkan ini teman baru kalian!”

Aku mendongakkan kepala dari buku yang kubaca. Aku melihat Yoon sonsaengnim sedang memperkenalkan anggota baru di klub ini. Ia seorang gadis manis berambut sepunggung. Tingginya kurasa cukup diatas rata-rata dan tumben aku peduli dengan tinggi seorang gadis yang tak kukenal. Aku pun kembali memfokuskan pandanganku ke buku yang kupinjam dari Sunggyu hyung mengabaikan gadis itu.

Myungso-ssi, bisakah kau bantu gadis ini untuk beradaptasi disini?” Yoon sonsaengnim tiba-tiba memanggilku.

Aku sontak mendongak dan memandang kaget pada sonsaengnim. Aku? Membantunya beradaptasi? Ya tuhan, apalagi kini salahku? Mengapa Yoon sonsaengnim sepertinya tak bisa membiarkanku istirahat sejenak? Setelah kemarin aku harus membantunya menyusun naskah drama baru untuk pentas kami selanjutnya. Dan belum lagi, teman satu flatku yang sepertinya tak mau tahu tentang kegiatanku.

Eotthe, Myungso-ssi? Kau tentu mau kan?” Kata Yoon sonsaengnim lagi sambil menatapku dengan tatapan berbahayanya.

Geuraeyo, sonsaengnim,” aku tersenyum pendek.

Anyeong haseyo, sunbae! Terima kasih untuk mau membantuku!”

Gadis itu membungkuk padaku dan aku hanya memandangnya bosan. Sepertinya ia sangat membosankan. Dan sifat cerianya itu kurasa membuatku cukup muak dengannya. Jangan bersikap manis pada seorang Kim Myungso, karena kau tak akan dapat mendapat perhatianku.

When I see you cry –

Aku menghela nafas kasar. Kemana sih gadis itu? Ia bilang ia akan keluar sepuluh menit lagi dan ini hampir tiga puluh menit ia tidak keluar juga. Apa aku perlu mendobrak pintu toilet wanita? Dan lihat di gedung ini sudah mulai sepi. Aiss, gadis ini sungguh merepotkan!

Akupun bangkit dari kursi di depan ruang drama dan mulai berjalan menuju toilet wanita yang terletak di barat ruangan ini. Aku berjalan pelan sambil bersenandung. Samar-samar kudengar suara tangisan. Aku mengerutkan kening. Sepertinya aku mengenal suara ini. Apa mungkin? Tapi ini kan masih di ruang loker klub drama?

Aku mendekati pintu itu dan kuputar kenopnya. Aneh, ini tidak bisa terbuka. Aku menempelkan telingaku di pintu itu. Terdengar suara tangisan itu lebih jelas. Akupun tak membuang waktu lebih lama. Aku mendobrak pintu itu lalu aku mencari di setiap deretan loker. Baru saja aku masuk kulihat seorang gadis sedang terduduk di lantai dengan penampilan yang sangat lusuh.

Akupun menghampirinya,”Gwenchanayo?”

Gadis itu mendongak lalu menyerukkan kepalanya kedadaku. Akupun memeluknya mencoba menenangkannya. Ternyata dugaanku benar. Gadis itu ada disini dan terlihat dari penampilannya ia baru saja dibully. Apa pikiranku ini benar? Apa jangan-jangan ia dibully oleh para fansku? Ya tuhan, aku tak menyangka fansku sebegitu buasnya sehingga gadis ini menjadi seperti ini.

“Sudah, uljimayo! Aku disini, tenang mereka tidak akan mengganggumu lagi!” Kataku mencoba menghilangkan tangisannya.

“Aku takut, sunbae. Aku takut aku akan diperlakukan seperti dulu. Dikucilkan juga dibully tanpa ampun,” sahutnya dengan suara parau.

Aku tertegun. Aku tak menyangka bahwa gadis ini mempunyai kenyataan yang pahit. Jadi sikap cerianya seperti biasa itu hanya akting semata?

When I know your story –

Aku membeku. Aku sungguh tak percaya. Mungkin ini hanya mimpi. Tidak, sungguh tak mungkin ini kenyataan. Ini pasti hanya khayalan. Tuhan, bangunkanlah aku! Tolonglah buat ini hanya mimpi dan sadarkanlah aku. Namun mengapa disaat aku menggigit bibirku yang terjadi malah aku merasakan sakit.

“Aku adalah anak seorang pembunuh berantai. Sejak kecil aku dikucilkan di lingkungan masyarakat dan ibuku pun pergi meninggalkanku. Aku selama ini hidup sendirian di luar negeri untuk menghindar dari semua caci dan maki dari teman-teman keluargaku.”

Aku teringat kembali ucapannya. Ya tuhan, sungguh kasihan sekali gadis itu. Ia harus menanggung kesalahan yang tak pernah ia perbuat. Ia harus menerima hinaan hanya karena ia adalah darah daging seorang pembunuh. Kurasa memang sejak dulu, hidup itu tak adil. Apa pernah gadis itu meminta ayahnya untuk membunuh? Apa pernah ia membantu ayahnya saat membunuh? Apakah orang-orang tak memiliki pikiran seperti itu?

When you’re smiling to me –

“Apa kau benar-benar sudah tak apa-apa?” Tanyaku cemas.

“Aku baik-baik saja, sunbae. Aku tak akan mati hanya karena flu!” Ia menjawab dengan senyumnya.

Deg!

Ya tuhan, mengapa sejak dulu aku tak menyadari bahwa senyumnya semanis itu. Apa karena itu sekarang detak jantungku tak berdetak normal? Dan kurasa aku harus mengubah ucapanku tentangnya yang kukatakan aku muak dengannya. Kurasa ia gadis yang baik dan manis. Kurasa aku akan nyaman dengannya.

“Oh ya, aku melihat kemarin saat sunbae menjengukku, sunbae tak mengenakan syal. Ini aku membuatkannya untukmu agar kau tak terserang flu sepertiku. Flu itu sangat menyebalkan loh!”

Ia mengeluarkan sebuah syal berwarna hitam. Ia mendekatiku dan memasangkan syal itu di leherku. Ia tersenyum sangat manis melihat syal itu berhasil bertengger manis di leherku. Aku mengelus rambutnya perlahan sambil tersenyum manis.

Gomawo atas syalnya, hoobae!”

When I think that you’ll go –

“Apa kau benar baik-baik saja? Kulihat wajahmu selalu pucat akhir-akhir ini.”

Aku menyentuh dahinya. Suhu tubuhnya normal namun warna kulit wajahnya tidak normal. Terlalu putih. Bahkan semu merah di pipinya itu jarang terlihat. Dan akhir-akhir ini ia juga sering terjatuh seperti tak dapat menopang tubuhnya.

Lagi-lagi ia hanya tersenyum,”Aku baik-baik saja, sunbae. Aku hanya kelelahan karena mempersiapkan pentas kali ini.”

Aku menatapnya agak sebal. Berulang kali setiap kutanya, ia hanya mengatakan bahwa ia hanya kelelahan. Apa mungkin kelelahan bisa terjadi setiap hari? Bukankah dulu saat aku kelelahan, aku tak akan pucat lagi setelah selesai istirahat. Tapi ini sungguh mengkhawatirkan. Ia terus-terusan pucat selama musim ini. Aku bahkan bermimpi ia meninggalkanku kemarin.

“Kau benar-benar baik kan?” Tanyaku lagi.

“Aku benar-benar sehat. Sunbae tak perlu cemas, aku akan menjaga kesehatanku.”

When my bad dream really happen –

“Apa kau tak mendengar kabar apapun darinya?” Tanya Yoon sonsaengnim serius.

Aku mengangguk. Sudah beberapa hari ini, gadis itu menghilang. Aku bahkan dibuat gila olehnya. Hari pertama saat ia hilang, aku menjemput ke apartemennya dan pemilik apartemennya telah berganti. Ketika aku menghubungi ponselnya, ponselnya tidak aktif terus menerus. Dan saat aku bertanya pada tetangganya, katanya ia pindah ke rumah orang tuanya dan tetangganya tak tahu dimana rumahnya.

“Ya sudah, berarti pemeran utamanya harus benar-benar diganti. Kalau begitu, aku permisi dulu, Myungso!” Ucap Yoon sonsaengnim sambil berlalu.

Aku pun berjalan menuju ruang loker dan tentu saja menuju lokerku. Aku sudah hampir dua minggu tak membukanya karena aku sibuk mencari gadis ini. Ada yang aneh di dalam loker ini. Ada sebuah kotak berwarna hitam di dalam sana. Aku pun mengambilnya dan menutup lokerku segera duduk di kursi di depan ruang loker itu.

Akupun membuka kotak itu. Aku mengernyit. Ada sebuah sapu tangan berwarna hitam bergaris putih dan agak lusuh. Tunggu, sepertinya aku pernah melihatnya entah dimana. Dan di bawahnya ada kertas berwarna putih. Akupun tertegun begitu membaca surat itu. Kenapa hidup kini tak adil bagiku?

***

Dear sunbae,

Kurasa aku harus meminta maaf dulu padamu. Aku tahu kau pasti sekarang sangat cemas padaku. Tapi bisakah sunbae tahan dulu kemarahanmu itu? Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu.

 

Apakah sunbae ingat saat berumur tujuh tahun sunbae menolong seorang gadis memakai rok berwarna merah? Apa sunbae ingat saat itu gadis itu sedang menangis dengan penampilan lusuh? Apa sunbae ingat bahwa sunbae memberikannya sebuah sapu tangan berwarna hitam bergaris putih? Tapi sebenarnya yang sangat aku yakin, sunbae sudah lupa pada wajah gadis itu. Apa sunbae juga ingat apa yang dikatakan sunbae saat itu?

 

‘Sudah, uljimayo! Aku disini, tenang mereka tidak akan mengganggumu lagi!’

 

Kata-kata itu selalu terngiang di otakku. Bahkan sunbae sudah mengatakan hal itu dua kali pada gadis itu. Apakah sunbae sadar bahwa gadis kecil itu adalah diriku? Kurasa hal itu tak terlalu berarti untukmu ya sunbae?

 

Dan kumohon maafkan aku tidak memberi sunbae kabar tentang kepergianku ini. Beberapa hari terakhir sunbae selalu bertanya mengapa wajahku selalu pucat kan? Aku mempunyai kulit yang sangat sensitif sunbae. Kulitku tidak akan pernah tahan dengan panas ataupun dingin. Meski aku sudah melakukan pengobatan selama beberapa tahun dengan pergi keluar negeri sebelumnya namun ini tidak pernah sembuh. Dan aku pun pergi lagi kali ini dengan alasan itu. Kurasa sunbae pun tak keberatan bukan? Aku tak berarti bagi sunbae kan?

 

Terima kasih untuk segalanya, sunbae…

Bae Suzy

 

***

 

Aku menangis sesenggukan. Aku sudah tak peduli lagi tentang hawa dingin yang menusuk kulitku. Biar saja aku mati kedinginan kali ini. Tak ada yang pernah peduli akan hidupku. Bahkan eomma pun meninggalkanku sendirian. Apa ini semua salahku? Apa salahku appa menjadi seorang pembunuh?

 

“Gwenchanayo?” Tanya seseorang.

 

Aku pun mendongak. Kulihat seorang anak lelaki seumuranku sedang berada di hadapanku. Ia membersihkan bajuku dari kotoran. Aku tertegun. Dia peduli padaku? Apa ini mimpi?

 

“Sudah, uljimayo! Aku disini, tenang mereka tidak akan mengganggumu lagi!” Ucapnya lembut.

 

Apakah dia seorang malaikat? Tangisanku pun mulai berhenti dan aku tak dapat henti hentinya memandangi wajahnya. Dia sangat tampan bagaikan malaikat. Dan di juga sangat baik. Kurasa hanya ia yang peduli padaku. Sedang semua anak menatapku dengan jijik.

 

Ia menyodorkan sebuah saputangan berwarna hitam dengan garis putih, “Ini untukmu. Jika kau menangis, kau bisa mengusap air matamu dengan ini!”

 

***

 

Eotthe? Ini fanfiction yang idenya muncul tiba-tiba dan padahal main castnya bukan si Lcosplay ini. Rencananya pengen buat dengan main cast Hoya tapi karena terpikirnya L ya sudah laah. Dan untuk si gadis sebenarnya nggak kepikiran siapa, tapi karena saya selalu terpikir bahwa suzy cocok sama si L, jadilah castnya mereka. Dan maaf agak nggak sesuai dengan karakter suzy. Kalau bener-bener nggak suka dengan suzy di castnya, anggap sebagai OC atau kalian sendiri, lagipula disini nggak terlalu nyebut nama suzy. Hope you like it!

GIVE ME YOUR FEEDBACK »»»

Advertisements

26 thoughts on “The Girl, Oneshoot

  1. Siapa yg bilang kita gak suka suzy thor? Malah suka pake banget suzy biasku. Dan aku juga MyungZy shipper. Bikin lagi dong yg main cast myungsoo suzy thor. 🙂

    1. kan mungkin aja banyak yang lebih suka myungyeol, myungyeon, ato sapaa? sama dong kalo gitu, suzy juga biasku! masih proses dalam pembuatan sequel mungkin dan beberapa ff lainnya. gomawo for RCL c:

  2. baru nemu wp mu masa -_- haha.
    aku mah kalau myungzy apapun ceritanya selalu dsuka kok…rajin” buat myungzy yah 🙂 hhehe
    ini sad ending…tapi nice story… 🙂

  3. Wiih aku br baca ff ini #telat
    Ceritanya bagus
    Tdinya ku pikir suzy sakit atau apa eh tp iya deng emg sakit aigo kasian uri suzy
    Cieee myung udh falling in love sm suzy nih ceritanya kekeke
    Penasaran knp dulu myung mau nemenin suzya padahal anak2 lain aja pd benci bgt sm suzy hmmm
    Ini blm end kan ya thor msh ada sekuel nya kan? Gantung bgt ini klo berhenti gini aja hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s