The Second, Oneshoot

  1. Judul : The Second
  2. Author : sharesherli7
  3. Cast : Kim Hye Lim Hello Venus, Kim Joon Myun EXO and other
  4. Genre : Family, Romance, etc
  5. Length : 5.617 words
  6. Abstrak cerita : Seorang Kim Hye Lim tahu bahwa ia akan menjadi nomor dua dibanding adiknya, Kim Hye Ri. Ia tak merasa bersalah karena ia tahu setiap orang pasti memiliki kelebihan masing-masing. Namun apakah ia dapat menjadi nomor satu jika ia menuruti orang tuanya untuk bertunangan?
  7. Isi cerita :

 

Kurasa aku tak memiliki opsi lain selain menuruti keinginan kedua orang tuaku. Aku sebagai anak pertama harus berbakti untuk mereka. Ia paham kedua orang tuanya sebenarnya juga berbicara tentangnya selama ini. Ia tahu tahu aku tak seperti Hye Ri, adikku yang pintar, berbakat, rupawan, tinggi dan terkenal. Aku juga tak bisa menjadi penyanyi terkenal sepertinya sekarang. Sehingga hal yang dapat kulakukan untuk mereka hanyalah menjadi penyelamat usaha orang tuaku.

Aku tak menyalahkan diriku sendiri yang begitu berbeda dengan Hye Ri. Ia tahu kepintaranku hanya standar, tinggiku juga rata-rata, dan bakatku berbeda dengannya. Aku hanya bisa menari dengan gerakan yang terkadang tidak terlalu bagus. Tapi setidaknya ada beberapa hal yang dapat kubanggakan dari Hye Ri. Kami berdua sangat berbeda dalam hal kepribadian. Hye Ri cenderung pendiam dan dingin sehingga ia dikenal sebagai gadis misterius. Sedangkan aku adalah gadis yang menurut semuanya cukup ramah dan hangat.

Ah tidak, aku hampir lupa! Aku harus segera berbenah sebelum menemui Tuan Kim dan anaknya. Aku harus tampil sangat memukau untuk mereka. Sehingga apa yang diharapkan orang tuaku dan Tuan Kim dapat terlaksana. Aku segera mengambil gaun yang berwarna merah. Gaun itu tidak terlalu pendek, panjangnya selutut dengan tali tipis untuk bahuku. Kurasa aku tak harus berpenampilan terlalu berlebihan bukan. Paling tidak aku harus tampil menjadi gadis manis yang memukau.

Ingatanku melayang pada saat aku membeli gaun ini. Aku ingat aku membelinya dengan Hye Ri tiga tahun lalu. Saat itu Hye Ri masih belum terkenal. Kami berdua sering membeli baju yang sama dan bahkan bertukar baju. Tapi itu semua kini sudah berubah. Sejak dua tahun lalu, ia menjauhiku dan tampak sangat membenciku. Dan yang aku pertanyakan, apa yang ia benci dariku. Aku tak memiliki apapun yang pantas ia irikan. Bahkan orang tuaku lebih menyayanginya daripadaku. Apakah ekspresi itu tidak salah? Akulah yang sering dilupakan. Akulah yang sering tertindas. Akulah yang paling terkucilkan. Aku tak pernah dibanggakan. Tapi aku tak pernah sekalipun ada niatan untuk membenci Hye Ri. Namun apa-apaan ini? Bagaimana bisa ia malah membenciku? Semua hal itu membuat perasaan yang sejak dulu kuhindari muncul kembali ke permukaan. Hal itu membuatku akan tampak seperti iblis yang penuh keirian dan kedengkian.

“Hye Lim-ahh, cepatlah. Sepuluh menit lagi kita berangkat!”

Kudengar suara ibuku memanggil dari ruang tamu. Aku paham betul. Kedua orang tuaku memang menyayangiku. Tapi hal yang paling kubenci dan tak ingin aku dengarkan adalah ketika aku dibandingkan dengan orang lain. Entah itu dengan Hye Ri, ataupun temanku. Hal itu sangat menggangguku. Aku pun membuyarkan lamunanku. Aku harus bergegas. Aku sudah memakai gaun itu. Sekarang aku harus merias wajahku. Paling tidak aku harus menyembunyikan kantung mataku yang agak tampak karena semalam aku memikirkan omelan kedua orang tuaku. Ya tidak bisa dipungkiri mereka berdua memang benar. Ya tuhan bantu aku melewati ini. Semoga hal ini dapat paling tidak mengubah pandangan kedua orang tuaku. Kurasa rambutku akan kubiarkan tergerai lagipula rambutku juga hanya sebahu. Paling tidak ini akan menutupi sifat keras kepalaku bukan.

 

“Kau harus melakukannya demi kehidupan keluarga Hye Lim-ahh!”

“Lalu jika yang melakukan ini adalah Hye Ri apakah kau dapat menggantikannya sebagai penyanyi dan bintang sekolah? Kau tak dapat menafkahi keluarga kita dengan bakat menarimu itu! Lalu kapan kau akan membanggakan kami, Hye Lim-ahh?”

***

Ibu meremas erat tanganku. Ia tersenyum manis padaku. Ya, ibuku adalah wanita yang baik dan ramah pada semuanya. Ia tak memaksaku untuk menyetujui ini, ia hanya menjelaskan alasan mengapa aku harus melakukan ini. Beda dengan ayahku. Mereka berdua berkebalikan. Ayahku adalah orang yang keras dan berpikiran tegas. Sehingga apa yang sudah ia rencanakan, hal itu harus terlaksana sesuai kehendaknya. Hal itu sudah sering menyakitiku dan Hye Ri tapi kami berdua sangat berbeda. Hye Ri patuh sedangkan aku masih memohon. Kurasa itu juga bukan salahku. Perintah ayah padaku dan Hye Ri sangat berbeda. Hye Ri selalu dimanja sedangkan aku mandiri. Aku selalu mendapat perintah dimana hal itu sangat mustahil kulakukan.

Kulihat mobil yang kunaiki mulai berbelok dan melaju masuk gerbang megah. Kurasa apa yang ada di dalamnya tak jauh berbeda dengan gerbangnya. Tapi rumah ini tampak begitu dingin, hawa itu sangat menusuk dan mengintimidasi disini. Desain rumah ini mencampur antara desain joseon dan eropa modern secara bersamaan. Itu sangat-sangat menarik bagiku. Meski aku bukan jurusan arsitektur tapi kurasa aku pernah mempelajarinya sewaktu masih sekolah tinggi.

“Mari kita turun.”

Ayah berkata singkat mengalihkan pandanganku dari rumah mewah itu. Ibu sempat tersenyum manis menyemangatiku. Aku hanya mengangguk lalu turun dari mobil. Aku segera merapikan gaunku yang sempat kusut. Aku berjalan mengikuti kedua orang tuaku. Aku menenangkan diriku. Aku pasti bisa mengkutinya. Ya, meskipun aku tak berakting sehebat Hye Ri yang mengikuti klub akting juga. Tapi setidaknya aku paham tentang teori bagaimana cara berakting mendadak seperti sekarang.

Kami disambut oleh beberapa pelayan yang memang identik dengan rumah bermodel seperti ini. Dan benar dugaanku bahwa didalam rumah ini pasti memiliki tatanan yang lebih menarik dan mewah daripada luarnya. Ini benar-benar sangat wah bagiku. Aku bukanlah berasal dari keluarga yang kaya raya seperti ini, keluargaku hanyalah keluarga yang sederhana. Aku juga tak pernah merasa bahwa keluargaku termasuk keluarga yang mampu. Jelas saja ayahku menuntutku untuk menggoda anak dari keluarga ini. Restoran keluargaku terancam tutup karena kami harus menutupi hutang biaya ibu yang masuk rumah sakit tahun lalu. Dan yang baru kuketahui adalah ayahku harus membayar hutang pada pemilik rumah ini. Sehingga aku merasa bahwa harga diriku dijual dengan cuma-cuma. Lagipula aku tak memiliki keahlian apapun yang dapat membanggakan kedua orang tuaku. Hingga akhirnya aku harus setuju.

“Selamat datang di rumahku, Jae Joong-ahh!”

Seorang lelaki paruh baya yang kuakui tampan meski umurnya tidak muda lagi. Tetapi ayahku tetap yang paling tampan bagaimanapun. Aku mengingat kata ibu tadi bahwa pemilik rumah ini adalah Kim Jong Woon. Dia seorang pengusaha yang memang terkenal di Korea sejak dulu.

“Malam, Jong Woon-ahh! Perkenalkan ini putriku, Hye Lim!”

Aku refleks membungkuk mendengar ayah memperkenalkanku. Aku mencoba memasang wajah polosku. Aku tak menyangka bahwa anak dari tuan Kim ini adalah dia. Apa-apaan ini? Mana mungkin dia menerimaku? Atau mana mungkin dia mau bertunangan dengan gadis sembarangan kan?

Dia seorang ketua siswa di universitasku saat ini. Dia yang memang benar-benar tenar di seantero sekolah. Tentu aku mengenalnya. Hal yang mustahil adalah jika ada seseorang yang tidak mengenalnya. Kami benar-benar bersaing dalam beberapa hal sebenarnya. Nilai kami sering disejajarkan meski ia berada di tingkat yang lebih tinggi dariku. Selain itu aku dan dia sama-sama menjadi ketua dimana ia ketua yang jabatannya jelas lebih tinggi dariku, kemudian masih ada beberapa hal yang kubenci darinya bahwa ia menganggap klubku tak terlalu penting dan tidak memiliki hal yang dibanggakan. Sehingga ia selalu mengalihkan dana untuk klubku ke klub lain. Sehingga sejak saat itu hubunganku dengannya tak terlalu baik. Ia memang dikenal ramah tapi ia dingin padaku. Aku tak heran selain itu aku juga dingin padanya. Tapi dengan hal ini, apa yang dapat kulakukan?

“Putrimu sangat cantik seperti yang telah kau ceritakan padaku. Dan ini putraku yang setuju dengan apa yang kita rencanakan, Jae Joong-ahh. Perkenalkan dirimu, Joon Myun!”

Ia mengikuti caraku memperkenalkan diri dengan membungkuk pada kedua orang tuaku. Kulihat tampaknya orang tuaku cukup senang mendapat menantu sepertinya. Aku hanya menunjukkan senyumku padanya. Kuakui ia akan tampak sebagai menantu yang baik dan tampan, andai saja ibuku tahu bagaimana sikapnya padaku yang selalu diabaikan. Dan jika ini berlansung terus menerus, kurasa ini bukan hal yang mudah.

Nama Kim Joon Myun kurasa hanya ia gunakan dalam kelauarga dan nama resminya. Ia lebih dikenal sebagai Su Ho ataupun malaikat, begitu ia disebut oleh penggemarnya. Ya, ya, ya, ia malaikat bagi ketua klub lain. Dan tidak bagi anggota klubku yang menjadi pasukan anti malaikat semua klub itu. Aku tak harus tidak mendukung hal itu karena aku sendiri juga cukup sebal melihat sikapnya yang tak adil pada klubku.

Akhirnya setelah cukup lama basa-basi antar keluarga ini. Kami semua berjalan menuju ruang makan rumah si malaikat itu yang ukurannya dua kali ruang makan di rumahku dengan perabotan yang harganya lima kali lipat lebih mahal. Ya tuhan, jangan-jangan bak mandi rumah ini terbuat dari emas. Ini lebih baik sebagai museum saja daripada rumah yang padahal lebih baik dibuat dengan konsep nyaman.

“Baiklah karena putraku dan putrimu sama-sama menerimanya. Pesta pertunangan akan kita selenggarakan minggu depan. Apakah kau setuju, Jae Joong-ahh?”

Perkataan Tuan Kim membuat makanan yang kutelan hampir saja menyembur keluar. Dan beruntungnya sistem sarafku memiliki kemampuan yang cukup cepat sehingga tanganku dapat menahannya dengan menutup mulutku. Aku segera meminum segelas air putih yang sudah disediakan. Aku tahu semuanya memandang ke arahku. Tapi tampaknya tak ada yang berniat menanyakan alasan mengapa aku tersedak.

“Maaf sebelumnya, apakah aku diperbolehkan bicara berdua sebentar dengan Hye Lim, ayah?”

Dan sekarang kalimat pertama dari si malaikat membuatku membelalakkan mata. Apa-apaan ini? Berbicara berdua denganku? Apa yang perlu dibicarakan memangnya? Dan kurasa jika aku dan dia berbicara, aku tak yakin tak meluapkan kalimat dingin padanya. Itu akan merusak reputasiku dan keluargaku dan dapat juga pertunangan kami dibatalkan. Dan lalu bagaimana aku harus membayar hutangku? Ya tuhan bantu aku!

“Tentu saja, Joon Myun.”

Jawaban singkat dari ayahnya langsung membuatku terus berdoa. Aku tahu kedua orang tuaku dan ayahnya jelas akan setuju akan hal ini. Mungkin menurut mereka hal ini berarti si malaikat itu menyukaiku. Dan sayangnya firasatku tidak mengatakan hal itu. Kurasa itu sudah jelas pada ekspresinya saat ia menarikku keluar dari ruangan itu. Dan yang aku takut, apa yang diinginkan malaikat ini? Ia tak akan menjadi malaikat maut untukku kan. Tunggu, ia akan membawaku kemana ini. Kami tak pergi keluar sedangkan menaiki tangga. Jangan bilang… Dan kurasa itu memang benar terjadi. Ia membawaku ke kamar???

Dan tunggu apa yang ia lakukan? Ia mengunci pintu dan berjalan mendekatiku. Refleks aku mundur. Yang benar saja, aku masih waras. Dan apa-apaan ini? Ia semakin mendekatiku dan tidak, aku sudah berada di paling ujung. Ya tuhan, apa-apaan ini? Tak mungkin benar apa yang dikatakan Lu Han-oppa kan? Bahwa semua pria itu sama saja. Makanya ia tak pernah terhina meski ia di panggil mesum. Si malaikat ini tak seperti Lu Han-oppa kan?

“Tak kusangka ternyata pikiranmu sekotor itu, Hye Lim-ssi. Aku hanya ingin bilang padamu bahwa aku menyetujui pertunangan ini bukan karena aku suka ataupun tertarik padamu. Tetapi aku melakukannya agar aku dapat menjadi pengganti ayahku, jadi janganlah kau terlalu percaya diri,” ucapnya dengan nada sombong dalam jarak tiga puluh senti dariku.

“Dan kau harus menyetujui semua ini dan merahasiakannya. Aku benci orang melawanku karena apa yang dilakukannya adalah hal yang sangat tak penting.”

***

“Jadi siapa tunanganmu itu, Hye Lim-ahh?”

Aku sudah mendengar pertanyaan ini ratusan kali dari Yoon Jo sejak dua mingu yang lalu saat aku baru pulang dari rumah si malaikat itu. Dan tentu saja aku sudah menuruti apa yang dikatakan lelaki itu. Aku paham akan ancaman yang akan ia lakukan jika aku tak menurutinya. Dan yang masih kuingat sejak seminggu yang lalu saat pesta pertunangan itu bagaimana ekspresi Hye Ri adikku. Ia terlihat sangat senang dan memandang rendah diriku. Aku cukup sedih mengingatnya. Tapi yang masih rasanya sakit adalah apa sebabnya ia membenciku dan bahkan selalu memandangku layaknya musuh. Kurasa aku harus sabar menghadapinya.

Aku meregangkan tubuhku setelah kegiatanku mengikat tali sepatuku selesai. Akupun memulai pemanasan sebelum aku mempraktekkan gerakan yang sudah kulatih kemarin. Aku menatap cermin besar tempat latihan ini. Tampak wajahku yang sangat lelah karena pertunangan itu. Dan hal yang paling kusebalkan, mengapa aku harus pindah ke rumah itu saat aku sudah bertunangan. Itu adalah hal paling menyebalkan.

“Mengapa kau tak mau jujur, Hye Lim-ahh? Apa jangan-jangan kau bertunangan dengan Jong In ya makanya sudah sebulan ini ia tidak masuk?” Yoon Jo menyebutkan argumen bodohnya dan aku baru menyadari satu hal bahwa ia hanya diam tak ikut pemanasan.

“Kau jangan berpikiran mustahil seperti itu. Bukankah Jong In sudah memiliki Soo Jung? Dan kau jangan seenaknya seperti itu, ayo pemanasan!”

Yoon Jo tersenyum menunjukkan deretan giginya sambil melayangkan dua jarinya meminta maaf. Ia lalu mengikuti gerakanku. Dan akupun memilih untuk emngingat gerakanku. Kurasa sikap si malaikat itu cukup baik akhir-akhir ini padaku. Yang kumaksud cukup baik bahwa ia jarang ada di rumah sehingga aku tak perlu berdebat dengannya. Dan yang kulakukan di rumah itu hanyalah berada di kamar dan keluar pada saat jam makan. Dan sekarang yang kupakai haruslah barang mewah dan mahal. Aku tahu semua barang itu memang nyaman dang tampak sangat bagus saat dipakai tapi aku rasa aku tak berhak. Namun saat aku menginginkan memakai baju sehari-hariku yang biasa, Tuan Kim dan Su Ho-sunbae sama-sama menganjurkanku untuk memakai baju dari mereka.Yang sangat ingin ku ketahui adalah kemana ibu si malaikat itu dan mengapa sepertinya di rumah itu hanya ada dua orang. Dalam rumah sebesar itu, hanya ada dua orang dan satu orang yang menumpang. Ah, aku lupa di dalam rumah itu masih ada banyak pelayan yang tinggal di dalamnya.

“Hye Lim-ahh, ketua siswa tidak menyetujui proposal kita. Padahal kita sudah mengirim formulir, apa yang harus kita lakukan?”

Aku membuyarkan lamunanku dan menegakkan tubuhku. Aku segera menoleh memandang lelaki berambut oranye yang penuh dengan peluh. Apa kata Yi Xing tadi? Si malaikat itu tidak menyetujui proposal klubku? Padahal kali ini aku tak menyuruh Ho Ya oppa yang menyerahkan sebagai salah satu anggota klub yang memang biasanya memenangkan kompetisi. Aku menyuruh Yi Xing yang memang salah satu sahabat si malaikat itu dan ia malah tak menerimanya. Apa malaikat itu ingin aku sendiri yang memintanya?

Yoon Jo dan Yi Xing menunggu keputusanku sebagai ketua klub tari.Aku membuang nafasku kesal dan berjalan cepat keluar tempat latihan dan berjalan menuju gedung sebelah dimana si malaikat itu pasti ada. Aku tak mempedulikan pandangan banyak mahasiswa yang melihatku. Aku tahu pakaianku agak tak sopan karena aku memakai celana tiga perempat dengan kaos putih longgar. Itu adalah pakaian yang jelas tidak akan dipakai mahasiswa karena semua mahasiswa disini orang kaya yang jelas akan memilih berpakaian rapi atau dress mahal karya desainer. Tapi memang begitulah apa yang dikenakan anggota klub tari yang sedang latihan. Dan begitulah yang dikenakan Yoon Jo ataupun Yi Xing.

Aku berhenti sebentar di depan ruang kesiswaan menatap Yoon Jo dan Yi Xing meminta pendapat mereka. Yi Xing hanya mengangkat bahunya. Sedangkan Yoon Jo mengangguk menyetujui dengan semangat. Aku tahu semua anggota klub pasti bersikap seperti Yoon Jo karena mereka semua tahu bahwa aku paling malas jika harus menyerahkan proposal pada si malaikat itu karena aku pasti akan berdebat dengannya. Dan kurasa sekarang aku harus menyiapkan mental untuk sekali lagi berdebat seperti setahun lalu. Akupun membuka pintu ruangan itu dan berjalan melewati para anggota dewan siswa yang terkejut melihatku. Aku tahu mereka pasti mengingat kejadian setahun lalu.

“Mengapa lagi-lagi dewan siswa menolak proposal klubku? Kami sudah mengirim formulir dan menghabiskan banyak biaya bukan dari sekolah tetapi kau tak memperbolehkan kami lagi?” Aku berseru keras sesegera saat aku membuka pintu ruangan ketua siswa. Dan kulihat Su Ho-sunbae mendongak dari laptop di depannya. Ia memandangku terkejut namun dalam beberapa detik ia tersenyum dan bangkit dari duduknya. Yoon Jo dan Yi Xing ternyata mengikuti di belakangku.

Si malaikat alias Su Ho-sunbae memandangku sambil tersenyum ramah,”Apa kau menjanjikan kemenangan untuk sekolah? Dan tidak akan mempermalukan nama sekolah seperti setahun yang lalu?”

“Klub olahraga yang hanya mendapat juara tiga, sekolah membiayainya seratus persen? Apakah untuk memperoleh tanda tanganmu kami harus berjanji menang, padahal sekolah tak memberi biaya dan tanpa nama sekolah klubku sudah terkenal di masyarakat,” jawabku sengit.

Mata Su Ho-sunbae berkilat marah, ia semakin memandangku tajam,”Lalu apa reputasi buruk sekolah yang diperoleh setahun lalu karena klubmu dapat kaukembalikan dengan tanda tanganku?”

“Jika sunbae tidak menyukaiku atau menyalahkanku atas peristiwa Yoo Jung, aku minta maaf. Kumohon jangan kaitkan klub, salahkan aku saja!”

Akhirnya, aku meluapkan apa yang selama ini kutahan dan tidak ada seorangpun yang tahu akan hal ini. Bahkan Yoon Jo juga tak mengerti apapun. Aku tahu ada rasa terkejut dalam tatapan mata Su Ho-sunbae itu. Inilah alasan mengapa Su Ho-sunbae bersikap dingin dan berbeda padaku.

Yoo Jung adalah anggota klub akting. Setahun yang lalu ia memintaku mengajarinya beberapa gerakan tari untuk drama musikalnya. Kami berdua menjadi dekat. Dan yang aku herankan mengapa Su Ho-sunbae di ruang latihan sejak saat itu. Suatu ketika, aku berjalan ke lokerku dan menemukan sebuah surat. Surat itu ditujukan pada Yoo Jung agar pergi ke atap sekolah. Tapi sudah dua hari itu, Yoo Jung tidak datang ke tempat latihan. Akhirnya aku sendirilah yang datang dan akhirnya mengetahui bahwa Su Ho-sunbae ternyata menyukai Yoo Jung. Akupun berjanji untuk diam. Ternyata keesokan harinya, banyak berita beredar bahwa Yoo Jung sudah menjadi kekasih Xiu Min-sunbae. Aku diam begitupun dengan si malaikat. Dan hal yang mengerikan terjadi saat drama musikal Yoo Jung tayang. Yoo Jung memang menari dengan baik tapi di suatu adegan terjadi kecelakaan dan akhirnya ia dinyatakan lumpuh karena lukanya. Yoo Jung tak menyalahkanku, ia hanya berkata seharusnya ia menurutiku, bagaimanapun ia harus pemanasan sebelum menari sehingga tak terjadi hal seperti ini. Ternyata Su Ho-sunbae mendengar itu. Dan ia terus menyalahkanku dan klub tari. Klub tari adalah klub yang hanya menyebabkan kecelakaan, katanya. Akupun hanya diam tak bisa menjelaskan. Aku juga merasa bersalah, ternyata gerakan yang kuberikan pada Yoo Jung terlalu sulit sehingga ia mudah lelah.

Aku tahu banyak orang yang semakin memandang kami berdua. Dan yang kulakukan sekarang adalah menunggu responnya. Dan ia membeku. Rahangnya terkatup kaku. Aku tahu ia mungkin ingin melempariku banyak kegeramannya.

“Bagaimana jika klub tari mengikuti festival seni minggu depan dan meraih juara, apakah kau akan mengijinkan mereka? Dan apabila klub tari mengalahkan klub vokal, apakah kau mampu berhenti mengalirkan dana untuk klub vokal tahun depan, hyung?”

Sebuah suara yang tampaknya kukenal membuatku dan Su Ho-sunbae segera menoleh. Ya, lelaki ini memang kukenal. Ia kembali? Dan ia tersenyum memandangku. Namun memandang Su Ho-sunbae meremehkan. Bagaimana ia bisa sangat percaya diri begitu? Padahal dalam klub vokal ada banyak yang memang benar-benar berbakat.

“Baiklah tapi kau harus sebagai penonton tak berpihak, Tao-yaa. Dan kita lihat bagaimana klub tari yang kau banggakan, Hye Lim-ahh.”

Su Ho-sunbae menjawab dengan penuh wibawa seperti biasanya. Dan tunggu ia memanggilku… Ya tuhan, apa-apaan ini? Kurasa darah kini mengalir deras pada pipiku.

***

“Ini hal yang sangat kutunggu, Hye Lim-ahh. Tao sangat-sangat hebat!”

Yi Xing memuji-muji kesepakatan yang dihasilkan Tao. Yang kuherankan, mengapa ia tampaknya sangat antusias untuk melawan klub vokal padahal ia memiliki banyak teman dari klub vokal. Ia bilang ia hanya ingin menunjukkan bakatnya pada klub vokal. Ah entahlah! Sekarang aku harus memikirkan hal yang rumit. Ini sungguh mustahil diraih klubku. Karena persyaratan festival ini adalah setiap grup harus menyanyi secara duet. Masing-masing harus membawakan dua lagu yang ceritanya berkaitan. Temanya memang tak dibatasi, hanya saja, berarti hanya penyanyi yang dapat mengikuti festival ini. Dan festival ini akan diselenggarakan minggu depan. Hah, yang benar saja, tanpa pelatih dan dengan waktu yang singkat mengalahkan klub vokal. Ah, tunggu, mengapa aku tak terpikirkan hal ini daritadi?

“Karena grup untuk festival ini adalah maksimal sepuluh orang, apakah boleh aku memilih dua anggota yang harus mengikuti ini? Jika kalian tak setuju, kalian tetap dapat membantahnya kok.”

Aku mengumumkan keputusanku bagi anggota klub yang datang hari ini. Ini hanya sebagian karena yang lain memang sedang sibuk seminggu ini. Merekapun hanya mengangguk setuju akan keputusanku. Aku cukup bersyukur akan hal ini.

“Dalam persyaratan pertama, kita harus menyanyikan dua lagu, karena itu aku memilih Yoon Jo yang memang pernah mengikuti klub vokal saat sekolah menengah dan Sun Young yang kalian ketahui memang penyanyi,” kataku lagi memilih anggota yang mewakili klub. Sun Young dan Yoon Jo berdiri dan tersenyum lebar padaku.

Akupun segera menambahkan keputusanku,”Dan aku pikir kita akan mengikutkan enam orang saja. Karena aku tahu kita masih perlu berlatih untuk kompetensi bulan depan. Untuk empat orang lainnya kurasa Sun Young saja yang memilih karena kurasa ia lebih mengerti.”

Sun Yong pun mengangguk mendengar ucapanku,”Maaf sebelumnya untuk yang lain yang tidak kupilih. Kurasa aku memilih Yi Xing sebagai coupleku. Dan kurasa Ho Ya untuk couple Yoon Jo. Sedang yang lain adalah Hye Lim dan Lu Han.”

Aku menganga. Apa? Aku juga dipilih? Oh tidak, padahal aku pikir aku tak akan dipilih. Alasannya karena suaraku tak bagus dan aku harus berlatih untuk bulan depan kan? Padahal aku ingin bersantai saja dan menonton mereka tampil. Akhirnya kami berenam pun duduk melingkar memikirkan konsep dan gerakan tentunya.

“Baiklah apa idemu, Hye Lim-ahh?”

Aku memandang Ho Ya-oppa yang tiba-tiba mengeluarkan suaranya. Kekasih Yoon Jo ini memang terlalu iseng atau apa selalu menanyakan pendapatku dulu padahal aku tak sekreatif seperti orang yang lain. Tapi meski ia sering mengisengiku, dia adalah yang paling normal dibanding Yi Xing yang kelewat heboh, atau Lu Han-oppa yang playboy maupun Jong In yang terlalu polos dan malas.

Kulihat semuanya memang menungguku berbicara. Kurasa aku tak bisa berkilah,”Sebenarnya aku berpikir, bagaimana jika kita membuat konsep drama musikal. Sehingga kita tetap dapat menonjolkan tarian bagaimanapun.”

“Tunggu, maksudmu kita menyelipkan dialog begitu?” Tanya Yi Xing.

“Bukan. Tapi kita menyampaikan dialog itu dengan lagu dan akting kita dengan gerakan tari. Apa kalian setuju?” Jelasku sambil memandang kelima orang di depanku. Aku menunggu apakah mereka akan setuju atau tidak denganku. Yoon Jo dan Ho Ya-oppa menyetujui pertama. Kemudian disusul dengan Lu Han-oppa dan Yi Xing. Wah tampaknya pendapatku tak diterima Sun Young. Oh ternyata aku tak sekreatif itu bukan.

“Tenang aku setuju kok. Aku hanya ingin menyarankan kita memakai lagu pop ballad untuk lebih mudah menyentuh penonton. Dan kurasa pemeran utama penampilan kita kali ini adalah Lu Han-oppa dan Hye Lim. Dan kalian berdua harus berduet!”

“Hahh?” Aku dan Lu Han-oppa sontak memprotes mendengar keputusan sepihak Sun Young. Sedang yang lainnya hanya mengangguk setuju.

***

Benar-benar tak terasa bahwa dua hari lagi adalah festival seni. Aku benar-benar lelah sejujurnya. Karena aku memang benar-benar harus menjadi pemeran utama dengan Lu Han-oppa. Hal itu secara terpaksa kulakukan karena alasan-alasan klise yang disampaikan Sun Young dan Yoon Jo. Aku pintar berakting lah, aku yang paling berbakat menari lah, aku tahu itu semua adalah kilahan mereka agar tak menjadi pemeran utama.

Karena kemarin kami merampungkan gerakan, hari ini kami libur ke tempat latihan. Sehingga seperti inilah aku sekarang. Aku sekarang sedang duduk nyaman di kursi taman universitas. Dan inilah hal yang paling sering kulakukan. Aku mendengarkan lagu dari pemutar musikku sambil membaca komik. Ini adalah akhir musim gugur, jadi disini cukup dingin, meski begitu bagaimanapun aku lebih menyukai dingin daripada panas. Aku lebih suka kulitku kering karena kedinginan daripada basah karena keringat.

Akupun tetap menekuni komikku. Aku tahu ada seseorang yang duduk di sebelahku. Tapi aku hanya berharap orang disebelahku ini tak mengganggu apa yang kulakukan. Sehingga setidaknya aku dapat menyelesaikan komik seri terbaru ini. Sejujurnya aku bukan orang yang menyukai komik bergenre roman meski aku berada dalam jurusan sastra. Malah yang kubaca adalah komik miiko! yang berbeda jauh dari kata sastra. Kurasa apa yang kita baca tak harus sesuai dengan apa yang kita tekuni bukan? Membaca dapat menjadi hiburan selain media belajar.

“Seorang mahasiswa sastra membaca komik anak-anak? Apa itu tidak salah?”

Kudengar orang di sebelahku mulai angkat suara. Kurasa aku mengenali suara ini. Tunggu, jangan bilang suara ini milik seseorang yang sebenarnya ingin kuhindari selama beberapa hari ini. Ya, itu adalah si Su Ho-sunbaenim Ya tuhan apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menoleh dan berbincang dengannya dengan ramah? Atau aku harus berlari menghindarinya? Atau aku harus tetap diam berpura-pura menjadi orang tuli? Aku lelah berdebat dengannya di rumah dan sekarang ia tetap mau berdebat denganku.

“Memangnya ada undang-undang yang melarangnya? Dan apa urusanmu?” jawabku ketus. Kurasa aku tak perlu takut ataupun merasa bersalah jika berbicara seperti itu padanya kan. Lagipula dia sendiri juga berbicara seperti itu padaku.

Ia tersenyum mendengar jawabanku. Apa lelaki ini meremehkanku? Yang benar saja, lagi-lagi ia merendahkanku? “Aku tahu itu bukan urusanku. Tapi aku hanya ingin mengucapkan sampai bertemu di festival. Kurasa kau tak akan semudah itu mengalahkanku.”

“Kurasa aku tak akan takut akan kata-kata rendah seperti itu untuk menakutiku. Jangan pikir bahwa klub tari adalah musuh yang rendah, sunbaenim,” ucapku menekankan kata musuh. Kurasa aku sudah tak tahan lagi ia merendahkan klubku. Memangnya apa hebatnya klub vokal. Prestasi yang mereka dapatkan kan karena anggota klub yang sudah pensiun sekarang. Belum tentu juga, mereka dapat meraih prestasi seperti yang dulu kan?

Rahangnya terkatup kaku mendengar ucapanku. Aku tahu ia mungkin merasa direndahkan. Paling tidak, ia harus merasakan apa yang kurasakan, bukan? Dan pandangan mata yang berkilat marah itu muncul kembali,”Mungkin kau bisa mengalahkanku, Hye Lim-ahh. Tapi asal kau tahu kau akan tetap menjadi nomor dua di mata orang tuamu. Dan kau tak dapat menjadi nomor satu dibanding adikmu sendiri bukan. Karena itulah kau mau bertunangan denganku kan? Kau orang yang munafik, Hye Lim-ahh!”

Mataku panas.Ya tuhan, apa-apaan lelaki ini? Aku tahu memang itu apa yang kurasakan. Tapi apakah itu tidak keterlaluan? Ia mengungkapkan semua rahasia yang kupunya tanpa batas. Hatiku sesak. Ini sungguh perih. Tunggu, apa dia bilang tadi? Aku munafik? Hah, apa dia sendiri tak munafik? Aku tahu dia menerima pertunangan juga agar perusahaan ayahnya diwariskan padanya.

“Aku tahu itu memang benar. Tapi asal sunbaenim tahu, sunbaenim tak tahu apa-apa tentangku. Dan sebelum kau berkata seseorang munafik, coba lihat dirimu apakah di dalam dirimu tak ada sifat munafik sedikitpun?”

Aku sesegera mungkin menghindar darinya. Aku mengangkut semua barangku dan berlari meninggalkannya. Aku tahu air mata sudah berlinang di pipiku tanp dapat ditahan. Beruntungnya ini masih jam kuliah sehingga sedikit siswa di lorong. Kurasa aku ingin pulang ke rumahku hari ini. Paling tidak aku ingin menenangkan diriku. Dan aku tak boleh lemah kan dua hari lagi kan?

“Apa yang terjadi, Hye Lim­-ahh? Siapa yang melakukan ini?” Itu suara Tao. Ia menarikku ke dalam pelukannya menenangkanku. Ia sahabat terbaik yang kupunya sejak sekolah dasar. Dan ialah yang selalu melindungiku ketika ada saja anak lain yang menggangguku. Tiga tahun lalu ia pindah ke Beijing karena beberapa masalah. Aku tak terlalu paham masalahnya namun selama tiga tahun ini ia tak memberiku kabar. Dan tiba-tiba minggu lalu ia kembali ke Seoul. Kuakui aku sangat senang saat ia kembali kesini. Ia selalu menjadi pahlawan bagiku.

“Tidak… Apakah menurutmu aku adalah si nomor dua bagaimanapun, Tao-yaa? Apakah di dahiku ini tertulis angka dua yang sangat besar?”

Aku berkata sesenggukan. Aku tak yakin Tao dapat mendengarnya. Karena aku mengucapkannya dengan pelan. Aku malu dan takut sebenarnya. Jika semua tahu hal ini semuanya pasti akan memperlakukanku layaknya nomor dua bukan. Tapi tampaknya keyakinanku itu salah. Tao mempererat pelukannya.

“Abaikan orang tuamu yang menganggapmu nomor dua dan selalu kalah dari adikmu, Hye Lim-ahh. Bagaimanapun kau adalah nomor satu bagiku…”

Apa katanya? Aku nomor satu? Ya tuhan andai kata itu ada dalam pikiran orang tuaku. Tapi tampaknya itu hanya pada Tao. Aku tahu apa maksud perkataan Tao. Tapi ini aneh. Aku tak merasakan apapun mendengar itu. Andai si malaikat yang mengucapkannya… Hah, apa sih? Mana mungkin lah, dia saja membenciku. Ya tuhan apakah seumur hidupku ini aku akan menjadi nomor dua?

***

Ya tuhan, apakah ini mimpi? Apakah hal ini kenyataan? Terima kasih tuhan. Kami, anggota klubku memenangkan festival seni. Awalnya, aku pikir kami hanya akan mendapat peringkat dua atau tiga. Ternyata kami mendapat penampil terfavorit. Itu jelas hal yang membanggakan. Itu lebih tinggi daripada apa yang dirai klub vokal. Jadi apakah ini awal dari apa yang kuimpikan tuhan?

“Selamat atas kemenangan kalian, Hye Lim-ahh!”

Tao menyelamatiku. Aku hanya membalasnya dengan senyum. Ini adalah hari terbaikku. Tapi ada hal aneh. Tao bersikap aneh sehari ini. Dan buktinya sekarang. Setelah aku merayakan kemenangan klub tari di belakang panggung, ia menarikku keluar dengan alasan ada yang ingin ia sampaikan padaku. Dan sekarang ia membawaku ke kolam renang gedung ini.

“Hye Lim-ahh, aku bukanlah orang yang romantis dan percaya diri seperti yang kau ketahui. Kau tentu paham akan diriku kan. Ehm, aku menyukaimu, Hye Lim-ahh…”

Aku membatu. Apa? Tao menyukaiku? Yang benar saja, selama ini kami hanya bersahabt saja. Dan tentunya aku tak pernah membiarkan perasaan suka tumbuh untuk sahabatku. Dan sekarang apa? Tunggu, aku juga sudah memiliki tunangan. Aku tahu mungkin aku tidak benar-benar tampak bertunangan. Tapi kurasa aku harus tetap menghargai ikatan pertunangan bagaimanapun.

“Ehm, Tao…”

“Jika kau menolakku kau dapat mendorongku ke kolam, Hye Lim-ahh,” Tao melanjutkan perkataannya dengan dingin. Ya tuhan apa yang harus kulakukan?

“Tao-yaa, aku juga menyukaimu… Tapi itu sebagai seorang sahabat. Aku sudah bertunangan. Dan kurasa aku juga tak mau mendorongmu ke kolam. Maafkan aku…”

Aku berjalan dengan canggung meninggalkan Tao. Aku merasa bersalah namun aku tak dapat melakukan apa-apa. Paling tidak aku tak melanggar ikatan pertunanganku bukan. Meski aku dan si malaikat sama-sama tak serius melakukannya. Setidaknya aku masih tahu adat dan sopan santun bukan.

Saat aku berjalan di koridor kosong, seseorang mendorongku. Ia memojokkanku ke dinding. Lenganku sakit karena orang itu meremasnya dengan kuat. Aku memandang wajahnya. Apa yang diinginkan si malaikat? Dan mengapa ekspresi di dalam matanya harus seperti itu. Ia tampak marah dan geram. Memangnya kesalahan apalagi yang kulakukan?

“Jangan kau kira setelah kau memenangkan ini, kau dapat berbuat seenaknya. Apa kau masih punya sopan santun? Menerima seseorang menjadi kekasihmu dimana kau menjadi tunangan seseorang, ha?”

Ia membentakku. Jantungku berdetak keras. Jaraknya dan jarakku hanya lima senti. Aku dapat melihat wajahnya. Aku tahu ia tampan, tetapi kurasa aku tak akan boleh memujinya bukan? Dan sekarang aku takut. Ia semakin mendekatkan dirinya. Tidak, ini tidak boleh terjadi! Aku mendorongnya dengan kuat hingga ia terjatuh.

“Asal kau tahu, meski kau tunanganku kau tak boleh melakukan itu. Aku hanya akan melakukan itu dengan orang yang benar-benar tulus padaku. Seseorang yang tak pernah menyebutku nomor dua!”

***

“Apa? Eonni berpikir bahwa eonni nomor dua? Hah, apa itu tidak salah?”

Hye Ri tertawa aneh mendengar jawabanku tentang pertanyaan apa yang kuirikan padanya. Aku menganggap ia sama anehnya dengan biasanya. Malam ini, aku pulang ke rumahku dan yang cukup membuatku lega kedua orang tuaku menyambutku dengan senang. Tapi tidak dengan Hye Ri. Ia sesegera mungkin menyemprotku dengan kata-kata bahwa aku benar-benar beruntung dan ialah orang yang perlu dipedulikan. Padahal selama ini ialah yang dipedulikan semua orang, dan akulah yang diabaikan.

“Kau disayangi ayah dan ibu, Hye Ri. Sedangkan aku hanya dicekoki dengan kalimat tidak membanggakan. Apa itu salah?” sahutku dengan perlahan.

Hye Ri tersenyum meremehkan,”Itu memang benar. Tapi semua orang lebih menyayangimu. Meski mereka berdua mencekokimu, ia selalu memperhatikanmu. Dan Tao-oppa, orang yang kusayangi selama ini ternyata menyayangimu. Dan yang ia bicarakan selama tiga tahun ini hanyalah dirimu! Seperti aku peduli saja.”

Aku terdiam mendengar penuturannya. Aku masih memiliki rasa bersalah pada Tao. Dan apa sekarang? Ternyata alasan adikku membenciku adalah karena ia membenci orang yang disayanginya menyayangiku. Tapi apa itu salahku? Aku sangat menyayangi Hye Ri. Sebenarnya ada satu hal yang ingin kukatakan, apakah ada cara untukku dengannya berbaikan?

“Dan sekarang tunangan eonni yang dulunya membantuku membuat eonni sakit hati malah berganti menyayangi eonni. Lalu siapa yang menyayangiku?” Sahut Hye Ri lagi. Dan kini ia benar-benar menangis. Ya tuhan aku sungguh tak menyangka bahwa adikku rela berbuat seperti itu padaku. Tidak, aku tak boleh menjadi orang pendendam. Lagipula saat itu ia pasti sedang benar-benar membenciku. Aku menariknya ke dalam pelukan. Sudah lama aku tak melakukan ini padanya. Sebenarnya dulu kami adalah adik-kakak yang sangat dekat. Sehingga aku sering menenangkannya seperti sekarang.

“Aku menyanyangimu sampai kapanpun, Hye Ri-yaa. Begitupun dengan ayah, ibu ataupun oppa. Dan semua penggemarmu jelas menyayangimu. Mulai sekarang aku akan membantumu membuat Tao beralih mengejarmu.”

Aku menyahut dengan pernyataan yang mungkin dapat menenangkannya. Dan untunglah, itu benar-benar memiliki efek. Ia tersenyum lebar dan memelukku semakin erat. Tunggu, tadi apa katanya? Tunanganku menyayangiku?

“Hye Ri-yaa, apa maksudmu dengan tunanganku menyayangiku?”

Hye Ri tersenyum jahil,”Iya. Tunangan eonni tadi cemburu dan sempat mengira bahwa eonni menerima Tao-oppa.” Ucapan menggoda Hye Ri membuat pipiku memerah. Ya tuhan apa aku juga menyayangi tunanganku itu sekarang? Ya tuhan mengapa perasaanku kembali seperti tahun lalu yang sempat kagum dan menjadi penggemar si malaikat? Aiss, ini memalukan.

“Hye Lim-ahh, cepat turun! Ada yang ingin menemuimu!”

Kudengar ucapan ibu yang cukup keras. Akupun segera keluar dari kamar diikuti dengan Hye Ri. Dan sekali lagi ada yang aneh. Ibuku tersenyum lebar. Dan kurasa aku paham arti senyuman itu saat aku melihat siapa yang ingin menemuiku. Dan apa yang ia lakukan disini?

Ia membungkuk,”Ijinkan aku menikahi Hye Lim bulan depan, Tuan dan Nyonya Kim! Kumohon! Aku sangat menyayangi Hye Lim. Aku tak akan memperlakukannya seperti selama ini, aku akan menjaganya!”

Aku terbelalak mendengar ucapannya. Apa? Ia ingin menikahiku? Dan kurasa ayah dan ibu tidak akan menolaknya. Tapi aku kan tak mau menikah. Kenapa ia sejak dulu seperti itu? Hey, yang benar saja, aku masih harus kuliah kan!

***

Ia merengkuhku dalam pelukannya. Aku tahu wajahku seperti kepiting rebus sekarang. Aku sudah mendengar permintaan maaf, rayuan dan banyak kata-kata darinya. Dan lamarannya sudah diterima oleh orang tuaku. Namun kurasa aku masih tak rela.

“Aku memaafkanmu, sunbae. Tapi apakah kita tidak bisa menikah menungguku lulus?”

Aku merajuk dengan bisikan padanya. Dan beruntunglah sekarang hanya ada aku dan dia. Karena ia segera membawaku pulang ke rumahnya sesegera setelah ayah dan ibu menerima lamarannya. Ia melepas pelukannya. Dan ia tersenyum menggoda padaku.

“Tentu tak bisa! Aku sudah tak mau kau direbut oleh adikku sendiri!”

“Adikmu sendiri?” Aku bertanya mendengar jawabannya yang aneh.

“Sebenarnya yang akan ditunangkan denganmu adalah Tao namun aku menolaknya dan meminta ayahku menunangkanku denganmu. Dan kau bukan nomor dua, kau nomor satu bagi siapa saja sekarang.”

Aku tersenyum memandangnya. Dan sesegera mungkin mengecup pipinya. Ia memandangku kaget. Namun aku hanya membalas dengan senyum dan mengedip padanya. Ia memeluk pinggangku lalu mendekatkan dirinya padaku. Ah tidak! Aku segera menutup mulutku. Ia tertawa sebentar lalu mengecup dahiku lama.

Kurasa kata dua itu tetap melekat padaku. Aku tetap anak kedua di keluargaku. Aku juga tetap menjadi peringkat dua dalam nilai di sekolahku karena kalah dari lelaki di depanku ini. Tapi meski aku tetap yang kedua, hidupku bahagia. Kurasa hidup yang penuh warna ini akan berlanjut bukan? Tak apa aku menjadi nomor dua, setidaknya aku menjadi nomor satu di hatinya. Dan dia menjadi nomor dua setelah orang tuaku. Tapi kurasa aku harus tetap diam.

-ahh/-yaa : panggilan akrab untuk seseorang

-ssi : panggilan untuk orang asing atau baru dikenal

-oppa : panggilan dari wanita ke pria lebih tua

-hyung : panggilan dari lelaki ke pria lebih tua

-eonni : panggilan dari wanita ke wanita lebih tua

***

  1. Author Notes :

Well, fanfict ini adalah fanfic tercepat yang kuselesaikan ya readers. Aku mengerjakan lembur dalam tiga hari dengan didampingi belajar ulangan yang nilainya aku harap bagus 😀 Dan untuk inspirasinya mungkin dari Jin – Gone MV tapi tidak semirip itu dan hanya karena aku mengetik dengan mendengar lagu ini. Dan disarankan readers juga! Ini juga fanfiction lomba, readers. Tapi aku nggak lolos jadi kushare deeh 😀 Jelek yaa? Well, however, GIVE ME YOUR FEEDBACK!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s