A Marriage, Chapter Three

 

Title : A marriage

Author : sharesherli7

Cast : Jung Soojung, Choi Minho, Choi Jinri, Lee Taemin, etc

Genre : Romance, Family, Married life, Angst, Friendship.

Rating : PG

 

Jung Soojung dan Choi Minho adalah dua orang yang sama. Mereka benci kata pernikahan yang membuat orang yang mereka sayangi benar-benar terluka. Mereka seperti dua makhluk yang hidup tanpa rasa cinta. Mereka bertemu untuk menjalankan sebuah pernikahan tanpa dasar cinta dan tanpa perjodohan. Dua orang yang tidak mengenal satu sama lain menjalani hubungan pernikahan yang tanpa mereka sadari mengubah diri mereka…

314114_399062783517220_854792137_n

Ost : The One I Love by Super Junior K.R.Y

***

“Aku tahu aku bukan pria sabar dan sempurna bagimu. Tapi diatas semua itu, mari kita menikah!”

 

Soojung memegang dadanya yang terasa debaran jantungnya berpacu cepat. Ia sangat gugup mendengar kata itu dari Minho. Entahlah, mungkin Soojung benar-benar gadis yang sangat mudah terpikat oleh perkataan lelaki itu. Padahal ini bukan kali pertama Soojung mendengar ajakan menikah seperti itu. Yang sangat memalukan, Soojung ingat ia menganga dan berbinar sebagai respon awalnya.

 

Soojung membasuh wajahnya dengan air dan mulai menatap cermin di depannya. Ia masih dapat melihat sisa merona di pipinya. Iapun juga harus mengakui bahwa ia tak pernah merona karena seorang pria lagi sejak beberapa tahun yang lalu. Sebenarnya itu bukan hal yang menggembirakan namun cukup memalukan bagi Soojung mengakuinya.

 

Soojung juga sadar ada satu hal lagi yang harus ia akui bahwa ia tanpa perasaan ragu menerima lamaran seorang Choi Minho. Sepertinya Soojung harus benar-benar memeriksakan dirinya pada psikiater. Siapa tahu, ternyata Soojung mengidap gangguan pikiran hingga menjadi bodoh menerima lamaran. Padahal, pernikahan adalah hal yang Soojung hindari.

 

From : Sica unnie

 

Kau menemukan lagi my baby Jae, Soojung. Aku bisa menemuinya besok kan?

 

Soojung membeku membaca pesan dari kakak kandungnya itu. Ia sadar sikapnya sejam lalu. Ia sadar sebelum Minho menceritakan tentang noonanya, ia sudah menyesali karena mengenal seseorang yang mirip dengan orang yang membuat kakaknya menutup diri. Kini, perasaan ragu mulai merayapinya.

 

 

“Jangan bodoh, Jonghyun-ahh. Aku memilih gadis tercantik yang menjadi istriku. Ternyata idemu berguna ya.”

 

Minho berkata pada Jonghyun, sahabatnya melalui telepon. Ia bersandar pada dinding keramik di depan toilet wanita menunggu Soojung. Perasaannya benar-benar sangat bahagia hari ini. Ia sudah dikenalkan pada keluarga Soojung dan paling puncak, lamarannya diterima oleh Soojung. Ia sadar lamarannya terlalu cepat tapi ia benar-benar tak ingin kehilangan Soojung.

 

“Yayaya, aku tahu kau pintar menilai wanita cantik tapi ia pasti tak lebih cantik dari Gyuri noona. Kalau hal-hal seperti itu, aku pakarnya, Minho-yaa!” Minho mendengar balasan sombong dari Jonghyun melalui speaker ponselnya.

 

Minho pun membalas tak kalah sombong, “Terserah, aku akan mengenalkannya besok. Kau pasti bisa membandingkan.”

 

Minho segera menutup panggilan itu melihat Soojung sudah keluar dari toilet. Ia tersenyum cerah pada Soojung dan mulai meraih tangan Soojung mengajaknya bergandengan. Soojung menerimanya tanpa respon seolah Minho sedang menggandeng tangan patung. Minho mulai menepis pikiran negatifnya dan mulai menggandeng Soojung berkeliling pantai itu.

 

“Apa kau menyukai pemandangannya, Soojungie?”

 

Minho mulai mengangkat suara memecah keheningan ketika ia dan Soojung sedang berdiri menatap laut yang tampak damai. Minho sadar bahwa ia merasakan tingkah aneh Soojung lagi. Namun Minho sadar, mungkin Soojung hanya mengalami guncangan setelah menerima lamarannya. Lagipula Soojung memang secara pribadi termasuk gadis dingin. Bagaimanapun, sedingin-dingin Soojung, Minho tetap menyukainya.

 

“Ya, indah… Apakah kau tidak merasa tak adil, Minho-ssi?” Soojung menjawab dengan jeda yang agak lama membuat Minho penasaran sejenak.

 

Minho mengerjapkan matanya,”Tak adil? Tentang apa?”

 

“Kita berdua sama, trauma terhadap pernikahan kakak perempuan kita. Namun, sekarang aku menerima lamaranmu dan akan menjalankan pernikahan. Aku menerimanya setelah mendengar ceritamu tapi kini aku sadar, mungkin keputusanku salah.”

 

Soojung menjawab dengan pandangan menerawang. Minho sadar, Soojung juga tersenyum sinis. Ya, itu memang bukan ke arahnya tapi ia merasa Soojung sedang menyindirnya. Ia mulai meresapi perkataan Soojung. Rautnya mengeras. Lamarannya sudah diterima namun kini Soojung ragu lagi?

 

“Tidak, tidak, kau tidak bisa menolaknya, Soojungie. Kau menerimanya dengan sadar tadi. Jadi, tak apa jika aku tak mendengarkan ceritamu, aku lebih merasa tak adil jika kau menolaknya.”

 

Ia menjawab dengan getir. Ia merasa hatinya cukup perih dan mulai mengalihkan perhatian dengan melihat pemandangan pantai. Pantai yang sepi dengan deburan ombak menghiasi. Ia ingat masa lalu dimana ia berada disini dengan seseorang yang sama spesialnya dengan Soojung. Ia masih mengingat perasaannya ketika ia juga ditolak. Tapi penolakan lamaran dari Soojung itu terasa sangat sakit dengan kenyataan ia tetap mengelak. Jelas berbeda dengan dulu, ia hanya diam dan menatap langit.

 

“Saat unnieku kuliah, ia berpacaran dengan seorang cassanova kampusnya, Kim Jaejoong. Hubungan mereka diketahui dimana-mana bahkan kedua orang tua sudah menyetujui. Suatu malam, Kim Jaejoong menginap di rumah ketika aku dan orang tuaku ke rumah nenek. Aku tak cukup tahu apa yang mereka lakukan, hanya saja besok siangnya aku menemukan obat aneh di tempat sampah.”

 

Minho dapat melihat bahwa Soojung mulai menahan tangisnya. Ia sadar bahwa Soojung pasti merasakan hal yang sama dengan kakaknya, tentu perasaan saudara yang sama perempuannya lebih erat. Ia juga paham bahwa apa yang terjadi selanjutnya di cerita Soojung itu.

 

“Sebulan kemudian, unnie menangis datang padaku dan berkata ia hamil lalu kusarankan ia mengatakan pada Kim Jaejoong. Beruntunglah, Kim Jaejoong berjanji bertanggung jawab. Seminggu kemudian, pernikahan mereka dilaksanakan. Berita mengejutkan datang bahwa Kim Jaejoong hilang. Karena takut mempermalukan kedua keluarga, Donghae oppa selaku sepupunya mau menggantikannya. Aku tahu unnie sakit hati dan depresi setelah hilangnya Kim Jaejoong. Bahkan Donghae oppa sering dibentak agar pergi dari kamarnya dan memanggil Kim Jaejoong. Aku juga tahu bahwa Donghae oppa begitu menyayangi unnie. Keduanya menderita dalam pernikahan semua itu karena Kim Jaejoong,” Soojung menjelaskan dengan ekspresi jijik mengucapkan kata ‘Kim Jaejoong’.

 

“Tadi, saat kau bertemu dengan keluargaku, Sica unnie memandangmu terpesona. Akupun sadar bahwa Sica unnie memandangmu layaknya Kim Jaejoong. Kau mirip dengan lelaki perusak hidup unnieku.”

 

Minho menatap Soojung yang kini pipinya sudah basah. Ia kini sadar apa yang membuat ekspresi ataupun mood Soojung berubah-ubah. Ia ingin merutuk dirinya sendiri dan mulai paham mengapa Soojung agaknya cukup menjaga jarak dari awal. Ia sudah membuat kesan buruk yaitu menjadi jenis lelaki yang dihindari oleh Soojung. Mengapa ia tak menjadi jenis lelaki sejenis Donghae atau Nickhun? Ia memang ingin membalas Changmin tapi harusnya dengan menjadi jenis lelaki yang berlawanan dengan Changmin kan.

 

Minho menggerakkan bibirnya tak nyaman. Ia paham tubuhnya gatal ingin menarik Soojung ke dalam pelukannya. Ia bergerak gelisah melihat Soojung terisak di depannya. Ia tahu ia beruntung bahwa pantai ini sepi wisatawan sehingga ia tak perlu malu. Tapi yang menjadi masalah adalah ia terlalu takut akan dianggap Soojung sebagai lelaki brengsek yang dibenci Soojung. Akhirnya iapun membuang semua perasaan itu dan mulai meraih Soojung ke dalam pelukannya.

 

“Aku janji, aku tak akan pernah menjadi seperti Kim Jaejoong, aku akan menjadi Lee Donghae untukmu, Soojungie.”

 

*

 

“Apa kau yakin, sayang? Apa kau benar-benar mau menikah dengan Minho?”

 

Soojung mengangkat kepalanya dengan gugup mendengar ucapan ayahnya. Ia ingat bahwa kemarin Minho dan ayahnya sudah datang ke rumahnya untuk melamarnya. Sekarang, ayahnya yang sangat menyanyayanginya ini memastikan bahwa dirinya benar-benar mau menerima lamaran Minho. Soojung kembali meyakinkan dirinya bahwa ini benar-benar jalan hidupnya yang benar. Ia akan menikah dengan Minho yang akan menjaganya dan mau berlaku sesuai dengan suami yang baik tanpa syarat apapun. Hal ini benar-benar jarang ditemukan Soojung bukan?

 

“Ya, ayah. Aku mau menikah dengannya dan sekarang ayo kita berangkat.”

 

Soojung menjawab dengan pasti. Ia sadar bahwa ibunya dan Donghae tersenyum lega. Ayahnya pun juga menanggapi Soojung dengan mengajak seluruh keluarganya masuk ke mobil. Bahkan Sooyeon unnienya juga ikut tersenyum dan segera memeluk Soojung. Ia senang keadaan Sooyeon sudah lebih baik seminggu ini setelah bertemu Minho dan bahkan tidak menganggap Minho sebagai Jaejoong lagi. Ia benar-benar bersyukur bahwa unnienya ini kini sudah berangsur sembuh dan mungkin akan kembali bekerja dengan normal.

 

Suasana di mobil keluarga Soojung cukup tenang tanpa suara. Semua anggotanya tampak sibuk sendiri melihat keluar jendela selama perjalanan menuju rumah Minho. Soojung menggigit bibirnya resah. Ia tahu bahwa ia seharusnya tidak boleh ragu lagi sebelum menikahi Minho, tapi perasaannya aneh. Ia merasa bahwa akan ada sesuatu yang mengganggu pernikahannya. Tapi apa? Soojung tak dapat menemukan jawabannya. Bahkan orang tua mereka berdua saling kenal dan pernah berniat menjodohkan mereka. Soojung pun menggelengkan kepalanya mencoba menghapus pikiran buruk dari otaknya. Ia menghela nafas dalam-dalam ketika mobil orang tuanya itu berhenti di depan rumah mewah dengan taman bunga.

 

“Kau sangat cantik, Soojung-ahh.”

 

Pipi Soojung refleks merona mendengar pujian ibu Minho. Ya, sepertinya sifat menyenangkan, supel dan suka memuji milik Minho didapat dari ibunya ini. Soojung mengucapkan terima kasih dengan malu-malu yang langsung dibalas pelukan hangat dari ibu Minho. Soojung mendongak melihat ayah Minho yang tinggi dan tampan tersenyum tak berbeda jauh dengan senyum Minho. Tapi, Soojung melihat seseorang dengan senyuman yang sangat Soojung hafal berjalan mendekati mereka mengalahkan ketampanan ayahnya itu.

 

Ya, itu Minho. Dia menyapa keluarga Soojung dengan sopan dan menyenangkan seperti biasanya. Dia memakai setelan jas resmi yang dibelinya dari butik Soojung membuat Soojung mengernyit. Tapi Minho hanya mengedip jahil dan tersenyum. Ia segera menghampiri Soojung dan menggenggam tangan Soojung. Soojung tahu pipinya mulai memerah merasa keluarganya dan orang tua Minho tersenyum menatapnya. Namun ia bersyukur bahwa dirinya benar-benar nyaman tangannya berada di tangan hangat Minho.

 

Soojung memandang kagum arsitektur rumah Minho ini. Akhirnya ia sadar bagaimana keluarga Choi ini begitu terkenal mengenai kekayaannya. Ia tahu dirinya cukup kurang informasi mengenai apa saja yang sedang dibicarakan orang-orang kecuali dari Suzy, sahabatnya sejak SMA. Ia bukannya tak bersyukur mengenai rumahnya, tapi rumahnya juga tak bisa dibandingkan dengan rumah ini yang jauh-jauh diatas level rumahnya. Soojungpun menghapus bayangan apa saja yang masih dapat dibandingkan antara rumahnya dan rumah Minho. Ia sadar bahwa ia dan keluarganya sudah sampai di ruang makan keluarga Minho. Ia membungkuk menyapa seorang lelaki tampan dengan wajah yang jauh lebih cassanova dibanding Minho. Ia mulai sadar bahwa lelaki itulah Shim Changmin, kakak ipar Minho.

 

Anyeong haseyo! Senang melihat anda dan keluarga anda, tuan Jung,” sapa lelaki itu.

 

Diam-diam, Soojung melirik ekspresi unnienya yang ia ketahui biasanya mengingat Kim Jaejoong melihat lelaki bertampang cassanova. Ia bersyukur unnienya malah sibuk membalas senyum ibu Minho dan berbicara dengan ceria dengan Donghae, suaminya. Yang membalas ucapan lelaki itu hanyalah ayah Soojung yang tampak mengenalnya. Ia merasa lega pada sikap keluarganya begitupun dengan sikap Minho yang masih menggenggam tangannya.

 

“Kau bisa membawanya menemui Sooyoung, Minho-yaa,” Changmin berkata kepada Minho dengan senyum.

 

Soojung terdiam. Ia paham maksud Changmin adalah ia boleh menemui kakak perempuan Minho. Ia tahu semua orang memandang Changmin tak terkecuali kakaknya yang biasanya tidak peduli. Ia melirik ekspresi Minho. Minho menatap Changmin dengan ekspresi dingin. Bulu kuduknya meremang. Ia tak menyangka betapa dinginnya pandangan Minho itu.

 

Ia dapat melihat Minho mulai mengangguk kaku. Kemudian menariknya menuju salah satu lorong di rumah itu. Soojung mulai berpikiran aneh. Apa mungkin Minho tidak mau melihatnya menemui kakak perempuannya. Atau mungkin Minho takut ia membuat masalah dan malah merusak pertemuan itu. Soojung pun mulai menggigit bibirnya gelisah.

 

 

Sejujurnya Minho ingin mengakui bahwa ia benar-benar takut. Bukannya takut tanpa alasan tapi ia benar-benar takut reaksi kakak perempuannya. Hal ini benar-benar tidak baik karena kakaknya itu entah mengapa selalu membenci gadis yang ia kenalkan pada kakaknya itu. Dulu yang pertama adalah Soojin. Gadis itu malah diejek dan dimaki oleh kakaknya. Soojin dicibir oleh kakaknya gadis picik dan sok cantik. Yang kedua adalah Jiyeon. Jiyeon malah disiram minuman oleh kakaknya dan diusir tanpa pembicaraan apapun. Ia jelas takut kakaknya berbuat hal sama pada Soojung. Masalahnya adalah kedua gadis itu tak terlalu ia khawatirkan karena mereka hanya mainannya sedangkan Soojung adalah calon istrinya.

 

Minho berhenti sebentar di depan pintu kamar kakaknya itu. Ia berdoa dalam hati sejenak. Ia melihat Soojung yang tampak gelisah melihat ekspresinya. Ia lalu menggumamkan semoga berakhir baik tanpa suara dan membuka pintu itu. Ia dapat merasakan tubuh Soojung menegang gugup.

 

“Yoona-yaa.”

 

Minho terbelalak mendengar panggilan kakaknya pada Soojung. Tunggu, siapa Yoona? Yoona bukan musuh kakaknya kan? Jika iya, itu gawat. Pasti Soojung harus menelan kata-kata pedas kakaknya. Minho merasakan tangannya menegang merasakan kekagetan dan kegugupan Soojung. Ya tuhan, bagaimana ini?

 

Jantung Minho hapir melompat keluar dadanya melihat kakaknya memeluk erat Soojung. Ini benar-benar aneh. Kakaknya berkelakuan layaknya ia adalah teman lama Soojung. Mana mungkin kakaknya ini mengenal Soojung kan? Tunggu, Yoona? Minho rasa ia pernah mendengar nama Yoona. Tapi dimana? Ia benar-benar tidak dapat menemukan jawaban itu. Ah, setidaknya ia harus bersyukur paling tidak reaksi kakaknya itu lebih baik kali ini.

 

*

 

Seorang gadis berambut panjang memandang sekeliling dengan mata tertutup sunglasses hitam. Ia mengenakan rok selutut putih yang senada dengan sweater panjangnya. Ia mengerucutkan bibirnya mengetahui seseorang yang ditunggunya tidak terlihat. Ia mulai menunjukkan wajah cemberut sambil menarik kopernya.

 

“Jinri-yaa!”

 

Jinri membalikkan badannya mencoba mengetahui siapa yang memanggil namanya itu. Setelah seseorang yang memanggilnya itu menampakkan dirinya itu menampakkan diri, Jinri segera membalikkan tubuhnya mulai meninggalkan orang itu. Jinri sebal dengan seseorang. Ia benar-benar berharap orang itu menjemputnya tapi malah menyuruh orang lain. Ah, moodnya benar-benar menjadi buruk.

 

YA! YA! Kau ini sudah baik-baik kupanggil malah meninggalkan.”

 

Orang yang memanggil Jinri itu yang akhirnya menyamakan langkah Jinri itu mengomel sambil mengatur nafasnya. Jinri menoleh dengan menyipitkan matanya. Ih, siapa juga yang mau dipanggil orang ini. Orang yang benar-benar tidak diharapkannya. Orang benar-benar selalu mencelanya dan bahkan merusak moodnya.

 

“Kenapa harus seorang Kim Jonghyun yang menjemputku? Huh, kau benar-benar tak kuharapkan,” Jinri membalas omelan itu dengan dingin.

 

Jonghyun yang tampaknya sudah kesal dan lelah mulai menggoda Jinri,”Memangnya aku mau menjemputmu jika tak diberi ganti voucher belanja. Oh, kau mau Taemin kan yang menjemputmu?”

 

Jinri menghentikan langkahnya dan memandang ketus Jonghyun,”Taemin? Orang yang membuatku diusir tunangannya itu? Jangan bercanda! Kemana Minho oppa?”

 

Jonghyun meringis melihat respon Jinri. Ia akui ia memang benar-benar senang menggoda gadis ini. Tapi ia tidak bisa benar-benar memaki gadis ini di hadapan Minho. Ia paham gadis ini adalah sepupu kesayangan Minho.

 

“Ia sedang fitting baju dan benar-benar sibuk. Kau lebih baik langsung ke rumahnya.”

 

Jinri tak menjawab. Ia tampak memikirkan sesuatu. Jonghyun bersyukur tampaknya gadis ini tak akan memberontak. Mereka berdua berjalan dengan diam menuju tempat parkir. Jonghyun tersenyum sendiri menyadari tipuannya belum disadari. Ia paham pasti gadis ini akan memintanya mengantarnya ke Minho tapi ia punya trik. Ia mengantarkan gadis ini ke mobil putih yang jelas berbeda dengan mobilnya itu.

 

“Tunggu, ini mobil siapa?”

 

Jinri mulai menyadari keanehan yang dibuat Jonghyun ketika Jonghyun membukakan pintu belakang mobil itu. Refleks Jinri membungkuk menyapa siapa yang ada di dalam mobil itu. Jonghyun menahan tawa melihat Jinri yang salah tingkah diberi senyum oleh Changmin dan Sooyoung.

 

“Aku akan membawakan kopernya ke bagasi.”

 

“Terima kasih, Jonghyun. Aku minta maaf karena tak bisa langsung menjemputnya.”

 

Jonghyun mengangguk dengan senyum sopan pada Changmin. Sedang Jinri yang duduk di belakang sendirian merutuk dan mendelik pada Jonghyun. Ia meneriakkan dasar pembohong tanpa suara. Jonghyun memasang senyum palsu dan bersyukur dalam hati. Ia memang tahu mungkin jika Jinri bertemu lagi dengannya ia akan menyumpahinya dengan kata-kata kasar. Tapi toh ia tetap diberi voucher oleh Minho.

*

“Jadi, kau benar-benar menyusulku kan, Soojungie?”

 

Soojung mengangguk dengan senyum malu menjawab pertanyaan Suzy, sahabatnya itu. Sedangkan Suzy benar-benar bahagia melihat reaksi Soojung itu. Ia sudah mengenal Soojung luar dalam. Ia tahu dan paham siapa yang membuat Soojung seperti itu ataupun ia paham beberapa orang yang pernah disukai atau bahkan dibenci Soojung. Dan untuk berita seperti ni, ia benar-benar bersyukur.

 

“Jadi kau ingin memakai dress apa untuk pemotretan pernikahanmu?” tanya Suzy.

 

“Entahlah, kurasa aku ingin memakai dress yang anggun. Aku ingin terlihat dewasa di depannya, Suzy-yaa.”

 

Suzy diam. Ia yakin pernah mendengar reaksi seperti itu. Ia yakin ia pernah melihat seseorang berekspresi seperti Soojung. Tunggu, itu bukan dirinya kan? Ia tak pernah berekspresi seperti itu kan saat akan menikah. Oh tidak, itu memalukan. Tapi apa mungkin semua wanita yang akan menikah seperti itu?

 

“Aku memalukan yaa? Aku seperti bukan diriku. Bagaimana ini?”

 

Soojung mulai menyadari pandangan Suzy padanya.Suzy menggigit bibirnya. Ia benar-benar tidak pandai membohongi atau menyembunyikan ekspresinya pada orang lain. Ia memandang minta maaf pada Soojung. Soojung pun menutup pipinya malu.

 

“Ah benar-benar maaf, Soojungie. Bagaimana kalau kita langsung memilih?”

 

 

“Well, kau benar-benar menyusulku, bro!”

 

Minho hanya tersenyum menjawab ejekan Myungsoo sahabatnya itu. Ia benar-benar tidak bisa mengelak dari kebahagiaan yang sedang terisi penuh di dadanya ini. Ia bahkan tidak bisa memasang ekspresi dingin bahkan sombong yang biasa ia pasang. Ia merasa bodoh dan malu. Sejak beberapa hari yang lalu setelah undangan pernikahannnya dibagikan banyak orang memberinya selamat. Tapi banyak juga gadis yang menyumpahinya karena pernah ia permainkan. Ah, ia harus fitting baju siang ini.

 

“Tunggu, Myungsoo-yaa. Dimana butik istrimu?”

 

“Kenapa?”

 

Minho mengingat kemarin malam Soojung mengirimkan alamat butik temannya. Sebenarnya ia merasa aneh. Bagaimana bisa seorang desainer membeli baju pernikahan dari orang lain. Bukankah harusnya mereka bisa membuat sendiri. Tapi alasan bahwa Soojung membeli dari sahabatnya akhirnya dapat diterima Minho. Ia diam dan sadar bahwa ia pernah diberi alamat butik itu sebelumnya. Apa pikirannya benar bahwa sahabat Soojung itu…

 

“Tunggu, jangan bilang calon istrimu sahabat istriku???”

 

The memory I can’t erase for one second

I just think of you

I can’t do anything

While not doing anything

I look at the slow time

Where are you?

What are you doing?

Because I only think of one person

I only think of that one person

 

-TBC-

 

Anyeong! Ini udah lebih panjang dari kemarin kok. Tapi lebih geje dari yang kemarin xD ini gabungan sama belajar ulangan yaa. Doain semoga hasil ulangan author bagus yaa. Oh ya, 2 minggu vakum dulu yaa buat ujian kenaikan kelas. Author masih SMA soalnya 😀 Thankyou, thankyou buat RCLnya. Semoga makin banyak yang RCL, dan nunggu. Oh ya itu author kemarin ngepost beberapa ff mohon dibaca jugaa dong kalo sempat~ See you later, GIVE ME YOUR FEEDBACK>>>

*BTW maaf ya author nggak sempat buat poster 😀

Advertisements

15 thoughts on “A Marriage, Chapter Three

  1. huaaaa…. smoga pas nikah nnti lancar2 aja yh ,,
    yoona??? emang agak mirip sih kkkk XD untung aja sooyoung gk marah2 sm soojung. next…next…

  2. ah.. komen aku d chapter sebelumnya salah kaprah banget ya.. kkk. mianhae. untung bukan minong yg bikin sooyeon kaya gitu.. terus ini kapan d lanjut chingu ya? perlu aku ulang klo ini bagus dan mesti d lanjut. gomawo ffnya. jalan cerita ff ini ga ketebak. aku suka. fighting ne.

    1. haha, nggak papa kok. namanya juga perkiraan. iya beruntung deh minong bukan yg buat sica gitu.
      kapan yaa? mood nulisku lagi ngedown buat ff ini soalnya ya komennya sedikit. aku kira nggak ada yg suka gitu.
      insya’allah deh author entar nulis lagi lanjutannya.
      makasih komennya /,\
      ditunggu komenan lainnya~

  3. ternyata udah terbit toh, telat amat aku bacanya -,-
    yey akhirnya mreka udah mw merit, tpi itu yoona sapanya sooyung ? *penasaran
    n jgn blang si jinri ga suka ma jungie
    tolong dlanjutin ya thor 🙂

  4. Eonni .. ceritanya bagus.. tp agak membingungkan, mau request boleh ga eonni? Gini.. bisa tolong jelasin siapa yoona utk sooyoung ga di chap akhir. Gamshamida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s