The Boy, Oneshoot

 

Title : The Boy | Author : magnaegihyun | Cast : Bae Suzy, Kim Myungsoo, etc | Genre : Romance, Angst, Friendship | Rating : PG-13 | Poster by nunaw

the-boy

 

Suzy menikmati liburan seminggunya yang sangat ia nantikan itu dengan perasaan tidak tenang. Bagaimana tidak? Ia bertemu dengan malaikat tampannya disana. Padahal, malaikat tampannya itu adalah satu orang yang ingin dihindarinya. Ia meninggalkan malaikat tampannya itu dengan lancang dan tak tahu terima kasih.

 

Ost : When In Love by B1A4 | Disclaimer : This storyline is belong tomagnaegihyun. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the pairing? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

***

 

“Suzy-yaa, kita sudah sampai!”

 

Aku menggeliat mendengar suara Jia eonni yang membangunkanku. Perlahan penglihatanku mulai membiasakan dengan suasana pesawat yang kutumpangi sejak beberapa jam yang lalu. Ya, ada yang berbeda, sebelum aku terlelap tadi, aku melihat kabin pesawat ini dilalui pramugari yang menjalankan peran mereka. Sekarang, terlihat jelas bahwa semua penumpang mulai bergegas mengemasi barangnya dan beranjak turun dari pesawat ini.

 

Akupun bangun dari posisi dudukku dan memberi kode pada Jia eonni untuk turun. Aku melemaskan otot-ototku sambil menunggu Jia eonni membereskan barang-barangnya. Kamipun turun dan tentu saja memasuki bandara yang ramai. Kurasa aku memang tipe orang yang cukup cuek hingga aku hanya berjalan melalui keramaian itu dengan lurus mengikuti Jia unnie.

 

“Kemana syal merahmu tadi, Suzy? Kau tahu kan ini sangat dingin?”

 

Jia eonni mengingatkanku sesegera setelah kami berada di taksi yang kami naiki. Aku hanya merespon dengan tersenyum lebar menunjuk koperku.Jia eonni hanya geleng-geleng seakan maklum dengan kelakuanku. Tentu ia maklum, sudah setahun ini aku bersamanya. Aku harus menjalani pengobatanku terhadap alergi aneh kulitku terhadap suhu tinggi ataupun rendah. Ini tentu menyusahkanku sehingga aku harus tetap mengenakan pakaian tebal tak peduli musim panas ataupun dingin.

 

Syal, kata itu mengingatkanku pada seseorang. Malaikat tampanku yang dingin. Tidak, ia tidak dingin, ia sangat peduli dan baik padaku. Andai, aku dapat bertemu dengannya lagi. Dengan melihatnya pun kurasa aku sudah sangat bahagia. Tapi itu sangat tidak mungkin, karena kami tidak dapat bertemu dengan mudah seperti setahun yang lalu lagi.

 

Ah lupakan! Ingat, kau pergi ke Jeju-do untuk berlibur, Suzy! Jangan mengkhayal hal yang mustahil! Ya, aku sekarang berada di Jeju-do. Ini tempat liburan favoritku sejak kecil. Aku tak boleh menyia-nyiakan waktu ini dengan melamun. Aku menatap pemandangan di luar jendela taksi dengan perasaan ringan. Tentu saja dengan melupakan lamunan dan pikiran mustahilku.

 

*

 

“Dia anak pembunuh itu kan?”

 

“Kata ibuku, jika ayahnya pembunuh, berarti anaknya juga.”

 

“Benar! Benar! Ibuku bilang kita tidak boleh berteman dengannya.”

 

“Tapi bukankah kita harusnya berteman? Kita tidak boleh mendiskriminasi, kan?”

 

Aku terdiam sambil menunduk membaca buku pelajaran Sejarahku yang tebal. Aku sudah biasa mendengar ejekan bahkan kekerasan oleh teman-teman sekelasku. Aku tahu, ini semua memang salah ayahku yang membunuh seseorang. Tapi aku tidak ikut membunuh, dan sekarang aku yang harus menanggung akibatnya. Aku tahu ucapan terakhir yang kudengar itu milik Soojung. Ia benar-benar baik padaku. Ia mau menjadi teman satu kelompokku jika tidak ada seorangpun yang mau. Meski Soojung sering berkata seperti itu, anak lain seperti mengabaikannya dan tetap jijik padaku.

 

“Teman-teman, tim paduan suara sekolah akan tampil di aula!”

 

Aku mendengar jeritan Minwoo, salah satu teman sekelasku dari pintu. Aku mulai menyilangkan kakiku tak seperti temanku yang lain yang mulai bangkit dari duduknya dan berlari keluar kelas. Aku hanya menghela nafas tak ada niatan menonton tim paduan suara. Aku tahu paduan suara sekolah ini memang sudah sampai tingkat nasional, tapi aku tidak terlalu peduli dengan hal itu. Mungkin jika aku menonton, akan ada jarak yang tampak antara aku dan temanku yang lain. Mereka tentunya tak mau dekat-dekat denganku. Akupun mulai melirik ke luar jendela melihat beberapa orang yang tampaknya tak mengetahui berita tim paduan suara tampil.

 

Aku tersenyum melihat beberapa orang di pojok lapangan itu. Aku hanya melihat satu orang yang duduk dengan mengalungkan kamera. Orang itu tampak menunduk fokus melihat apa yang ada di kameranya itu. Aku tersenyum sendiri melihat potongan rambutnya yang agak panjang itu. Ia tampak seperti anak nakal. Tapi itu hanya tampaknya, ia benar-benar anak yang membanggakan dalam bidang fotografi yang kudengar.

 

“Myungsoo-yaa, awas!”

 

Aku mulai melirik beberapa orang yang menjerit pada anak itu. Anak itu mendongak. Aku melihat bola basket sedang meluncur keras itu menghantam hidung anak itu. Anak itu, malaikatku, terluka? Ya tuhan, bagaimana ini! Aku mulai berdiri mencoba melihat lebih jelas bagaimana reaksi malaikatku. Aku melihat ia jatuh terduduk dengan hidung yang berdarah. Oh tidak, aku ingin melihatnya! Bagaimana ini? Tapi apa itu tidak mengganggu? Ia kan tidak mengenalku.

 

“Suzy, ibumu ingin bertemu denganmu di kantor sekarang.”

 

Aku menoleh mendengar namaku disebut. Itu wali kelasku, Jooyeon sonsaengnim. Aku mencoba mencerna apa yang kudengar tadi. Apa? Ibuku? Bertemu? Di kantor? Apa aku tidak salah dengar. Aku sudah tidak bertemu ibuku selama empat tahun karena ia menghilang. Dan sekarang ada orang yang mengaku sebagai ibuku ingin menemuiku? Huh, apa aku orang bodoh? Aku harus dibenci bahkan dibully setiap hari karena ayah dipenjara, dan aku tinggal sendirian. Sekarang, ibuku datang dan ingin menemuiku? Pasti, ia akan meninggalkanku sendirian lagi.

 

Aku duduk diam di bangkuku. Jooyeon sonsaengnim tampak tersenyum padaku dan mengatakan ‘ayo cepat’ dari pandangannya. Aku melihat ada beberapa anak di kelas yang tidak pergi ke aula. Aku dapat mengartikan pandangan mereka bahwa mereka sedang mengejekku ‘apa dia tuli? Dipanggil ibunya, tidak mau’. Tapi aku mengabaikannya. Namun ada satu orang yang pandangannya tidak dapat kuabaikan. Jung Soojung mendongak memandangku dan Jooyeon sonsaengnim bergantian. Ia tampak penasaran dan ingin mengajakku bicara. Bahkan ia menghentikan kegiatan menulis sesuatu di bukunya. Akupun menyerah dan memilih berdiri dari kursiku lalu pergi. Aku lebih memilih menemui ibuku daripada diajak bicara oleh Soojung. Aku tahu aku juga ingin punya teman tapi aku tak boleh membuat Soojung tak mempunyai teman juga bukan.

 

*

 

“Ya, aku hanya naik kapal dan melihat lumba-lumba, unn… Tidak, aku akan kembali pukul lima di hotel…”

 

Aku menjawab panggilan telepon dari Jia eonni dengan malas. Jia eonni sangat-sangat protektif padaku. Ya, aku tahu aku belum sembuh dari alergiku tapi apa setidaknya aku tidak boleh pergi jalan-jalan sendirian? Aku kan sudah dewasa. Lagipula aku ingin menenangkan diri. Aku ingin seperti dulu, setidaknya selalu sendirian dan tidak harus menjaga ekspresi agar tidak menyakiti orang lain.

 

Aku mengucapkan ‘sampai jumpa nanti’ pada Jia eonni melihat beberapa orang yang mulai sibuk menaiki kapal. Aku mengikuti di belakang sambil membenarkan letak tas punggungku. Aku dapat melihat bahwa beberapa orang yang mengikuti tur ini sedang liburan keluarga. Tapi ada juga beberapa orang yang tampak sedang berlibur sendirian. Salah satunya seseorang yang memakai jaket hitam itu. Ia tampak menunduk melihat apa yang ada di kamera yang dikalungkan ke lehernya.

 

Aku menghela nafas mencoba mengabaikan pikiran burukku yang ingin mencela gaya berpakaian orang lain. Huh, meskipun aku mahasiswi jurusan desain pakaian yang jarang masuk tetapi aku cukup memahami bagaimana gaya berpakaian yang normal. Dan lihat lelaki berpakaian hitam tadi, apa ia mau ke pemakaman. Akupun masuk dalam kabin kapal dan duduk di tempat kosong seadanya. Aku merogoh ponselku dan segera menjelajah ke internet.

 

Aku mencari beberapa tempat menarik di Korea dari internet dengan ponselku. Aku jelas paham bahwa Jeju-do ini salah satunya. Bahkan yang terkenal di dunia. Nah, sekarang aku harus mencari tempat lain yang belum kukunjungi. Mungkin ini satu-satunya kesempatan terakhirku berada di Korea. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang seperti ini bukan.

 

Aku tersenyum sendiri melihat beberapa foto yang muncul karena kata kunci yang telah kuketikkan tadi. Aku ingat ada beberapa tempat yang sudah kukunjungi tapi aku dapat mengingat beberapa kenangan di tempat itu. Aku tahu mungkin kenangan itu tak terlalu bagus tapi aku bahagia tetap dapat mengingat kenangan itu. Aku penasaran dan begitu bersemangat kali ini. Meski aku kesini hanyalah beberapa hari tapi aku bersyukur.

 

“Woah, ada lumba-lumba!”

 

“Iya, benar!”

 

“Lucu sekali!”

 

Aku mendengar beberapa teriakan histeris dari luar kabin kapal itu. Aku segera bangkit dan mencari sumber suara. Tentu saja beberapa orang yang mengikuti tur bangkit dan sama penasarannya denganku. Aku mendengar kata lumba-lumba sambil mengingat beberapa hal bodoh yang telah kulakukan dulu. Ya tuhan, mengapa aku begitu bodoh dulu?

 

Ah, lupakan. Aku memotret beberapa gambar dari lumba-lumba itu. Mereka benar-benar indah dan menakjubkan. Inilah salah satu alasan aku ikut tur ini. Aku berpikir lebih sombong. Aku berinisiatif mengirim foto pada Jia eonni dan memamerkan bahwa ia sial jika tidak mengikuti tur ini. Aku kemudian mengambil fotoku dengan latar belakang lautan dengan inisiatif tadi.

 

Aku melepas tudung jaketku menyadari hasil fotoku tak begitu bagus dan memfoto diriku sendiri lagi. Aku tersenyum dan segera memilih pilihan berbagi foto melalui SNS. Aku mengetikkan keterangan dengan kata-kata lucuku. Aku tahu meski hanya beberapa orang yang akan menyukai itu, tapi aku ingin memamerkannya. Aku yakin Jia eonni pasti sedang membuka SNS-nya dan akan mengkomentari postinganku tadi.

 

Aku menoleh merasakan ada lampu flash kamera mengenaiku sedikit. Aku melihat lelaki serba hitam tadilah sedang memotret sesuatu dengan kameranya namun sudutnya dekat denganku sehinggal lampu itu mengenaiku. Aku mengabaikannya dan kembali menyelesaikan mengetik keterangan di posting SNS-ku. Aku tersenyum lega melihat posting sudah benar-benar terbagi ke orang lain. Aku diam-diam sebal merasakan ada seseorang yang sedang memandangiku. Apa jangan-jangan lelaki serba hitam tadi? Dia bukan orang jahat kan?

 

Aku mencoba mengabaikan perasaan percaya diriku itu mengenai pandangan seseorang. Aku mulai berbalik dan berniat kembali ke kabin kapal. Tapi aneh. Kakiku rasanya membeku seolah menyuruhku tidak bergerak dan tetap di tempatku. Aku merasakan darahku mendidih dan mengalir cepat dan mengumpul di pipiku. Tatapanku langsung jatuh di satu tempat. Anehnya aku tidak bisa mengabaikan itu dan mengalihkan perhatianku.

 

Tatapanku berhenti dan menatap lurus pada lelaki serba hitam tadi. Aku melihatnya ia sudah tidak sibuk memotret meski tampaknya lumba-lumba tadi belum lelah menarik perhatian penumpang kapal ini. Ia balas menatapku dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Aku menggigit bibirku menahan air yang tampaknya ingin tumpah di sudut mataku. Hatiku sesak rasanya mengingat apa yang telah kulakukan kini. Lelaki serba hitam tadi… Melepas tudung jaketnya… Rambut hitamnya… Semakin tampan… Malaikatku

 

“Hei, kau…. Gadis lumba-lumba…”

 

*

 

“Suzy-yaa, laporan praktikum kemarin kau bawa kan? Aku akan mengerjakannya hari ini juga.”

 

Soojung menyapaku pagi ini dengan nada ceria seperti biasanya. Aku mengangguk pelan dan mulai mencari buku catatanku di tas punggungku. Aku tahu teman-teman sekelasku kini sedang mencibir Soojung karena ia mengajakku berbicara. Bahkan hanya Soojung yang mau menjadi teman sekelompokku praktikum. Aku benar-benar bersyukur dalam hati.

 

Tunggu, kemana buku catatanku? Tidak mungkin hilang kan? Oh tidak, aku tidak boleh mengecewakan Soojung yang sudah baik-baik mau menjadi teman sekelompokku. Apa mungkin di lokerku? Ah iya, pasti disitu!

 

“Tunggu sebentar disini. Aku akan mengambilnya ke lokerku.”

 

“Tidak, aku ikut denganmu!”

 

Aku diam saja merasakan Soojung mulai mengikutiku keluar kelas. Soojung mulai menceritakan sesuatu macam-macam padaku sambil berjalan ke lokerku. Ia tidak takut ataupun minder berjalan di sebelah anak pembunuh ini atau bahkan dipandang rendah anak lain karena berjalan bersamaku. Ia malah menanyakanku masalah ibuku. Aku hanya mengangguk ketika ia menanyakan apakah aku akan ikut ibuku pindah ke luar kota.

 

Aku membuka lokerku lalu mengubek-ubek isinya. Aku tidak terlalu memperhatikan ucapan Soojung. Aku masih sibuk mencari buku catatanku di dalam loker. Ya tuhan, apa buku itu benar-benar hilang?

 

“Hei, kau petugas UKS kemarin kan?”

 

Refleks, aku menoleh ke arah seseorang yang menepuk bahuku. Aku yakin bahwa itu jelas bukan Soojung karena suaranya laki-laki. Soojung mulai berdiri disampingku ingin tahu. Aku jelas langsung membulatkan mataku melihat siapa yang menepuk bahuku juga memanggilku.

 

Dia… Kim Myungsoo. Ia dengan salah satu temannya, Lee Minhyuk. Temannya itu tampak tak nyaman berhadapan denganku apalagi disertai tatapan ingin tahu semua orang. Aku tentu dapat mengartikan arti tatapan itu. Tatapan yang menyiratkan ‘Mengapa laki-laki itu mau berbicara dengan anak pembunuh? Apa dia tidak takut dibunuh?’ dan tatapan itu benar-benar berbeda dengan tatapan Myungsoo sunbae. Ia malah tersenyum manis padaku menunjukkan mata sipitnya. Aku pun hanya mengangguk jelas sekali tidak bisa menghindar.

 

“Ah, ini bukumu. Kau suka lumba-lumba ya? Terima kasih untuk kemarin, gadis lumba-lumba.”

 

Aku segera mengambil buku bersampul gambar lumba-lumba itu. Aku benar-benar malu. Meski aku sadar bahwa dugaannya itu benar tapi aku malu pada siapapun yang mendengarnya. Hal itu kekanakan bukan? Aku cukup bersyukur bahwa ia segera pergi setelah memberikan buku itu. Aku langsung memberikannya pada Soojung.

 

“Catatan praktikum kemarin halaman kelimabelas. Kau bisa mengembalikannya paling lambat minggu depan. Aku akan pindah minggu depan.”

 

“Baik. Tunggu, kau benar-benar pindah? Tapi, tunggu, petugas UKS? Kemarin?”

 

Aku diam dan menunduk. Aku hanya berjalan menuju kelas dengan diikuti Soojung yang tampaknya masih ingin tahu mengenai ucapan Myungsoo sunbae. Tapi aku tidak menjawabnya hingga aku sampai di tempat dudukku dan membaca bukuku. Soojung malah duduk di sampingku meski aku tidak menjawab pertanyaannya.

 

“Tunggu, jadi kau kemarin menolong Myungsoo sunbae di UKS saat pelajaran kelima? Atau jangan-jangan… AH, kau menyukainya?”

 

Aku segera mendongak sambil menempelkan telunjuk di bibir bermaksud menyuruh Soojung mengecilkan suaranya. Namun itu benar-benar terlambat, semua teman sekelasku sudah memandangiku. Akupun menunduk malu. Aku bukanlah orang yang nyaman dengan pandangan banyak orang seperti itu. Soojung kedengaran malu juga hingga ia ikut menunduk dan berbisik di telingaku.

 

“Kau menyukainya kan? Kau harus menyatakannya sebelum pindah, Suzy-yaa!”

 

*

 

Aku memainkan tali tas punggungku sambil menggigit bibirku gelisah. Aku sekarang sedang duduk di bebatuan bersama Myungsoo sunbaenim sambil melihat laut. Aku cukup merutuki diri sendiri yang tadi sempat mengejek pakaian Myungsoo sunbaenim tapi memang pakaiannya terlalu gelap.

 

Aku menggembungkan pipiku bingung harus berkata apa. Kami sama-sama hening sedari tadi. Padahal kami memutuskan berlibur berdua sejak mengetahui bahwa kami menaiki kapal yang sama tadi. Ini bukan suasana favoritku. Aku bukan tipe orang yang dapat memilih kalimat yang benar untuk memecah keheningan. Sehingga aku hanya bisa memainkan gigiku menunjukkan betapa awkwardnya kami saat ini.

 

“Jadi… Kau baik-baik saja selama ini?”

 

“Ya. Kabar sunbae juga baik kan?”

 

“Tentu saja. Apa kau masih berakting?”

 

Myungsoo sunbae memecah keheningan dengan pertanyaan ringan. Aku bersyukur bahwa aku juga dapat membalas dengan tak kalah ringannya. Aku hampir tertawa keras mendengar pertanyaan sunbae yang terakhir. Ya ampun aku sudah lama tidak berakting.

 

“Sayangnya, tidak. Aku terlalu sibuk dengan kuliahku. Sunbae sudah menjadi aktor kah sekarang?”

 

“Beruntungnya, iya dan menjadi fotografer tidak jelas. Aku cukup bebas akhir-akhir ini setelah selesai mengurus dramaku. Kau sedang apa ke Jeju?”

 

Myungsoo sunbae menjawab pertanyaanku dengan senyum singkat sambil memamerkan kameranya. Ia tetap sama seperti dulu. Dingin dan santai seperti biasanya. Kurasa aku tak harus menjawab pertanyaannya dengan serius. Ia pasti hanya bertanya untuk basa-basi.

 

“Berlibur di musim semi. Bukankah Jeju paling indah saat ini? Aku sudah lama tidak ke korea.”

 

Aku menjawab singkat dengan senyum pendek. Aku diam dan menunggu responnya. Aku rasa ia sudah kehabisan kata-kata untuk berbasa-basi. Meskipun ia seorang aktor, aku cukup paham bahwa ia bukanlah tipe orang yang banyak bicara. Ia lebih terkesan pendiam dan misterius. Mungkin banyak orang bosan dengannya tapi itulah yang kusukai darinya.

 

“Kurasa aku akan berkeliling sebentar sebelum kembali, sunbae. Aku duluan.”

 

Aku bangkit dari dudukku dan mengibaskan tanganku mencoba membersihkan bajuku. Aku tersenyum dan pamit padanya. Aku segera berjalan cukup cepat dan menikmati waktu sendiriku dengan nyaman. Tapi aneh, tanganku tertarik seseorang dan membuatku berbalik dengan cepat. Myungsoo sunbaenim terlihat terengah-engah seperti menampakkan bahwa ia mengejarku dan mencegahku pergi.

 

“Tidak… Kau tidak boleh pergi dengan semudah itu lagi. Aku merindukanmu, Suzy-yaa.”

 

 

Detak jantungku rasanya berhenti beberapa detik mendengar ucapannya. Ia menatapku dengan dingin dan memegang tanganku. Lalu mengucapkan kata-kata itu. Ya tuhan, aku tidak sedang bermimpi, kan? Ia merindukanku? Malaikatku?

 

Aku diam tak tahu harus berkata apa. Ia tersenyum manis menunjukkan mata segarisnya. Ia benar-benar manis. Tanganku benar-benar terasa gatal ingin mengelus puncak kepalanya itu. Aku heran. Ada apa dengannya hari ini? Aku baru melihatnya kali ini ia bertingkah seperti ini padaku.

 

“Bolehkah… Aku memelukmu?”

 

Aku seketika menganga mendengar ucapannya. Apa yang ia katakan? Memeluk? Memeluk yang definisinya dua orang saling bertautan tubuh dengan tangan masing-masing orang mencegah orang lainnya melepaskan? Aku menggerakkan bibirku gelisah. Bingung harus menjawab apa. Tanpa sadar disaat otakku tampaknya sedang mati rasa, leherku bergerak sendiri menganggukkan kepalaku.

 

 

Tubuhku kaku. Aliran darahku terasa mengalir deras ke seluruh tubuhku. Aku dapat merasakan jantungku kembali berhenti berdetak menunjukkan tubuhku mengalami keadaan atau reaksi asing atau mungkin jarang kurasakan. Tanganku tergantung lemah di sisi tubuhku diam. Mungkin otakku belum benar-benar berjalan dengan normal sehingga aku tak dapat memberikan reaksi apapun atas rangsangan asing ini. Ah, atau mungkin perjalanan impulsku sedang macet ketika menuju alat inderaku sehingga tubuhku diam tanpa reaksi apapun.

 

Tapi tunggu… Tubuhku ini sudah memberikan reaksi berupa aliran darah lebih cepat dan detak jantungku yang berhenti sesaat. Berarti, sistem sarafku berjalan dengan normal. Aku juga dapat merasakan bahwa aku sedang dipeluk oleh Myungsoo sunbae. Jadi, reaksi itu adalah… Apa aku benar-benar sudah jatuh ke dalam pesona Myungsoo sunbae kini? Ya tuhan, aku ternyata sama saja dengan gadis-gadis yang menyukainya. Aku mudah terpesona. Jadi selama ini aku bukannya kagum dan berterima kasih, malah menyukainya?

 

“Terima kasih, sunbae… Telah merindukanku…”

 

*

 

“Kau harus ikut eomma, Suzy! Kau tak boleh hidup seperti ini terus…”

 

“Tidak, kau hanyalah anak Bae Hyeeun tanpa Lee Changsun. Kau tidak akan hidup menderita lagi sebagai Lee Suzy lagi…”

 

“Disana ada Kim Joonmyun yang dapat menggantikan Lee Changsun sebagai ayahmu. Dia tidak akan menyakitimu seperti Changsun…”

 

“Ibu sudah selesai mengurus dokumenmu, Suzy-ah. Nanti malam kita akan berangkat ke London.”

 

Aku menatap kartu identitasku yang diberikan ibu tadi pagi. Disitu tertulis jelas nama Bae Suzy yang nanti malam akan kugunakan seterusnya. Aku tahu aku tidak seharusnya bolos di hari terakhirku di sekolah ini. Tapi aku benar-benar malas. Lagipula jika aku mengikuti pelajaran, yang memperhatikan dan peduli padaku hanyalah Soojung dan guru mata pelajaran itu.

 

Aku kembali menguap dan memasukkan kartu identitasku ke dalam saku. Aku melipat tanganku dan menyandarkan kepalaku di meja. Hal yang sangat kusyukuri, aku dapat masuk ke UKS dengan alasan sakit kepala dan suasana disini sangat sepi sehingga aku dapat dengan mudah tidur tanpa takut terpergok siapapun. Sebenarnya aku bisa saja tidur di ranjang UKS tapi aku menolaknya dan duduk bersandar di meja petugas UKS yang kosong.

 

 

Aku sontak terbangun mendengar pintu UKS terbuka. Aku merutuki diri sendiri dan mengomel dalam hati. Siapa sih yang menggangguku tidur yang baru beberapa menit ini. Aku mengucek mataku sekilas dan melemaskan otot tangan dan leherku. Ya tuhan, aku benar-benar mengantuk.

 

“Jadi, kau benar-benar petugas UKS, Suzy-ssi?”

 

Aku refleks menoleh dari sumber suara itu. Aku membelalakkan mata kaget melihat Myungsoo sunbae yang sedang tersenyum memandangku. Oh tidak, kenapa ia kesini? Aku bukannya malu dikira petugas UKS tapi melihatnya aku ingat ucapan Soojung tadi pagi.

 

“Kau harus mengungkapkannya, Suzy-yaa…

 

“Lupakan ucapanku tadi, aku hanya bercanda. Jadi kau bolos juga?”

 

“Kau tidak boleh menyimpannya terus-menerus. Paling tidak, kau tidak akan menyesal nantinya…”

 

“Aku tahu, kau pasti bosan kan di kelas. Aku juga sama. Minhyuk sih enak bisa tidur disana.”

 

Sunbae, mengapa kau mau berbicara padaku? Temanmu saja jijik mendekatiku,” Aku memotong ucapan Myungsoo dengan pertanyaan aneh. Ya, itu mungkin cukup aneh tapi aku benar-benar penasaran. Aku mengabaikan ucapan Soojung yang sempat berputar-putar di otakku tadi. Aku mengungkapkannya? Itu tidak mungkin kan? Bisa saja Myungsoo sunbaejijik padaku setelah aku mengungkapkannya.

 

Myungsoo sunbae tersenyum,”Mengapa aku harus jijik? Kau akan membunuhku memangnya jika aku berbicara padamu? Tidak kan. Jadi untuk apa aku harus jijik padamu.”

 

Aku terpaku mendengar jawabannya. Kurasa yang diucapkannya benar juga. Jadi apa itu juga alasan Soojung mau menjadi teman sebangkuku? Kenapa aku tidak pernah menyadari alasan klise dan simple seperti itu? Tapi, belum tentu juga jika aku menyatakan perasaanku, Myungsoo sunbae tidak akan menjauhiku kan.

 

“Semua orang bisa saja menjadi pembunuh. Dan belum tentu juga jika ayahnya pembunuh, anaknya juga kan. Sifat dan sikap bukan ditentukan dari keturunan bukan?”

 

Sudut-sudut bibirku rasanya gatal ingin tertarik ke atas dan membuat senyuman. Tapi aku menahannya dengan menggerakkan bibirku gelisah. Aku baru menyadari, Myungsoo sunbae ternyata benar-benar orang yang baik meski terkesan misterius. Kurasa aku mengagumi orang yang tepat bukan?

 

“Ah… Terima kasih, sunbae… Sudah mau berbicara padaku…”

 

*

 

Time is flowing by,

 

Aku tertawa geli melihat apa yang ditunjukkannya padaku. Ia benar-benar fotografer yang berbakat. Aku ragu atas ucapannya tadi. Apa? Fotografer tidak jelas? Yang benar saja!

 

“Lihat, ini kemarin saat kau dan Jia noona makan semangka!”

 

Ia menunjukkan hasil potretannya dengan semangat padaku. Ya tuhan, ia benar-benar manis. Aku benar-benar sadar kali ini betapa besar pesonanya padaku. Aku bersyukur. Setidaknya, aku mendapatkan banyak hal baik selama liburan di Jeju ini. Aku mendapatkan ketenangan. Aku mendapatkan kesenangan. Aku juga mendapatkan kebahagiaan bersama Myungsoo sunbaenim.

 

Flowing by like a water

 

“Jadi, dia itu kekasihmu?” Jia eonni tersenyum menggodaku. Mata besarnya memandangku penuh rasa penasaran. Aku ragu menjawabnya tapi aku juga tidak mungkin berbohong kan?

 

“Tidak. Ia hanyalah seorang sunbae,” jawabku jujur.

 

Ia memandangku curiga,”Aneh. Lalu mengapa selama beberapa hari ini ia terus mengikutimu?”

 

“Dia tak memiliki teman berlibur. Mungkin ia kesepian.”

 

Jia eonni menggeleng,”Tidak mungkin. Seorang laki-laki biasanya bisa berlibur sendiri. Pasti ada sesuatu yang ia rahasiakan!”

 

Aku mengangkat bahu menjawab ucapan Jia eonni. Rahasia? Rahasia apa? Lagipula aku tidak keberatan Myungsoo sunbae ikut denganku berlibur. Ya meskipun kadang-kadang tubuhku tidak berjalan normal jika ia tiba-tiba melakukan skinship denganku. Entahlah, mungkin otakku sudah korslet.

 

“Atau… Kau menyukainya ya? Kok kau tidak keberatan?”

 

Aku membeku mendengar ucapan Jia eonni yang sangat tiba-tiba itu. Aku dapat merasakan darahku tersuplai ke pipi sehingga aku merasakan suhu pipiku naik. Aku menyukai Myungsoo sunbae?

 

“Ti..ti..ti..tidak!”

 

In the end, things changes(the world changes)

 

Aku menggigit bibirku. Ya tuhan, aku benar-benar gugup! Bagaimana ini? Bahkan aku memegang tali pengikat kuda yang kunaiki ini dengan berkeringat. Aku dapat merasakan tangan Myungsoo sunbae yang melingkar di pinggangku dengan nyaman. Tapi mengapa tubuhku tidak bisa merespon dengan nyaman?

 

“Bagaimana? Pemandangan disini bagus kan?”

 

Myungsoo sunbae tampak nyaman dan senang sangat berbanding terbalik denganku. Aku mengangguk dan memilih menutup mulutku. Aku takut jika aku membuka mulutku, suaraku akan terdengar bergetar. Akupun memilih memejamkan mataku mencoba berkoordinasi dengan tubuhku.

 

Aku mulai bersugesti pada tubuhku. Berharap tubuhku mau mendengarkan dan menghentikan kegugupannya. Aku juga berharap detak jantungku dapat menjadi normal dan tidak berlebihan seperti ini. Apa sekarang aku juga terserang penyakit ketidakseimbangan tubuh selain alergi aneh kulitku?

 

Everything changes

 

*

 

“Bagaimana…jika…aku…menyatakan cinta padamu?”

 

“Apa?”

 

Aku menghentikan kegiatanku menyendok es krim sesegera mungkin mendengar ucapan Myungsoo sunbae padaku. Aku merasakan jantungku mulai berdetak cepat kembali. Ya tuhan, mengapa tubuhku aneh sih? Setiap apapun yang dilakukan Myungsoo sunbae, tubuhku selalu bereaksi berlebihan.

 

“Mengapa? Kau tidak suka ya?”

 

Aku menatapnya kembali. Aku dapat melihat ia memasang ekspresi ragu dan terluka. Bagaimana ini? Aku tidak tahu harus menjawab apa. Mengapa aku harus menjadi gadis bodoh terus-menerus sih?

 

“Tidak. Hanya terkejut. Sunbae ini ada-ada saja kalau bercanda,” jawabku dengan tersenyum.

 

Ia mendengus,”Aku serius, Suzy-yaa. Jadi kau mau menerimaku atau tidak?”

 

“Tidak mungkin. Cara sunbae seperti tidak serius dengan ucapan itu.”

 

Aku membalas dengan suara pelan. Aku takut sunbae marah padaku. Tapi kurasa aku benar bukan? Yang kulihat di drama, ada banyak cara romantis untuk mengungkapkannya. Dan cara sunbae tadi benar-benar berbeda.

 

“Aisssh… Entahlah… Lalu, bagaimana cara yang benar?”

 

“Ah, tunggu…”

 

“Bae Suzy, naega…neol johahae...”

 

Aku menatapnya terkesima. Aku tahu pipiku kini benar-benar bersemu merah. Atau mungkin jantungku rasanya ingin meledak. Tapi Myungsoo sunbae benar-benar manis. Lalu, aku harus menjawab apa. Tunggu, di drama yang kutonton. Ah!

 

Nado johahaeyo, Myungsoo sunbaenim.”

 

*

 

Aku tersenyum dalam hati. Aku benar-benar merasakan liburan yang menyenangkan hari ini. Seharian ini, aku dan sunbae berkencan. Kami hanya berdua tanpa Jia eonni. Aku puas menggoda dan pamer padanya bahwa aku sudah memiliki kekasih yaitu Myungsoo sunbaenim. Tentunya Jia eonni hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkahku yang tidak dewasa.

 

Sekarang, aku dan Myungsoo sunbaenim sedang berdiri menunggu taksi. Sekarang sudah sangat malam. Tentu, Myungsoo sunbae memilih menyetop taksi bukannya berjalan ke hotel kami seperti biasanya. Ia sudah tahu sikap Jia eonni yang pasti akan marah nanti.

 

Myungsoo sunbaenim menggosokkan kedua telapak tangannya ke telapak tanganku merasakan suhu tubuhku turun sama seperti suhu malam ini. Ya tuhan, kenapa malam ini sangat dingin. Aku memandangnya penuh terima kasih karena gosokan telapak tangannya itu membuatku cukup hangat. Ia membalas dengan senyum dan melanjutkan gosokan itu ke telapak tanganku yang lain.

 

“Tunggu sebentar ya. Sepertinya nenek di seberang itu kehilangan sesuatu.”

 

Aku mengangguk menyetujui ia membantu nenek di seberang jalan yang tampak kebingungan itu. Aku menggosokkan kedua telapak tanganku ke lengan mencoba mengurangi rasa dingin yang kurasakan. Aku mengawasi gerak-gerik Myungsoo sunbae yang sedang menanyai nenek itu dengan sabar. Aku benar-benar bersyukur memiliki kekasih sebaik dia.

 

Aku melihatnya menoleh ke kanan dan ke kiri jalan tampak ingin menyeberang. Ah, apa dia sudah menolong nenek itu? Auw. Apa ini? Kenapa dadaku sakit? Ahh. Tunggu sebentar. Aku kembali mendongak memandangi gerak-gerik Myungsoo sunbaenim. Aku melihat ke arah kenadaraan yang akan berlalu ke arahnya. Aneh, tidak ada yang aneh. Tapi mengapa aku mempunyai perasaan buruk?

 

Akupun mencoba mengabaikan perasaan burukku dengan menggelengkan kepalaku. Aku melihat Myungsoo sunbaenim mulai meneyeberang. Di jarak sepuluh meter ia berhenti dan mulai berjongkok tampak mencari atau mengambil sesuatu.

 

Tiiin…. Tiiin…

 

Aku mendengar klakson mobil dari arah kanan. Aku dapat melihat ada mobil sedang melaju dengan kecepatan tinggi dalam jarak sepuluh meter dari tempat Myungsoo sunbae. Ya tuhan! Tidak! Tidak boleh! Aku melihat Myungsoo sunbae menoleh dan kaget di tempat. Ya tuhan, tolong panggilkan Do Min Joon untuk menolong sunbae!

 

SUNBAE, ANDWAE!!!!

 

Aku berteriak dengan suara tinggiku. Aku menatap keadaan sunbae yang sudah jatuh dengan berlumuran darah dengan nanar. Ya tuhan, ini semua salahku! Ini semua salahku! Tolong jangan dia! Aku mengomel sendiri dalam hati. Tidak, ini sudah terlambat. Aku berlari menyeberang ke tempat sunbae jatuh. Aku bingung. Aku tak sanggup melakukan apapun. Mataku sudah ulai perih. Tubuhku sudah terasa semakin kedinginan. Oh tidak! Aku merasa kepalaku sangat berat dan tubuhku mati rasa. Ini sungguh dingin dan gelap.

 

Love back then gave me happiness

But in the end, it gave me sadness of breaking up

The wind is blowing, sweeping away all of me, time is flowing

 

-FIN-

 

Anyeong! Ini ff sequelnya The Girl yang puanjaaaang bangeet xD Doaku sih readers nggak bosen bacanya. Ayo yang bingung bacanya angkat tangan! Plotnya jeleek banget yaa. So-a-ri yaa soalnya nulis sama bergalau ria baca beritanya BaekYeon yang udah dikonfirmasi. Aku cuman kecewa ya meski si bebekhyun bukan bias utamaku. Yah, abaikan curhatan author gila dan geje ini. GIVE ME YOUR FEEDBACK>>>

Note : Author udah liat banyaaaaak banget siders yang nggak mau komen di ff author sebelumnya. Kemungkinan author nggak updet/ngelanjutin karena siders itu bikin author males nulisnya. Buat siders, sadar yaaa~

Tuesday, June 24th 2014 – 5:12 pm

XOXO,

magnaegihyun

Advertisements

52 thoughts on “The Boy, Oneshoot

  1. tragis bener..
    author ff Myungzy y chapternya lanjut yah, pamali klo setengan2 , itung2 mengasah kemampuan nulis, & untuk aku y selalu memberikan koment di ff myungzy
    Ɨƚɑ•”̮•Ɨƚɑ•”̮•ƗƚɑƗƚɑ•”̮•Ɨƚɑ•”
    Semangaaaattttt !!!!!
    #mian klo double

  2. Ini seq thor ? Cerita sbelumnya myungzy jg ? Tragis bgt sih T.T bahagianya suzy cma sesaat. Keep writing ne, semangat^^

  3. Woaaa why sad endingnya??? Huhu disaat suzy nya udh bahaagia sama myungsoo dan end nya bner2 nusukkk myungsooo mati kah?? Ksian suzy nya T-T
    Gomawo ne ff nya^^

  4. yahh,, aku kirain bakal happy ending. Padahal udah seneng saat suzy bilang ‘nado’
    Kasian amat myungzy, bagus thor

  5. Ini endingnya kok tragis banget thorr?
    Myung apa mati thor?
    Kasian suzy baru aja ngerasain kebahagiaan sm myung skrg myung gitu 😥

  6. Walaupun endingnya tragis tp keren ceritanya,aku suka bnget dari mulai suzy ketemu lg ama myung dan ternyata myung jga suka suzy,walaupun kebersamaan mereka singkat,tp so sweet,endingnya gak bsa ditebak!!!!

  7. maldo andwae! kenapa sad end sih eonni? suzy baru bahagia tapi udah harus sedih lagi. hikkss hikksss…
    dilanjut dong eonni jangan distop cuman gara2 slinder. jebal!!!

  8. oh ini sequel? aku belum baca yang sebelumnya,,
    ah bener bener syok banget bacanya!!! aaah tragis banget
    ah kenapa?? wae? wae?
    kasian suzy :(( aah myung aah ga sanggup :((
    apa akhirnya myung meninggal?
    myungzy ga berakhir bersama?

  9. Ceritanya keren thor.. dibuat deg2an sm perasaan suzy..hehehe, pas akhir mata ini berkaca2, andwaee.. huhuh..buat myungzy bahagia thor jebal..hiks
    gomawo

  10. aigoo baru aja myungzy bersatu eh gataunya malah mau dipisahin gitu T.T annyeong aku readers baru authornim ,suka banget sama ffmu ini JjangJjang #bow

  11. Annyeong.. aku penggemar myungzy.. ijin baca ne….
    keren thor… tapi sedih bacanya endingnya itu loh.. buat sedih…
    huaa…. baru aja mereka merasakan kebahagian eh udh harus berpisah kembali.. huaaaaaaaaaaa……….

  12. Omagadddd!!!
    Apa yg trjadi dsini!!!
    Gua gak tau the girl. Ntar aku baca dhhh…
    Thoorr …. Sequel nya sequel dongggg….
    Oh ya. Saya reader baru.
    Nemu wp ini di google. Gamsa thor udah trus nulis ff myungzy. Semangat yaaaa….

  13. Speechless, shock, meong ga tau mau komen apa
    Huwaaa sediih bgt ya amplop
    Padahal udh seneng bgt aku pas myungsoo nyatain perasaannya ke suzy eh lah tp malah jd tragis bgy gini ceritanya
    Pantesan pas baca detail cerita ada angst tp ketika aku baca kok angst nya ga begitu kerasa lah ga taunya di endingnya huwaaa sedih
    Eh bentar kyknya aku udh pernah baca ff ini atau belum ya? Duuh molla lupa kekeke
    Ceritanya keren lah pokoknya speechless aku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s