The Amazing Cinderella, Chapter 2

 

Title : The Amazing Cinderella | Author : magnaegihyun & Evil_Yeol ‘^_^’ | Length :Chaptered(6.147 words)| Genre : Romance, School Life, Family, Other | Rating : PG | Main Cast : Bae Soo Ji, Kim Myung Soo,Lee Jeong Min, Lee Sung Yeol, Wu Yi Fan and others | Poster by nunaw


the-amazing-cinderella

Bae Soo Ji tidak sengaja bertemu dengan seorang kakek yang sedang kesakitan. Tentu saja, dengan sigap ia menolong kakek itu ke rumah sakit meski menyadari bahwa ia sudah terlambat bekerja. Ia merasa aneh ketika ia ditanyai apa impiannya oleh kakek itu. Meski begitu, ia tetap menjawab dan bercerita pada kakek yang baru dikenalnya itu. Tanpa disangkanya, keesokan harinya impiannya benar-benar menjadi nyata. Inilah kehidupan barunya yang ia rasakan layaknya seorang Cinderella.

Disclaimer : This storyline is belong to magnaegihyun&evil_yeol. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the cast? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

Prologue | Chapter 1

*

 

Soo Ji duduk diam di dalam mobil mewah yang dikemudikan Yi Fan. Soo Ji hanya bisa melihat keluar jendela. Ia benar-benar merasa aneh dan belum mengenal penjemputnya itu. Ia juga tak harus sok ramah dan mengajak Yi Fan berbicara kan.

 

“Tunggu, berhenti!”

 

“Baik.”

 

Soo Ji bersyukur tampaknya Yi Fan tidak ingin berdebat dengannya. Setidaknya sekarang ia bisa turun dari mobil itu. Ia pamit pada Yi Fan untuk menemui salah satu temannya. Ya, ia memang berniat menuju rumah Soo Jung sebentar untuk tidak menjemputnya ke rumah lagi setiap berangkat sekolah.

 

Soo Ji membelalak dan meringis ngeri melihat kejadian mengerikan terjadi di depan matanya. Ia dapat melihat seekor anak anjing jalanan yang kotor sedang merintih kesakitan. Segerombolan anak sekolah dasar mengelilingi anjing itu dan menendang-nendangnya. Anak anjing itu bahkan sudah melemas dan tak sanggup merintih lagi. Anak anjing itu ketakutan dengan menggerak-gerakkan cepat kedipan matanya. Mungkin menunjukkan bahwa ia sudah benar-benar tak dapat memberontak.

 

YA, Berhenti!”

 

Soo Ji tanpa berpikir panjang menghampiri gerombolan anak sekolah dasar itu. Ia memukuli belakang kepala anak-anak itu.

 

“Ah, sakit!”

 

“Aw!”

 

“Kenapa memukulku? Sialan!”

 

“Siapa kau?”

 

“Berani-beraninya…”

 

“Kalian sendiri itu yang berani-beraninya!”

 

Soo Ji membalas dengan ketus dan pukulan yang lebih keras. Ia tidak peduli anak-anak itu kini menahan tangis mereka di depannya.

 

“Huwaaaa!”

 

“Huh, cengeng sekali. Lalu kenapa tadi menendang anak anjing itu dengan keras?”

 

Soo Ji kembali memandang anak anjing itu. Anak anjing itu tampak mulai merilekskan tubuhnya sedikit mengetahui sudah tidak ada tendangan lagi. Ia mengabaikan tangisan gerombolan anak sekolah dasar tadi. Tanpa menyadari, beberapa orang mulai keluar dan mengerumuninya.

 

“Astaga, Yoo Gyeom, ada apa?”

 

“Huwaa, ibu! Gadis ini memukulku!”

 

“Ibuuuu!”

 

Tanpa Soo Ji sadari diantara orang-orang yang keluar itu ada ibu-ibu dari anak-anak yang dipukulnya. Ibu-ibu tadi mulai memeluk anaknya menenangkannya dari tangisan. Ibu-ibu itu menatap Soo Ji dengan tatapan benci. Soo Ji tidak peduli dan mengabaikannya dengan mulai menggendong anak anjing yang kesakitan tadi.

 

“Apa yang sudah kau lakukan pada anakku?”

 

“Sembarangan saja memukul anak orang!”

 

Soo Ji mengabaikan ucapan ibu-ibu tadi. Ia lebih khawatir pada keadaan anak anjing itu. Suhu badan anak anjing itu mulai meninggi dengan nafasnya yang terdengar tersengal-sengal. Ibu-ibu itu mulai geram pada Soo Ji. Salah satu dari mereka mulai menjambak rambut Soo Ji.

 

“Dasar anak tidak tahu diri, mana boleh mengabaikan ucapan orang dewasa!”

 

Soo Ji yang mengaduh kesakitan mulai terganggu. Ia mencengkeram pergelangan tangan ibu yang menjambaknya. Ia menatap horor pada ibu itu.

 

“Anda orang dewasa, lalu kenapa Anda tidak mengajarkan anak Anda sopan santun. Mereka menendang anak anjing ini!”

 

“Ti… Tidak mungkin! Kau pasti bohong!”

 

“Ya, itu tidak mungkin. Kita harus melaporkan gadis ini ke polisi. Cepat telepon!”

 

“Anda masih berkata seperti itu melihat keadaan anjing ini?”

 

“Huwaaa, gadis itu yang menendang!”

 

Salah seorang anak dengan mata sipit menjawab dengan tangisan. Soo Ji bingung dan panik. Apa-apaan anak itu? Berani sekali ia memfitnahnya. Namun ibu-ibu itu jelas lebih percaya pada anaknya daripada Soo Ji. Akhirnya ada salah seorang ibu yang tidak berani mendekat menelepon polisi. Kebetulan ada satu mobil polisi yang lewat. Mobil polisi itu pun berhenti.

 

“Ada apa ini?”

 

“Gadis ini memukul kepala anak kami dan menendang anak anjing itu. Ia juga melakukan kekerasan terhadap ibu itu.”

 

“Coba lihat, pergelangan tanganku memerah!”

 

“Hei, apa benar kau melakukan itu?”

 

“Bohong! Yang menendang adalah anak-anak itu dan ibu itu menjambak gadis ini.”

 

Yang menjawab pertanyaan polisi itu bukanlah Soo Ji melainkan seorang laki-laki yang sedari tadi duduk di sepeda motornya sambil memperhatikan kejadian itu dari jauh. Laki-laki yang berseragam SMA Gamseong menjawab dengan percaya diri.

 

“Hei bocah! Kapan aku melakukannya? Kau berkomplot dengannya ya?”

 

Laki-laki itu mengabaikan ucapan ibu itu. Ia malah membisikkan sesuatu pada polisi itu. Wajah polisi itu mulai pucat dan ketakutan. Laki-laki itu memberi pandangan ‘berikan hukuman yang sesuai pada mereka’ pada polisi itu. Hingga kemudian sikap polisi itu berubah, ia menatap tajam pada ibu-ibu itu dan berkata pada Soo Ji,”Hei, nak! Kau harus memberikan pernyataan ke kantor polisi. Kau juga bisa minta ganti rugi.”

 

“Lupakan saja. Aku hanya ingin membawa anjing ini ke klinik. Jangan ganggu aku!” Soo Ji menggeleng pelan dan beranjak pergi.

 

“Sebentar! Lebih baik naik motor daripada jalan kaki kan?” Laki-laki tadi menahan tangan Soo Ji dan tersenyum secerah matahari pada Soo Ji.

 

Sadar akan keadaan anak anjing itu yang sudah sekarat, Soo Ji mengangguk dengan senyum,”Kalau begitu, aku minta tolong ya!”

 

Walaupun laki-laki itu naik motor dan pergi, polisi itu tidak menangkapnya. Setelah dua orang itu pergi, ibu-ibu tadi berteriak marah pada polisi itu karena membiarkan keduanya kabur. Polisi itu kesal kemudian memborgol tangan ibu-ibu tadi.

 

“Asal anda tahu, laki-laki tadi adalah Tuan Muda Pertama grup Gamseong, Lee Sung Yeol. Kalau kalian ingin melawan mereka, aku yakin anda akan terselesaikan dengan masuk penjara.”

 

 

 

Baju Soo Ji mulai kotor terkena darah yang keluar dari hidung anak anjing itu. Kehangatannya mulai terasa dari napasnya yang tersengal-sengal. Jantung Soo Ji berdebar kencang takut anak anjing ini tidak sanggup menahan lukanya sampai di klinik.

 

 

Soo Ji menggigit bibirnya khawatir.

 

Tolong, jangan mati!

 

Begitu seratus meter lagi klinik dokter hewan terlihat, Soo Ji melompat turun dari motor. Sung Yeol berteriak ‘bahaya’ melihat Soo Ji turun ketika sepeda motornya itu berada dalam kecepatan maksimal. Soo Ji tidak menghiraukannya dan malah berlari menuju klinik itu dengan lebih cepat. Sung Yeol tertawa keras ketika ia sampai di depan klinik.

 

“Wah, benar-benar gadis yang keren!”

*

Soo Ji dan Yi Fan melewati taman luas yang penuh dengan tanaman indah yang seakan tak berujung. Keduanya kemudian memasuki ruangan bergaya tradisional yang tampak mewah, rapi dan bersih. Soo Ji menganga melihat desain interior ruangan ini yang jelas berbeda sangat jauh dengan ruang tamu rumahnya. Soo Ji tersenyum melihat kakek yang ditolongnya di jalan.

 

“Jadi, kakek adalah Direktur Grup Gamseong?” Soo Ji menyapa Direktur Lee dengan ceria.

 

“Begitulah. Apa ada yang aneh?”

 

“Tidak, hanya saja Kakek tidak seperti seorang direktur.”

 

“Ah, pikiranmu sama saja dengan orang-orang yang baru pertama bertemu denganku dulu, Soo Ji-yaa,” Direktur Lee tertawa mendengar ucapan Soo Ji.

 

“Kalau begitu, apa sekarang keadaan kakek sudah lebih baik?”

 

“Tentu saja. Apalagi setelah melihatmu kembali.”

 

Soo Ji memaklumi godaan Direktur Lee dalam hati,”Kakek pasti playboy saat masih muda.”

 

“Tentu saja!”

 

“Lalu… Mengapa kakek mengajakku ke sini?” Soo Ji bertanya dengan wajah penasarannya.

 

Direktur Lee tersenyum melihat ekspresi Soo Ji,”Tentu saja untuk membalas budi karena kau sudah menolongku. Ah ya, apa ada yang kau inginkan?”

 

Soo Ji terpaku. Ah, ia hampir saja lupa. Pikirannya kini kembali memikirkan anak anjing tadi yang ia tinggalkan untuk operasi di klinik hewan. Soo Ji menggerakkan bibirnya tak nyaman. Ia khawatir pada keadaan anak anjing tadi. Meskipun anak anjing itu hanyalah anjing kotor dan liar, tapi ia ingin memeliharanya.

 

“Bisakah kakek meminjamiku uang lima ratus ribu won?”

 

“Lima ratus ribu? Untuk apa?”

 

“Aku membutuhkan uang untuk membayar operasi anjing dan aku hanya mempunyai dua ratus ribu won.”

 

“Tapi, apa anjing itu anjing peliharaanmu?”

 

“Bukan sih. Tapi anjing itu hampir mati, aku harus menolongnya. Aku berjanji akan membayarnya kembali, kumohon!”

 

Soo Ji memandang Direktur Lee dengan pandangan sungguh-sungguh. Direktur Lee mencoba mengalihkan perhatiannya. Tentu saja, dengan pandangan seperti itu dari seorang Soo Ji, siapa yang tidak akan tersentuh? Direktur Lee sebenarnya tidak mempedulikan jika Soo Ji akan mengembalikan uangnya atau tidak tapi ia tidak boleh kelihatan mudah luluh kan.

 

“Baiklah, aku akan meminjamkannya. Tapi, bisakah kakek meminta bantuan satu hal padamu?”

 

“Bantuan? Bantuan apa?”

 

“Kakek ini kan sudah tua. Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Tiba-tiba Direktur Lee menunjukkan batuk-batuknya. Yi Fan yang berdiri di belakang Soo Ji menahan senyumnya dengan mendesah. Ia tampaknya sudah memaklumi sikap pura-pura Direktur Lee.

 

“Kakek, apa benar-benar sudah sembuh?” Soo Ji memandang Direktur Lee dengan cemas.

 

“Aku kan memiliki beberapa cucu. Uhuk! Kakek selalu saja pusing menghadapi tingkah mereka semua. Jika tidak keberatan, bisakah kau tinggal di Sky House dan mengurus cucuku sampai lulus SMA?”

 

Soo Ji terdiam. Ia sering mendengar gumaman Jiyeon dan ibu tirinya mengenai Sky House. Ia dapat menyimpulkan bahwa Sky House adalah sebutan tempat tinggal cucu-cucu Direktur Lee pemilik Grup Gamseong. Soo Ji juga pernah mendengar dari Jin Ri dan Soo Jung bahwa Sky House itu termasuk dalam kawasan yang benar-benar elit dan mewah.

 

“Cucu kakek kan masih remaja. Aku pernah membaca dari buku bahwa masa-masa remaja memang masa paling labil dan memberontak. Jadi, kakek hanya perlu mengawasi dan mengajarkan…”

 

“Uhuk! Uhuk! Tapi itu keinginan terbesarku.”

 

“…”

 

“Tolonglah, Soo Ji-yaa!”

 

“Ka… Kakek!”

 

Soo Ji terbelalak melihat Direktur Lee pingsan di tempat. Ia sontak berlari menghampirinya dan menyentuh dahinya dengan cemas. Dari belakang, Yi Fan menyahut dengan nada dingin.

 

“Tenang saja, nona. Beliau tidak mati.”

 

Direktur Lee menggerutu lalu bangkit dari pingsannya. Ia kemudian tertawa terbahak-bahak layaknya orang sehat. Itu menunjukkan bahwa ia berbeda dengan sebelumnya yang sempat pingsan dan terbatuk-batuk.

 

“Soo Ji, sebenarnya aku menawarkan itu karena keinginanmu yang kau ceritakan dulu. Nah sebagai syarat kau harus tinggal di Sky House dan bersekolah di SMA Gamseong. Aku benar-benar tidak dapat menyia-nyiakan kemampuan otak cerdasmu itu.”

 

“Tapi, semua syarat itu sama sekali tidak memberatkanku?”

 

“Ah, sebagai gantinya kau harus bekerja di klinik hewan Grup Gamseong selama setahun setelah menjadi Dokter Hewan, bagaimana?”

 

Hangat. Sudah lama sekali Soo Ji tidak merasakan kehangatan sejak ibunya wafat. Soo Ji paham biaya sekolah di SMA Gamseong sebesar jutaan won per bulannya. Direktur Lee pasti tahu Soo Ji tidak mungkin bisa membayar kembali semua utang meski ia bekerja sukarela selama setahun. Persyaratannya benar-benar mudah dan bagus. Ditambah lagi, kesempatan ini bisa membuatnya mewujudkan cita-citanya. Ini tidak boleh ia sia-siakan kan. Lebih baik Soo Ji menerimanya dulu lalu memberikan hasil yang terbaik. Ia harus bisa membanggakan Direktur Lee sebagai balasannya.

 

“Baiklah. Aku menerima semua persyaratannya. Aku…benar-benar berterima kasih, kakek.”

 

“Aku juga harus berterima kasih padamu. Ah, lelaki yang di belakangmu ini namanya Wu Yi Fan. Ia akan menjadi pengawalmu.”

 

“Apa? Tapi aku tidak perlu pengawal.”

 

“Hei… Tidak! Anak gadis seumurmu berbahaya berkeliaran sendirian. Kau harus selalu bersama Yi Fan dan jika ada yang kau butuhkan, katakan saja padanya. Mengerti?”

 

“Baiklah…”

 

“Yi Fan.”

 

“Ya, Direktur?”

 

“Jangan Soo Ji dengan baik. Dan sekarang cepat pergi ke klinik hewan tadi dan periksa keadaan anjing tadi.”

 

“Baik.”

 

Yi Fan keluar dengan Soo Ji. Yi Fan memperhatikan cara berjalan Soo Ji yang tampak berbeda dari tadi. Ia sadar bahwa Soo Ji berjalan sambil termenung. Sifat cucu-cucu Direktur Lee sedikit aneh. Yi Fan tidak tahu apakah gadis ini sanggup menghadapi mereka.

 

Ajeossi.”

 

“…”

 

“Permisi, Ajeossi?”

 

Yi Fan diam saja tidak menjawab. Ia bingung. Ia tidak sadar bahwa panggilan itu ditujukan untuknya. Ia mendadak sadar ketika ia melihat Soo Ji yang memandangnya dengan mata kucingnya itu.

 

“Apa nona memanggil saya?”

 

“Ya.”

 

“Tapi saya…baru berumur dua puluh tiga tahun.”

 

“Oh.”

 

Ya, memang. Bagi gadis berusia tujuh belas tahun, orang berumur dua puluh tiga tahun terlihat seperti om-om. Tapi Yi Fan berpikir apakah wajahnya benar-benar tua sampai dipanggil ajeossi. Padahal belum lama ini ia dikira seumuran dengan tuan muda pertama. Yi Fan menghela nafas mengabaikan pikiran anehnya.

 

“Apa ada yang nona inginkan?”

 

“Ah, maaf… Aku tahu aku benar-benar keterlaluan karena meminta begitu banyak hal…tapi apa…aku boleh memelihara anak anjing itu jika operasinya berhasil?”

 

Yi Fan hampir saja menggerakkan tangannya untuk mengelus puncak kepala Soo Ji kalau saja ia tidak menahannya. Tapi ia benar-benar terpesona. Permintaan yang sederhana namun ditanyakan dengan sungguh-sungguh. Rasanya, Direktur Lee tidak salah memilih Soo Ji.

 

“Kalau itu yang nona inginkan, tentu saja boleh!”

 

Soo Ji tersenyum kecil,”Panggil aku Soo Ji saja. Dan jangan memakai bahasa formal padaku, ajeossi.”

 

“Nona juga tidak perlu memanggilku ajeossi. Apa tidak bisa diganti dengan yang lain?”

 

Soo Ji tampak berpikir sejenak kemudian menjawab dengan polos,”Yi Fannie?”

 

“Bukan begitu, bagaimana jika saya tetap memanggil nona tetapi tidak memakai bahasa formal dan nona memanggil saya gege yang berarti kakak dalam bahasa cina.”

 

“Ok, call!”

*

Oppa, apa ada hal yang lucu?”

 

Sun Young heran mendapati Sung Yeol yang pulang dengan raut aneh. Ia tersenyum-senyum sendiri membuat Sun Young ngeri. Apa ini sudah saatnya Sung Yeol dikirim ke rumah sakit. Tapi perilaku Sung Yeol sejak dulu memang aneh dan kekanakan.

 

“Tidak. Aku hanya bertemu seorang gadis keren di perjalanan pulang tadi.”

 

Sun Young menatap Sung Yeol tertarik,”Benarkah? Gadis seperti apa?”

 

“Dia memukuli kepala anak-anak SD dengan keras.”

 

“Bukankah itu berarti gadis itu yang jahat?”

 

“Tapi anak-anak itu menendangi anak anjing,” Sung Yeol menjawab dengan sedikit sombong.

 

“Oh. Jadi anak-anak SD itu yang jahat?”

 

“Ya. Dan ketika aku mengantarnya dengan motor, ia terburu-buru turun dari motorku yang sedang melaju dengan melompat.”

 

Jinjja? Heol, daebak! Apa dia murid sekolah kita?”

 

“Iya, bahkan ia tidak terluka. Astaga, aku lupa menanyakan namanya. Sepertinya sih bukan murid sekolah kita, aku tidak pernah melihatnya.”

 

Sun Young menghela nafas berat,”Dasar bodoh! Oh ya, kemarin aku melihat pacar Jeong Min. Dia benar-benar cantik!”

 

“Loh bukannya pacar Jeong Min, YoonA?”

 

Oppa, bukankah Jeong Min sangat benci YoonA eonni? Lagipula pacarnya itu lebih cantik dari YoonA eonni.”

 

“Wah, secantik itu sampai Tuan Putri berkata seperti ini?”

 

Sun Young memasang raut sebalnya,”Ya memang sih Jeong Min benar-benar pintar mencari pacar tapi dia memang cantik. Aku ingin membelikannya pakaian yang banyak!”

 

“Oh kau ingin bermain boneka-bonekaan dengannya.”

 

“Kalau melihatnya, Oppa pasti langsung terpesonan dan mau memberikan bermacam-macam pakaian.”

 

“Kalau aku terpesona, aku ingin melepaskan pakaiannya bukannya memberikan pakaian, Youngie.”

 

YA, Dasar mesum! Kenapa semakin lama Jeong Min tertular Sung Yeol-oppa sih?”

 

Sung Yeol tertawa meski ia sedang menghindari pukulan Sun Young. Ia kini ingat lagi wajah gadis yang ditemuinya tadi. Gadis keren yang penuh kasih sayang. Gadis bermata besar dan tajam seperti mata kucing. Ah, mengapa tadi dia lupa menanyakan namanya. Apa dia sekarang harus pergi ke klinik mungkin saja ia dapat bertemu gadis itu.

*

Taman kecil di belakang laboratorium kimia adalah tempat favorit YoonA. YoonA memejamkan mata sejenak menghirup udara segar taman itu. Ia tersenyum melihat bunga-bunga yang bermekaran di taman itu.

 

“Apa yang noona lakukan disini?”

 

“Myung Soo-yaa-”

 

YoonA menoleh mendengar seseorang memanggil namanya. YoonA tersenyum melihat Myung Soo-lah yang menghampirinya. Tanpa YoonA sadari, Myung Soo sejak tadi memandanginya. Myung Soo tersenyum dalam hati senang melihat YoonA mengikat rambut sepunggungnya.

 

Noona sudah makan siang?”

 

Ketika mendengar pertanyaan singkat Myung Soo, YoonA mengangguk dengan tersenyum. YoonA bersyukur setidaknya ada seseorang yang memperhatikannya.

 

“Makanlah dengan teratur. Noona bisa pingsan kalau semakin kurus lagi.”

 

YoonA mengangguk dengan tersenyum lagi. Ia melihat Myung Soo sedang merogoh kantung celananya tampak ingin mengambil sesuatu. YoonA menghentikan gerakan Myung Soo itu dengan menyentuh lengannya. Meski hanya dengan sentuhan ringan, sentuhan itu dapat membuat jantung Myung Soo berpacu cepat.

 

“Jangan merokok. Rokok akan mengganggu kesehatanmu, Myung Soo.”

 

“Ya…” Jika YoonA sudah memberikan nasihat seperti orang dewasa tadi, Myung Soo benar-benar tidak sanggup menolak.

 

“Kekasih Jeongmin…cantik, ya?”

 

“Tidak, noona lebih cantik.”

 

“Seandainya aku memiliki tubuh tidak sekurus ini dan mata seperti kucing sepertinya, Jeong Min pasti akan menyukaiku kan?”

 

“Jangan bodoh. Noona cantik dengan cara noona sendiri. Jeong Min memang bodoh tidak menyukai noona.”

 

“Jujurlah, Myung Soo. Kau juga pasti menganggap gadis itu cantik. Kau bahkan tidak berkedip memandangnya sesaat.”

 

“Itu bukan karena dia cantik.”

 

Myung Soo menjawab keras kepala. Myung Soo jelas tidak peduli gadis lain selain YoonA. Sejujurnya Myung Soo sudah lupa dengan wajah Soo Ji. Ia benar-benar hanya memandangnya beberapa saat lalu ia mengajak YoonA pergi.

 

“Sejak kecil yang kuinginkan hanya satu, Myung Soo-ya. Aku bingung harus bagaimana lagi. Keinginanku kini semakin sulit dicapai…”

 

Myung Soo sejujurnya tahu apa yang dimaksud YoonA. Dengan hati-hati, Myung Soo meletakkan tangannya di bahu YoonA. Ia merangkul bahu YoonA yang kecil dan kurus lalu menariknya mendekat. YoonA diam saja membiarkan dirinya dirangkul dan kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Myung Soo.

 

“Bagiku, noonalah yang paling sempurna.”

 

“Jangan berkata seperti itu. Aku terus-menerus berharap karena selalu mendengar kata cantik dan sempurna dan cantik.”

 

“Aku serius, noona.”

 

Myung Soo memejamkan matanya. Ia tidak ingin kehilangan kehangatan ini. Kehangatan yang selalu ia rasakan dari YoonA. Sejak pertama memasuki Sky House, hanya YoonA-lah yang memberikannya kehangatan. Sung Yeol, hyungnyahanya pulang ke Sky House malam hari. Ia hanya keluyuran setiap hari untuk mencari kehangatan. Jeongmin, adiknya malah lebih suka menghabiskan waktu dengan teman-teman sekolahnya, sangat berbeda dengan Myung Soo yang pendiam. Meskipun kedua saudaranya di Sky House itu bukan saudara kandungnya tetapi ia menginginkan kehangatan dari mereka. Namun hanyalah YoonA yang memberinya kehangatan layaknya keluarga.

Hari ini hari terakhir di sekolah ini, batin Soo Ji memandang bangunan sekolah lamanya itu. Dalam perjalanan pulangnya itu, Soo Ji berniat bertemu dengan Soo Jung dan Jin Ri di depan gerbang. SMA khusus putri yang sudah berdiri selama dua puluh lima tahun itulah sekolah lama Soo Ji. Soo Ji merasa sedikit sedih mengingat ia akan berpisah dengan Soo Jung dan Jin Ri. Mereka berduanya yang selalu mau membantu Soo Ji saat berada dalam kesulitan.

 

Bukannya Soo Ji dikucilkan di sekolahnya, hanya saja terkadang Ji Yeon dan teman-temannya selalu mengolok-olok Soo Ji. Bahkan Soo Jung mau memberi seragam sekolah bekas kakak perempuannya. Meski seragam itu kebesaran, Soo Ji juga harus berterima kasih pada Jin Ri yang mau membantunya mengecilkan seragam itu.

 

Ia duduk di halte depan gedung sekolahnya sambil menunggu Soo Jung dan Jin Ri yang belum keluar dari gedung sekolahnya. Ia ingat keluarganya di rumah. Namun aneh, ia tidak merasa kehilangan sesuatupun saat pindah dari rumahnya itu. Ya memang ayah, ibu tirinya maupun Ji Yeon tidak peduli padanya.

 

Yang Soo Ji bingungkan adalah mengapa ayahnya tidak menyukainya. Ia memang paham bahwa ayahnya curiga bahwa ia bukanlah anak kandung ayahnya itu. Ayahnya malah berpikir Soo Ji anak pelatih muda yang bekerja di tempat latihan bela diri ibunya. Ibu kandungnya memiliki tempat latihan bela diri dan mengajar disana. Jelas-jelas ibunya itu kuat, namun ketika ayahnya memukuli ibunya, ibunya hanya pasrah tidak melawan.

 

Ia ingat ibunya pernah menolak memukul balik ayahnya saat dipukuli bahkan ibunya berkata hal yang aneh.

 

“Ibu berlatih bela diri untuk melindungi orang lain dan membuat orang lain bahagia. Ibu tidak mungkin memukul orang lemah kan.”

 

Waktu itu, Soo Ji heran dan tidak mengerti. Namun sekarang ia paham bahwa ibunya benar-benar orang yang baik. Jika dulu ibunya balas memukul. Pasti kemarahan ayahnya itu semakin menjadi dan mungkin ayahnya akan memukul Soo Ji.

 

Ibu…

 

Hati Soo Ji rasanya perih tetapi ia tidak bisa menangis. Pada hari pemakaman ibunya, Soo Ji mengira ia akan menangis terus-terusan namun meski hatinya sakit, air matanya tidak mau keluar. Ini yang membuat Soo Ji tampak sangat tegar dan kuat. Ia merasa tubuhnya tidak ingin menunjukkan kesedihannya yang paling dalam.

 

“Soo Ji-yaa!”

 

Soo Ji menoleh mendengar namanya dipanggil. Ia memasang senyumnya melihat kedua sahabatnya itu sudah datang. Soo Jung dan Jin Ri memeluknya sebentar. Kemudian keduanya duduk di samping Soo Ji.

 

“Aku benar-benar khawatir padamu, Soo Ji. Aku mendengar kau tidak masuk kerja kemarin dari Jia eonni,” Soo Jung bertanya dengan raut khawatir.

 

“Maafkan aku, Soo Jung. Aku kemarin sempat berniat ke rumahmu dan Jin Ri namun ada hal yang terjadi.”

 

“Tunggu, kau benar-benar pindah, Soo Ji-ya?”

 

“Tolong katakan itu bohong, Soo Ji. Aku dan Jin Ri kemarin diomeli oleh Ji Yeon. Kau tidak akan pindah ke SMA Gamseong seperti kata Ji Yeon kan?”

 

Soo Ji tersenyum ragu,”Sayangnya itu benar. Aku sudah pindah dari rumah dan tinggal di Sky House nanti malam.”

 

“Jadi kita akan berpisah?”

 

“Tidak, Jin Ri. Menurutku kita dan Soo Ji bisa bertemu dan bekerja paruh waktu di tempat yang sama. Apa kau masih mau bekerja di tempat Jia eonni, Soo Ji-yaa?”

 

Soo Ji mengangkat bahu dan kemudian mengajak kedua sahabatnya itu bangkit. Ia akan mengajak keduanya ke klinik untuk bertemu Yi Fan. Ya, setidaknya keduanya tidak takut jika Yi Fan bisa muncul tiba-tiba dengan Soo Ji. Soo Ji bersyukur dalam hati kedua sahabatnya ini masih mau bertemu dengannya setelah ini. Ia sebenarnya tidak terlalu yakin ia akan bisa memiliki teman di SMA Gamseong. Ia takut bahwa murid SMA Gamseong akan membencinya seperti Ji Yeon.

Soo Ji menganga melihat gerbang yang ia lihat itu. Gerbang itu lebih megah dan besar dibanding gerbang sekolahnya. Ia lebih terkejut melihat bangunan yang ada di dalamnya. Jauh-jauh lebih mewah, bagus dan keren dibanding gedung sekolahnya. Apalagi ada taman bunga yang sangat indah di samping jalan menuju gedung utama itu. Ketika mobil itu berhenti di depan rumah itu. Soo Ji dibukakan pintu mobil oleh Yi Fan. Ia berterima kasih kemudian memandang rumah itu takjub.

 

“Kukira rumah seperti ini hanya ada di drama-drama saja, gege.”

 

Yi Fan tersenyum,”Gedung beratap warna biru langit ini rumah utama, nona. Rumah ini terdiri dari tiga lantai. Nona akan menempati kamar di lantai dua. Di lantai dua ada lima kamar. Tuan Muda kedua juga tinggal di lantai dua.”

 

“Maksudnya Kim Myung Soo yang dingin itu?”

 

“Ya. Apa nona pernah bertemu dengannya?”

 

“Aku pernah bertemu sekali…”

 

Soo Ji diam. Ia ingat bahwa ia sudah bertemu dengan tuan muda grup Gamseong tiga hari yang lalu. Bagaimana ia harus menghadapi mereka? Jeong Min tampaknya mungkin mau menerimanya dari sifatnya yang lumayan ramah. Tapi si Myung Soo yang melihatnya tidak suka itu pasti membencinya. Ah, bagaimana ini?

 

“Nona, tidak apa-apa? Nona tidak perlu khawatir mengenai Tuan Muda kedua. Nona tidak akan bertemu dengannya karena masing-masing kamar ada toilet dan kamar mandi.”

 

“Ah, baiklah,” Soo Ji menghela nafas berusaha berpikiran positif.

 

“Kamar lantai tiga ditempati Tuan Muda pertama dan ketiga. Di lantai satu ada ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga yang tersambung dengan ruang baca, ruang game dan lain sebagainya.”

 

“Oh…”

 

“Kemudian gedung di sebelah kanan itu memiliki fasilitas olahraga seperti kolam renang. Sebelah kirnya semacam green house untuk memelihara tanaman tropis dan burung juga berbagai tanaman. Nona boleh melihatnya setiap hari.”

 

“Burung?”

 

“Ya. Itu untuk Tuan Muda kedua yang memiliki hobi memotret. Tuan Muda sangat menyukai suasananya.”

 

Ternyata orang dingin begitu memiliki hobi yang cukup unik ya. Suasana? Ah apa karena hatinya terlalu dingin jadi butuh banyak oksigen ya?

 

“Bagaimana dengan anak anjingnya?”

 

“Operasi berjalan dengan baik. Kira-kira seminggu lagi anjing itu boleh pulang. Aku akan menyiapkan barang-barang untuknya.”

 

“Terima kasih, gege.”

 

“Ada siapa, hyung? Aku mendengar suara seorang gadis.”

 

Soo Ji diam mendengar suara yang tak asing baginya itu. Ia merasa pernah mendengar suara ini beberapa hari yang lalu. Ia melihat Yi Fan membungkuk pada orang yang mendekati mereka. Soo Ji pun berbalik ikut membungkuk.

 

“Soo Ji?” Sosok yang mendekatinya itu tersenyum dengan wajah tampan bak pangeran.

 

Yi Fan kaget mendengar Jeong Min mengenal Soo Ji,”Nona, mengenal Tuan Muda ketiga?”

 

“Aku pernah bertemu dengannya…”

 

“Tentu saja, hyung. Dia kan pacarku!”

 

Jeong Min tersenyum langsung merangkul bahu Soo Ji. Soo Ji mendelik lalu menendang tulang kering Jeong Min. Jeong Min mengaduh kesakitan membuat Yi Fan tersenyum geli.

 

“Bukankah sudah kukatakan jangan menyentuhku tanpa ijin?”

 

“Lihat, pacarku benar-benar galak…”

 

“Kita kan…”

 

Soo Ji tidak melanjutkan ucapannya saat mulutnya dibungkam oleh Jeong Min. Jeong Min kemudian berbisik di telinga Soo Ji,”Tolong bantu aku lagi. Di rumah ini ada Myung Soo hyung juga.”

 

Yi Fan memandang kedua orang itu penasaran. Apalagi ketika ia melihat ekspresi Soo Ji yang ragu. Soo Ji ragu bahwa Jeong Min membohonginya bahwa ternyata YoonA bukanlah gadis yang jahat. Ah, atau ada alasan rahasia? Soo Ji memandang tatapan Jeong Min yang memelas.

 

Soo Ji menghela napas berat kemudian mengangguk menyetujui permintaan Jeong Min,”Tapi jangan dekat-dekat, aku tidak suka disentuh.”

 

“Baiklah, aku akan minta izin dulu sebelum menyentuh.”

 

“Tidak akan kuberikan.”

 

“Ya ampun. Nah lihat, hubunganku dan Soo Ji sangat serius, hyung.”

 

“Benarkah?” Yi Fan mengangkat satu alisnya heran dan tidak percaya.

 

“Pulanglah, hyung. Aku akan memandunya.”

 

“Tidak bisa begitu. Ini perintah pak Direktur.”

 

Hyung, lihat rembulan bersinar terang sangat cocok untuk berkencan. Apa hyung mau menjadi jahat dengan menjadi pengganggu?”

 

“Baiklah, saya pulang. Kalau ada masalah atau butuh sesuatu, tolong telepon saya, Nona. Tak peduli jam berapa.”

 

“Ya, gege. Terima kasih dan selamat tidur.”

 

Begitu Yi Fan pergi, Jeong Min langsung mengaitkan lengannya pada lengan Soo Ji. Soo Ji yang merasakan itu menoleh dengan mendelik. Jeong Min tertawa melihat pelototan Soo Ji itu.

 

“Aku hanya melakukan sebatas ini, Soo Ji-yaa. Bisakah kau memanggilku oppa?”

 

“Tapi kita kan seumuran?”

 

“Kita kan berpacaran. Kita harus akrab.”

 

“Baiklah, oppa. Ayo kita masuk, ini sudah dingin.”

 

Jeong Min tersenyum lalu berjalan naik tangga kecil masuk ke rumah. Soo Ji benar-benar suka dengan rumah ini. Bangunan bergaya modern dengan atap biru langit itu. Terdapat kaca besar menunjukkan rumah itu sangat luas. Pasti rumah ini indah saat pagi hari dengan sinar matahari yang cerah.

 

Soo Ji melirik Jeong Min. Ia rasa Jeong Min benar-benar cocok disini. Meski tidak menunjukkan kekayaannya dengan terang-terangan, ia mengenakan pakaian modis dan berkualitas tinggi. Dengan rambut berwarna cokelat muda itu, Jeong Min sangat terlihat seperti pangeran.

 

“Selamat datang di Sky House!”

 

Soo Ji semakin takjub melihat rumah ini. Ruang tamunya sangat besar dibanding rumahnya dulu. Ada karpet empuk dan lampu gantung yang indah. Sofanya pun tampak mewah. Langit-langitnya begitu tinggi. Soo Ji menatap tangga kayu yang ada di depannya itu.

 

Bagaimana tidak, ia benar-benar takjub. Tangga kayu itu berbentuk oval. Jeong Min tersenyum melihat ekspresi Soo Ji. Ia kemudian menarik Soo Ji menaiki tangga kayu itu. Ada sebuah koridor dan di kedua sisinya terdapat beberapa pintu. Suasananya benar-benar seperti hotel mewah. Mereka berdua berhenti di kamar yang di dekat tangga.

 

“Myung Soo hyung menempati kamar di ujung sana. Kami menyiapkan kamar yang dekat tangga untuk kamarmu supaya lebih mudah membantu jika terjadi sesuatu padamu. Kalau tidak suka, kau bisa menukarnya.”

 

“Tidak usah, aku benar-benar berterima kasih. Ini benar-benar kamarku?” Soo Ji membuka pintu berwarna cokelat tua itu.

 

Soo Ji sudah bertekad untuk tidak berteriak ‘Woah’ melihat kamarnya itu. Tapi kamar ini benar-benar besar. Mungkin seukuran dengan rumahnya dulu. Di sebelah kiri ada dua pintu, mungkin untuk toilet dan kamar mandi. Tempat tidurnya juga besar, mungkin muat untuk empat hingga lima orang. Soo Ji sangat menyukai meja belajarnya yang berwarna hitam itu dan rak buku di sampingnya.

 

“Komputer!”

 

Soo Ji berlari ke komputer itu dengan memekik senang. Itu adalah komputer model terbaru dengan monitor dua puluh empat inci. Jantungnya berdebar saking senangnya. Ia tidak menyangka mendapat kamar sebagus ini.

 

“Kau benar-benar senang ya?”

 

“Tentu saja. Aku saja biasanya ke rumah Soo Jung untuk bermain komputer.”

 

“Ya ampun, memangnya seperti apa rumahmu?”

 

“Rumah yang tidak mungkin sanggup oppa bayangkan.”

 

Soo Ji menjawab dengan ringan namun membuat Jeong Min bergidik ngeri. Ia tampak kasihan menatap Soo Ji. Gadis itu pasti benar-benar tegar.

 

“Ah, kalau begitu, aku bisa bekerja paruh waktu dengan tenang.”

 

“Bekerja? Untuk apa?”

 

“Aku harus mencari uang.”

 

“Jangan begitu, Soo Ji. Kakek akan memberikan uang berapapun kok.”

 

Soo Ji berhenti memegang komputer itu kemudian mendekati Jeong Min. Ia menatap Jeong Min dengan mata kucingnya itu,”Oppa tidak boleh seperti itu. Meski kakek akan memberikan semuanya tetapi bagiku uang sangat bermakna. Aku tidak boleh memanfaatkan kakek yang sudah mau baik-baik memungutku. Aku tetap harus berjuang keras untuk mimpiku dan mendapatkan sesuatu dengan uangku sendiri.”

 

Jeong Min menatap Soo Ji. Soo Ji memang benar-benar lemah namun kuat dibandingnya. Mulut Jeong Min kering. Ia ingin memegang bahu Soo Ji, tetapi tidak bisa semudah itu. Sekarang ia paham mengapa Soo Ji tidak mau disentuh meski diberi uang ratusan juta.

 

“Kalau begitu, aku turun dulu ya. Kau boleh berganti baju dulu.”

 

Soo Ji pun membuka tas berisi baju yang ia bawa. Ia berniat memasukkan bajunya ke lemari itu. Ia mengira lemari itu kosong namun ternyata penuh pakaian. Ia sempat berpikir itu pakaian orang lain, namun itu adalah pakaian wanita dengan label harga yang belum dilepaskan.

 

“Empat juta won? Kaus?” Mata Soo Ji terbelalak melihat label harga kaus berwarna merah jambu itu.

 

“Astaga… Bagaimana bisa…”

 

Kaus saja empat juta apalagi gaun-gaun yang tergantung itu. Soo Ji mengambil kaus yang tampak paling sederhana dan ternyata harganya satu juta won. Soo Ji memakainya dengan hati-hati takut merusaknya. Seusai memakainya, Soo Ji mengambil seragam sekolah yang ada di ujung lemari. Jas berwarna merah tua dengan rok yang berwarna sedikit lebih muda. Kemeja putih dengan pita hijau muda. Seragam sekolah yang selalu Soo Ji bayangkan hanya ada di manga yang sering dibacanya itu adalah seragam SMA Gamseong.

 

“Jadi aku tidak masuk kelas biasa?”

 

Soo Ji heran melihat pita itu. Ia tahu pita seragam Ji Yeon berwarna biru muda yang berarti masuk kelas biasa. Wah, Soo Ji harus benar-benar berterima kasih pada Direktur Lee telah memberikan sebanyak ini. Padahal Soo Ji hanya membantunya ketika jatuh di jalan.

 

“Terima kasih, kakek.”

 

Soo Ji benar-benar heran. Bagaimana bisa semua ini sudah siap untuknya dalam waktu singkat. Ini hanya untuknya. Iapun melanjutkan dengan memakai celana jeans tiga perempat. Kemudian langsung turun tangga menemui Jeong Min. Jeong Min tersenyum menyapanya.

 

“Kau cantik.”

 

Soo Ji memerah mendengar pujian Jeong Min itu,”Terima kasih. Oh ya, siapa yang membeli pakaian di dalam lemari?”

 

“Yi Fan hyung. Sekaligus dengan interior, ranjang tidur dan perabotan lainnya.”

 

“Wah, luar biasa.”

 

“Aku jadi cemburu. Pacarku bilang laki-laki lain luar biasa.”

 

“Apa sih?”

 

Mereka keluar dengan tertawa. Walaupun berada dalam kota, udara di Sky House benar-benar segar karena taman-taman yang indah itu. Yi Fan sudah siap mengantar mereka ke klinik hewan dengan mobil. Di depan klinik itu, ada orang yang tampak menunggu seseorang. Soo Ji merasa pernah melihat orang itu, tapi ia tidak ingat dimana. Wajahnya kecil, bermata besar dengan ekspresi kosong. Jika saja tubuhnya tidak tinggi, pasti orang-orang akan mengira ia gadis manis.

 

“Huh, kenapa dia ada disini?” rutuk Jeong Min kesal.

 

Oppa mengenalnya?”

 

“Dia Tuan Muda pertama, nona. Lee Sung Yeol.”

 

Yi Fan menjawab sambil membukakan pintu bagi Soo Ji. Soo Ji mengangguk mendengarnya. Ia masih mencoba mengingat wajah Sung Yeol yang ia rasa pernah ditemuinya. Sung Yeol tersenyum menyapa Jeong Min dan Yi Fan kemudian terbelalak memandang Soo Ji.

 

“Akhirnya datang juga. Aku terus menunggumu disini.”

 

“Kau mengenalku?”

 

“Ya ampun… Aku sakit hati. Waktu anjing itu terluka, aku yang mengantarmu.”

 

Soo Ji ingat. Lelaki yang menolongnya dari polisi itu ternyata dia. Ah jelas saja polisi itu melepasnya. Jelas polisi tidak akan mau berurusan dengan Grup Gamseong apalagi dia adalah Tuan Muda pertama.

 

“Kalian berdua kenal?”

 

“Ya. Dia sangat keren. Dia melompat turun dari motorku yang melaju cepat.”

 

“Kau melakukan itu?” Jeong Min bertanya dengan kaget.

 

Soo Ji menjawab dengan mengangkat bahu,”Apa boleh buat. Aku sedang terburu-buru.”

 

“Nona, harus benar-benar berhati-hati mulai sekarang. Bagaimana kalau nona terluka?”

 

Soo Ji kaget mendengar ucapan Yi Fan. Ia mendongak menatap Yi Fan. Pandangannya terkunci pada pengawal itu. Sudah sangat lama tidak ada yang mencemaskannya selain Soo Jung dan Jin Ri setelah ibunya meninggal.

 

“Kenapa nona melihat saya?”

 

“Tidak, hanya… Terkejut.”

 

Jeong Min yang menyadari itu kemudian menutup mata Soo Ji dengan tangannya sambil berkata,”Jangan menatap laki-laki lain selain aku.”

 

Sung Yeol mengernyit,”Apa? Kenapa kau tidak suka Soo Ji melihat laki-laki lain?”

 

“Tentu saja, tidak suka, hyung. Gadis ini pacarku.” Dengan raut wajah dingin, Jeong Min menarik Soo Ji mendekat dengan mengaitkan lengan mereka.

 

“Oh ya. Selain itu, kakek pernah mengatakan ada gadis yang tinggal di rumah kita, kan? Gadis itu adalah adik iparmu ini, hyung$”

 

“Eii… Benarkah? Kalau begitu, aku tak harus ke klinik ini terus-menerus.” Sung Yeol mencibir lalu menghampiri Soo Ji. “Kenalkan, aku Lee Sung Yeol, sembilan belas tahun. Aku ceria sebagai Tuan Muda pertama. Senang bertemu denganmu.”

 

“Bae Soo Ji. Tujuh belas tahun.”

 

“Sayang sekali kau pacar Jeong Min yang playboy. Ah, karena kita tinggal serrumah, semoga kita bisa lebih akrab.”

 

“Aku juga berharap begitu.”

 

Soo Ji mengangguk dengan tersenyum kemudian menatap Yi Fan,”Dimana anak anjing itu, gege?”

 

Yi Fan kemudian menunjukkan ruang anak anjing itu kepada ketiga orang itu. Operasi anak anjing itu sukses. Anjing itu berbaring dengan perut dibalut perban di pojok kandang. Ketika melihat Soo Ji, anjing itu mengibaskan ekor seakan mengenalinya. Soo Ji tersenyum lembut sambil menyelipkan jarinya di celah jeruji kandang. Anak anjing itu menjilat jari tangannya dengan susah payah.

 

“Oh ya, apa aku boleh memeliharanya di Sky House?” Soo Ji menatap Jeong Min dan Sung Yeol meminta izin.

 

“Tentu saja. Selama kau suka, kau bisa memeliharanya,” Jeong Min menjawab dengan santai.

 

“Kau bisa memeliharanya, Tuan Putri. Ah ya, anak anjing ini diberi nama apa?”

 

“Anjing.”

 

“…”

 

“…”

 

Semuanya menatap Jeong Min terperangah dan heran. Namun Jeong Min hanya mengangkat bahu,”Kalau sudah besar akan menjadi anjing kan. Jadi panggil anjing saja.”

 

“Apa kucing juga harus dipanggil kucing, Jeong Min-ah?”

 

“Ini nama yang bagus untuk hewan sehingga sadar identitas mereka.”

 

“Sudahlah. Aku menamainya Dong Woo. Karena ia benar-benar lucu seperti anggota grup Infinite itu.”

 

Setelah berpamitan dengan Dong Woo sambil mengatakan ia akan kembali besok, mereka keluar dari klinik hewan. Soo Ji melemaskan otot tangannya dengan lelah. Sung Yeol menautkan kedua tangan sambil berjalan.

 

“Soo Ji benar-benar keren. Terlalu baik untuk Jeong Min yang playboy,” gerutu Sung Yeol.

 

YA, Hyung!

 

“Oh ya, Soo Ji. Kalau Jeong Min melakukan hal aneh, katakan saja padaku. Aku akan langsung merebutmu.”

 

“Persaudaraan yang erat.”

 

“Persaudaraan yang melihat orang lain merinding.”

*

Setelah sampai di rumah, mereka langsung menuju kamar masing-masing karena dilarang Yi Fan mengganggu Soo Ji yang tampak sudah lelah. Soo Ji pun segera masuk kamar mandi, ia benar-benar gerah ingin mandi. Sekali lagi, ia takjub melihat bath tub dan bilik pancuran yang luas dan mewah. Soo Ji pun mengisi air di dalam bath tub dengan senang. Apalagi di kamar mandi itu ada lemari yang penuh minyak aromatik dan sabun mandi yang wangi.

 

Soo Ji masuk ke dalam bath tub. Ia merasakan air hangat itu dengan nyaman. Semua rasa lelahnya hilang. Ia sadar sudah lama ia tidak pergi ke pemandian umum dengan Soo Jung dan Jin Ri. Tapi jika mereka diajak kesini tentu mereka akan senang kan.

 

Soo Ji bersyukur setidaknya beberapa orang yang ditemuinya di Sky House benar-benar baik. Ya kecuali Kim Myung Soo yang tampak membencinya itu. Apa ini salahnya memilih membantu Jeong Min menjadi pacar pura-puranya? Tapi apa salahnya? Mungkin Kim Myung Soo tidak akan membencinya jika ia tidak melukai hati YoonA ya.

 

Soo Ji keluar dari kamar mandi segera mengenakan piyama yang ia bawa sendiri. Ia merasa tidak mengantuk dan lelah sekarang. Mungkin ia hanya tidak terbiasa. Iapun berinisiatif melihat green house yang sedari tadi ingin ia lihat. Namun ia terhenti karena ketika ia keluar dari kamar berpapasan dengan Myung Soo yang sedang menaiki tangga.

 

Sialan, Soo Ji benar -benar tak menyangka bertemu lelaki ini sekarang. Lelaki itu naik dengan menunduk. Namun kemudian ia mendongak merasakan ada seseorang yang melihatnya. Mata sipit Myung Soo membelalak melihat Soo Ji di depannya. Ia mengernyit hingga menimbulkan kerutan. Soo Ji heran mengapa anak SMA seumuran Myung Soo memiliki kerutan sedalam itu?

 

“Kau… Apa yang kau lakukan disini?”

 

“Aku disuruh tinggal disini oleh Direktur Lee.”

 

“Oh, jadi kau gadis yang akan tinggal disini?” Myung Soo berkata sinis. Ia menyipit memandang Soo Ji dengan mata tajamnya. Matanya itu seperti menunjukkan bahwa Myung Soo tampak ingin menerkam Soo Ji.

 

“Kudengar kau dari keluarga miskin. Oh kau jadi mendekati Jeong Min karena ingin uangnya ya? Memangnya kau ingin menikah dengannya juga sampai tinggal disini?”

 

Soo Ji diam saja mendengar cacian Myung Soo. Ia tahu kini Myung Soo sudah benar-benar membencinya karena YoonA. Tapi apa harus setega itu ucapan Myung Soo padanya?

 

“Cih dasar gadis murahan. Kau mau mendapatkan uang dari Jeong Min ya dengan menjual diri?”

 

Wajah Myung Soo memang tampan. Bahkan jika dipikir lebih tampan dari Sung Yeol ataupun Jeong Min. Meski ketiganya memiliki kemiripan, sifat mereka berbeda jauh. Jeong Min sangat ramah dengan sikap playboynya itu. Lalu Sung Yeol benar-benar ceria dan seperti anak kecil. Namun Myung Soo benar-benar dingin dan misterius.

 

“Apa murahan itu buruk?”

 

“…”

 

“Barang murah hanya barang tak bermerek bukan? Ada banyak barang murah namun jauh lebih bagus daripada barang mahal. Barang mahal namun dalamnya buruk sangat banyak. Kau juga begitu, kan? Kau berstatus tinggi dan memiliki hubungan dengan Grup Gamseong tapi sifatmu benar-benar memalukan.”

 

Myung Soo berusaha mencengkeram kerah baju Soo Ji. Namun dengan mudah ia menghindarinya. Soo Ji tersenyum dingin membuat Myung Soo semakin memandangnya tak suka.

 

“Kaupikir jika menindas dan mengancamku, Jeong Min oppa akan mulai berpacaran dengan YoonA eonni? Tidak mungkin kau bahagia dengan menyatukan mereka bukan? Aku tahu kau juga pasti cemburu jika mereka bersama. Singkirkan pikiranmu itu. Itu sama saja dengan egois.”

 

Buk!

 

Soo Ji diam saja membiarkan Myung Soo memukulnya meski ia bisa menghindar. Pukulannya terasa sakit namun Soo Ji tidak menunjukkannya. Myung Soo kaget melihat Soo Ji tidak terhuyung ataupun kesakitan. Padahal ia bisa membuat lelaki manapun jatuh terjerembab karena pukulannya.

 

“Ternyata kau berani memukul perempuan ya? Apa kau puas sekarang? Apa cintamu pada YoonA eonni sudah terbalaskan sekarang?”

 

“Apa maumu? Hah?”

 

“Aku? Aku hanya cewek murahan yang menempel pada Jeong Min oppa supaya menjadi kaya, kenapa?”

 

Myung Soo menyipitkan matanya memandang Soo Ji aneh. Ia melihat sinar mata Soo Ji sejenak. Padahal ini sudah malam, tapi ia melihat sinar aneh. Ah tidak, itu pasti hanya lampu koridor yang menyala remang-remang. Myung Soo sadar ia tidak sanggup menatap mata Soo Ji langsung.

 

“Mungkin kau tidak suka, tapi aku akan tinggal sampai lulus SMA. Mau mengusirku? Silakan saja, tapi aku tidak selemah itu.

 

Soo Ji kemudian menendang lutut Myung Soo dengan kuat lalu berlalu turun. Myung Soo mengaduh kesakitan. Ia masih kesakitan hingga Soo Ji tidak terlihat lagi. Myung Soo kemudian mengucek matanya dan masuk ke kamarnya dengan kaki yang rasanya retak itu.

 

Tanpa disadari, Sung Yeol sedang duduk di korido lantai tiga. Ia keluar untuk mengambil minum, namun ia mengurungkannya ketika tanpa sengaja mendengar pembicaraan serius Soo Ji dan Myung Soo. Akhirnya ia berjongkok dan menunggu sampai pembicaraan itu selesai.

 

Bagaimana ini? Bae Soo Ji benar-benar keren!

 

Sung Yeol mengatur nafasnya yang terengah-engah dengan membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.

 

-TBC-

 

Anyeong, readers! Ini chapter yang puanjaaaang ya. Aku bikinnya aja udah beberapa minggu baru bisa selesai sekarang. Semoga ini nggak bikin bosen yaa. Ini chapter yang kubuat sendiri, gimana moonyeol eon? Chapter depannya dibuat moonyeol eonni jadi kalo pengen tahu kelanjutannya, terserah moonyeol eonni 😀

Oh ya, ini tadi ada myungzy momennya tapi malah berantem-_- mianhae, entar myungzy momen kayaknya baru ada di chapter empat deh. Aku nggak mau alurnya terkesan terburu-buru dan maksain. Jadi maaf yaa kalo momen mereka masih dikit. Tapi ada dikit lah Jeong Min-Soo Ji momen sama Yi Fan-Soo Ji momen 😀 Makasih buat komennya kemarin yaa. Aku makasiiiih banget. Buat siders, sadar please! Gini ya guys, aku bisa liat loh berapa banyak yang baca post-an-ku jadi bisa ketahuan banget lah berapa banyak siders. Di ff myungzy oneshoot kemarin aja banyak yang baca tapi cuman berapa itu komennya. Meskipun komen kalian cuma dikit, aku mengapresiasinya kok. So, GIVE ME YOUR FEEDBACK, PLEASE»»»

Sunday, June 29th 2014 – 12.39 pm

Advertisements

72 thoughts on “The Amazing Cinderella, Chapter 2

  1. Myung saking sukanya dama yoona sampe kayak gitu ke suzy -_- wah kayaknya cucu 1 sama cucu 3 udah mulai suka nih sama suzy kekeke. Suka banget sama karakter suzy dan wu yi fan disini ^^

  2. myungpa tega bgt ngmnk gitu ma suzyy huh..
    kyaa sung yeol terpesona…
    jeongmin apa yg buat dy ga suka yoona..
    suzy kereennn…

  3. Soo ji lucu banget pas tau punya komputer dikamarnya….ko soo ji g protesnya jeongmin ngaku pacarnya ke orang lain ya meskipun pura2….

  4. Lupa udh coment d chap brp aj.. Jd ya coment dr awal aj thor. Hhi
    Si myung besok jgn jutek lh y.. Skali” ad part dy bsa rmah sma org trutma soji.. Kyeopta psti. fighting thor

  5. Wuaaah Sooji memang keren. Kata-kata Sooji buat Myungsoo gak berkutik. Myungsoo beneran suka sama Yoona ya?

  6. Ceritanya semakin menari… dan Sooji memang keren, dia sudah pernah mengalami kejadian yg lebih berat dari sekedar kata2 kejam dari Myungsoo, jd itu semua bukan apa2 bagi Sooji yg tegar, suka dengan sifat Sooji…
    Bagus banget ceritanya, author jg keren, gomawo author 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s