The Amazing Cinderella, Chapter Three

 

Title : The Amazing Cinderella | Author : Evil_Yeol ‘^_^’ & magnaegihyun | Length : Chaptered(5.483 words) | Genre : Romance, School Life, Family, Other | Rating : PG | Main Cast : Bae Soo Ji, Kim Myung Soo, Lee Jeong Min, Lee Sung Yeol, Wu Yi Fan and others

Bae Soo Ji tidak sengaja bertemu dengan seorang kakek yang sedang kesakitan. Tentu saja, dengan sigap ia menolong kakek itu ke rumah sakit meski menyadari bahwa ia sudah terlambat bekerja. Ia merasa aneh ketika ia ditanyai apa impiannya oleh kakek itu. Meski begitu, ia tetap menjawab dan bercerita pada kakek yang baru dikenalnya itu. Tanpa disangkanya, keesokan harinya impiannya benar-benar menjadi nyata. Inilah kehidupan barunya yang ia rasakan layaknya seorang Cinderella.

Previous Part

Disclaimer : This storyline is belong to magnaegihyun&evil_yeol. This fanfiction is inspired by ‘Cinderella dan Empat Ksatria’, a novel by Bae Myo. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the pairing? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

 the-amazing-cinderella

*

Soo Ji memang pernah mendengar tentang SMA Gamseong dari Jiyeon, tapi ini baru pertama kalinya ia melihat SMA ini.

 

“Aku akan masuk sendiri saja,” Kata Soo Ji tiba-tiba pada Yi Fan yang mengawalnya sampai pintu gerbang.

 

“Apa nona yakin?” Soo Ji hanya tersenyum saat Yi Fan memasang raut wajah cemas. Kemudian Soo Ji meninggalkan Yi Fan menuju ruang guru dengan semangat.

 

“Apa ini? Bagaimana bisa lapangan SMA bisa seluas ini.”

 

SMA Gamseong sangat jauh berbeda dari SMA Soo Ji yang dulu. Sekolahnya sangat luas, taman dan gedung yang keempat sisinya merupakan dinding kaca yang dibangun dengan arsitektur modern, tidak dapat dengan mudah dijumpai di SMA biasa lain. Setelah dengan susah payah menemukan gedung kantor guru, Soo Ji kembali tercengang. Gedung sekolah yang luas ini ternyata memiliki lift dan eskalator.

 

Diantar dengan mobil, lalu naik lift. Bisa–bisa aku jatuh sakit karena kekurangan olahraga.

 

SMA Soo Ji yang dulu berada di daerah pegunungan. Tentu setiap pergi dan pulang sekolah, anak–anak mengomel karena lama–lama betis mereka membesar. Setelah pindah ke sekolah semegah ini, mau tak mau Soo Ji merasa kagum. Saat Soo Ji akan berjalan dari koridor lantai satu menuju koridor ruang guru, sebuah suara melengking menghentikan langkahnya.

 

“Hei, Bae Soo Ji!”

 

Gara – gara kemewahan SMA Gamseong, Soo Ji sempat lupa kalau Ji Yeon juga bersekolah di sini. Soo Ji menoleh tanpa menjawab. Ji Yeon yang memakai pita berwarna biru menatap marah kea rah Soo Ji.

 

“Apa-apaan kau ini! Sebenarnya apa yang sedang terjadi?”

 

“Huh, apa?”

 

“Kau tahu? Sejak kau pergi dari rumah, Ayah dan Ibu selalu mengkhawatirkanmu.”

 

Apakah perkataannya bisa dipercaya? Apa katanya tadi, Ayah dan Ibu mengkhawatirkanku? Sama sekali tidak mungkin. Pasti mereka mengomel karena Bae Soo Ji, si anak tidak tahu diri, berengsek, dan bisa menarik perhatian Direktur Lee. Soo Ji bisa dengan jelas membayangkan situasinya, pasti Ji Yeon dan ibunya berapi–api, dipenuhi keserakahan dan kecemburuan.

 

“Apa kau lupa selama ini kami sudah berbaik hati memberimu makan dan tempat tinggal. Kau tidak bisa keluar begitu saja. Setidaknya, kau harus menjelaskan situasinya dan setelah diberi izin baru keluar dari rumah. Bukankah begitu seharusnya?” Dengan nada tinggi, Ji Yeon memarahi Soo Ji tanpa segan – segan.

 

“Sejujurnya sejak awal aku sudah merasa kau akan menusuk kami dari belakang. Tapi kau pergi begitu saja, bukankah itu keterlaluan?” Ji Yeon yang sibuk mengomel tiba – tiba terbelalak.

 

“Kenapa kau memakai pita hijau? Bagaimana mungkin kau bisa memakainya?”

 

Meskipun kaya bukan berarti mereka bisa masuk SMA Gamseong dengan mudah. Mereka harus memiliki orang tua atau kerabat dengan status sosial yang tinggi, atau mendapat rekomendasi dari orang yang berkedudukan tinggi di masyarakat. Kalau hanya sekedar memiliki uang, mereka hanya bisa masuk ke kelas biasa dengan menyumbangkan uang berjumlah beasar.

 

“Kakek… ah maksudku Direktur Lee yang menyiapkan seragam ini.”

 

“Apa? Tidak mungkin!” teriak Ji Yeon histeris. Soo Ji sampai sulit bernapas melihat raut wajah egois Ji Yeon yang tidak senang dengan kebahagiaan orang lain.

 

“Kau tidak punya uang maupun koneksi, bagaimana mungkin? Kau mencurinya, ya? Ya, kan? Kau mencuri, kan?”

 

“Kalau kau tak percaya, Tanya saja pada Pak Direktur. Kalau tidak senang, cerita saja semuanya kepada beliau. Aku hanya memakai seragam yang disiapkannya.”

 

“Jangan sok! Apa kau pikir setelah masuk ke Sky House, kau menjadi orang kaya?”

 

“Sedikit-pun aku tak pernah berpikiran seperti itu. jadi menurutmu aku ini sok kaya?”

 

“Benar! Bagaimana mungkin orang seperti kau… pasti Direktur Lee salah paham. Akan kuceritakan semuanya tentangmu padanya!”

 

“Silahkan saja.”

 

Satu per satu guru keluar dari ruangannya karena mendengar keributan dari arah koridor. Begitu guru – guru keluar, Ji Yeon langsung berpura – pura tersenyum manis kepada Soo Ji.

 

“Kenapa kau marah? Jangan begitu Soo Ji.”

 

“…”

 

“Aku hanya… Meskipun kita bukan saudara sedarah, tapi kita tetap keluarga. Kau tak tahu bagaimana kami mencemaskanmu. Kau seorang gadis, bisa saja hal buruk menimpamu kalau kau kabur dari rumah? Kita semua sampai tidak bisa tidur memikirkanmu.”

 

“Apakah terjadi sesuatu? Kenapa ribut sekali?“ Guru dengan rambut coklat dan terdapat plester di dahinya menghampiri mereka.

 

“Tidak ada apa – apa, pak. Mungkin bapak belum tahu, Dia ini adikku. Dia tiba – tiba kabur dari rumah tanpa mengatakan apa pun. Jadi aku sangat mencemaskannya…”

 

Guru berambut coklat itu bergumam tanda mengerti kemudian menatap Soo Ji,“Tunggu, kau! Siapa namamu? Itu seragam sekolah kami kan?”

 

“Ah, selamat pagi. Aku Bae Soo Ji yang mulai hari ini akan bersekolah di sini.”

 

Begitu mendengar nama Soo Ji, raut wajah guru itu berubah menjadi cerah.

 

“Oh.. Jadi kau murid yang direkomendasikan oleh Pak Direktur. Senang bertemu denganmu. Aku Bang Yong Guk, wali kelasmu mulai hari ini.”

 

“Senang bertemu dengan bapak.” Soo Ji memandang Yong Guk heran. Dari penampilannya yang heboh ia lebih terlihat seperti pemimpin geng dari pada seorang guru.

 

“Di… dia murid kelas bapak? “ Tanya Ji Yeon dengan wajah memucat.

 

“Ya. Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah mendengar semuanya dari Direktur Lee. Tentu saja orang tua pasti mengkhawatirkan anaknya yang hidup terpisah. Tapi tenang saja Pak Direktur sangat baik. “

 

“Ah, tentu saja… “ Sepertinya di sekolah Ji Yeon berakting menjadi murid yang sangat baik. Ji Yeon berbalik sambil menggerutu pelan.

 

“Aku sudah menunggumu. Ayo masuk kelas.”

 

Ketika sampai di depan pintu kelas, Soo Ji langsung membuka pintunya. Dan ajaibnya tak ada sedikitpun suara yang ditimbulkan. Begitu masuk, Soo Ji melihat pemandangan yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan ruang kelasnya dulu. Luasnya seperti luas kantor di perusahaan besar. Walaupun terdapat tiga puluh meja, tetapi ruangan tersebut masih terlihat luas. Apalagi masih ada barang-barang yang jelas tidak akan ditemukan di kelasnya dulu. Televisi dengan layar datar tergantung manis di atas dengan inchi yang paling canggih saat ini, terdapat satu komputer terbaru juga di ujung kelas untuk guru. Meja dan kursi pun terlihat nyaman dengan kualitas terbaik.

 

Ketika sedang menyapukan pandang ke sekeliling kelas sambil berdiri di samping Yong Guk, Soo Ji merasa ada yang sedang tersenyum cerah padanya. Mata yang bersinar indah, bibir yang penuh serta perawakan yang mungil. Tunggu, itu yang dikenalkan padanya oleh Jeong Min dulu. Siapa dia? Sun Young?

 

“Ini Bae Soo Ji yang mulai hari ini akan belajar bersama kalian. Semoga kalian menjadi akrab.”

 

“Bae Soo Ji imnida. Bangapseumnida.”

 

“Kau duduk dimana ya?”

 

“Di sini, Ssaem,“ begitu mendengar ucapan Yong Guk, Sun Young langsung mengangkat tangan.

 

“Ia akan duduk di sebelahku.”

 

Akhirnya Soo Ji duduk di sebelah Sun Young. Soo Ji diam saja ketika Yong Guk mulai menerangkan sesuatu. Suasana kelas ini cukup berbeda dengan kelasnya dulu. Dulu, murid-murid di kelasnya benar-benar diam dan memperhatikan guru mereka. Tapi disini, guru mereka berbicara namun hanya sedikit yang mendengarkan. Beberapa anak tampak tidur, mengeluarkan ponsel mahal mereka, bahkan Sun Young malah mendengarkan musik melalui headsetnya. Soo Ji pun menghela napas mencoba mengabaikan itu dan mulai fokus mencatat apa yang disampaikan gurunya itu.

 

 

 

“Baiklah… Pertemuan hari ini cukup sampai di sini. Jangan sombong. Belajarlah dengan rajin dan jangan sia–siakan uang orang tua kalian. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya. “ Begitu Yong Guk keluar kelas, beberapa murid perempuan mengelilingi Soo Ji.

 

“Kau berasal dari mana?“

 

“Dari sekolah mana?”

 

“Dengar – dengar kau tinggal di Sky House, benarkah?”

 

Karena pertanyaan yang datang bertubi–tubi, Soo Ji kebingungan menjawab yang mana terlebih dulu. Pada saat itu Sun Young mengetuk-ngetuk meja kesal. Ia baru saja melepas headsetnya dan sekarang melirik tidak suka pada keramaian itu.

 

“Bisa diam tidak sih? Berisik sekali. Kalau mau tanya, satu–satu dong.” Semuanya terdiam mendengar perkataan Sun Young.

 

“Seorang gadis yang tinggal di rumah yang dipenuhi laki–laki. Bukankah itu tabu?“

 

Tiba–tiba, suara tajam memecah keheningan. Soo Ji menoleh ke arah pemilik suara tajam itu. Gadis berambut lurus dengan mata sipit itu menatap Soo Ji dingin. Kulitnya sedikit lebih gelap namun Soo Ji tahu bahwa gadis itu termasuk manis.

 

“Memangnya kau dibesarkan di keluarga seperti apa? Mengapa mereka memperbolehkanmu tinggal di rumah yang dipenuhi laki–laki? Ah, apa mungkin kau dijual?”

 

YA, Son Na Eun! Jaga kata–katamu itu. Soo Ji yang tinggal di Sky House kan, memangnya apa masalahnya buatmu?”Balas Sun Young ketus. Anehnya, keberanian Na Eun tidak menciut. Ia malah balas menatap tajam.

 

“Apa ada yang salah dengan kata–kata ku? Dari penampilannya saja sudah ketahuan kalau dia tinggal di Sky House sebagai pembantu. Tapi tetap saja mana ada orang tua yang menjual anaknya? Sepertinya orang tuanya bukan orang tua kandung. Kenapa sih kalian berbasa-basi dengannya? Meski dia mungkin saja punya hubungan dengan Grup Gamseong, aku yakin dia tak lebih dari seorang pembantu. Kalian kira jika dekat dengannya, kalian bisa dekat dengan Grup Gamseong? Benar–benar bodoh.”

 

“Oh… Kau iri karena Soo Ji cantik kan?” Sun Young berkata dingin.

 

“Iri? Dengannya? Yang benar saja!” Na Eun memasang raut jijik.

 

“Cantik, tinggi dan langsing. Kau takut Sungyeol oppa jatuh cinta pada Soo Ji, ya?” Ucapan Sun Young tepat sasaran. Wajah Na Eun memerah. Soo Ji menatap Na Eun tanpa berkata apa pun. Karena tidak suka dengan tatapan dingin Soo Ji, Na Eun mengamuk.

 

“Apa lihat–lihat?” Na Eun melirik Soo Ji yang sedari tadi diam menatapnya.

 

“Hanya penasaran,” jawab Soo Ji polos.

 

“Apa maksudmu?”

 

“Hidupmu seperti apa sampai punya pikiran sekotor itu?” Soo Ji menjawab dengan nada biasa.

 

“APA?” Mata Na Eun mendelik menatap Soo Ji.

 

“Kalau mengunjungi rumah penuh laki–laki, kau hanya berniat berbuat tidak–tidak pada mereka, ya? Aku tidak pernah berpikir sejauh itu, jadi aku sedikit bingung kenapa kau menyinggung hal itu.” Sun Young tertawa mendengar ucapan Soo Ji.

 

Tiba –tiba seseorang membuka pintu dengan kasar. Orang yang membuka pintu dengan kasar itu ternyata Myung Soo. Begitu Myung Soo masuk suasana kelas langsung hening.

 

“Myung Soo!”

 

Suara nyaring Sun Young memecah keheningan. Myung Soo menuju tempat duduk paling belakang, menoleh sekilas dan bertemu pandang dengan Soo Ji. Matanya yang berwarna gelap seakan – akan menerkam Soo Ji.

 

“Soo Ji sekelas denganku, bagus kan?”

 

“Kau melihat Jeong Min?”

 

Sun Young yang tiba-tiba dilempari pertanyaan yang menyimpang dengan apa yang diucapkan sebelumnya, bingung. Myung Soo masih menunggu jawabannya dengan wajah polos dan dingin. Sun Young pun membenarkan ekspresi melongonya kemudian menjawab dengan wajah lugu,”Kenapa Jeong Min bisa di kelasku? Ia kan di kelas B?”

 

Myung Soo mengangguk-angguk paham,”Tadi, kata Sung Yeol hyung disini… Ah, dasar!”

 

Tanpa menjawab pertanyaan Sun Young, Myung Soo berlalu dari kelas Sun Young dan menutup pintu dengan keras membuat penghuni ruangan itu kaget dan beberapa menyumpahi Myung Soo dalam hati. Sun Young pun menghela napas berat dan merasa sebal. Iapun mengabaikan perasaan sebalnya itu dan berbalik menghadap Soo Ji.

 

“Soo Ji, tolong kau maklumi ya.”

 

“Ah. Ya? Apa?”

 

“Myung Soo. Dia memiliki beberapa kepribadian juga sedikit malu kalau harus berhadapan dengan orang yang tak dikenalnya.”

 

Hah? Pemalu? Memang sikap seperti itu bisa disebut pemalu? Entah itu pemalu atau memang pada dasarnya bersifat jelek, Soo Ji sama sekali tak peduli. Mendadak perkataan Direktur Lee melintas dipikirannya. Direktur Lee pernah bilang beliau cemas terhadap cucu – cucunya. Saat itu Soo Ji mengira beliau hanya bercanda, mengingat selera humornya. Tetapi sepertinya Direktur Lee benar – benar mengkhawatirkan cucunya. Terutama cucunya yang satu ini. Si binatang buas.

 

“Si binatang buas.”Tanpa sadar, Soo Ji menggumamkan kata – kata yang terbesit di pikirannya.

 

Mata Sun Young terbelalak, “Omo. Kau juga mengetahuinya ya.”

 

“Apa?”

 

“Kalau julukan Myung Soo binatang buas?” Sun Young masih memandangnya kaget.

 

“…Sekali lihat saja sudah langsung tau dia seperti bianatang buas, bukan?”

 

“Sebenarnya… Myung Soo tidak seseram kelihatannya,”Sun Young bergumam pelan.

 

“Benarkah? Mungkin hanya Tuan Putri yang menganggapnya tidak seram.”

 

“Tuan Putri? Ya ampun. Soo Ji kau benar – benar tau bagaimana cara menyenangkan orang lain,” Sun Young tersenyum sangat cerah. Dalam hati, Soo Ji berpikir justru Sun Young-lah yang dengan mudah dapat menyenagkan orang lain. Gadis ini dibesarkan dengan penuh kasih sayang bukan? Sun Young pasti dibesarkan tanpa kesulitan apapun. Kalau tidak mana mungkin Sun Young memiliki senyuman secerah itu.

 

Bel pertanda kelas dimulai berbunyi. Jam pertama adalah kelas biologi. Pelajarannya tidak begitu berbeda dengan sekolah Soo Ji yang dulu, hanya saja bukunya yang berberda. Di sini isi buku pelajaran ada di laptop masing – masing.

 

“Di sini tak ada buku?” tanya Soo Ji pelan.

 

Sun Young yang sibuk mengetik sesuatu di laptop menjawab.

 

“Tentu saja ada. Kalau kau minta pada wali kelas, bukunya akan diantar sore ini ke rumah.”

 

Pelajaran tersebut berjalan dengan suasana tenang. Awalanya tidak terasa, tapi lama kelamaan Soo Ji merasa kualiatas pelajarannya sangat tinggi. Tidak ada penjelasan yang bertele–tele, meliankan langsung pada intinya. Seperti itulah suasana pelajaran sampai jam keempat. Dan selama itu Myung Soo hanya tidur.

 

Suasana saat makan siang juga sangat berbeda dengan sekolahnya yang dulu. Setelah bel berbunyi, para siswa berjalan dengan santai menuju kantin. Tiba – tiba Soo Ji mengingat murid – murid di sekolahnya yang dulu yang selalu berebut menuju kantin. Tiba – tiba Soo Ji mengulas senyum.

 

“Apakah ada yang lucu?” tanya Sun Young yang berjalan bersama Soo Ji sambil mengaitkan lengannya.

 

“Tidak ada. Hanya saja suasana sekolah ini benar – benar berbeda dengan suasana sekolahku yang dulu.”

 

Jinjja? Apanya yang beda?”

 

Ketika Soo Ji menjelaskan keadaan siap perang sebelum bel makan siang berbunyi di sekolahnya yang dulu, Sun Young tertawa terbahak – bahak.

 

Geuraeyo?”

 

“Sungguh.” Sun Young menggelengkan kepalanya seakan tak percaya akan hal itu.

 

 

Kantin sekolah terletak di lanatai bawah tanah. Kantin tersebut lebih tepat disebut sebagai restoran bintang lima dari pada kantin sekolah. Sekarang Soo Ji tak lagi terkejut dengan kemewahan design interior dari kantin tersebut. Ia sedah terbiasa melihat hal yang mengejutkan di sekolah ini. Manusia memang dapat dengan mudah beradaptasi di mana saja. Baru sehari, Soo Ji sudah beradaptasi dengan lingkungan orang kaya.

 

Namun, ada satu masalah. Karena ini kantin sekolah, maka seluruh siswa pasti berkumpul di sini untuk menghabiskan waktu istirahat mereka. Soo Ji jadi cemas akan bertemu Ji Yeon di sini. Soo Ji berharap dapat lulus dari sekolah ini tanpa hambatan apapun.

 

Ketika melihat Soo Ji gelisah sampai mengedarkan pandang ke seluruh ruangan, Sun Young bertanya,“Apa yang kau cari?”

 

“Ah—tidak. Hanya—saja aku mengenal seseorang di sini.”

 

“Astaga. Benarkah? Siapa?”

 

“Namanya Park Ji Yeon.”

 

“Park Ji Yeon? Aku belum pernah mendengar namanya. Apa dia setingkat dengan kita? Apa dia murid kelas B?”

 

“Ya, tapi dia masuk kelas biasa.”

 

“Kelas biasa? Jelas saja. Dia tak akan kemari, Soo Ji-ya.”

 

“Oh. Benarkah?”

 

“Murid kelas biasa kan berasal dari keluarga miskin. Kalau mau menggunakan kantin ini, murid–murid harus menyumbang sebesar tiga puluh juta won tiap bulan. Murid biasa tak mungkin mempunyai uang sebesar itu.”

 

“Ti—tiga puluh juta won?” Padahal Soo Ji yakin dia tak akan terkejut lagi, tapi setelah mendengar kata tiga puluh juta won tiap bulan, mau tak mau Soo Ji memekik tanpa sadar hingga murid – murid menoleh ke arahnya.

 

“Kita harus menyumbang tiga puluh juta won baru bisa menggunakan seluruh fasilitas yang ada. Kadang–kadang anak kelas biasa juga bisa mendapat uang sebesar itu kalau orangtua mereka bekerja mati–matian. Teteapi biasanya mereka hanya sanggup membayar satu atau dua bulan saja. Setelah itu mereka menyerah.” Jelas Sun Young panjang lebar.

 

“…”

 

“Hm?”

 

“Tiga puluh juta… Kalau begitu aku segera…” Soo Ji sibuk dengan pikirannya sendiri dan tanpa sadar keluar dari antrian.

 

Sun Young yang melihat sikap Soo Ji yang begitu membingungkan, menarik tangan Soo Ji“Soo Ji, kau mau kemana?”

 

“Tiga puluh juta.. aku tak sanggup menyumbangkan uang sebesar itu.” Soo Ji menjawab dengan wajah gelisah.

 

“Kenapa kau perlu menyumbangkan uang sebesar itu. Kau kan mendapat hak istimewa dari Direktur Lee. Lagipula sekolah ini kan miliknya,” Sun Young menatap Soo Ji aneh.

 

“Tapi tetap saja, uang sebesar itu..” Soo Ji mematung dengan pikiran yang masih melayang-layang tak jelas.

 

Karena masih syok dengan konsep tiga puluh juta won, Soo Ji tak sadar kalau Jeong Min mengampirinya,“Ada apa ini? Kenapa gadisku mematung dengan mulut menganga seperti itu?”

 

Kata ‘gadis’ yang meluncur keluar dari bibir Jeong Min sontak membuat murid – murid dikantin syok. Terutama murid perempuan. Jeong Min, Sun Young dan Soo Ji tampaknya tak sadar dan masih asyik mengantri makanan.

 

“Hah! Dia bilang apa? Siapa gadis Jeong Min oppa?”

 

“Gadis Jeong Min? Kenapa tiba –tiba Jeong Min punya pacar?”

 

“Gadis itu kekasih Jeong Min?”

 

Andwae! Apa–apaan ini! Jeong Min oppa kan milikku.”

 

“Mana? Seperti apa dia? Aku ingin lihat wajahnya.”

 

Suasana kantin menjadi riuh. Karena sekitarnya berubah menjadi berisik, Soo Ji tersentak sadar. Jeong Min tersenyum manis. Senyumnya itu bak senyum seorang pangeran dan sesaat Soo Ji sempat berpikir kantin tersebut adalah istana.

 

“Kenapa kau datang ke sekolah sendiri? Padahal aku mau kita datang bersama.”

 

“Aku tak sendirian kok. Yi Fan gege yang mengantarku tadi. Bukankah oppa sendiri yang bangun kesiangan?”

 

Arraseo. Mulai besok aku akan bangun lebih awal.”

 

“Tak perlu. Bangun telat saja terus, aku bisa berangkat dengan gege,” Soo Ji membalas dengan polos.

 

“Ah… Mengapa gadisku ini lebih memilih Yi Fan hyung daripada kekasihnya?” Jeong Min menggeleng – geleng dengan gaya berlebihan. Sepertinya memang pria ini terbiasa dengan gayanya yang dramatis. Jangan – jangan, dia anggota klub teater seperti Jin Ri.

 

Soo Ji menyadari banyak mata yang tertuju padanya. Ia pun memandang sekeliling. Semua murid perempuan yang ada di kantin menatapnya dengan tatapan cemburu, marah, dan penasaran. Soo Ji pun mulai menatap lantai menyimpan nyalinya yang sempat menciut seperti Soo Jung yang tidak suka dipandangi orang lain, apalagi ini dengan raut benci.

 

Ternyata orang ini popular juga.

 

Jeong Min merangkul bahu Soo Ji dengan santai dan membuat semua murid perempuan semakin iri. Soo Ji hanya khawatir menjadi sasaran kemarahan para fans Jeong Min. iapun memilih menunduk untuk menghindari pandangan itu. Tapi anehnya, tak ada seorangpun yang berani mendekati Soo Ji dengan Jeong Min dan Sun Young, mereka hanya memandang dari jauh. Soo Ji, Jeong Min dan Sun Young telah duduk dan menyantap makanan masing – masing. Dan memang standar makanan di sini jelas jauh berbeda dengan standart makanan di sekolahnya yang dulu.

 

“Setelah kelas berakhir, bisakah kau menemaniku belanja?” kata Sun Young tiba – tiba.

 

“Maaf, aku ada urusan sepulang sekolah.” Tolak Soo Ji

 

“Urusan? Urusan apa?”

 

“Kerja paruh waktu.”

 

“Kerja paruh waktu untuk apa? “

 

“Tuan Putri, orang biasa sepertiku ini harus bekerja untuk hidup,” jawab Soo Ji dengan nada biasa.

 

Sun Young tampaknya masih tidak menyerah untuk menanyai Soo Ji“Tetapi kan kau bukan orang biasa lagi, ada Direktur Lee.”

 

“Direktur Lee ya Direktur Lee. Aku ya aku.”

 

“Hm… aku kurang mengerti.”

 

“Ayahmu pasti bekerja keras, kan?”

 

“Tentu saja. Itu karena ayah punya anak sepertiku. Tapi kita kan masih muda. Jadi kita harus bersenang-senang sepuasnya.”

 

“Kau benar sekali Sun Young-ah.” Jeong Min menimpali. “Aku hanya ingin menikmati masa SMA-ku bersama kekasihku. Aku tak mau kekasihku bekerja paruh waktu yang tidak ada aku. Demi aku, tolong jangan bekerja lagi.”

 

“Tidak ada alasan aku tidak bekerja paruh waktu demi oppa.”

 

“Apa maksudmu?” Jeong Min tersenyum sambil merangkul bahu Soo Ji. “Bukankah kau mencintaiku?”

 

Jarak wajah mereka begitu dekat sampai hidung mereka hampir bersentuhan. Ketika mata berwarna coklat itu menatap Soo Ji lekat – lekat, tiba – tiba Myung Soo menghampiri mereka dan menendang meja. Di sebelahnya tampak YoonA yang memasang wajah sedih.

 

“Apa yang kalian lakukan?!”

 

Mendengar bentakan Myung Soo itu, suasana di kantin menjadi hening seketika itu juga.Oh, hebat! Kemunculannya mengubah suasana yang tadinya riuh langsung menadi hening. Semua mata tertuju pada Myung Soo.

 

Daripada binatang buas lebih cocok kalau nama panggilannya pembawa keheningan, pikir Soo Ji

 

“Masa masih belum jelas juga, kami sedang pacaran.” Jeong Min tersenyum sinis sambil membelai kepala Soo Ji.

 

Kernyitan di dahi Myung Soo semakin dalam dan mata YoonA semakin lama semakin berkaca-kaca. Soo Ji benar – benar salah tingkah, akan tetapi ia sendiri juga tak bisa kabur. Akhirnya Soo Ji hanya tersenyum canggung sambil menatap Myung Soo.

 

“Oh.. sepertinya hyungku ini iri ya?”

 

“Jeong Min!”

 

“Sudahlah, Myung Soo,”YoonA memegang lengan Myung Soo dan seketika aura gelap di sekeliling Myung Soo langsung lenyap. Seandainya Myung Soo binatang buas, maka YoonA adalah pawangnya. Soo Ji sangat membenci cinta segitiga yang rumit. Membayangkannya saja sudah membuatnya pusing. Ia benar – benar tidak suka ini. Apalagi, ia juga terlibat di dalamnya sebagai perusuh.

 

“Omong-omong, kenapa YoonA-ssi dari kelas biasa bisa sampai ke sini? Apakah dia sudah menyumbangkan uang?” Seseorang yang duduk di sebelah meja Soo Ji berbisik pada temannya terdengar oleh Soo Ji.

 

Soo Ji belum sadar dari tadi kalau pita yang YoonA kenakan adalah pita berwarna biru karena sedari tadi ia hanya memperhatikan Myung Soo. Gara – gara bisikan seseorang itu terdengar, wajah gadis berambut lurus itu memucat. Bahkan Jeong Min memandangnya tak suka, mungkin baginya YoonA tak lebih dari seorang penguntit. Tapi tidak bagi Soo Ji, YoonA adalah gadis menyedihkan yang cintanya bertepuk sebelah tangan.

 

“Apa hubungannya dengan itu?!” bentak Myung Soo pada orang yang berbisik itu membuat orang itu terdiam dan menunduk. Myung Soo bermaksud melindungi YoonA, tapi apakah ia tak tahu bahwa berbicara dengan suara sekeras itu dapat menarik perhatian banyak orang?

 

“Lebih baik aku pergi saja, benar kata orang ini kalau tempat ini bukan untukku,” gumam YoonA dengan tersenyum.

 

Myung Soo menahan lengan YoonA yang hendak keluar, “Kenapa Noona pergi? Soal uang, aku yang bayar. Noona makan saja di sini.”

 

“Tidak apa – apa. Kantin murid biasa juga banyak makanan enak..”

 

“Tepat sekali. Murid kelas biasa lebih baik bergaul dengan murid – murid dari kelas biasa saja. Kenapa harus kemari dan mengotori tempat ini?” Tiba – tiba suara mengejek terdengar memecah keheningan.

 

Siapa itu?

 

Soo Ji mengerutkan kening sambil menoleh ke sumber suara, tetapi semua murid mengatupkan bibir jadi ia tidak tahu siapa yang melontarkan kata – kata tadi. Saat itu Soo Ji baru sadar pandangan yang ditujukan pada YoonA di penuhi sorot tidak bersahabat. Semua mata memandang gadis itu dengan sorot menghina.

 

Soo Ji sempat mengira sekolah ini dipenuhi anak – anak kaya yang murah hati. Paling tidak, murid – murid kaya disini bersikap murah hati pada Soo Ji. Tetapi itu tidak benar juga. Orang – orang di kelas khusus selalu bersikap layaknya penguasa. Satu – satunya alasan mengapa mereka tak memandang Soo Ji seperti mereka memandang YoonA adalah karena Soo Ji didukung oleh orang yang paling berkuasa.

 

Karena Soo Ji tak membenci YoonA, ia merasa tak nyaman dengan cara pandang para murid terhadap YoonA. Akan tetapi Soo Ji hanya bisa bersabar karena tujuannya adalah lulus dari sekolah ini tanpa terlibat masalah apapun.

 

“Tadi siapa yang bicara?!”Sorot mata Myung Soo menjadi dingin.

 

“Myung Soo, cukup,” YoonA berbisik, mencoba menengkan Myung Soo.

 

“Ah… Aromanya lezat sekali. Menu hari ini apa, ya?” Terdengar suara lain, suasana kantin mencair. Suara nyaring itu membuat suasana menjadi lebih ceria. Sung Yeol yang masuk sambil mengusap perut, melambai pada Soo Ji.

 

“Soo Ji? Wah! Semuanya berkumpul di sini, ya?” Sung Yeol menghampiri mereka sambil tersenyum ceria

 

“Ada apa ini? Kenapa sepi begini? Seharusnya saat makan suasanya harus berisik. Ayo… semuanya benyanyi,” lanjut Sung Yeol masih dengan wajah cerianya. Ia tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah lagu bertempo cepat. Soo Ji melongo melihat kelakuan Sung Yeol selaku Tuan Muda Pertama namun paling kekanakan.

 

“Hari ini sushi? Soo Ji, kau sudah makan?” Sung Yeol bertanya pada Soo Ji dengan ceria.

 

“Ya. Sudah sih…”

 

“Aku mau makan sushi. Tolong temani aku makan.”

 

Soo Ji terbelalak mendengar ucapan Sung Yeol yang santai itu, “Kenapa?”

 

“Biar lebih enak. Aku paling benci makan sendirian. Sun Young-ah, boleh aku duduk di sampingmu?”

 

“Ya, oppa.”

 

“Myung Soo-ya, kenapa kau terlihat gusar begitu? Aku sampai kencing di celana saking takutnya.” Myung Soo menatap Sungyeol yang selalu berwajah ceria itu, kemudian mendengus dan keluar dari kantin di ikuti YoonA.

 

“Apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah?” tanya Sung Yeol sambil tetap melahap sushi dihadapannya.

 

Sebelum Soo Ji sempat menjawab, Jeong Min membalas, “Kenapa hyung ingin tahu jadwal kekasihku?”

 

“Karena aku ingin dekat dengan adik iparku. Kenapa?”

 

Jeong Min menyipitkan mata, “Hm.. kenapa aku merasa cemas ya dengan daya tarik hyung yang dengan mudah dapat membuat orang lain sayang pada hyung dengan mudah?”

 

“Ha ha ha ha… Tidak mungkin aku mengalahkan kau. Kau kan yang paling berpengalaman kalau soal memikat seorang gadis dan kau pangeran yang paling jjang, adikku.”

 

Apa pun yang mereka katakan, Soo Ji tak berniat memberikan waktunya sepulang sekolah. Tidak ada waktu belajar sendiri, jadi Soo Ji bisa menggunakan waktu luang itu bekerja paruh waktu lebih lama. Ia tidak punya waktu untuk melakukan hal–hal yang membuang waktunya.

 

Saat sedang berpikir seperti itu, tiba–tiba Jeong Min berbicara, “Sepulang sekolah kita ke Hawai yuk.”

 

“Hawai? Yah… Memang besok libur, kan?”

 

“Ide bagus. Aku juga ingin makan steak yang terakhir kali ku makan.”

 

Mereka bercanda-kan? Mereka pikir Hawai itu Busan apa? Dasar gila, batin Soo Ji kesal.

*

Ji Yeon mengigit bibir sambil melototi makanan di hadapannya. Kantin untuk murid kelas biasa, walaupun disebut ‘kantin kelas biasa’ tetap saja standar makanan dan desain interiornya cukup bagus. Akan tetapi tetap saja banyak perbedaan. Di sini murid–murid harus mengambil makanan mereka sendiri dan tidak ada pelayan. Sedangkan di kantin para orang kaya, katanya bahkan air putih saja sampai di tuangkan.

 

Meskipun Soo Ji masuk kelas anak kaya, Ji Yeon mengira adik tirinya akan tetap menggunakan kantin biasa, akan tetapi sampai jam istirahat hampir usai, Ji Yeon tak melihat Soo Ji.

 

Mana mungkin gadis sialan itu mampu membayar uang sebanyak itu. Dasar perayu!, batin Ji Yeon dan mendengus kesal dan membanting sendok dalam genggamannya.

 

“Kudengar gadis yang masuk Sky House sangat cantik.”

 

“Tadi aku berpapasan dengannya saat menuju kantin. Benar–benar cantik seperti boneka. Apalagi dia juga dekat dengan Park Sun Young.”

 

“Wah…. Jinjja? Park Sun Young kan sangat pemilih. Dia tidak sembarangan berteman.”

 

Ji Yeon kesal setengah mati. Awalnya Ji Yeon tidak membenci Soo Ji. Ketika mendengar akan mendapatkan ayah dan adik perempuan baru yang seumuran dengannya, Ji Yeon sangat antusias dan senang. Walaupun tumbuh besar tanpa tahu wajah ayah kandungnya, ia sangat senang akan mendapat ayah dan adik baru.

 

Ketika pertama kali berjumpa Soo Ji, Ji Yeon sempat terpana karena Soo Ji begitu cantik. Ia merasa sedikit iri, tapi bangga memiliki adik cantik. Tetapi kebanggaan Ji Yeon segera sirna.

 

Ji Yeon bersekolah di SD yang sama dengan Soo Ji,. Tentu saja Ji Yeon sangat mudah bergaul dengan teman barunya karena Soo Ji sangat terkenal. Tetapi setelah ujian sekolah, perasaan sayang Ji Yeon terhadap Soo Ji berubah menjadi marah. Soo Ji mendapat hasil sempurna untuk semua mata pelajaran.

 

Cantik, pintar, sifatnya juga baik. Teman dan guru tidak habis–habisnya memuji Soo Ji. Lalu di hari yang sama, Ji Yeon untuk pertama kali dimarahi ibunya.

 

Kau harus mendapat nilai yang lebih baik daripada anak sialan itu! Kau tahu apa yang dipikrkannya tentangmu? Pasti dia sedang menertawaimu karena kau begitu bodoh. Dan dia pasti berfikir kalau kau tak pantas menjadi bagian dari keluarganya.”

 

Setelah mendengar celotehan ibunya, Ji Yeon jadi yakin kalau Soo Ji menertawainya setiap kali melihatnya. Ketika melihat Soo Ji tersenyum, Ji Yeon ingin sekali menamparnya, sampai wajah cantiknya tidak dapat menyunggingkan senyum lagi.

 

Walaupun Ji Yeon terus menerus menggangu Soo Ji, Ia tak pernah menangis. Karena itu, Ji Yeon semakin benci dan jengkel terhadap Soo Ji.

 

Bagaimana mungkin gadis berengsek itu bisa tinggal di Sky House? Apa kelebihannya sampai – sampai Direktur Lee bisa suka padanya? Memangnya apa yang telah diperbuantnya?

 

Malam itu, saat laki–laki tinggi berwajah seputih drakula dengan sorot mata menawan datang ke rumahnya, Ji Yeon mengira lak laki itu datang untuk menjemputnya. Ia sangat yakin karena akhir-akhir ini Jeong Min ingat namanya, jadi tidak ada salahnya berpikir seprti itu. Tetapi dugaannya salah, laki–laki tinggi itu sama sekali tak melihatnya.

 

“Hei, hei, hei! Berita terbaru!” Kakak kelas Ji Yeon berlari masuk ke kantin dengan histeris.

Dasar kampungan. Tidak ada sikap anggun sedikit. Dia kan kakak kelas, Ji Yeon mengernyit sambil mengaduk makanannya.

 

“Lee Jeong Min dan gadis yang baru saja tinggal di Sky House itu… Tunggu, siapa namanya… Bae Soo Ji? Aku dengar mereka berpacaran!”

 

“APA?”

 

“Benarkah?”

 

“Bagaimana mungkin?!”

 

Seketika itu juga suasana kantin kelas biasa menjadi gempar. Ji Yeon terpaku mendengar kabar yang tidak disangkanya itu. Pikirannya langsung kosong.

 

Apa? Mereka berdua berpacaran? Bagaimana bisa?

 

“Mereka ada di kantin sekarang. Suasananya panas sekali, sepertinya Lee Jeong Min sangat tergila – gila pada gadis yang bernama Bae Soo Ji itu.”

 

“Mana mungkin, kau sedang berbohong, kan?”

 

Ya, itu pasti bohong. Memang Soo Ji sangat cantik sampai sanggup membuat orang –orang berbalik menatapnya saat berpapasan dengannya. Tapi Jeong Min kan dikelilingi banyak gadis yang bahkan lebih cantik dan kaya dari seorang Bae Soo Ji. Bagaimana bisa Jeong Min malah menyukai Soo Ji yang miskin dan tak punya harga diri itu?

 

Tidak mungkin!

 

Ini pasti salah paham lagi. Jeong Min kan playboy. Pasti dia hanya iseng mengencani Soo Ji, Ji Yeon mengigit bibir berusaha untuk tidak menjerit karena kesal.

 

Selama beberapa bulan terakhir, Ji Yeon bahkan berusaha menarik perhatian Jeong Min. Ia bangun jam tiga pagi hanya untuk meluruskan rambut dan berdandan tipis seperti YoonA, kakak kelasnya yang dekat dengan kakak Jeong Min, Myung Soo. Ia mencocokkan waktu keadatangannya dengan Jeong Min dan menunggu di depan gerbang sekolah. Setelah bertemu Jeong Min, ia akan memberi salam dengan senyum ceria. Ji Yeon bahkan rela menghabiskan uangnya dengan mengikuti klub Makan, Minum, Main yang dipelopori oleh Jeong Min. Sekarang Jeong Min sudah mulai mengingat nama Ji Yeon, tetapi tiba – tiba Soo Ji datang dan menghancurkan semuanya.

 

Aku tidak akan memaafkanmu Bae Soo Ji, Ji Yeon membatin geram.

 

“Luar biasa. Dia bisa berpacaran dengan Jeong Min Oppa,” Gumam Hyo Min, teman sekelas Ji Yeon yang duduk di samping Ji Yeon sambil menyantap makanannya.

 

Hyo Min sangat pintar dalam hal akademis. Ia selalu peringkat pertama atau kedua. Ji Yeon mendekatinya agar ia bisa memanfaatkanya sesekali. Baguslah, Ji Yeon bisa memanfaatkannya sekarang. Memang nilai Hyo Min bagus, tapi sebenarnya ia tak lebih dari gadis bodoh yang mudah percaya omongan orang lain.

 

Ji Yeon terpaku menatap makanannya dan mulai meneteskan air matanya. Hyo Min membelalak kaget karena Ji Yeon tiba – tiba menangis.

 

“Ji Yeon-ah… kenapa kau tiba – tiba menangis? Oh, ya. Kau…. Suka pada Jeong Min Oppa?”

 

“Bukan—bukan karena itu…,” Karena isakan Ji Yeon cukup keras, murid – murid yang semula heboh membicarakan Jeong Min dan Soo Ji melirik ke arahnya.

 

Ayo lihatlah aku, kalau hanya sedikit tidak ada gunanya.

 

“Lalu kenapa kau menangis? Kau bukannya menangis karena Jeong Min Oppa berpacaran dengan gadis bernama Soo Ji itu?” Hyo Min memandangnya khawatir melihat Ji Yeon mengusap air matanya dan memasang wajah sedih.

 

“Bae Soo Ji… Bae Soo Ji yang sekarang tinggal di Sky House itu,” Ji Yeon dengan sengaja berkata dengan terbata-bata .

 

“Ya?”

 

“Dia—sebenarnya—adikku. Meskipun bukan saudara kandung—“

 

“Apa?” Hyo Min kaget mendengar ucapan Ji Yeon.

 

“Aku—begitu tersiksa, karena itu aku tak pernah berkata apa pun hingga saat ini—“ Air mata Ji Yeon bercucuran. “Karena ayahku meninggal, ibuku menikah lagi. Soo Ji adalah putri dari ayah tiriku.”

 

“Oh begitu?”

 

“Ya. Soo Ji cantik dan seumuran denganku—karena itu aku ingin bisa lebih dekat dengannya, akan tetapi sepertinya Soo Ji tak ingin dekat denganku. Sepertinya dia merasa aku merebut ayahnya. Jadi—aku sedikit dianiaya,” Ji Yeon mencoba mengarang-ngarang cerita dengan sesenggukan.

 

“Apa? Dia menganiayamu?”

 

“Ya. Memang tidak sesering dulu. Hanya—waktu SD dan SMP, dia menyuruh anak –anak lain menjauhiku–kalau di rumah aku di kurung di gudang. Soo Ji juga pernah merebut tas pemberian ibuku dengan uang yang di dapatkannya dengan susah payah—dan kadang-kadang kalau sedang kesal, dia memukulku—”

 

“Dia memukulmu?”

 

“Ta—tapi, Soo Ji bukan anak jahatnya. Ka—kalau kesal, kita juga pasti susah mengendalikan diri, kan?” Ji Yeon berkata seperti itu, dengan tersenyum sedih.

Hyo Min menggenggam tangan Ji Yeon erat-erat, seakan kasihan padanya. “Tapi tetap saja itu tidak benar. Meski sekesal apapun mana boleh main pukul. Itu jahat.”

 

Anak-anak mulai mengerumuni Ji Yeon.Walaupun dari luar tidak terlihat, sebenarnya murid – murid kelas biasa sangat iri terhadap Soo Ji. Memang salah satu alasan mereka masuk SMA Gamseong adalah bisa masuk Universitas Gamseong setelah mendapat nilai yang tinggi di SMA Gamseong. Alasan yang lain adalah ingin dekat dengan anak-anak keluarga kaya. Lebih bagus lagi kalau bisa menjalin hubungan dengan salah satu dari mereka. Tetapi dinding pemisah antara kelas khusus dengan kelas biasa sangat tinggi, sampai-sampai murid kelas khusus sama sekali tak menghiraukan murid kelas biasa.

 

Oleh karena itu, Ji Yeon yakin kalau mareka pasti membenci Soo Jiyang bisa dengan mudah akrab dengan anak-anak kelas khusus padahal dia berstatus sama dengan anak biasa. Kalau Soo Ji punya kekurangan, mereka tidak akan segan-segan menggunakan alasan untuk menjatuhkannya. Tidak heran mereka menyimak cerita Ji Yeon dengan sangat baik.

 

Soo Ji gadis cantik, tapi berkepribadian jelek. Jika anak –anak kelas khusus, terutama ketiga pangeran grup Gamseong tahu tentang hal ini, Soo Ji pasti akan langsung di usir dari Sky House, batin Ji Yeon senang dalam hati.

 

“Omong-omong bagaimana gadis itu bisa tinggal di Sky House? Katanya Direktur Lee sangat menyukainya,” Hyo Min bertanya dengan nada polos.

 

“Itu… aku juga tidak mengetahuinya,” kata Ji Yeon sambil menyeka air matanya. “Kata ayah tiriku… ibu kandung Soo Ji gemar menggoda laki – laki.”

 

“Apa? Apa mungkin Soo Ji anak haram? Ya, kan?” Ah Reum, teman sekelas Ji Yeon tiba-tiba berceletuk mengundang kata-kata dari anak lain.

 

“Mungkin—”

 

“Yah, memang. Katanya Direktur Lee juga hidung belang. Sudah tiga kali kawin-cerai.”

 

“Tapi bukankah ibu Bae Soo Ji itu jauh lebih muda daripada Direktur Lee?”

 

“Benar-benar tidak masuk akal.”

 

Ji Yeon tersenyum senang. Ini sudah cukup. Kalau sudah menanamkan kesan jelek seperti ini tentang Soo Ji, nantinya sikap baik Soo Ji lama-kelamaan tidak akan terlihat. Waktu SD, Ji Yeon juga menggunakan cara ini dan ini benar-benar sukses besar.

 

‘Bae Soo Ji. Aku tidak akan membiarkanmu bersenang–senang tanpa aku.’ Ji Yeon tertawa dalam hati.

TBC

 

Annyeong~ readers… Evil_Yeol-imnida a.k.a Lee Moonhae, salam kenal. Padahal aku juga nulis part 1 tapi baru ngenalin diri. Ini FF gabungan sama mangnaegihyun(sharesherli7). Mian kalau Myungzy moment belom ada emang alurnya agak lama jadi sabar aja next part kayaknya udah ada Myungzy momentnya dan next part aku serahin sama si magnaegihyun. Selamat menulis!!!! Kkkk ~ sekian kata –kata dari saya, selanjutnya aku serahkan pada yang punya WP. J

 

PS : Aloha, guys~ hahaha itu notenya eonniku ya yg nulis. Dia sekelas sih tapi eonni yg beda tiga bulan denganku 😀 Eonni, makasih buat nulisnya. Tapi banyaaak banget typo dan aku juga nambahin jadinya makin panjang. Ini gaya nulisnya nyampur yaa dan maaf kalo masih ada typo, komenin di saran aja, nggak papa kok. Ini kepanjangan lagi, so-a-ri*ala CheonSongYi* ya. Jadi semoga nyaman. Ohya, moga viewers dan komen jumlahnya sama yaa. Sekali lagi, aku dapat ngeliat view kalian jadi mohon jangan jadi siders. Well, Hope you like it~ GIVE ME YOUR FEEDBACK>>>

Wednesday, July 23rd 2014 – 12.58 am

Advertisements

52 thoughts on “The Amazing Cinderella, Chapter Three

  1. Pantesan Jiyeon punya sifat seperti itu, karena ternyata ibunya lebih parah dari dia, ya buah jatuh ga jauh dari pohonnya… tp tetep yakin kalau Sooji bakalan baik2 aja, karena sifatnya yg memang bener2 baik dan tulus, pasti dia akan bisa bertahan…
    Langsung baca next partnya author, gomawo 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s