[REQUEST FF] Oh No, Oneshoot

 

Title : Oh No | Author : magnaegihyun | Genre : Romance, Comedy | Length : Oneshoot (7.655 words) | Rating : PG | Main Cast : Bae Soo Ji, Kim Myung Soo | Support Cast : Jung Soo Jung, Choi Min Ho,etc | Poster by Author

Soo Ji merupakan sepupu Soo Jung yang tinggal di rumah Soo Jung. Soo Jung meminta Soo Ji untuk menggantikan dirinya pergi ke acara perjodohan yang telah diatur oleh orang tua Soo Jung. Orang yang dijodohkan dengan Soo Jung adalah Kim Myung Soo. Alasan Soo Jung tidak mau mengikuti perjodohan itu karena menunggu cinta pertamanya, Choi Min Ho. Soo Ji diancam Soo Jung akan memberitahu orang tua Soo Ji di Gwangju kalau Soo Ji pindah jurusan kuliah bisnis ke musik.

poster oh no jadi

Disclaimer : Thanks to bsuji1994 for the request. This storyline is belong to magnaegihyun. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the cast? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

*

“Soo Ji-ya! Kau akan langsung pulang ke rumah kan hari ini?”

 

“Tidak, Soo Jung-ah. Aku harus pergi ke ruang musik menerima hukuman dosen Lee. Kenapa?”

 

Soo Ji bertanya melalui panggilan itu. Ia membereskan barang-barangnya dengan fokus pada panggilan itu. Soo Ji tampaknya tidak peduli dengan pandangan beberapa teman satu jurusannya yang mencibir melihat kelakuan tak sopannya itu. Ia malah berjalan keluar ruangan kelas dan menuju ruang musik.

 

“Jangan bilang, gara-gara kau terlambat lagi ya? Huh, selalu saja,” Soo Jung mendesah bosan di balik panggilan.

 

Soo Ji mendengus,”Jika kau hanya ingin mengejekku, aku akan menutup panggilannya.”

 

YA! YA! Aku hanya bercanda. Kau dihukum sampai jam berapa?”

 

Soo Ji mengernyit mendengar suara Soo Jung yang awalnya berteriak kini dimanis-maniskan. Soo Ji menyadari pasti sepupunya ini menginginkan sesuatu darinya. Ia menghela nafas berat dan duduk di salah satu bangku kosong di ruang musik yang ia tuju. Syukurlah, disini kosong sehingga paling tidak ia tak dimarahi karena menerima panggilan seseorang.

 

“Apa yang kau inginkan, Soo Jungie?”

 

Soo Ji dapat mendengar suara tawa malu Soo Jung di panggilan itu,”Ah, ketahuan ya? Tapi–bisakah kau menggantikanku di acara pertemuan dengan lelaki pilihan ayah?”

 

“Apa? YA! Kau kan tahu bagaimana ayahmu, bagaimana bisa kau—“

 

“Apa kau setega itu padaku, Soo Ji-ya? Kau tahu kan aku menunggu Min Ho oppa. Lagipula jika kau tak suka, kau bisa menolaknya,” Soo Jung mulai mengeluarkan bujukan dan rayuan pada Soo Ji.

 

“Bukan begitu. Kau kan tahu ayahmu adalah seorang Jung Yun Ho, ia pasti benar-benar marah jika aku menggantikanmu. Memang nama kita hampir mirip tapi wajah kita tidak—“

 

“Aku sedang dalam persiapan menelepon ibumu, Soo Ji-ya,” Soo Jung pun mulai mengeluarkan kartu trufnya.

 

Soo Ji terdiam. Ia mengacak rambutnya gelisah. Ia dihadapkan dua pilihan yang sama mematikannya. Yang pertama, ia membantu Soo Jung dan siap-siap dimarahi pamannya. Dan yang lainnya, ia tidak membantu dan siap-siap disuruh pulang ke Gwangju oleh ibunya dengan alasan akan melakukan pemindahan jurusan kuliahnya lagi. Ya tuhan, mengapa hidup ini sulit. Huh, memang dasar Jung Soo Jung!, batin Soo Ji kesal.

 

“Baiklah. Baiklah. Aku akan pulang jam lima nanti. Memangnya si Min Ho oppamu itu akan pulang nanti dari Osaka?”

 

“Terima kasih, sayangku Bae Soo Ji! Kau sungguh baik. Ah—Min Ho oppa? Iya, dia akan kembali nanti malam.”

 

Soo Ji menghela nafas kasar menyadari sepupunya mulai kumat dengan penyakit Choi Min Ho. Memang sih Min Ho itu tinggi, atletis, tampan dan terkenal. Apalagi ia juga seorang atlet serba bisa juga anak orang kaya. Soo Ji harusnya paham mengapa sepupunya itu begitu tergila-gila. Bahkan sepupunya itu mengatakan menunggu cintanya tapi sepupunya dan Min Ho hanyalah teman sejak kecil dan mungkin pernah berciuman saat kecil. Tapi mereka berdua kan belum bertemu secara langsung sekarang. Bahkan hanya Soo Ji yang pernah tidak sengaja bertemu dengannya. Huh, sayang sekali si Choi Min Ho itu memiliki mata besar seperti kodok yang membuat Soo Ji ilfeel.

 

“Ah ya, Soo Ji. Aku akan menjelaskan pakaian dan lain-lainnya di rumah ya. Jin Ri sudah menjemputku. Sampai jumpa nanti!”

 

Soo Jung menutup teleponnya tiba-tiba membuat Soo Ji memaki sepupunya itu dalam hati. Iapun memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menaruh tasnya di salah satu bangku. Soo Ji kemudian turun ke arah gudang ruang musik. Ia ingat pesan dosennya tadi yang menyuruhnya membereskan gudang. Beruntung, Soo Ji bukanlah gadis yang tak suka bersih-bersih, ya karena ia sudah biasa dihukum karena telat.

 

Ah tunggu, tadi katanya ada seorang lagi kan yang dihukum? Apa orang itu sudah datang ya?, batin Soo Ji sambil membuka pintu gudang.

 

Soo Ji mengernyit. Apa-apaan ini. Soo Ji membuka pintu itu dengan biasa namun tidak dapat terbuka. Soo Ji merutuk bahwa pintu itu tidak mungkin terkunci kan. Ia kemudian membuka pintu gudang itu lebih kuat. Aneh, pintu itu masih tidak dapat terbuka. Soo Ji pun mengerahkan seluruh tenaganya membuka pintu itu.

 

Bruuuk

 

Baiklah, kali ini Soo Ji benar-benar membisu. Memang keinginannya sejak beberapa menit yang lalu memang terwujud. Ia memang sudah benar-benar mengerahkan kekuatannya untuk membuka pintu itu. Beruntung sih, pintunya tidak rusak hanya saja ini berdampak padanya. Tubuhnya lebih tepat. Ia merasakan lengannya agak nyeri karena terantuk ubin dingin gudang ruang musik ini. Bahkan telapak tangannya juga terantuk sampul buku yang keras.

 

Itu semua belum apa-apa sebenarnya. Yang sebenarnya adalah, ia jatuh menimpa seseorang. Ia kini benar-benar mendelik. Jelas ia mendelik, bagaimana tidak? Bibirnya dan bibir orang yang ia timpa itu menempel sempurna. Baiklah, Soo Ji perlu mengakui bahwa mata orang ini memang tipenya yang mirip-mirip Jang Woo Young itu. Bahkan mungkin orang ini lebih-lebih tampan daripada Jang Woo Young. Tapi pertemuan pertama mereka tidak harus seperti ini kan. Ini sudah beberapa menit, namun Soo Ji dan orang itu tetap diam. Jadi, pertemuan pertama dengan lelaki idealnya ini dengan berciuman?

 

Oh gosh, please make me turn back the time!, batin Soo Ji putus asa.

*

Soo Ji menghela nafas berat melihat restoran di depannya ini. Ia baru saja dikirim oleh Soo Jung, sepupunya melalui taksi ke restauran ini. Ia juga harus menerima saja apa yang harus dipakainya. Hingga ia kesini dengan gaun selutut berwarna peach dengan blazer biru laut.

 

Memang, pilihan baju sepupunya ini memang tidak terlalu buruk. Tapi kini ia lebih khawatir pada apa yang akan didapatkannya nanti dari pamannya itu. Ya tuhan, kenapa hidup ini benar-benar susah!

 

Soo Ji pun melangkah masuk restoran yang jelas terlihat dari interiornya termasuk restoran elit. Ia masuk dengan rasa percaya diri. Ia mencoba mencari sebuah ruangan yang ia ingat ia dengar dari Soo Jung tadi. Ia tahu bahwa itulah ruangan dimana pertemuan yang dihindari Soo Jung itu diadakan.

 

Tok… Tok…

 

Soo Ji mengetuk pelan pintu di depannya. Selang beberapa detik kemudian, ia membuka pintu itu sambil membungkuk hormat. Ia tersenyum pada orang-orang yang ada di dalam situ. Dua pasang suami-istri dan seorang laki-laki. Soo Ji memicingkan matanya melirik lelaki itu. Ah, jadi ini tunangan Soo Jung. Lumayan juga sih, batinnya.

 

“Ah, Perkenalkan ini Bae Soo Ji, keponakanku, Jae Joong-ah! Maafkan, anakku ya yang sepertinya terlambat datang.”

 

Soo Ji membungkuk kembali mendengar ia diperkenalkan. Baiklah, ayah Soo Jung tampaknya belum paham kali ini. Soo Ji kemudian duduk di samping ibu Soo Jung, Go Ara. Ibu Soo Jung ini tersenyum padanya ramah, seperti biasanya di rumah. Soo Ji duduk dengan gugup, bingung bagaimana menyampaikan kenyataan bahwa Soo Jung kabur ke bandara saat ini.

 

Eomma, dia sepupu calon tunangan hyung kan? Kalau begitu biar aku saja yang dijodohkan dengannya!”

 

Soo Ji terbelalak mendengar ucapan laki-laki yang ada di depannya itu. Beruntung, ia tidak sedang minum, jika ia sedang minum, pasti ia langsung menyemburkannya. Jadi dia bukan calon tunangan? Adiknya? Ah berarti laki-laki itu lebih muda dari Soo Ji. Soo Ji jadi ingat adiknya di Gwangju.

 

“Ya ampun, Moon Soo, jangan mempermalukan ayah dan ibu dong. Maafkan aku, Ara-ya. Anakku ini benar-benar tidak sopan,” Ibu lelaki tadi yang duduk di depan bibi Soo Ji, tersenyum minta maaf dengan raut yang benar-benar ramah.

 

“Ah tidak apa-apa, Jin Hee-ya. Anak muda jaman sekarang memang langsung menyampaikan perasaan tanpa malu ya,” Bibi Soo Ji menjawab dengan sama bercandanya.

 

“Tidak! Moon Soo tidak boleh dijodohkan dengannya. Aku akan setuju dengan perjodohan ini jika ia tunanganku, eomma!”

 

Soo Ji jelas refleks menoleh ke arah sumber suara itu. Ia terkejut melihat laki-laki yang berdiri di pintu itu. Lelaki itu tersenyum angkuh ke arah Soo Ji membuatnya ingat. Soo Ji kenal wajah ini. Ia baru tadi siang melihat wajah ini. Oh tidak, ia ingat! Lelaki ini yang tidak sengaja ia cium kan. Ya tuhan, mengapa dunia ini begitu sempit?

*

“Jadi, akhirnya sekarang kau yang harus bertunangan?”

 

Soo Ji mendengar pertanyaan bodoh Jin Ri yang kini berada di kamarnya bersama Soo Jung. Soo Ji sudah menceritakan ceritanya kemarin dengan lengkap pada sepupunya dan sahabatnya SMA ini. Cerita selengkap-lengkapnya. Mengenai seorang Kim Myung Soo pewaris Grup Taeyang dan bagaimana Soo Ji diperlakukan oleh si Myung Soo itu ketika tanpa keluarga mereka. Juga bagaimana adik Myung Soo itu begitu menginginkan Soo Ji sebagai tunangan. Soo Ji benar-benar sebal. Ia sempat berharap kemarin ketika ibunya ditelepon pamannya, ibunya itu akan menolak pertunangan itu tapi itu semua tidak terjadi. Ibunya malah menyuruh Soo Ji membantu pamannya itu dengan bertunangan.

 

Soo Jung sedari tadi tertawa menertawai nasib buruk Soo Ji yang membuat Soo Ji ingin memakan sepupunya ini. Beruntungnya, Jin Ri tidak menertawainya juga. Jika saja Jin Ri menertawainya dan Soo Jung bukan sepupunya, dua-duanya itu pasti Soo Ji tendang hingga planet pluto.

 

“Baiklah, begini saja Soo Ji-ya, kita akan mencari kelemahan Myung Soo kemudian membuatnya membatalkan pertunangan.”

 

Soo Jung tiba-tiba memberikan pendapatnya setelah puas menertawai Soo Ji. Soo Ji mengernyit melihat kepribadian beberapa dimensi sepupunya ini. Jin Ri pun mengangguk menyepakati. Well, bedanya dengan Soo Jung, Jin Ri mempunyai otak yang cukup -lumayan- lemot.

 

“Nah, yang pertama mari kita mencari nama Kim Myung Sep—ah maaf Myung Soo maksudku- di internet!”

 

Soo Ji mengangguk-angguk mendengar rencana Soo Jung itu. Jin Ri pun langsung melakukan rencana itu. Ia mengambil tabnya kemudian mengetikkan nama Kim Myung Soo di mesin pencari internet. Well, nama lelaki itu cukup terkenal ternyata. Soo Ji dan Soo Jung mendekati Jin Ri dan mulai ikut membaca beberapa artikel terkait dengan si Myung Soo itu.

 

Sukses, ketiganya menganga membaca artikel itu dengan wajah kaget dan juga sebal. Bagaimana mereka tidak sebal? Di situ, hanya dijelaskan bahwa Myung Soo adalah pewaris Grup Taeyang yang berbakat, bahkan memiliki grup band rock dan sifat misterius juga tampan.

 

Aissh, Jinjja! Yang benar saja, memangnya ada orang sesempurna itu?” Soo Ji mencibir tak percaya setelah membaca artikel itu.

 

Jin Ri memandang Soo Ji dengan pandangan aneh,”Kurasa kau benar-benar beruntung bertunangan dengannya, Soo Ji. Ia jauh lebih sempurna daripada tunanganku.”

 

Soo Jung menghela nafas berat melihat Soo Ji mendelik mendengar ucapan Jin Ri,”Jin Ri-ya, tentu saja si hitam Jong In lebih buruk daripada Tuan Kim Myung Soo ini. Tapi jika Soo Ji tidak suka dengannya dan sikap Myung Soo buruk pada Soo Ji, kita harus membantu Soo Ji menghindar juga kan?”

 

“Terima kasih, Soo Jung.”

 

Soo Jung tersenyum menghadap Soo Ji,”Kurasa kau harus bersikap seadanya ketika bertemu dengannya dan paling tidak cari tahu siapa teman dekatnya. Jika tahu, aku akan membantu mengorek informasi tentangnya!”

 

 

“Oh jadi sekarang kau sudah bertunangan ya, sepupuku?”

 

Seorang laki-laki bermata besar menyandarkan tubuhnya di ranjang minimalis dalam sebuah ruangan serba hitam. Ia tersenyum menggoda pada orang berkemeja lengan panjang warna putih yang sedang duduk di kursi. Dari gaya duduknya saja, siapapun yang melihatnya pasti tahu jika ialah pemilik ruangan ini. Kontras dengan ruangannya, orang itu mendengus mendengar godaan si lelaki bermata besar.

 

“Diamlah, Choi Min Ho! Huh, seperti kau tidak senang saja kemarin dijemput seseorang,” si pemilik ruangan itu membalas godaan Min Ho.

 

Min Ho menoleh dan memicingkan matanya pada pemilik ruangan itu. Min Ho tak tampak sebal ataupun tak suka mendengar godaan itu. Ia lebih terlihat seperti memikirkan sesuatu mengenai pemilik ruangan itu. Entahlah, apa itu bagus atau tidak, yang jelas Min Ho kini tersenyum menggoda kembali.

 

“Kau menyukai tunanganmu seperti aku menyukai penjemputku ya, Myung Soo?”

 

“Ti—tidak! Aku hanya mengerjainya karena ia mencuri ciumanku.”

 

Myung Soo, si pemilik ruangan menjawab dengan kaget dan malu. Min Ho semakin tersenyum menggoda melihat raut Myung Soo. Beberapa detik kemudian seusai Myung Soo menyelesaikan ucapannya, mata Min Ho membulat. Jelas Min Ho kaget, ia merasa telinganya salah dengar tadi. Apa? Jadi Myung Soo dan tunangannya sudah berciuman? Ya ampun, ia yang sudah mengenal penjemputnya belasan tahun saja pernah menciumnya dulu bukannya sekarang. Dan wow, Myung Soo benar-benar beruntung, batin Min Ho.

 

“Kalian baru bertemu tapi sudah sejauh itu? WOW!” Min Ho mengacungkan jempol pada Myung Soo dengan senyum takjub.

 

Myung Soo pun mendengus,”Dia yang tiba-tiba jatuh di atas tubuhku. Aku juga tidak memintanya…”

 

Min Ho pun tiba-tiba bangkit dari kegiatan tidur-tidurannya di atas ranjang dan menghadap Myung Soo,”Kau kan bisa membalasnya jika kau sedang mabuk!”

*

“Baiklah… Tahap pertama membuat seorang lelaki tidak suka padamu…,” Soo Jung berjalan mondar-mandir di depan Soo Ji yang menopang dagu sambil melirik cara jalan Soo Jung.

 

Soo Ji mendengus,”Huh, memangnya kau berpengalaman?”

 

Soo Jung berhenti dari kegiatan mondar-mandirnya. Ia menoleh menghadap Soo Ji dan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri. Soo Ji mengangkat alisnya. Soo Jung mengeluarkan sebuah buku, buku yang tampaknya benar-benar tidak berarti bahkan membosankan. Sebuah buku dengan judul ‘Panduan Berkencan bagi Wanita’. Soo Ji tertawa tanpa suara melihat sampul buku itu. Soo Jung tak mempedulikan tawa Soo Ji dan berjalan mondar-mandir kembali dengan wajah sok.

 

“Kita harus menunjukkan jati diri kita seburuk-buruknya. Tidak perlu berpura-pura, masing-masing orang pasti memilikinya. Buat lelaki itu merasa kurang nyaman…”

 

 

Soo Ji tersenyum berterima kasih dengan canggung pada Myung Soo, tunangan yang paling tidak diinginkannya itu setelah Myung Soo membukakan pintu mobil untuknya. Ini suda ketiga kalinya ia disuruh berkencan bersama Myung Soo sejak pertemuan pertama. Tak lupa, ia juga selalu berangkat ke kampus bersama Myung Soo setiap hari. Jika saja Jung Yun Ho bukan ayah Soo Jung yang otomatis merupakan pamannya, ia pasti akan mencekiknya karena kesal. Apalagi, Go Ara, bibinya itu benar-benar menyebalkan. Bagaimana bisa akhir minggu kemarin, ia dikirim ke rumah Myung Soo untuk membantu ibu Myung Soo menyiapkan makanan dan bahkan berbelanja? Soo Ji sudah benar-benar kebal rasanya diejek Myung Soo dengan ucapan bahwa Soo Ji benar-benar menyukainya lah atau Soo Ji benar-benar cari muka lah. Dasar lelaki bodoh. Jika Soo Ji tidak disuruh, tentu Soo Ji lebih baik tidur di rumah ataupun menyelesaikan pekerjaannya daripada bertatap muka dengan Myung Soo.

 

“Jangan menggodaku, aku tak akan terpesona,” Myung Soo berkata pendek saat ia mulai naik mobil duduk di sebelah Soo Ji.

 

Soo Ji mencibir tanpa suara mendengar ucapan Myung Soo itu. Lihat, siapa sih yang mau menjadi tunangan orang dingin dan kejam seperti itu, batin Soo Ji sebal. Padahal, Soo Ji hanya melirik Myung Soo yang berjalan memutar menuju tempat duduk sopir di mobilnya dan ia tersenyum berterima kasih tadi… Tunggu, menggodanya dengan senyum itu? Huh, mungkin ia harus jujur pada ibunya ya, jika ia benar-benar membenci tunangannya ini. Semua ini kan harusnya Soo Jung yang melakukan. Ah, ia ingat ucapan Soo Jung minggu lalu. Membuat lelaki ini tidak nyaman? Kencan beberapa hari yang lalu saja Soo Ji sudah membuat lelaki itu malu di tempat rekreasi dan banyak hal lainnya. Lelaki itu malah senang dan cuek-cuek saja.

 

“Oh ya, kita kemana?”

 

“Aku ingin ke Namsan Tower. Bisakah?” Soo Ji menjawab sambil menatap lurus ke depan.

 

Myung Soo pun menjalankan mobilnya dalam diam. Ia tampak tidak peduli pada bagaimana tempat yang ditujunya. Tapi ada yang muncul di pikirannya bahwa tempat itu memang salah satu tempat kencan yang banyak dikunjungi. Mungkin menurutnya Soo Ji menginginkan itu. Tidak, sebenarnya pikiran Soo Ji yang kini melayang-layang adalah beberapa ide aneh dan iseng. Tanpa sadar, Soo Ji tersenyum menertawakan idenya itu. Sedang Myung Soo memicingkan mata melihat ekspresi Soo Ji itu.

 

“Ngomong-ngomong, mengapa kau meminta perjodohan itu? Kau menyukai tunanganmu?” Min Ho, sepupu Myung Soo menopang dagu menghadap Myung Soo.

 

Myung Soo mengalihkan pandangan dari layar laptopnya menghadap Min Ho,”Lalu, mengapa kau meminta teman masa kecilmu itu menjemputmu? Jika seperti itu, berarti kau juga menyukainya kan?”

 

“Ti—tidak! Aku hanya ingin bertemu dengannya. YA, jangan mengalihkan pembicaraan!”

 

Myung Soo mendengus,”Itu alasanmu? Kurasa alasanku tak jauh berbeda denganmu. Aku ingin melihat gadis yang menciumku itu lagi. Apa itu salah?”

 

Min Ho menggerakkan kepalanya gelisah tampak sedang memikirkan sesuatu. Myung Soo yang melihat ekspresi sepupunya itu, mulai kembali menghadap laptopnya, mengerjakan sesuatu dengan serius. Ia menggerak-gerakkan pointer tampak sedang memindah-mindahkan sesuatu. Ia kemudian menoleh dengan raut kesal merasakan sepupunya itu menggerak-gerakkan bahunya.

 

“Jangan katakan, keinginan kita melihat gadis-gadis itu berarti lain…”

 

 

Ajjumoni, kami pesan naengmyeon dua ya.”

 

Myung Soo benar-benar tidak habis pikir pada gadis di depannya ini. Ia sudah mengantarkannya ke tempat yang diinginkannya dan ia malah pergi ke tempat yang berbeda dari bayangan Myung Soo. Setelah turun dari mobil, gadis ini menyeret Myung Soo dengan semangat ke penjual naengmyeon yang cukup jauh dari tempat parkir itu membuat Myung Soo benar-benar tidak habis pikir menghadapi gadis ini.

 

“Jadi, kau pergi kesini hanya ingin makan naengmyeon?” Myung Soo berkata dingin mendengar balasan ‘baik, nona’ dari si penjual untuk Soo Ji.

 

Myung Soo dapat melihat gadis yang baru saja mengeluarkan ponsel dari tas yang dibawanya itu menoleh dengan pandangan tajam padanya,”Keunde, wae? Apa itu tidak boleh?”

 

“Ah, terserahlah! Kau benar-benar menghina Namsan tower, kau tahu? Bisa-bisanya kau memilih kedai naengmyeon ini bukannya Namsan towernya.”

 

Soo Ji mengerjapkan matanya lalu berkata pendek,”Oh, kau ingin ke Namsan tower bersamaku ya? Baiklah, setelah makan saja ya.”

 

Myung Soo terperangah mendengar jawaban gadis itu. Heol, selain ceroboh gadis ini juga terlalu percaya diri ya. Aigoo, batin Myung Soo dengan menghela napas berat. Iapun memilih menopang dagunya menunggu pesanan gadis itu datang. Mungkin ia lebih baik diam saja daripada berdebat dengan gadis itu.

 

Tak lama kemudian, pesanan Soo Ji datang. Myung Soo mendengus dalam hati melihat Soo Ji benar-benar senang pesanannya itu sudah sampai. Bahkan ia segera meletakkan ponselnya yang sebelumnya dipegang dan diutak-atik olehnya. Myung Soo pun memilih diam dan mengambil sumpit di hadapannya kemudian memakan naengmyeonnya dalam diam.

 

Myung Soo benar-benar mendengus ketika menghabiskan makanannya ini. Sejujurnya ia tidak terlalu suka dengan naengmyeon tapi ia benar-benar lapar sehingga pilihannya hanyalah menghabiskan makanan di depannya ini. Huh, seharusnya ia tadi makan di rumah saja. Jika di rumah tentu saja ia bisa meminta dibuatkan tteokgakbi yang jelas-jelas lebih disukainya dibanding ini.

 

“Bisakah kau makan pelan-pelan?” Myung Soo menegur Soo Ji yang makan dengan berantakan.

 

“—ni—nak,” jawab Soo Ji dengan mulut penuh.

 

Myung Soo mengernyit mendengar jawaban Soo Ji yang benar-benar tidak dimengertinya. Myung Soo menyodorkan tisu di atas meja pada Soo Ji sambil mencoba lebih sabar menghadapi sikap Soo Ji yang benar-benar lucu di hadapannya. Gadis ini sungguh menggemaskan.Ya tuhan, dimana lagi Myung Soo dapat menemukan gadis ajaib seperti ini?

 

“Terima kasih,” Soo Ji tersenyum manis setelah mengusap beberapa noda makanan di sekitar mulutnya.

 

Ya tuhan, enyahkan pikiran anehku ini. Mengapa rasanya jantungku berdebar-debar sekarang?

 

 

“Apa kita harus membeli gembok dan memasangnya seperti mereka?”

 

Soo Ji bertanya polos pada Myung Soo yang sekarang menguap bosan. Myung Soo hanya mengangkat bahu menanggapi pertanyaan itu. Soo Ji yang awalnya masih tampak bersemangat itu kini mengendalikan sikapnya sedikit dan mendekati Myung Soo.

 

“Kau benar-benar bosan ya?” Soo Ji mengajukan pertanyaan dengan ragu-ragu.

 

Myung Soo mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan Soo Ji itu. Ia hampir saja menganga dan terpesona dengan tingkah Soo Ji itu. Beruntungnya, ia masih belum terlambat untuk mengendalikan ekspresinya itu. Ia kembali memasang ekspresi biasanya,”Tidak kok. Jika kau masih ingin melanjutkannya aku tidak apa-apa kok.”

 

“Tidak. Kurasa kita bisa pulang saja jika kau benar-benar lelah,” Soo Ji mengelak dan mulai berjalan mendahului Myung Soo menuruni tangga.

 

Myung Soo mengikuti gadis itu di belakangnya dengan ragu-ragu. Pikiran Myung Soo benar-benar penuh kali ini. Entahlah banyak pikiran aneh yang menghinggapi otaknya ini. Uh, harusnya ia tak berpikiran aneh seperti ini. Mungkin ini efek begadang dengan Min Ho semalam ya. Sepupunya itu seenaknya saja membuat pikiranna penuh dengan tebakan-tebakan mengenai apa alasan Myung Soo memilih bertunangan dengan Soo Ji.

 

Myung Soo akui sebenarnya ia menguap tadi bukan karena bosan ataupun lelah. Ia hanya termasuk tipe orang yang mudah menguap apalagi ia lapar. Ya memang sih sore tadi ia dan Soo Ji sudah makan naengmyeon tapi Myung Soo memiliki kebiasaan makan malam hari sehingga perutnya kini keroncongan. Ah, haruskah aku mengajak gadis ini makan?”

 

“Soo Ji-yaa!”

 

“Eum?” Soo Ji berbalik menghadap Myung Soo.

 

Baiklah, mungkin kali ini Myung Soo benar-benar menyerah pada perutnya yang memalukan ini. Biar sajalah gadis ini mengetahui kebiasaan Myung Soo. Lagipula ia kan tunangan Myung Soo, gadis ini tak mungkin mengatakan kebiasaan ini pada orang lain kan?

 

“Maukah kau menemaniku makan samgyeopsal?”

*

Well, akhirnya Soo Ji dan Myung Soo benar-benar berakhir di penjual samgyeopsal di pinggir jalan dekat apartemen Myung Soo. Bahkan ia tadi sudah memarkirkan mobilnya di tempat parkir apartemen. Lagipula gadis ini bisa dikirim pulang lewat taksi kan? Myung Soo sudah benar-benar ingin tidur di apartemennya malam ini, paling tidak malam ini saja ia bisa tidak bertemu sepupunya yang menyebalkan itu.

 

“Tambah—tolong tambah lagi!”

 

Soo Ji itu bergumam tidak jelas sambil menyodorkan gelas kecilnya pada Myung Soo. Entah sudah berapa botol soju yang dihabiskan Soo Ji dan Myung Soo ini. Mereka bahkan sudah memesan samgyeopsal tiga kali. Mungkin keduanya ini memiliki kebiasaan makan malam hari yang sama. Myung Soo pun menuangkan soju lagi ke gelas gadis itu dan gelasnya. Ia benar-benar merasa ringan sekarang.

 

Myung Soo pun menghabiskan soju di gelasnya itu dan segera menyuapkan beberapa daging terakhirnya. Ia mengucek matanya kemudian dapat melihat bahwa makanan dan minumannya itu sudah habis. Bahkan Soo Ji sudah menghabiskan minuman di gelasnya dan sekarang menelungkupkan wajahnya di meja tampak mengantuk.

 

Igeo, ajjumoni. Kamsahamnida!” Myung Soo menyodorkan uang pada penjual samgyeopsal itu dan kemudian kembali ke mejanya. Ia membereskan barangnya di meja itu dan mengangkut beberapa barang Soo Ji. Uh, ia tidak mungkin menggendong gadis ini juga kan? Myung Soo pun menggerakkan badan Soo Ji mencoba membangunkannya.

 

“Ayo pergi!”

 

Soo Ji menggeliat dan melepaskan tangan Myung Soo dari badannya itu,”Lepaskan—ah!”

 

Soo Ji bangkit dan berjalan keluar dari tenda penjual makanan itu mendahului Myung Soo. Myung Soo pun hanya mengulum senyumnya dan berjalan mengikuti gadis itu dibelakangnya. Mereka berdua berjalan pelan sambil sempoyongan. Myung Soo bahkan merasa kepalanya itu benar-benar berat kali ini.

 

Tunggu, gadis itu mau kemana?, batin Myung Soo sadar melihat Soo Ji kini berjalan masuk jalan kecil menuju apartemennya. Myung Soo tentu sadar bahwa di jalan kecil itu, ia tidak akan menemukan taksi kan disana. Myung Soo pun mempercepat jalannya agar menyamai langkah gadis itu.

 

“Hei, kau tak mau pulang?”

 

“Hm—menginap saja ya?” Soo Ji melingkarkan tangannya ke lengan Myung Soo membuat Myung Soo kaget. Gadis itu yang mungkin sudah benar-benar mabuk kini menidurkan kepalanya di bahu Myung Soo. Ya tuhan, gadis ini!

 

YA, sadarlah. Kau tak mungkin tidur denganku kan?” Myung Soo mengeraskan sedikit volume suaranya membuat gadis itu paling tidak sadar sebentar saja.

 

“—pasti dibunuh—ayah Soo Jung—tolonglah!”

 

Soo Ji bergumam dengan ekspresi memohon pada Myung Soo. Huh, baiklah kali ini saja Myung Soo akan mengalah. Soo Ji pun kin semakin mengeratkan pelukan di lengan Myung Soo. Myung Soo pun memilih pasrah saja. Keadaaan ini membuatnya dan Soo Ji tampak seperti sepasang kekasih. Myung Soo pun menuntun Soo Ji memasuki lift menuju apartemennya di lantai enam. Beruntungnya, suasana di gedung apartemennya ini sepi, paling tidak ia tidak perlu takut ketahuan orang lain. Bukannya malu ketahuan bersama Soo Ji, ia hanya takut pasti orang lain akan salah paham padanya.

 

Uh, mengapa ponselnya ini terus bergetar sih. Ini pasti ulah sepupunya itu. Iapun segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Setelah itu, ia bersusah payah mengetikkan pesan untuk sepupunya tersayang itu dan segera keluar lift mendengar tanda bahwa ia sudah sampai di antai enam. Ia segera menyeret Soo Ji menuju pintu di depan apartemennya kemudian mengetikkan password apartemennya itu.

 

To : Min Ho

Aku tidur di apartemen dan tunanganku ini menginap. Gadis ini benar-benar mabuk dan tidak mau pulang. Huh, benar-benar merepotkan.

*

Min Ho oppa : Apa yang kau lakukan Soo Jung-ah?

 

Soo Jung tertegun membaca pesan aplikasi chatting di ponselnyandari Min Ho, orang yang disukainya selama ini. Ya tuhan, mimpi apa dia semalam? Ini adalah pertama kalinya ia menerima pesan terlebih dahulu dari Min Ho. Biasanya, ialah yang selalu mengirim pesan dulu. Soo Jung pun melupakan kegelisahan yang tadinya menghinggap di hatinya dan mulai mengetikkan balasan dengan ceria untuk Min Ho.

 

Soo Jung : Aku menunggu sepupuku pulang, oppa.

Soo Jung : Tumben oppa malam-malam mengirim pesan?

 

Soo Jung tersenyum senang melihat ada pemberitahuan bahwa pesannya itu sudah dibaca. Iapun menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang sepupunya itu. Ia melanjutkan kegiatan makan es krimnya sambil menunggu balasan dari Min Ho-nya itu.

 

Min Ho oppa : Wah, aku juga menunggu sepupuku. Tapi ia ternyata tidur di apartemennya dengan tunangannya.

Min Ho oppa : Tidak apa-apa, hanya ingin mengirim pesan padamu saja.

 

Soo Jung membelalak membaca balasan dari Min Ho. Sebenarnya ia tidak terlalu mempedulikan pesan yang pertama. Tapi, pesan keduanya itu… Min Ho ingin mengirim pesan padanya? Ya ampun, ia benar-benar harus memamerkannya pada Soo Ji besok. Mulai besok, sepupunya itu tidak akan bisa lagi mengejeknya bahwa hanya ia yang ingin mengirim pesan pada Min Ho, tapi ternyata Min Ho juga ingin kan. Ah, tunggu, lalu Soo Jung harus membalas apa sekarang. Ah… tadi kata buku panduan berkencan, ia harus menjaga imagenya di depan laki-laki kan? Berarti ia harus cuek dan mengomentari pesan yang pertama itu.

 

Soo Jung : Hah? Sepupu oppa benar-benar dewasa ya. Ia bahkan tidur bersama tunangannya.

Min Ho oppa : Ke ke ke. Kurasa sepupuku tidak seberani itu. Seorang Kim Myung Soo pasti hanya membiarkan tunangannya tidur di ranjangnya dan ia akan tidur di sofa.

 

Soo Jung tertawa sendiri membaca balasan Min Ho itu. Tunggu, tunggu, sepertinya ada yang aneh. Soo Jung membaca kembali pesan Min Ho itu dengan teliti. Dan berhasil, ia menemukan keanehan itu. Ia kini ingat nama yang disebutkan Soo Ji beberapa hari yang lalu. Jadi, jadi, sekarang Soo Ji menginap di apartemen sepupu Min Ho? Si Kim Myung Soo?

 

Soo Jung : Oppa, apa benar Kim Myung Soo itu sepupumu? Kim Myung Soo, anak Kim Jae Joong? Anak pertama dari pemilik Grup Taeyang?”

Min Ho oppa : Loh, bagaimana kau bisa tahu? Ya, ibuku adalah adik ayahnya, mengapa? Kau mengenalnya?

 

Soo Jung mengerjapkan matanya. Ia menggerakkan bibirnya gelisah mengetahui kebenaran itu. Ia merasa isi perutnya kini jungkir balik tidak karuan. Ya tuhan, apa sih yang dipikirkan Soo Ji? Bisa-bisanya ia mau diajak tidur dengan Kim Myung Soo yang katanya ia benci itu? Oh tidak, bagaimana ini?

 

Soo Jung : Oppa, bisakah mengirimkan alamat apartemen Kim Myung Soo? Tunangan sepupumu itu sepupuku. Aku tak mungkin bisa membiarkan mereka melakukan hal yang aneh.

Min Ho oppa : Tenang, Soo Jung-ah. Sepupuku itu tak akan berani. Ia pasti dibunuh ayahnya jika melakukan hal seperti itu.

Min Ho oppa : Ah ya, katanya sepupumu itu mabuk.

 

Soo Jung cukup bersyukur membaca pesan balasa Min Ho itu. Tapi ia kembali waswas membaca pesan terakhir Min Ho itu. Bukannya waswas pada Soo Ji tapi sebenarnya pada sepupu Min Ho itu. Ia sadar bahwa Soo Ji memiliki kebiasaan mabuk yang buruk. Bahkan Soo Jung ingin mencekik gadis itu jika kebiasaan itu kumat.

 

Soo Jung : Oh tidak, kasihan sepupumu itu, oppa! Soo Ji memiliki kebiasaan mabuk.

Min Ho oppa : Benarkah? Ah, Myung Soo juga punya kok.

Soo Jung : Soo Ji akan meminta bir kalengan dan meminta orang yang bersamanya itu menghabiskan bir itu. Kemudian ia juga tidak mau orang yang bersamanya itu tidak tidur memeluknya. Gadis itu benar-benar kekanakan.

 

Soo Jung mengetikkan jawaban itu dengan cepat. Ia benar-benar kasihan pada sepupu Min Ho kalau begitu. Pasti tunangan Soo Ji itu sangat direpotkan oleh permintaan Soo Ji. Tunggu, berarti kini Soo Ji dan tunangannya itu sekarang tidur satu ranjang dan berpelukan dong. Well, itu pasti sangat menyenangkan untuk menggoda Soo Ji besok dengan hal itu. Soo Jung segera membuyarkan lamunannya mendengar ada pesan baru dari Min Ho.

 

Min Ho oppa : Wah, itu benar-benar lucu. Kalau sepupuku pasti akan membebaskan bebannya. Ia pasti membalas dendam pada orang yang bersamanya. Ah ya, kata sepupuku, sepupumu pernah menciumnya ya? Pasti jika sepupuku mabuk, sekarang ia akan balas mencium sepupumu.

 

 

“Ayo—tidur—“

 

Myung Soo memejamkan matanya mencoba meringankan kepalanya yang kini benar-benar terasa satu ton ini. Ia dapat mendengar ucapan Soo Ji ini padanya. Ya ampun, gadis ini benar-benar ya. Memang sih, gadis ini benar-benar menggemaskan ketika ia meminta Myung Soo mengambil bir kalengan dan kemudian menyuruh Myung Soo menghabiskannya.

 

“Tidur—tidur—“

 

Bahkan suara gadis ini benar-benar lucu bagi Myung Soo. Gadis ini terdengar sedang melakukan aegyo padanya. Myung Soo benar-benar sudah tidak kuat kali ini. Ia benar-benar ingin tidur di ruang tamu ini saja. Kepalanya benar-benar berat dan rasanya ia sudah lelah.

 

Ya ampun, Myung Soo benar-benar ingin menendang keluar gadis ini lama-lama. Bagaimana tidak? Gadis ini sekarang kembali memeluk lengannya dan menggerak-gerakkan badannya seolah mengajaknya berpindah tempat dari ruang tamunya ini. Myung Soo pun mencoba melepaskan pelukan gadis ini. Ya, namun tidak berhasil, karena gadis ini semakin mempererat pelukannya. Bahkan ia sekarang menarik-narik Myung Soo agar berdiri.

 

“Ayo—ayolah,” Gadis itu kini berkata dengan nada manis sambil menunjukkan senyum merayunya pada Myung Soo.

 

Entah karena Myung Soo sudah benar-benar lelah menghadapi gadis ini atau ia sudah luluh pada ekspresi gadis ini, Myung Soo pun dengan patuh berdiri. Ia juga diam saja ketika ia diseret masuk ke kamar oleh gadis ini. Myung Soo sebenarnya hanya membatin dalam hati bahwa setelah gadis ini ketiduran, ia pasti bisa kembali ke ruang tamu dan tidur dengan nyaman di sofa.

 

Gadis itu kini berhasil sampai di ranjang dan naik untuk tidur. Myung Soo pun tersenyum melihat tingkah gadis itu. Iapun membenarkan letak selimut dan menyelimutkan tubuh gadis itu sepenuhnya. Ia kemudian mengucek matanya sebentar dan berniat berbalik untuk kembali ke sofanya. Tapi hal itu gagal dilakukannya, Soo Ji malah menarik tangannya lagi. Myung Soo kini menatap Soo Ji yang matanya terbuka sempurna. Ya, meski Myung Soo tahu walau gadis itu membuka matanya, kesadaran gadis iu belum pulih sepenuhnya.

 

“Tidurlah—temani aku…”

 

Mata Myung Soo membulat sempurna meski ia tahu matanya pasti tidak sebulat sebenarnya. Apa maksud perkataan gadis ini. Myung Soo pun sadar bahwa pasti gadis ini masih belum sadar. Iapun dengan sabar melepaskan pegangan Soo Ji itu. Kemudian ia menyalakan lampu di meja samping ranjangnya mencoba memberi penerangan sedikit di kamarnya ini.

 

Baiklah, kali ini Myung Soo benar-benar tidak habis pikir pada gadis di depannya ini. Gadis ini sekarang malah menarik Myung Soo hingga ia jatuh ke ranjang. Sekarang, gadis ini setelah Myung Soo jatuh, bukannya mengusir malah memeluk Myung Soo sambil memejamkan matanya.

 

“Jangan pergi…,” gumam Soo Ji semakin mengeratkan pelukannya dan menarik Myung Soo semakin dekat. Kini jarak wajah keduanya benar-benar dekat. Mungkin sepanjang lima senti? Ah entahlah, yang jelas ia dapat merasakan nafas gadis itu dan memandang wajah tanpa cacat gadis di depannya itu.

 

Ya tuhan, maafkan aku, Myung Soo membatin sambil memejamkan matanya kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu menghapuskan jarak antara keduanya.

*

Soo Ji menyingkirkan rambutnya yang ia rasakan menutupi wajahnya. Ia benar-benar gerah pagi ini. Entahlah, ia seperti merasakan sinar matahari mengenai punggungnya. Padahal seingatnya ranjangnya tidak pernah terkena sinar matahari karena letaknya yang membelakangi.

 

Soo Ji pun pelan-pelan membuka matanya. Aneh, ini pasti aku masih bermimpi bukan? Aku tak mungkin tidur dengan lelaki ini kan? Bahkan sekarang wajahnya begitu dekat, ya meski memang sih, lelaki ini sangat tampan kali ini. Lagipula, Soo Ji juga tidak mengenal kamar ini. Ini bukan kamarnya dan lagi aromanya benar-benar berbeda dengan kamarnya atau kamar Soo Jung maupun kamar Jin Ri.

 

Soo Ji pun kembali memejamkan matanya. Ia mencoba menghilangkan mimpinya ini. Ah, tunggu sepertinya mimpinya ini akan hilang sesaat lagi. Ia kini dapat mendengar langkah seseorang mendekati tempatnya tidur. Iapun menggaruk lehernya yang tidak gatal menyiapkan dirinya untuk bangun.

 

“MYUNG SOO!”

 

“SOO JI!”

 

Soo Ji yang mendengar teriakan pada waktu bersamaan itu segera membuka matanya selebar-lebarnya. Ia kini sadar bahwa ia memang benar-benar berada di tempat yang ia kira mimpi itu. Jika begitu, berarti Soo Ji benar-benar tidur dengan lelaki itu? Kim Myung Soo? Tunangannya yang sangat menyebalkan itu? Ya tuhan, apa yang sudah dilakukan Soo Ji kemarin.

 

Soo Ji pun bangkit dari posisi tidurnya. Matanya kembali membulat melihat ibunya dan ibu lelaki itu berdiri berdampingan. Bahkan mereka juga memasang ekspresi yang sama, yaitu ekspresi ngeri bercampur murka. Soo Ji merutuk dalam hati melihat ibunya itu. Oh tidak, yang benar saja! Ia mungkin lebih bersyukur jika yang memergokinya itu ibu Soo Jung. Ia kenal betul ibunya yang memiliki watak hampir sama dengan ayah Soo Jung. Ya ampun masalah apa lagi ini yang sudah Soo Ji buat?

 

Soo Ji melirik lelaki yang tidur di sampingnya ini dengan kesal. Lelaki itu malah membuka matanya dengan malas-malasan. Ia juga masih sempat menggeliat dan melemaskan otot tangannya. Lelaki itu sekarang berbalik mencoba mencari tahu siapa yang mengganggu tidurnya. Lelaki itu bahkan memasang ekspresi ingin marah,”Siapa yang—“

 

“Sini, cepat! Dasar anak nakal!” ucapan lelaki itu langsung terpotong bentakan ibunya sendiri yang kini menyeretnya keluar dari kamar itu dengan jeweran di telinganya.

 

 

“I—ibu… Sa—sakit…”

 

Jin Hee mendengar keluhan anak sulungnya yang kini mengaduh sakit sambil mencoba melepaskan jewerannya. Huh, bagaimana Jin Hee tidak kesal, anak sulungnya ini benar-benar mempermalukannya. Dengan mata kepalanya sendiri, Jin Hee melihat anaknya ini tidur dengan calon tunangannya. Mungkin jika ia memergokinya itu tidak akan menjadi masalah, tapi ini apa? Ia memergokinya dengan ibu si tunangan yang pagi tadi datang ke rumahnya menanyakan alamat apartemen anaknya.

 

Jin Hee tentu menganga ketika wanita itu tiba-tiba bertanya seperti itu. Beruntung setelah pertanyaan tiba-tiba itu, wanita itu mengakuia namanya Jung Young Joo alias adik Jung Yun Ho sekaligus ibu dari Soo Ji, tunangan anaknya. Iapun dengan berbaik hati menawarkan untuk mengantarnya. Bahkan ia juga bertanya dengan sopan mengapa wanita itu ingin pergi ke apartemen anaknya.

 

Ia syok mendengar ucapan wanita itu bahwa sekarang anaknya dan tunangan anaknya itu tidur di sana. Wanta itu juga mengaku bahwa kedatangannya ini hanya untuk membicarakan sesuatu dengan tunangan anak sulungnya. Jin Hee pun bersyukur bahwa wanita ini setidaknya tidak berniat untuk memergoki anaknya dan tunangan anaknya yang tidur bersama. Perasaan lega itu langsung hilang ketika ia dan wanita itu memasuki apartemen itu. Beruntungnya, Jin Hee mengetahui password anaknya yang pelupa itu.

 

Ketika baru sampai, Jin Hee dapat melihat ruang tamu anaknya itu begitu berantakan dengan bekas bir kaleng yang sudah diminum di mejanya. Sialnya juga, Jin Hee tidak menemukan anaknya dan tunangan anaknya itu di manapun. Akhirnya iapun menemukan anaknya itu tidur di atas ranjanganya dengan memeluk tunangannya.

 

“Kim Myung Soo, apa kau tahu betapa malunya ibu sekarang?” Jin Hee mengucapkan perkataannya dengan nada dingin setelah ia melepas jeweran di telinga anaknya itu.

 

Anaknya itu mengerucutkan bibirnya sebal. Ya Jin Hee akui anaknya ini benar-benar tampan, tapi tetap saja menyebalkan karena anaknya ini berani melakukan hal seperti ini apalagi di depan calon mertuanya. Anaknya itupun dengan mencibir menjawab pertanyaan Jin Hee,”Itu kan salah ibu sendiri yang langsung masuk tanpa ijin. Lagipula, aku tidak melakukan apapun kan? Aku hanya tidur satu ranjang, itu saja!”

 

Jin Hee mendelik mendengar bantahan anaknya itu,”YA, tapi tetap saja, mengapa kau tidur di ranjang juga, anak nakal? Kau tahu ibu benar-benar malu pada Young Joo-ssi!”

 

“Apa? Siapa? Dia kan pasti hanya event organizer yang ibu sewa, mengapa harus malu?”

 

Jin Hee dapat melihat anaknya itu kini membenarkan tatanan rambutnya yang sempat berantakan. Ia tampak benar-benar tidak merasa bersalah. Ya tuhan, apa salah Jin Hee dulu? Mengapa ia melahirkan anak yang begitu santai menghadapi masalah? Mungkin karena hati Jin Hee sudah benar-benar kesal, ia memukul lengan anaknya.

 

“Siapa yang kau bilang event organizer hah? Dia itu calon mertuamu, anak nakal!”

 

Anaknya itu kini mengerjapkan matanya mendengar ucapan Jin Hee,”Ca—calon mertua? Maksud ibu, dia ibu Soo Ji?”

 

 

Young Joo menatap tajam anak gadisnya di depannya ini. Ia benar-benar tidak habis pikir melihat anaknya yang satu ini. Bagaimana bisa anaknya ini tidur bersama dengan tunangannya satu ranjang? Bahkan, dua minggu lalu anaknya ini memohon-mohon padanya untuk tidak ditunangnkan. Tapi, sekarang apa? Anaknya ini sudah berani tidur bersama?

 

“Aku benar-benar tidak mengerti dirimu, Bae Soo Ji,” Young Joo memecah keheningan antara dirinya dan anaknya itu dengan gumaman dingin.

 

Soo Ji, anaknya itu menunduk tanpa berani menatap balik Young Joo menjawab dengan suara pelan,”Ma—maafkan aku, ibu.”

 

“Sebenarnya ibu tak terlalu marah mengenai masalah ini. Lagipula ibu dulu juga pernah tidur bersama dengan ayahmu sebelum menikah. Tapi—ini undangan apa?”

 

Soo Ji yang mendengar ucapan ibunya melunak sejenak berani mendongak menatap ibunya. Tapi itu tak berlangsung lama, ia kini mengerjapkan matanya terkejut. Ia benar-benar tak menyangka bahwa ibunya memegang undangan yang tak pernah ia sangka sampai di tangan ibunya. Ya tuhan, keberadaan itu benar membuatnya lebih khawatir akan nasibnya daripada kejadian memalukan tadi.

 

“I—ibu, aku bisa menjelaskan—“ Soo Ji menjawab terbata-bata.

 

Young Joo menatap anaknya itu dengan pandangan murka,”Menjelaskan apa lagi? Menjelaskan bahwa kau menipu ibumu dengan jurusan kuliahmu? Ibu benar-benar tak mengerti dirimu, Soo Ji. Ibu sudah berbaik hati tidak mengirimmu ke Jepang bersama ayahmu tapi sekarang apa?”

 

“A—aku—tidak mengerti pelajaran di jurusan bisnis, ibu. Aku hanya tak mau ibu malu bahwa anaknya ini memiliki nilai jelek. Ja—jadi aku pindah jurusan.”

 

Young Joo memejamkan matanya sejenak mencoba menurunka emosinya, iapun mencoba melunakkan suaranya,”Ibu sebenarnya tidak memaksamu masuk jurusan itu. Tapi mengapa kau tidak jujur pada ibu dan mengatakannya? Ibu benar-benar merasa seperti orang bodoh saat ditanyai pamanmu ataupun calon mertuamu tadi.”

 

Soo Ji kembali menundukkan kepalanya mecoba meminta maaf dengan tulus,”Ma—maaf…”

 

“Permisi, bisakah kita bicara sebentar.”

 

Ucapan Soo Ji terpotong dengan ucapan ibu Myung Soo yang terdengar sambil mengetuk pintu kamar itu. Soo Ji dan ibunya pun refleks menoleh. Kemudian ibu Soo Ji pun membukakan pintu kamar itu. Soo Ji menahan tawa melihat ekspresi Myung Soo yang tampak cemberut ketika ia diseret ibunya lagi ke kamarnya ini.

 

Ibu Myung Soo tersenyum minta maaf,”Aku benar-benar minta maaf kelakuan anakku ini yang memalukan ini, Young Joo-ssi. Nah, dan kurasa apakah kita perlu mempercepat pernikahan keduanya jika seperti ini?”

 

Ibu Soo Ji tersenyum ramah membalas ucapan ibu Myung Soo,”Ah begitu ya. Kurasa aku setuju saja…”

 

Soo Ji dan Myung Soo melongo mendengar ucapan ibu-ibunya itu. Myung Soo yang sebelumnya menatap keduanya dengan pandangan mengantuk kini benar-benar cengo. Sedang Soo Ji tampak sedang berpikir sebentar mendengar ucapan ibunya dan ibu Myung Soo ini. Ja—jadi ia dan Myung Soo akan segera menikah?

 

“IBU!”

 

“IBU!”

 

Soo Ji dan Myung Soo berteriak bersamaan ketika mereka benar-benar sadar ucapan kedua ibunya itu. Kini berganti pula ekspresi yang dimiliki mereka dan ibu mereka. Ibu mereka yang sebelumnya urka kini tersenyum senang dan berbeda dengan keduanya yang benar-benar tidak habis pikir pada kedua ibu mereka ini.

 

“Sudahlah. Ini adalah pilihan terbaik. Selain itu, ini juga untuk mencegah terjadinya sesuatu bukan… Nah, Myung Soo-ya, cepat mandi dan ayo pulang bersama ibu. Kita perlu berbicara pada ayahmu. Young Joo-ssi, Soo Ji-ya, aku pamit dulu ya,” Ibu Myung Soo pergi dengan senyum manisnya kemudian keluar kamar menarik anaknya itu.

 

Kini tinggal Soo Ji dan ibunya di kamar itu. Soo Ji kini benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. Padahal seminggu yang lalu ia sudah merencanakan membuat Myung Soo membatalkan pertunangan mereka. Ia rasa sekarang ia tidak bisa mundur.

 

“Well, ibu rasa ibu sudah menemukan hukuman yang benar padamu. Cepat bereskan dirimu, kita akan menjemput adik dan ayahmu di bandara!” Young Joo berkata dengan senyum menyeringai pada anaknya itu.

 

Soo Ji memandang ibunya dengan ekspresi cemberut,”Ah, ibu…”

*

“Jadi, kau benar-benar harus menikah dengannya?”

 

Soo Jung bertanya pada Soo Ji yang kini memasang wajah terluka dan malas. Soo Jung paham bahwa Soo Ji sudah benar-benar tidak bisa menghindar lagi. Apalagi, kini ibunya sudah memergoki kepindahan jurusannya. Bahkan orang tua Soo Ji dan orang tua Myung Soo sudah makan malam bersama kemarin dan bahkan menentukan tanggal pernikahan keduanya. Mungkin ini memang benar-benar takdir seorang Bae Soo Ji, batin Soo Jung kasihan.

 

“Padahal aku baru saja ingin memberikan tahap kedua dan terakhir untuk membuat lelaki benci pada perempuan lagi,” hibur Soo Jung.

 

Soo Ji menoleh dengan mencibir pada Soo Jung,”Huh, ini sih karena bukumu itu. Setelah aku melakukan tahap pertamanya, aku malah jadi menikah dengannya. Jangan-jangan kau salah membeli buku. Buku itu benar-benar pembual.”

 

YA, buku ini memang benar, Soo Ji. Buktinya aku dan Min Ho oppa sekarang semakin dekat.”

 

“Huh, memangnya sudah jadian?” balas Soo Ji ketus.

 

Soo Jung mengerucutkan bibirnya,”Ya, belum sih… Ih, kau kenapa tidak mendukungku sih? Eh… ada panggilan dari Kim Myung Soo!”

 

Soo Ji diam memandang layar ponselnya. Entah mengapa, ia merasa aneh pada jantungnya sekarang. Selalu, selalu seperti ini saat ia melakukan hal yang ada hubungannya dengan Kim Myung Soo. Entahlah, apa yang terjadi padanya, ia benar-benar tak mengerti. Seperti ada detakan yang aneh yang terjadi pada jantungnya dan anehnya itu jika ada Kim Myung Soo atau bahkan ketika ia menerima telepon ataupun pesan dari Myung Soo.

 

YA, kenapa kau melamun? Lihat, panggilannya sudah mati. Siapa tahu penting, kau kenapa sih, Soo Ji?”

 

Soo Ji mendengar teriakan panik Soo Jung menyadarkannya bahwa layar ponselnya kini sudah hitam lagi menunjukkan bahwa panggilan itu sudah ditutup. Ah, lebih tepatnya tidak diangkat oleh Soo Ji. Soo Ji merutuk dalam hati apa sih yang terjadi padanya. Padahal ia sebelumnya tidak pernah seperti ini pada Myung Soo.

 

“Apa kau baik-baik saja, Soo Ji-ya?” Soo Jung menggerakkan tubuh Soo Ji pelan sambil menatap Soo Ji dengan khawatir.

 

Soo Ji mengerjapkan matanya,”Entahlah… Jantungku berdetak cepat, Soo Jung-ah.”

 

“Apa? Jangan bilang kau sudah jatuh cinta pada Kim Myung Soo?”

 

Soo Ji menoleh mendengar ucapan Soo Jung. Apa? Ia jatuh cinta? Tidak, tidak, tidak. Itu tidak mungkin kan. Soo Ji menggelengkan kepalanya,”Hah, jangan bercanda. YA, jangan kira aku bisa jatuh cinta pada lelaki itu.”

 

Soo Jung memandang tajam Soo Ji,”Tapi—kau merasakan hal yang sama seperti aku pada Min Ho oppa. Kurasa kau suka padanya deh.”

 

Soo Ji membisu mendegar ucapan itu. Tidak, ia sebenarnya tidak boleh menyalahkan Soo Jung. Mungkin apa yang dikatakan Soo Jung benar. Tapi, percuma kan jika hanya Soo Ji yang menyukai jika lelaki itu tidak. Apalagi Soo Ji pernah mendengar bahwa lelaki itu memiliki banyak penggemar di kampusnya. Ya tuhan, jadi sekarang Soo Ji sudah seperti Soo Jung yang selalu membicarakan Min Ho? Oh tidak, apa memang semua perempuan merasakan ini seperti Soo Jung pada Min Ho atau kakak Soo Jung, Soo Yeon pada suaminya, Dong Hae. Lalu sekarang Soo Ji juga merasakannya untuk Kim Myung Soo? Oh tidak, ini memalukan.

*

Myung Soo membasahi bibirnya gelisah. Ia benar-benar gelisah malam ini. Bahkan ia sekarang tidak berada di kamarnya seperti biasanya. Ia biasanya main PSP dengan Min Ho yang lebih sering menggodanya. Tapi entahlah, ia tidak benar-benar mood bermain sejak sore tadi. Ia merasa cukup syok setelah mendengar ucapan Soo Ji sore tadi di depan rumahnya.

 

Gadis itu yang biasanya ke rumahnya untuk bertemu ibunya tadi menemuinya.Tak perlu berbohong, Myung Soo merasa senang mengetahui itu. Ya, Myung Soo tahu bahwa ia benar-benar aneh belakangan ini. Ia selalu menantikan pesan, panggilan atau kedatangan Soo Ji. Ia benar-benar bersikap aneh seperti Min Ho yang menunggu balasan pesan chat sepupu Soo Ji.

 

“Sebenarnya, apa alasanmu menginginkan dijodohkan denganku, Myung Soo-ssi?”

 

Pertanyaan yang disampaikan dengan polos sore tadi oleh Soo Ji masih diingat dengan benar oleh Myung Soo. Ya, mungkin pertanyaan ini benar-benar membuat Soo Ji penasaran dari dulu. Tapi mungkin, Soo Ji belum berani, namun ini sudah harus Soo Ji ketahui jawabannya mengingat mereka akan menikah segera. Sayangnya tadi, ia hanya membisu karena ia sendiri tidak mengerti mengapa dirinya seperti itu.

 

“Bukannya tak sopan, tapi lebih baik kita membatalkannya saja. Kurasa kita akan membuat orang lain salah paham. Jika kau benar-benar tak mempunyai alasan yang bagus, batalkan saja ini.”

 

Baiklah, Myung Soo akui, ia ingin menolak rencana pembatalan pernikahannya itu. Tapi saat itu entah mengapa bibirnya terkunci rapat. Apalagi ia memang belum memikirkan alasan apapun yang bagus. Ia tidak bisa mengatakan alasannya dulu yang hanya ingin mengerjai gadis itu. Ia rasa alasan itu sudah benar benar tidak berlaku.

 

“Baiklah aku jujur, aku menyukaimu, Myung Soo-ssi. Perasaan ini bukan saat pertama kita pertama bertemu datangnya, aku baru merasakannya akhir-akhir ini. Dan jika kau tidak menyukaiku, aku tak akan memaksa. Mari kita batalkan saja.”

 

Jujur, mendengar perkataan itu, Myung Soo benar-benar benci dirinya sendiri. Gadis itu bahkan bisa menentukan perasaannya sedangkan Myung Soo tidak. Myung Soo bahkan mendengar perkataan itu merasakan hal aneh. Jantungnya berdetak sungguh cepat tanpa bisa ia atur.

 

“Ah, tampaknya kau tak dapat menentukannya sekarang ya. Baiklah aku akan menunggu jawabanmu hingga tengah malam. Jika kau tetap diam, aku akan langsung menelpon ibuku untuk membatalkannya. Orang tua kita tak akan memaksa jika kita jujur.”

 

Baiklah, Myung Soo benar-benar bimbang sekarang. Ini memang masih jam delapan malam jelas masih jauh menuju tengah malam. Ia kini berada di dalam mobilnya sejak sejam yang lalu masih berhenti di depan rumah Soo Ji—ah lebih tepat rumah paman Soo Ji. Bahkan sejak tadi ia menatap ponselnya hampa. Layar ponselnya masih menyala menunjukkan pesan yang sudah diketiknya untuk Soo Ji. Pesan itu berisi bahwa ia memberitahukan bahwa ia di depan rumah Soo Ji dan mohon Soo Ji untuk cepat keluar. Pesan itu hanya ia ketik dan belum ia kirim pada Soo Ji.

 

Myung Soo pun menghela nafasnya berat. Ia mengklik perintah kirim dan tak lama ada pemberitahuan bahwa pesan itu sudah sampai. Iapun keluar dari mobilnya setelah memasukkan ponselnya ke saku celananya. Ia menatap gerbang rumah itu yang sekarang masih tertutup. Yang jelas sekarang ia berdoa bahwa Soo Ji akan segera membuka gerbang itu.

 

“Ah, Myung Soo-ssi, apa kau sudah menemukan alasannya?”

 

Myung Soo benar-benar bersyukur bahwa beberapa menit kemudian ia melihat Soo Ji keluar dari gerbang itu. Perlu Myung Soo akui bahwa gadis itu tampak begitu menawan meski ia hanya memakai baju santainya yang terdiri atas celana pendek dan kaus. Apalagi rambut gadis itu tergerai indah. Ya ampun, jantung Myung Soo kini benar-benar berdetak cepat. Mungkin sekarang darahnya sekarang terkumpul di pipinya hingga ia merasa panas.

 

“Jika kau menyuruhku keluar hanya untuk hal tidak berguna seperti ini, aku lebih baik segera menghubungi ibuku untuk—“

 

“Tidak—aku juga menyukaimu,” Myung Soo berkata cepat sambil memandang gadis itu tajam.

 

Kini Myung Soo dapat melihat gadis itu mengerjapkan matanya terkejut,”A—apa?”

 

“Bae Soo Ji, mari kita menikah.”

 

Myung Soo merasakan mungkin kini pipinya bersemu merah seperti anak SMA yang baru saja merasakan cinta pertama. Entahlah, mungkin ini benar-benar cinta pertamanya atau bukan, ia tidak ingat. Yang ia ingat hanyalah seorang Bae Soo Ji akan menjadi istrinya dalam waktu dekat.

 

“Bolehkah aku memelukmu—“

 

Drrt.. Drrt..

 

Soo Ji mengerjapkan matanya mendengar getaran ponsel. Ia menatap saku celana Myung Soo yang menunjukkan bahwa ponselnya benar benar bergetar. Myung Soo merutuk dalam hati malu. Ia kemudian melirik Soo Ji yang juga tampak kaget dan juga syok. Keduanya kemudian tertawa kecil bersamaan. Baiklah, siapapun yang mengiriminya pesan kali ini, ia akan meracuni makanannya besok. Bisa-bisanya orang ini mengganggu momennya dengan Soo Ji.

 

From : Min Ho

Selamat atas jadiannya, sepupu. Ingat, kau harus mengganti warna rambutmu ya. Kau menyatakan lebih dulu daripadaku kan? Ah, kata Soo Jung, Soo Ji sempat bingung keluar dengan baju apa untuk menemuimu loh. Well, congrats, my bro~

-END-

Saturday, July 26th 2014 – 07.55 pm

Anyeong! Done ya ff request dari bsuji1994~ Thanks for the request. Ah ya, maaf kalo mengecewakan dan kepanjangan. Sebenernya aku berniat membagi dua tapi takutnya malah mengecewakan jadinya begini. Ah ya maaf kalo endingnya geje ya, aku benar-benar belum berbakat nulis ff yang endingnya happy jadilah begini. Ah ya adegan di sini terinspirasi dikit lah sama drama ‘A Witch’s Romance’-nya Park Seo Joon yang tayang di TVN. Kalo ada yang nonton, bagus kaan ceritanya? Genre drama gitu tuh favoritku, tapi aku malah nggak bisa nulis gitu. Nggak terlalu mirip kok adegannya. Maaf waktunya molor karena ada temen SMP author dan saudara author yang baru meninggal jadi mood author naik-turun. Nah ada yang mau ngasih daftar drama yang bagus ke author nggak mungkin buat referensi? Mumpung lagi liburan lebaran gitu.

Oh ya, ada yg mau ff ratingnya 17+ nggak? Tenang author entar protect kok. Soalnya author mumpung dua hari lagi udah cukup umur. Mungkin entar ada beberapa ff diprotect buat keamanan dan pwnya dikasih ke reader yang aktif dan selalu komen.Ah ya, komen kalian dapat feelnya nggak ff ini? Aku pernah disindir temenku masalah feelnya ffku yang nggak kerasa di ff the girl.

Ah ya, itu endingnya karena author benar-bener terinspirasi rambut barunya si Myungsep di Back yaa. Kereen sih pokoknya makin ganteng deh buat Suzy eonni. Tapi aku liatnya dia kayak marmut, entah mengapa 😀 apalagi ada rambut barunya dongwoo yang agak bikin ilfil. Mian ya, author ini sering banget bully bias sendiri. Ah ya, FYI ya, biasku bukan Myungsep, aku lebih suka jenis kayak Woohyun. Ah bagi bias kalian di Infinite di bawah ini dong. Author lagi kepo nih 😀 Hope you like it~ GIVE ME YOUR FEEDBACK>>>

Advertisements

45 thoughts on “[REQUEST FF] Oh No, Oneshoot

  1. Reblogged this on bsuji1994 and commented:
    akhirnya requesanku
        ∩∩
      *゜(∩□`*)゜*
     ゚。゜ ( U) ゚。゚
         UUrr
    menangis terharu aku, hadiah lebaran ini namamya
    (*´╰╯`๓){TerimaKasih, aku save dulu ahh
    ,*`•.¸¸.•´´•:*´¨`*:•.••.¸
    ( /)
    ( . .) ☻magnaegihyun☻~♥.
    c(‘)(‘)

  2. Baru nemu blog ini. Salam kenal ya 😊
    FFnya keren nih, MyungZy akhirnya nikah berdasarkan cinta kkk
    Ditunggu ff lainnya. 😉 ijin baca ff Suzy lainnya ya ^^

  3. Wowww super duper panjang dan suka bngt kekek lucu nya liat myungy akhirnya brsatu juga kekeke berawal dari ciumN yg nggk disengaja trus perjodohan dan akhirnya bner”sling jatuh cinta aigoo so sweetnya ~
    Next part ditunggu ne^^ gomawo bngt ff nya!!

  4. joha. aigoo udah gak bisa komen apa2 nih. bagus banget intinya.
    turut berduka cita ya thor
    btw emang umur author berapa? kkk soalnya aku gak pernah nyaman kalo harus panggil thor/author
    boleh asal aku dikasih pwnya kkk.
    bias? mungkin myung. kenapa? entah soalnya pasti idol yg aku suka sifatnya gak jauh2 dari sifatnya Dongho. #gaktanya
    yg jelas aku suka banget ama ffnya. dan ini gak bosenin kok. mungkin karena kamu belum terbiasa makanya kamu ngerasa gitu.

  5. akhirnya mereka nyatai perasaan mereka masing*kkk,,rekomendasi drama: Fated To Love You, High School – LoveOn, Marriage
    Not Dating ,The Mermaid(baru,tayang tgl 7/08)…,cm itu aja,,,^^

  6. anyeong reader baru!!!!
    izin baca ne :))
    udah bagus ko ffnya,, tapi kalau masalah feel mungkin bakalan dapet feelnya tergantung dari alur ceritanya kali ya,,
    ah biasku di infinite Kim Myungsoo!!!! ahaha udah cinta banget sama myungsoo kkk apalagi pas liat comeback stagenya kkk aigo rambutnya itu lho!! bikin makin tampan hahaha

    sekarang comment ffnya wkwkwk
    suzy sama myung lucu kkk awalnya mereka sama sama gasuka terus akhirnya mereka berdua saling jatuh cinta hoho padahal soojung-minho duluan yang kenal tapi yg nikah duluan malah myungzy haha
    ingin dibuat sequel dong :3 sequel pas udah nikahnya hehe

  7. joha ama ceritanya.. diluar imajinasi aku pas request, tapi enjoy bacanya (●´∪`●)♡
    gumawo udah nyempetin waktu untuk bwt ff ini (ノ^▽^)ノ♥♥♥
    aku bukan fans infinite/boyband korea tapi klo milih, woohyun.. klo myungsoo ganteng terlalu, tapi pasngomong ilang gantengnya

    1. Posternya keren
      ╱╱┏╮╱╱╱╱╱╱╱╱╱╱╱
      ╱╱┃┃╱╱┳╱┓┳╭┛┳┓╱
      ▉━╯┗━╮┃╱┃┣┻╮┣╱╱
      ▉┈┈┈┈┃┻┛┛┻╱┗┗┛╱
      ▉╮┈┈┈┃▔▔▔▔▔▔▔▔╱
      ╱╰━━━╯╱╱╱╱╱╱╱╱╱

  8. Yah author ini keren banget~~~
    dri awal suzy pingin batalin pertunangannya malah jdinya dinikahin..
    dan aku suka bnget pas endingnya..keren!!!
    feelnya dapat kok thor,banget malah..!!!
    setuju sama author myung kayak marmut..haha
    Ditunggu next ffnya!!

  9. Aku ga punya bias thor di infinite, lagian kn aku itu bukan inspirit. Fandom aku itu Hottest dan JYP Nationalist heheh btw, ff nya bagus (y) feelnya brasa kok. Keep writing ne, semangat^^

  10. Annyeong reader baru nh thor
    Suka thor sma ceritanyaa hahay
    Bias aq myungsooo donggg
    Ditunggu ff yg lainnya yaaaa

  11. aku suka sama karakter main castnya, berasa kayak sifat aslinya,
    kalo menurut aku suzy emg orangnya kadang suka to the point dan ga bertele-tele, walaupun dia cenderung diem dan pemikir.
    sedangkan myungsep *ups* sukanya jaim tapi sebenernya mau, dan parahnya kadang keliatan kaya orang bego karna kekonyolannya (aduh bang *myungsoo* maafkan saya) :p
    ceritanya ringan dan ngga bosenin bacanya, suka!

    btw, halo salam kenal~
    aku reader baru disini, ijin menjelajah webpage kamu yaa 🙂

  12. Annyeong thor aq reader baru yah ikut baca wpnya yah kalau bias aq yah myungsoo donx pstinya thor ama bae suzy juga bias aq di girlband ,, ceritanya so sweet bnget thor jodoh emang enggak kmna yah
    Heheheh hwaiting ne

  13. Annyeong thor aq reader baru yah ikut baca wpnya yah kalau bias aq yah myungsoo donx pstinya thor ama bae suzy juga bias aq di girlband ,, ceritanya so sweet bnget thor jodoh emang enggak kmna yah
    Heheheh
    hwaiting ne !!!!

  14. Salam kenal… q baru nemu blok ini. Ku suka cerita di blog ini.. oya , sekedar saran feel nya masih kurang dpt dan pas end dingnya kurang brrkesean gt… maat y, ini hanya komentr ku… tp bagus2 kok ceritanya. Ditunggu fff lainnya…

  15. Alur ceritanya keren, … Gomawo Authornim…
    aq suka semua yg di Infinite, terutama myungsoo…woohyun juga ,,sanggyu, ehmm hoya, sungjong, sungyeol, dongwo..hehehe klo cwe tentunya uri Suzy from miss A

  16. Author annyeong
    Aku myungzy shipper #gananya dan baru nemu blog ini
    Suka sama ff nya thor
    Kisahnya myungzy unik dan lucu
    Walaupun panjang justru malah enak dibaca thor kkk
    Bahasa yang author gunain juga bahasa santai dan mudah dipahami
    Typo? Kayanya aku ga ngerasa nemu deh, jjang
    Alurnya juga ga kecepetan ko
    Pokoknya suka, apa lagi mereka nikahnya berdasarkan cinta kkk
    Semangat nulis ff myungzy lainnya ne thor
    Gomawo^•^

  17. Seru banget ffnya ^^
    Tapi jadi penasaran sama minstalnya nih
    mereka jadian atau nggak
    wkwkwk
    terus proses jadiannya gimana
    aku requrst itu boleh nggak?
    Hehehe

  18. Seharusnya ada lanjutan ff ini tntg jadiannya soojung sama minho. Kan nanggung klw cuma myungzy yg diceritain. Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s