A marriage, Chapter 4

 

Title : A marriage

Author : magnaegihyun

Main Cast : Jung Soojung, Choi Minho

Support Cast(s) : Choi Jinri, Lee Taemin, etc

Genre : Romance, Family, Married life, Friendship.

Rating : PG

Poster by Author

poster marriage photoshop

Jung Soojung dan Choi Minho adalah dua orang yang sama. Mereka benci kata pernikahan yang membuat orang yang mereka sayangi benar-benar terluka. Mereka seperti dua makhluk yang hidup tanpa rasa cinta. Mereka bertemu untuk menjalankan sebuah pernikahan tanpa dasar cinta dan tanpa perjodohan. Dua orang yang tidak mengenal satu sama lain menjalani hubungan pernikahan yang tanpa mereka sadari mengubah diri mereka…

Ost : Madly by FT ISLAND | Disclaimer : This storyline is belong to magnaegihyun. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the pairing? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

Previous Chapter

***

 

“Suzy-ya!”

 

Myungsoo menyapa istrinya dengan ceria. Ia menghampiri istrinya, Suzy yang tersenyum membalas panggilannya kemudian memeluknya. Minho diam dan mengalihkan pandangannya dari kegiatan Myungsoo itu. Ia melirik Soojung yang ternyata juga tampak tak mempedulikan kegiatan Myungsoo dan istrinya.

 

Minho merasa canggung. Jujur, ia bingung ia harus melakukan apa. Haruskah ia memanggil nama Soojung dengan mesra? Haruskah ia memeluk Soojung? Haruskah ia mencium kening Soojung? Ia ingin berdeham mencoba menyadarkan kegiatan mesra Myungsoo dan istrinya itu. Tapi ia cukup tahu bahwa itu tidak sopan dan mengganggu. Iapun lebih memilih mendekati Soojung dan menyapanya seperti biasa.

 

“Apa kau sudah lama sampai?”

 

Soojung tersenyum membalas sapaannya,”Tidak terlalu lama. Sekitar setengah jam yang lalu.”

 

“Benarkah? Oh ya, maaf aku tak bisa menjemputmu.”

 

Minho dapat melihat bahwa kini Soojung sedang mengangguk merespon ucapan Minho. Entah mengapa, Minho merasa tangannya gatal. Tidak, tidak, Minho tidak boleh memeluk Soojung. Meskipun mereka akan menikah dua minggu lagi, tetapi Minho tidak bisa seenaknya sendiri kan. Ini hanya pernikahan tanpa dasar apapun. Ya ampun, Choi Minho! Sadarlah! Bisa-bisa ia malah menjauh.

 

Minho pun meredakan rasa gatal tangannya itu dengan mengacak rambut Soojung. Ia dapat melihat Soojung mengerucutkan bibirnya melihat rambutnya diacak. Meskipun, Minho mengacaknya dengan tersenyum, tampaknya Soojung malah ingin balas dendam dengan mengacak rambut Minho. Minho pun menghindar dengan menangkap tangan Soojung. Hingga kemudian keduanya saling berbalas senyum.

 

“Ehem! Dasar calon pengantin baru!”

 

Terdengar suara dehaman membuat Minho dan Soojung menoleh ke sumber suara. Minho dapat merasakan aliran darahnya mengalir cukup deras sekarang. Ia hanya berharap pipinya tidak memerah layaknya pasangan anak SMA yang ketahuan berciuman. Huh, kali ini Minho benar-benar ingin menendang kaki Myungsoo yang tersenyum menggodanya. Dasar Myungsoo menyebalkan. Apalagi istrinya itu tampaknya sama saja, ia juga tertawa bersama Myungsoo.

 

Minho mulai mengalihkan perhatian dari kedua pasangan jahil itu. Ia melirik Soojung yang tampak sedang menatap lantai. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas itu membuat Minho penasaran. Tapi Minho jelas tidak bisa tiba-tiba mengangkat dagu Soojung dan melihat ekspresinya kan. Minho sudah cukup paham bagaimana sopan santun yang baik tentu saja.

 

“Ah ya, Minho-ssi, apa tema yang kau inginkan pada jas pernikahanmu nanti?”

 

Minho segera menoleh mendengar Suzy, istri Myungsoo selaku desainer baju pernikahannya nanti. Ah, Minho lupa untuk memikirkan tema itu. Tunggu, setelah ini ia juga harus bertemu wedding organizernya juga kan untuk menepati janjinya dengan ibunya untuk sekali saja bertemu dengan siapa saja yang mengurus pernikahannya itu juga untuk foto pernikahan mereka. Entahlah, Minho benar-benar tidak mendapat ide. Yang ada di pikirannya hanyalah sesuatu yang sederhana dan apa saja yang diinginkan Soojung.

 

“Entahlah, aku hanya ingin memakai jas yang sesuai dengan tema yang dipilih Soojung.”

 

Minho menjawab dengan santai. Minho menyadari Suzy mulai mencatat di buku catatannya dengan serius. Minho segera menoleh merasakan ia dijatuhi tatapan oleh Soojung. Ia membalas tatapan Soojung. Ia tahu tatapan Soojung itu menunjukkan bahwa Soojung terkejut dan ingin mengatakan ‘apa kau serius?’ padanya. Iapun hanya mengangkat bahu dengan tersenyum.

 

“Baiklah, kalian dapat mencoba beberapa pakaian yang akan kalian kenakan untuk pemotretan hari ini,” Suzy membuyarkan kegiatan saling memandang antara Minho dan Soojung. Kegiatan itu diakhiri dengan warna pipi Soojung yang tampak bersemu merah membuat Minho ingin mengelus pipi itu.

*

Soojung tersenyum menatap cermin besar di depannya. Ia mulai mengambil kapas basah yang sudah ia tetesi cairan biasanya untuk membersihkan riasannya itu. Ia tahu hatinya kini benar-benar lega. Ia cukup puas melihat baju pengantin yang tadi ia pakai untuk pemotretannya dan juga riasan yang benar-benar sesuai dengan bajunya itu.

 

Ya tuhan, apa mempersiapkan pernikahan sebahagia ini?, Soojung membatin sambil menatap riasannya yang hampir hilang.

 

Soojung menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan pikiran anehnya. Jujur, ia belum benar-benar mengerti dirinya. Dulu, ia begitu paranoid dan memandang rendah pernikahan dan berbagai hal yang menyertainya. Tapi sekarang apa? Ia benar-benar bersemangat melakukannya untuk pernikahannya nanti. Ya tuhan, ada apa dengan otaknya kini?

 

“Namjoo-ya, kau tahu siapa yang melakukan pemotretan tadi itu?”

 

Soojung menghentikan kegiatannya membersihkan riasannya itu mendengar suara bisikan di luar ruangan itu. Terbersit keinginan dalam hatinya untuk mengintip siapa yang sedang berbicara itu. Namun ia mengurungkannya dan melanjutkan kegiatannya itu mengingat Minho sedang menunggunya.

 

“Eum, kata Chorong eonni Choi Minho dan Jung Soojung. Ada apa?” Terdengar balasan dari orang yang dipanggil Namjoo itu dengan nada polos.

 

“Choi Minho? Anak direktur yang player itu?”

 

“Hei, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak, Bomi-ya.”

 

Soojung membisu mendengar percakapan pelan kedua gadis di luar ruangannya saat ini itu. Ya, ia cukup tahu bagaimana seorang Choi Minho dulunya. Tapi bukankah harusnya hal itu tidak tersebar sangat luas seperti saat ini kan.

 

Orang yang dipanggil Bomi itu menghela napas berat kemudian menjawab ungkapan dari Namjoo,”Aku tidak bohong. Lagipula Jiyoon eonni pernah menjadi mainannya. Ya memang sih dia memanjakan mainannya dengan uangnya tapi dia tidak pernah menyatakan cinta ataupun mencium mainannya itu.”

 

“Ah jadi benar apa yang dikatakan Naeun kalau—“

 

“Maaf ya, bisakah kalian segera masuk dan mengepak bajunya, kita masih mempunyai banyak pekerjaan.”

 

Soojung tersadar mendengar suara yang sangat tak asing di telinganya itu. Iapun kembali menyelesaikan kegiatannya itu. Ia juga mendengar pintu ruangan itu kemudian dibuka. Dua gadis yang merupakan pegawai Suzy yang tadi berdiri di depan ruangannya itu kini membungkuk meminta izin masuk. Soojung pun membalas dengan senyum mempersilahkan kemudian Suzy, sahabatnya itu masuk dengan senyum cerianya.

 

“Bagaimana? Apa kau suka dengan bajunya?” Suzy yang baru masuk itu kemudian duduk di kursi sebelah Soojung.

 

Soojung menaruh kapas basah itu kemudian mengambil peralatan riasnya mencoba merias wajahnya dengan riasan yang lebih sederhana,”Aku suka kok. Terima kasih, Suzy-ya.”

 

Suzy menatap wajah sahabatnya ini. Ia tahu dan paham bagaimana perasaan hati sahabatnya ini ketika ia hanya menjawab dengan datar. Ya, setidaknya cara mengekspresikan perasaannya dan Soojung hampir sama. Huh, Suzy harusnya memergoki pegawainya yang membicarakan calon suami sahabatnya itu lebih awal. Tentu, jika lebih awal pasti sahabatnya ini sekarang tidak tampak memikirkan sesuatu dengan keras.

 

“Jangan pedulikan percakapan Namjoo dan Bomi, pegawaiku itu, Soojung-ah,” Suzy menyahut sambil menatap lantai.

 

Soojung kaget mengetahui Suzy itu paham akan pikirannya,”Hah? A—aku—“

 

“Aku sudah mengenalmu sejak sekolah dasar, tentu aku paham bagaimana dirimu. Kurasa Minho tidak mempermainkanmu.”

 

Soojung menunduk mendengar balasan Suzy itu. Entahlah apa yang kini dirasakannya. Ia malu, bingung dan juga bimbang. Ia benar-benar ragu akan pernikahannya ini. Ya tuhan, Soojung sadarlah! Ini kan hanya pernikahan tanpa dasar, untuk apa ia harus takut dipermainkan. Ia kan bisa mempermainkan Minho juga nanti.

 

“Kaukira dulu aku juga tidak begitu? Myungsoo oppa dikenal memiliki mantan pacar yang banyak juga sikap yang sangat dingin. Ya, meskipun kami hanya berpacaran sebentar sepertimu kemudian menikah. Ia lalu menunjukkan sikap seriusnya ingin menikahiku,” Suzy bercerita sambil menerawang mengingat masa lalunya.

 

Soojung mendongak menatap Suzy,”Itu Myungsoo, Suzy. Ini Minho. Kau tahu, tidak semua orang sama.”

 

“Aku tahu semua orang tidak sama tapi aku dapat melihat Minho benar-benar menjagamu dengan baik ya meskipun ia tidak melakukan skinship sefrontal Myungsoo oppa. Jika ia tidak serius, kurasa pasti ada alasan mengapa ia mau menikah. Di negara ini, kurasa orang menikah hanya karena tiga alasan, saling menyukai, perjodohan dan perjanjian. Jadi yang mana alasan Minho mau menikahimu? Yang pertama bukan?”

 

Suzy berbicara panjang lebar dengan santai. Ia tampak tidak benar-benar melihat ekspresi Soojung. Ia tertawa sendiri menertawakan ucapannya. Beda dengan Soojung yang sekarang lebih terlihat pucat karena menyadari bahwa mungkin saja Suzy dapat menyadari apa alasan dibalik pernikahannya ini. Ia benar-benar gelisah.

 

 

Minho keluar dari mobilnya dengan perasaan bahagia yang meluap. Harinya benar-benar sempurna hari ini. Ia benar-benar lega mengetahui bahwa sahabat Soojung adalah sahabatnya semasa SMA. Kemudian ia juga benar-benar terpesona melihat Soojung memakai baju pengantin untuk pemotretan pernikahannya itu.

 

Ya, ia akui ia memang sudah pernah bermain dengan banyak wanita cantik tapi tadi benar-benar berbeda. Minho merasa tidak pernah terbius seperti orang bodoh seperti tadi. Hari ini juga merupakan kedatangan sepupu kesayangannya dari Hongkong. Huh, memang sih untuk nanti malam ia tidak terlalu bersemangat. Karena ia harus menemui event organizer untuk memilih gedung pernikahannya dengan Donghae, kakak iparnya itu.

 

Ia tentu lebih memilih ditemani Soojung meski Donghae akrab dengannya. Bukannya tidak mau, Soojung harus mengurusi persiapan pesta pernikahan sepupunya untuk esok hari.Minho memang sudah seharusnya benar-benar maklum dan memahami jika Soojung seorang desainer yang sering lembur untuk mempersiapkan baju desainnya menjadi sempurna.

 

Oppa!”

 

Minho tersenyum melihat seorang gadis berambut cokelat dengan tinggi badan yang terbilang tinggi itu berlari padanya. Ya, mungkin karena ia memang benar-benar menyukai sikap manja gadis itu, Minho membiarkan gadis itu memeluknya. Ia lebih menganggap gadis itu sebagai adik kandung dibanding sepupu hingga perasaan sayangnya ini benar-benar besar.

 

Oppa kemana saja? Kenapa oppa harus mengirim Kim Jonghyun si dinosaurus menyebalkan itu untuk menjemputku?” Gadis itu melepas pelukan itu dan memasang wajah cemberut pada Minho.

 

Minho tersenyum kecil lalu mengacak rambut gadis itu,”Maaf, Jinri-ya. Aku benar-benar sibuk.”

 

Jinri menghela napas berat,”Oppa tidak boleh terlalu sibuk. Oppa harus istirahat paling tidak. Ah ya, ayo nanti makan diluar bersamaku.”

 

“Ya, aku hanya sibuk beberapa minggu ini kok. Maafkan aku, aku harus pergi dengan Donghae hyung nanti.”

 

Minho menjawab singkat kemudian berjalan menuju kamarnya. Jinri mengikuti lelaki itu sambil memasang wajah cemberut. Minho tersenyum melihat ekspresi kecewa gadis itu. Minho pun menghibur gadis itu dengan ucapannya,”Besok siang saja ya. Ah aku mau mandi dulu ya, Jinri.”

 

“Baiklah, oppa!” Jinri menjawab dengan ceria kemudian keluar dari kamar Minho.

 

Minho pun melepaskan jas kantornya kemudian merogoh ponselnya di saku celananya itu. Ia tahu saat baru keluar dari mobil tadi ia merasakan getaran ponselnya menunjukkan bahwa ada pemberitahuan pesan masuk. Minho pun tersenyum senang melihat nama kontak yang mengiriminya pesan. Ia dengan lincah menarikan jarinya di atas layar ponselnya membalas pesan itu. Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi.

 

From : Soojungie

Semangat untuk memilih gedung nanti, oppa. Ah ya, aku akan menginap di rumah saudaraku, jadi besok kita berangkat bersama bertemu di butikku ya. Sampai jumpa besok~

*

Soojung membalik-balikkan tubuhnya gelisah. Ya, ia benar-benar gelisah malam ini. Ia kini berada di samping sepupunya, Jung Hawoo yang tampaknya sudah tidur. Ya, ya, ya, ia memang seharusnya sudah harus tidur mengingat apa yang dikerjakannya tadi benar-benar menguras tenaga. Tapi aneh, Soojung tidak merasakan lelah sedikitpun sekarang. Ya, itu karena perasaan gelisahnya memusnahkan rasa lelahnya.

 

Soojung pun pelan-pelan menuruni ranjang sepupunya yang besok menikah itu. Ia juga berjalan canggung mencoba tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu tidur sepupunya itu. Ia menggigit bibirnya ketika ia menimbulkan suara saat merogoh ponselnya di dalam tasnya itu. Sepupunya itu merespon dengan tangannya yang bergerak memeluk gulingnya lebih erat.

 

Soojung bersyukur dalam hati. Ia kemudian mengutak-atik ponselnya tampak sedang sibuk mengobati kegelisahannya. Ia menggertakkan giginya mengetahui bahwa kegelisahannya itu belum hilang. Ya meskipun ia benar-benar tanpa sadar bahwa gertakan giginya itu menimbulkan suara yang mengganggu.

 

Eonni sedang menunggu balasan dari calon suami eonni ya?”

 

Terdengar suara seseorang menggoda Soojung membuat Soojung menoleh terperangah. Ia merutuk dalam hati bahwa ia benar-benar tidak sopan sekarang karena mengganggu tidur sepupunya itu. Ia kemudian tersenyum kecil membalas godaan sepupunya itu.

 

“Ah, abaikan saja aku. Kau pasti lelah dan harus istirahat untuk besok.”

 

Eonni beruntung ya bisa menikah dengan alasan sama-sama menyukai bukan terpaksa sepertiku,” Hawoo, sepupu Soojung membalas ucapan Soojung dengan melantur.

 

“Hah—terpaksa?” Soojung mengernyit.

 

Hawoo tersenyum,”Ya, mempelai priaku sebenarnya bukan teman SMA eonni. Eonni pasti pernah dengar kan bahwa mempelaiku harusnya kekasihku kan.”

 

“Apa maksudmu, Hawoo-ya? Tunggu, tunggu… Kau pernah bercerita… Jadi, kekasihmu bukan Sanghyuk? Apa-apaan ini?”

 

“Jaehwan oppa tiba-tiba kabur saat acara pertunangan diantara keluarga. Anehnya, Seungyeon eonni mengajukan adiknya menjadi tunanganku. Aku bisa saja menolak tapi nenek tidak memperbolehkanku dan memaksa.”

 

Soojung menatap sepupunya itu dengan perasaan aneh. Darahnya terasa mengalir deras mendengar cerita itu. Ya, ia tidak boleh mengasihani dirinya sendiri yang harus menikah dengan perjanjian itu, sepupunya ini malah lebih menderita.

 

“Maaf, aku tidak mengerti, Hawoo.”

 

“Tidak apa-apa, eonni. Jadi eonni harus menjaga hubungan dengan calon suami ya.”

 

Hawoo membalas dengan senyum menggoda. Soojung diam. Entahlah, pikirannya benar-benar penuh kali ini. Ia masih ingat apa yang dikatakan pegawai Suzy tadi siang dan sekarang apa yang dikatakan Hawoo. Ya tuhan, apa pernikahan begitu rumitnya? Mengapa banyak sekali halangan? Ya, kini perasaan ragu menghinggapi kembali pikiran Soojung.

 

 

Minho berjalan di belakang Soojung ikut diam. Minho tahu ada hal yang aneh kali ini. Soojung yang akhir-akhir ini selalu merespon obrolan Minho dengan ucapan lugu dan menariknya kini tak ada. Soojung sudah berubah menjadi gadis dingin seperti di awal pertemuannya itu sejak kemarin. Baiklah, Minho mengaku salah. Mungkin ia harusnya kemarin meminta maaf karena tidak menghubungi Soojung mengenai pertemuannya dengan wedding organizer mereka. Tapi perubahan sikap ini bahkan dimulai sebelum pertemuan itu. Ya ampun, jadi apa salah Minho kali ini?

 

Minho dan Soojung kali ini berjalan keluar dari gedung pernikahan sepupu Soojung. Ya pesta ini sangat menarik karena kedua mempelai ternyata pernah bermusuhan dulunya. Keduanya bahkan diejek oleh beberapa teman sekolahnya. Well, yang Minho tidak mengerti mengapa keduanya bermusuhan padahal keduanya tidak setingkat. Bagaimana mereka bisa bermusuhan?

 

Oke, Minho rasa itu bukan urusannya untuk mengurusi hal tidak penting seperti itu. Meskipun Minho menangkap ekspresi lelah dan dingin sang mempelai wanita, Minho tak boleh berpikiran tidak-tidak. Mempelai wanitanya itu adalah sepupu Soojung. Ah mungkin saja, ia memiliki sifat yang tak jauh berbeda dari Soojung kan bisa saja.

 

Minho melirik tangan Soojung yang memegang buket bunga. Tunggu, jadi yang memperoleh buket pengantin, Soojung? Ya ampun, jadi mungkin ini sesuai dengan mitos yang beredar, seorang gadis yang mendapat buket dari pengantin perempuan akan menyusul si pengantin dalam pernikahan. Kebetulan yang sangat tepat bukan?

 

“Soojungie, apa kau ingin pulang?” Minho bertanya perhatian ketika Soojung berhenti dan mulai duduk di kursi depan gedung itu.

 

Soojung menoleh,”Tidak, terima kasih. Hanya saja—“

 

“Ada apa?” Minho menatap tajam gadis itu.

 

Minho dapat melihat gadis itu kini menatapnya balik. Pandangannya kosong dan tanpa jiwa. Ya tuhan, apa lagi yang terjadi pada gadis ini? Minho benar-benar tidak suka ketika gadis ini kembali ragu dan sekarang ia menjadi aneh kembali.

 

“Tidak perlu…”

 

“MINHO-YA!”

 

Baiklah, Minho kini benar-benar sudah tidak dapat menahan kesabarannya. Minho padahal sudah sabar menunggu Soojung mau menjawab pertanyaannya, malah kini ada seseorang yang mengganggunya dan memotong ucapan Soojung. Apa orang yang memanggil Minho itu benar-benar tidak tahu bahwa keduanya kini sedang berada dalam pembicaraan serius? Jawaban yang jelas dari Soojung kini sudah tak dapat Minho dengarkan lagi jika orang ini mendekatinya dan membawanya pergi.

 

YA, kau kemana saja selama ini? Kudengar kau akan menikah ya?”

 

Minho membelalakkan matanya melihat lelaki yang kini menyapanya itu. Ya, ia jelas ingat betul pada lelaki ini. Lelaki ini adalah teman akrab Minho sejak ia mengenal Changmin. Bisa dibilang, lelaki ini tidak beda jauh dengan Changmin. Ya setidaknya ia sedikit berubah sekarang setelah menikah menyusul Changmin.

 

“Ah ya, kau yakin mau menikah? Apalagi status playermu masih terkenal loh sampai sekarang. Ya, meski kau tidak dapat mengungguliku dan Changmin.”

 

Minho terdiam mendengar statusnya dengan mudahnya diucapkan lelaki ini di depannya dan Soojung. Ya, yang ia takuti hanyalah reaksi Soojung. Ia sudah benar-benar tak mau menyakiti Soojung kali ini. Meski ia paham betul bahwa lelaki ini memang benar-benar jujur dan tidak dapat mengontrol ucapannya, namun ia jelas memiliki banyak penggemar.Ya, lelaki di depan Minho kali ini adalah Cho Kyuhyun, seorang aktor musikal terkenal. Minho menatap minta maaf pada Soojung atas kedatangan Kyuhyun yang membuat Soojung menunggu.

 

“Ah ya, Jaekyung titip salam untukmu. Hey, kau yakin mengabaikan Jaekyung dan memilih menikah? Bukankah seleramu untuk mencari mainan itu jenis Jaekyung yang mudah diputuskan? Apa jangan-jangan kau menikah karena itu?”

 

Minho terdiam. Ya, dulu mungkin ia akan memilih gadis seperti Jaekyung yang disebut Kyuhyun. Tapi itu sebelum ia mengenal Soojung. Soojung yang ia tahu adalah tipe cuek yang Minho rasa ia pasti menjaga hubungannya dengan baik atau mungkin dapat mempertahankan hubungannya dengan baik. Tapi ini apa? Kyuhyun mengatakan itu di depan Soojung, tentu akan mengundang kesalahpahaman kan.

 

“Aku duluan, Minho-oppa­.”

 

“Tu—tunggu, SOOJUNG-AH!”

 

Minho berteriak frustasi melihat Soojung kini sudah menyeberang jalan dan meninggalkannya. Jujur, Minho merasa bersalah sekarang. Ia cukup yakin bahwa kini Soojung pasti berpikiran buruk tentangnya. Harus berapa masalah yang Minho hadapi sebelum menikah? Padahal, ia belum benar-benar menyelesaikan masalah Soojung yang sebelumnya gelisah.

 

“Tunggu, jangan bilang—“

 

“Ya, hyung. Kau telah membuat calon istriku salah paham denganku.”

 

*

“Jinri-ya, aku benar-benar merindukanmu!”

 

Jinri tersenyum merasakan tubuhnya dipeluk oleh sahabat lamanya ini. Ia kini berada di salah satu klub malam yang sering ia datangi bersama sahabatnya sejak dulu. Bahkan klub malam ini benar-benar favoritnya. Ia benar-benar ingin mengingat dan merasakan seperti beberapa tahun silam sebelum ia pergi ke luar negeri tinggal dengan ibunya.

 

“Aku juga merindukanmu, Sohyun-ah. Ah ya, apa Jiyoung benar-benar sibuk sehingga tidak bersamamu?” Jinri tersenyum menyapa sahabatnya itu seusai pelukan sahabatnya itu dilepaskan.

 

Sohyun mengerucutkan bibirnya,”Jiyoung? Dia benar-benar jahat padaku, Jinri­-ya! Bagaimana bisa tidak lama setelah kau pergi, ia juga pergi ke London?”

 

Jinri tertawa dalam hati melihat ekspresi Sohyun yang lucu. Ya, sahabatnya ini memang tidak pernah berubah sejak dulu, tetap saja kekanakan. Ya mungkin, ia, Sohyun dan Jiyoung benar-benar kekanakan namun juga nakal karena sering pergi ke klub malam.

 

“Choi Jinri.”

 

Jinri menoleh mendengar namanya digumamkan dengan nada datar. Ia dapat melihat lelaki yang benar-benar akrab di matanya. Ya meski ia dapat menyadari bahwa penampilan lelaki ini benar-benar memesona. Well, sejak dulu ia mengakui bahwa lelaki yang mendekatinya ini sudah membuatnya terpesona. Tapi, lelaki itu tetap tidak dapat mengalahkan pesona Minho di hatinya. Ah, mungkin, pesona lelaki itu berkurang juga karena kesalahannya di masa lalu.

 

“Kurasa aku tidak mengenal siapa dirimu, tuan. Jangan sok kenal denganku!” Jinri menjawab dengan nada dingin dan ketus.

 

Lelaki itu tersenyum miring,”Aku tahu kau masih terpesona denganku, nae Jinri. Bahkan sahabatmu ini juga tergila-gila dengan sepupuku, jadi kau bisa apa? Kau tidak bisa menghindariku.”

 

Jinri benar-benar ingin menendang wajah lelaki ini lama-lama. Jinri sudah marah sekarang. Ia tidak suka bahwa perasaannya mudah dibaca. Ia juga tak suka bahwa ia baru mengetahui fakta yang diucapkan lelaki di depannya itu. Jinri dapat merasakan Sohyun merengek disampingnya mencoba menahan emosi Jinri yang mulai meluap.

 

“Lee Taemin, meski aku terpesona padamu. Kau bukan apa-apa dibanding Minho oppaku.”

 

“Ya, tentu kau tak bisa terus menyukai sepupumu yang akan menikah itu kan?”

 

Lelaki itu tertawa mendengar balasan Jinri. Ya tuhan, lelaki brengsek ini benar-benar ya! Jinri sempat terdiam beberapa detik mendengar jawaban lelaki itu. Apa katanya? Tidak-tidak! Itu tidak mungkin. IA benar-benar tak rela. Tunggu, lelaki ini hanya bohong kan?
“Melihat ekspresimu, sepertinya kau tidak tahu apapun. Apa kau kini bisa disebut lebih dekat dengan Minho dibanding denganku?”

 

Ya ampun, itu semua bohongan bukan?, Jinri membatin sambil mengaduk isi tasnya mencari ponsel.

 

I try to comfort myself

Telling myself to stop

But I can only forget you in my head

Because my heart still remembers you

Though I curse

Though I get angry

It’s only you

-TBC-

Sunday, August 17th 2014 – 6.05 pm

Anyeong! Aku udah nepati janji buat ngelanjutin yaa. Please dong yang baca komen yaa. Aku akan lanjutin kalo ada seperlima komen dari view-nya. Bukannya maksa, tapi hargain kerja keras author yang udah nulis sambil nyempetin waktu dari tugas bejibun. Ah ya, kalo waktu uplotnya lebih lama, author minta maaf karena author udah kelas tiga jadinya sibuk banget. FF yang lain jangan lupa dibaca yaa! Lupakan masalah myungstal, ingat Myungzy dan Minstal/Hyukstal 😀 Hope you like it~ GIVE ME YOUR FEEDBACK>>>

XOXO,

magnaegihyun :*

 

Advertisements

20 thoughts on “A marriage, Chapter 4

  1. Reblogged this on bsuji1994 and commented:
    Kemana aja nih
    Baca dulu yah
     +ヘ⌒⊂ヽヘ⌒⊂ヽ+
      (・ω・ )ノ (・ω・ )ノ
      ( ⊃ ノ ( ⊃ ノ +
    + ⊂__ノ ⊂__ノ
       ∪    ∪
       |∥   |∥
    Fighting!!!

  2. jahat bgt,ff se-seru ini kalau ga di lanjut authot. kadang2 aku suka cek ke bloh ini apa ffnya udah lanjut and finally ffnya lanjut hohoho itu menakjubkan. jangan bikin potek readersnya loh author karena ffnya terlalu lama di post.
    hwaitinghg

  3. alhamdulillah ff nya dilanjutin juga
    yah soojung ngambek jadinya, gara2 si kyu nih nyerocos
    ffmya dlanjutin ya, n moment minstalnya kalo bisa dtambahin hehe
    Ok ta tunggu

  4. aduuuh.. sulli sm tetem aja yh kkkkk :v minho biar sm soojung ^^ elaah, itu bang evil bikin masalah lgi ngomong gitu dpan soojung ckckckck … fighting minho oppa, moga bisa ngasih penjelasaan sm soojung

  5. annyeong reader baru. maaf langsung komen di sini
    kayaknya alurnya complicated banget ya. tapi seru kok bikin penasaran. aduh soojung kayaknya trauma banget deh. plis lah minho tunjukin dong kalo bener2 serius. keliatannya sih minho beneran suka sama soojung. plis jangan buat sulli jadi penghalanh yaaa. biar sulli sama taemin ajaaa ^^
    keep writing thor. ditunggu kelamjutannyaaa.

  6. ayo dilanjuutt!!! ini makin mendebarkan,
    panjangin lagi dong,
    tolong jgn basa-basi, bikin makin penasaran-_-
    kapan minstal nikah? mana HaeSica nya ^^
    NEXT!

  7. hehehe ini aku baca part 1 n 2 nya udah lama banget loh,trus kirain ga dilanjut,,eeeeh skrg baru nemu yg k 4 jd sxan baca part 3. bagus deh ceritanya.. ayo dong banyakin minstalnya..sebenernya agak bingung jg ini kenapa yg berhubungan ma minho mksudya tmn2 cwonya semua jadi cassanova. cm donghae doang yg enggak.haha tokoh figurannya jg asa banyak ya,,tp gpp deh yg penting panjaaaang ff nya,,lanjut yaaa,,jgn lama2.yg nuggu udh pada lumutan ni thor.. heh peace ^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s