The Amazing Cinderella, Chapter 4

 

Title : The Amazing Cinderella | Author : magnaegihyun & Evil_Yeol ‘^_^’ | Length :Chaptered(5.396 words)| Genre : Romance, School Life, Family, Other | Rating : PG | Main Cast : Bae Soo Ji, Kim Myung Soo, Lee Jeong Min, Lee Sung Yeol, Wu Yi Fan and others | Poster by nunaw | Previous Chapter

Bae Soo Ji tidak sengaja bertemu dengan seorang kakek yang sedang kesakitan. Tentu saja, dengan sigap ia menolong kakek itu ke rumah sakit meski menyadari bahwa ia sudah terlambat bekerja. Ia merasa aneh ketika ia ditanyai apa impiannya oleh kakek itu. Meski begitu, ia tetap menjawab dan bercerita pada kakek yang baru dikenalnya itu. Tanpa disangkanya, keesokan harinya impiannya benar-benar menjadi nyata. Inilah kehidupan barunya yang ia rasakan layaknya seorang Cinderella.

 the-amazing-cinderella

Disclaimer : This storyline is belong to magnaegihyun & evil_yeol. This fanfiction is inspired by ‘Cinderella dan Empat Ksatria’, a novel by Bae Myo. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the pairing? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

*

Direktur Lee memejamkan matanya,”Ternyata kecelakaan lalu lintas…”

 

Wajah yang tersenyum ceria masih terlihat jelas dalam benak Direktur Lee.

 

“Hei, Ajusshi. Jangan ke tempat seperti ini dengan penampilan orang kayamu.”

 

Mata kucing itu mengingatkan Direktur Lee pada wanita itu. Senyumnya yang hangat. Soo Ji sangat mirip dengan wanita itu. Bahkan di gang gelap sekalipun, wanita itu terlihat bersinar.

 

“Dia meninggal dunia gara–gara kecelakaan. Kukira dia tak terkalahkan.”

 

Kegetiran menghiasi wajah Direktur Lee.

 

“Ini putriku, jika terjadi sesuatu pada diriku, tolong kau jaga dia baik-baik.”

 

Anak kecil yang sedang digendongannya kini tertidur pulas, padahal ibunya sedang berkelahi.

 

“Jangan khawatir aku akan menjaganya baik-baik.”

 

***

 

“Nona bilang mau kerja paruh waktu?” Yi Fan memasang raut muka kurang suka.

 

“Ya. Aku sudah menemukan beberapa tempat melalui internet. Ternyata sangat menyenangkan mempunyai komputer sendiri.”

 

“Tetapi, Nona tak perlu bekerja…”

 

“Aku sudah mendapatkan seragam sekolah, tempat tinggal yang sangat nyaman dan bahkan makan gratis. Jadi aku tak boleh hanya bermals- malasan disini.”

 

“Nona mau bermalas–malasan saja juga tidak apa–apa.”

 

“Aku tidak mau.”

 

“Ha… Baiklah. Kalau begitu, saya akan mengantar Nona ke tempat kerja.”

 

“Tidak diantar juga aku tak akan keberatan.”

 

“Saya pengawal pribadi Nona. Jadi saya harus menjaga nona setiap saat.”

 

Karena malas berdebat, akhirnya Soo Ji menyerah dan naik ke mobil. “Apakah hari ini menyenangkan?” Tanya Yi Fan.

 

“Yah, Begitulah. Ada yang berbeda dari bayanganku, ada juga yang membuatku terpana.”

 

“Tidak ada yang mengganggu Nona kan?”

 

“Tidak ada. Lagi pula siapa yang akan menggangguku?”

 

Yi Fan melihat wajah Soo Ji dari kaca spion mobil. Soo Ji tersenyum seperti biasanya, tetapi entah mengapa Yi Fan merasa kasihan padanya. Senyuman Soo Ji terkesan sedih.

 

“Ini tempatnya.”

 

Soo Ji menunjuk sebuah restoran yang cukup besar. Lokasinya berada di antara sekolah dan Sky House.

 

“Saya dengar bekerja di restoran sangat berat.”

 

“Bukankah semua pekerjaan berat?” Balas Soo Ji riang, kemudian turun dari mobil.

 

Yi Fan mengira Soo Ji akan langsung masuk ke restoran begitu turun dari mobil. Akan tetapi gadis itu malah berjalan ke sisi pengemudi dan mengetuk jendela mobil. Ketika Yi Fan menurunkan kaca mobil, tiba–tiba gadis itu menjulurkan kepala ke dalam.

 

Gege. Jangan menungguku. Langsung pulang saja. Arra?”

 

Ne.”

 

“Janji, ya?”

 

Ne.”

 

Soo Ji melambai pada pengawal itu, mengucapkan selamat tinggal. Begitu gadis itu masuk ke restoran, Yi Fan mematikan mesin mobil dan menyandarkan kepala di kursi. Pulang? Tentu saja tidak.

*

 

“Kau cantik, jadi diterima,” kata manajer restoran. “Kami tidak kekurangan tenaga dapur. Jadi kau di bagian pelayanan saja supaya wajahmu kelihatan. Pasti tamu laki – laki akan bertambah.”

 

Ketika mendengar pujian manajer itu, Soo Ji tersenyum lebar memamerkan sederetan giginya yang rapi.

 

“Yoo Jin, berikan seragam ke anak ini, lalu ajari dia ya. Yah…. dengan penampilan cantik seperti itu, dia hanya berjalanke sana kemari juga tidak masalah.”

 

“Baik, Pak.”

 

Gadis bernama Yoo Jin itu memanggil Soo Ji dengan isyarat tangan.

 

“Kau kemarilah. Aku akan memberimu seragam.”

 

Yoo Jin membawa Soo Ji ke gudang karyawan. Begitu lampu dinyalakan Yoo Jin langsung mendorong Soo Ji ke dinding.

 

“Tadi kau bilang namamu Bae Soo Ji?”

 

Sorot mata Yoo Jin sangat tajam, tapi Soo Ji tidak panik sama sekali. Ia hanya membalas tatapan Yoo Jin dengan tenang.

 

“Ne, Waeyo?”

 

“Kau tidak perlu sombong hanya karena manajer memujimu. Aku sudah dua tahun bekerja di sini. Jangan pikir aku membiarkanmu bersantai-santai karena kau cantik. Kau pasti senang dimanja laki-laki karena wajahmu. Tapi disini kau tak akan mendapat perlakuan seperti itu. Jadi kau tak usah bersikap manja. Mengerti?”

 

“Ya, Mengerti.”

 

Ketika Soo Ji menjawab tanpa perlawanan, Yoo Jin mendengus lalu melemparkan seragam. Seragamnya sangat kotor dan kusut seperti sudah dipakai sebelumnya. Tanpa berkata apa pun, Soo Ji membawa seragamnya ke ruang ganti.

*

 

Soo Ji bekerja terus selama enam jam tanpa ada waktu untuk istirahat sedikit pun. Yoo Jin meyuruh–nyuruh melakukan ini itu tanpa mengajarinya apa pun. Alhasil Soo Ji melakukan kesalahan beberapa kali. Para tamu hanya tertawa dan bilang tidak apa–apa, tapi hal ini membuat Yoo Jin semakin kesal pada Soo Ji.

 

Ketika Soo Ji sedang berada di ruang ganti, para pekerja paruh waktu yang lainnya juga ikut–ikutan mencelanya. Soo Ji sudah sangat terbiasa dengan orang–orang seperti itu. Jadi, ia hanya mengabaikan mereka.

 

“Anak manja dari keluarga kaya.”

 

Komentar sinis Yoo Jin diikuti gumaman setuju dari karyawan lainnya.

 

“Gara–gara dia pekerjaan kita jadi makin sulit. Bukankah dia seharusnya minta maaf?”

 

Geuraeyo. Tapi bisa juga kan, saking bodohnya dia sampai–sampai dia tidak sadar kalau orang-orang jadi kesusahan gara–gara dia.”

 

“Mungkin.”

 

“Sepertinya dia sadar kita sedang membicarakannya.”

 

‘Aku sudah tahu, dasar wanita–wanita brengsek.’

 

Soo Ji menghela napas panjang lalu keluar dari ruang ganti. Tamu–tamu sudah pulang. Di parkiran restoran itu hanya ada satu mobil sedan hitam terpair. Langkah Soo Ji terhenti saat melihat Yi Fan yang menunggu sambil merokok di samping mobil. Dari jendela restoran, Yi Fan yang berdiri di bawah cahaya bulan sambil memandang kegelapan malam tanpa berkata apa pun terlihat memesona. Soo Ji sampai tidak mengalihkan pandangan.

 

Dia sangat keren.

 

Yi Fan masih muda, tapi sudah menjadi Sekretaris Direktur Grup Gamseong. Dia pasti pintar. Orang sehebat ini datang menjemput Soo Ji pada jam selarut ini.

 

Aku benar – benar Cinderella sekarang.

 

Soo Ji terkekeh sambil mengampiri Yi Fan.

 

“Kapan Gege datang?”

 

“Baru saja.”

 

Yi Fan membuka pintu sambil tersenyum. Soo Ji melewati Yi Fan dan menaruh tangan di kap mobil yang dingin.

 

“Dari tadi… Gege menungguku?”

 

“Saya baru saja datang.”

 

“Terima Kasih.”

 

Entah mengapa Soo Ji merasa terharu.

 

Ketika ibunya masih hidup, setiap kali Soo Ji pulang dari sekolah, ibunya selalu menyambutnya. Ketika hujan, ibunya datang ke sekolah sambil membawa payung. Tetapi setelah ibunya meninggal dunia, tidak ada lagi yang menyambutnya dengan kata “selamat datang” saat Soo Ji bilang “aku sudah pulang”.

 

“Terima kasih. Aku sungguh–sungguh berterima kasih.”

 

Walaupun Yi Fan menunggunya karena disuruh Direktur Lee, Soo Ji tetap merasa berterima kasih.

 

“ Saya tak mengerti kenapa Nona bilang terima kasih. Ayo naik, anginnya dingin.”

 

Mobil yang disetir Yi Fan melaju di jalanan menuju Sky House. Ketika sampai di Sky House, Jeong Min dan Sung Yeol menyambut Soo Ji dengan senyum hangat.

 

Wasseoyo?”

 

“Selamat datang, Soo Ji-ya.”

 

Baru setahun ia tinggal di rumah ini, tapi kedua orang itu sudah menunggunya pulang di ruang tamu.

 

Soo Ji tersenyum lembut pada mereka dan berkata, “Aku pulang.”

 

Tempat tidurnya empuk, suhu dalam kamar juga sesuai, tapi tetap saja Soo Ji taidak bisa memejamkan matanya. Mungkin karena ia tak terbiasa dengan tempat tidur barunya. Padahal sudah pindah dari tempat tidur bekas gudang ke kamar mewah seperti itu, tapi ia tetap saja tidak mengantuk. Akhirnya Soo Ji memutuskan untuk keluar.

 

“Coba ke rumah kaca, ah.”

 

Angin sepoi–sepoi menerpa wajah Soo Ji. Sebentar lagi angin juga jadi panas, tetapi berkat pohon–pohon yang menghiasi taman, sepertinya udara tidak akan terasa begitu menyesakkan.

 

Terlihat nyala lampu dari rumah kaca.

 

 

“Ada siapa pada jam selarut ini?”

 

 

Soo Ji mengintip ke dalam melalui jendela kecil di pintu masuk rumah kaca.

 

Rumah kaca ini lebih besar dari pada taman bunga terkenal di Korea. Di dalamnya ada beraneka ragam tanaman tropis dan terdengar kicauan burung, walaupun samar–samar. Soo Ji tak melihat siapa pun di dalam.

 

‘Sepertinya ada yang lupa mematikan lampu.’

 

Soo Ji masuk, seakan ditarik oleh pesona rumah kaca tersebut. Ia menghirup udara tropis yang lembab dan segar. Soo Ji merasa seperti sedang berada di hutan kota.

 

‘Seperti sedang berlibur di luar negeri.’

 

Soo Ji menyusuri jalan setapak di tengah dengan perlahan. Di hadapannya ada sebuah pintu. Sepertinya suara burung terdengar dari sana. Soo Ji membuka pintu.

 

Di tengah –tengah kicauan berbagai jenis burung, Soo Ji melihat seseorang berdiri. Di atas rambutnya yang berwarna kelam, bahunya yang lebar, lengannya yang cukup berisi, orang itu membiarkan dirinya dihihnggapi burung–burung dengan jumlah yang tak terhitung. Myung Soo berdiri dengan tersenyum. Dia terlihat begitu damai.

 

‘Apa itu? Kenapa hatiku berdebar tidak keruan seperti ini?’Soo Ji memgang dada sebalah kirinya.

 

Laki–laki yang biasanya selalu mengerutkan kening dan bersikap kasar bak binatang buas itu ternyata bisa tersenyum hangat diantara burung–burung. Soo Ji terharu karena tak menyangka Myung Soo bisa tersenyum seperti itu.

 

‘Ternyata…. dia suka hewan.’

 

Ini sungguh tak dapat dipercaya.

 

‘Orang yang suka hewan biasanya tidak jahat.’

 

Untuk waktu yang cukup lama, perhatian Soo Ji terpaku pada Myung Soo. Myung Soo masih belum menyadari kehadiran Soo Ji dan terus bercengkrama dengan burung–burung itu. Kira–kira tiga puluh menit kemudian, baru ia menoleh. Begitu bertemu pandang dengan Soo Ji, Myung Soo langsung mengernyit. Tidak bisa dipercaya bahwa orang yang kini sedang berpandangan dengan Soo Ji sama dengan orang yang baru tersenyum tadi.

 

“Siapa yang mengizinkanmu masuk?” sergah Myung Soo.

 

“Apakah aku harus minta izin dulu sebelum masuk ke sini?”

 

“Rumah kaca ini milikku.”

 

“Ah, Matta. Kalau begitu… apakah aku boleh masuk?”

 

“Toh kau sudah masuk!”

 

Karena teriakan Myung Soo, burung–burung berterbangan dengan kaget.

 

“Kau membuat burung–burung ini kaget.”

 

“Keluar.” Myung Soo memelankan suaranya.

 

“Aku juga suka hewan.”

 

“Aku tidak suka hewan.”

 

“Kau memlihara burung–burung ini, tapi kau masih bilang kalau kau tak suka hewan?”

 

“Itu bukan urusanmu.”

 

Soo Ji tidak memedulikan sikap kasar Myung Soo dan berjalan semakin dalam ke rumah kaca. Soo Ji duduk di tanah dan mendongak. Lalu bertemu pandang dengan Myung Soo yang sedang berdiri di sampingnya.

 

“Ah, enaknya.”

 

“Ada banyak kotoran burung.”

 

Gwaenchana. Tinggal dicuci saja.”

 

Lagi–lagi Myung Soo menatap Soo Ji sambil mengerutkan kening.

 

Myung Soo tidak bisa mengusir Soo Ji dengan ucapan apa pun. Ia sendiri sudah menyaksikan kemampuan bela diri Soo Ji, sehingga tak mungkin bisa mengusir gadis itu dengan ancaman. Lagi pula, ia tak membenci Soo Ji yang duduk di tanah tanpa memedulikan kotoran burung.

 

Seandainya Soo Ji tak merebut Jeong Min dari YoonA, Myung Soo tidak membenci tipe gadis sepertinya. Santai dan sering kali tertawa.

 

‘Apa yang sedang kupikirkan?’ gerutu Myung Soo dalam hati.

 

“Ayo, duduk. Kita bisa melihat bintang dari sini. Melihat bintang dari rumah kaca sangat menyenangkan.”

 

Soo Ji menyentak pelan celana Myung Soo. Cowok itu duduk disamping Soo Ji tanpa berkata apa pun.

 

“Ternyata kita bisa melihat bintang di Seoul.”

 

“Kalau cuacanya bagus.”

 

“Kau sering kesini?”

 

“Untuk memberi makan anak–anakku.”

 

Soo Ji tanpa sadar tersenyum kecil mendengar jawaban Myung Soo hingga membuat Myung Soo menoleh dengan raut heran,“Apa yang lucu?”

 

“Tidak… hanya saja kau memanggil burung–burung itu dengan sebutan ‘anak–anak’.”

 

“Sialan.”

 

Sepertinya burung–burung ini sangat jinak dengan orang asing. Beberapa ekor burung terbang ke arah Soo Ji dan mendarat dekat gadis itu.

 

“Burung–burung ini sangat lucu, walaupun aku tidak tahu jenisnya.”

 

“Kalau tidak tahu ya belajar.”

 

“Berarti aku boleh masuk ke sini lagi?”

 

“Mungkin.”

 

“Baik hati sekali.”

 

“Diam.”

 

“Kenapa kau bisa bicara sembarangan seperti itu?”

 

“Pertanyaan itu yang ingin kutanyakan kepadamu. Apa yang kau lakukan dulu?”

 

“Belajar”

 

“Belajar? Aku pernah melihat kemampuan bela dirimu. Kau bukan perempuan yang kerjanya hanya belajar. Ditambah lagi, Direktur Lee yang membawamu ke sini. Bagaimana kau bisa membujuk orang tua dingin itu?”

 

“Dingin? Nugu? Direktur Lee?”

 

“Benar.”

 

“Menurutku sikap Direktur Lee sangat hangat.”

 

“Ha?” Muka Myung Soo yang tadi tenang berubah murka.

 

“Kau bilang sikap orang tua itu hangat? Aku tidak tahu latar belakangmu, tapi apakah kau berfikir seperti itu karena orang tua itu membiarkanmu tinggal di Sky House yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya?”

 

Sorot mata Myung Soo terlalu dingin untuk mencerminkan kemarahan remaja. Matanya dipenuhi kemarahan dan kebencian yang seakan menusuk kulit Soo Ji.

 

“Ada Apa denganmu?”

 

“Sialan. Dia bilang apa padamu untuk membawamu ke rumah ini? Apakah kau berjanji akan menjadi bonekanya? Kalau sudah dekat dengan kami setelah masuk ke rumah ini, orang tua itu menjanjikanmu untuk menjadi cucu angkat?”

 

“Aku ingin menjadi dokter hewan.”

 

“Apa?”

 

“Aku sangat suka hewan…”

 

“Aku tidak menanyakan cita–citamu.” Myung Soo langsung memotong perkataan Soo Ji.

 

“Karena keluargaku tidak mendukung, aku bekerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang untuk biaya sekolah… tapi memang tak mudah bagia anak SMA untuk mencari uang.”

 

“Kenapa? Memang keluargamu sangat miskin?”

 

Aniya. Aku tak punya keluarga di rumahku.”

 

Perkataan Soo Ji membuat hati Myung Soo terasa sangat berat. Myung Soo sempat berpikir Soo Ji tak lebih dari seorang gadis berotak kosong karena terlalu sering tersenyum. Ia mengira gadis itu berasal dari keluarga yang penuh kasih sayang walaupun miskin, yang terbujuk direktur kaya untuk masuk ke rumah ini.

 

“Ayah memukuli ibu setiap hari.”

 

Soo Ji bingung. Ia tidak mengerti kenapa ia menceritakan hal ini kepada Myung Soo. Padahal ia tak pernah sekalipun berkeluh kesah kepada orang lain. Walau ibunya sudah meninggal, ia masih putri ibunya. Karena ia keturunan ibunya, Soo Ji memutuskan akan hidup dengan bahagia meski ibunya sudah tiada. Tapi, kanapa sekarang ia berkeluh kesah?

 

“Ibuku putri pertama dari keluarga seni bela diri. Ibu mempelajari bela diri sejak kecil, jadi ibu sangat kuat. Sebenarnya Ayah bukan tandingan ibu, tetapi anehnya ibu tak pernah melawan dan hanya menerima pukulan demi pukulan dari Ayah. Ketika Ibu dipukuli, aku hanya bisa menagnis di pojok. Setelah Ibu meninggal, Ayah menikah lagi. Mereka tak pernah menganggap aku sebagai anggota keluarga. Aku mempunyai cita–cita dan aku merasa cita–citaku tak akan tercapai kalau aku terus menetap di sana. Jadi aku menerima tawaran Direktur Lee.”

 

Myung Soo menatap sambil mendengarkan cerita Soo Ji dalam diam. Ketika Soo Ji selesai bercerita, Myung Soo bertanya.

 

“Kenapa ayahmu memukul ibumu?”

 

“—Sepertinya Ayah berpikir ibu berselingkuh. Lalu melahirkanku.”

 

“…”

 

“Tetapi ibuku bukan orang semacam itu. Aku tak tahu apakah ibu mencintai ayah atau tidak, tetapi ibuku tak pernah mengkhianati orang lain, Ibuku….”

 

“Ya. Aku mengerti. Tidak usah diteruskan lagi, terlalu menyedihkan.”

 

“..Ya..”

 

“Berhentilah tersenyum.”

 

“Apa?”

 

“Aku tidak suka melihat tersenyum. Jadi jangan tersenyum.”

 

“Hm. Wae? Kau takut jatuh cinta padaku ya, kalau aku tersenyum terus?”

 

Tiba–tiba Myung Soo menarik kerah baju Soo Ji. Mata Myung Soo seperti mutiara hitam yang menatap Soo Ji lekat–lekat.

 

“Aku tidak suka tersenyum dan aku juga tidak suka orang yang tersenyum. Kau sedang menceritakan hal sedih, jadi mungkin ingin tersenyum. Itu strategimu, ya? Meskipun kau tidak mau tersenyum. Tapi di depanku jangan sekali–kali lagi kau melakukan itu. Sangat memuakkan.”

 

Bagaimana dia tahu aku memaksakan diri untuk tersenyum?

 

Soo Ji pernah memperingatkan tidak akan tinggal diam jika Myung Soo berani menyentuhnya lagi, tapi sekarang ia tidak sanggup menepis. Karena terpesona dengan mata Myung Soo yang begitu dekat, ia sampai tidak bisa bergerak, hanya bisa balas menatap cowok itu.

 

“Mengerti?”

 

“Ya.”

 

“Baguslah.”

 

Myung Soo melepaskan cengkeraman di kerah baju Soo Ji dan kembali duduk di samping gadis itu. Soo Ji memeluk lutut dan menunduk.

 

“Aku mencintai ibuku.”

 

“Tentu saja.”

 

“Tapi aku rasa ada hal yang aneh.”

 

“Apa lagi?”

 

“Ketika ibu meninggal dunia, aku tak bisa menangis. Di pemakaman pun aku tak menangis. Setelah kembali ke rumah aku juga tak menangis. Meski aku melihat foto ibu di album foto air mataku juga tak keluar sedikit pun. Ada yang bilang kalau orang yang dicintai meninggal, kita tidak bisa menangis karena syok, tapi nanti saat teringat kenangan bersama orang itu, kita baru bisa menangis. Padahal ada banyak kenanganku bersama ibuku.”

 

Myung Soo hanya diam. Sebenarnya Soo Ji menceritakan ini bukan untuk meminta jawaban dari Myung Soo. Bagi Soo Ji laki-laki itu mau mendengarkan keluh–kesahnya saja sudah cukup, karena ia tak pernah menyangka Myung Soo mau berbuat seperti itu.

 

Ketika Soo Ji mulai lupa dengan apa yang dikatakannya tadi, terdengar suara pelan Myung Soo.

 

Ureo?”

 

“Apa?”

 

“Senyumanmu terlihat seperti tangisan bagiku. Sebenarnya kau menangis, setiap kali kau tersenyum.”

 

“….”

 

“Karena itu, kau jangan merengek di depanku. Setiap kali mau menangis, jangan coba–coba tersenyum. Aku sangat benci gadis yang merengek.”

*

Dari jendela lantai tiga, lapangan sekolah terlihat sangat jelas. YoonA dapat melihat dengan jelas bahwa ada Jeong Min yang sedang tertawa dengan temannya di sana. Tak perlu diragukan, YoonA hafal semua jadwal kelas Jeong Min di luar kepala. Padahal Jeong Min sendiri sering bertanya pada kakak sulungnya, Sung Yeol yang selalu hafal semua jadwal setiap kelas.

 

Jeong Min tampak benar-benar keren sekarang, ia men-dribble bola basket kesana-kemari dengan memakai kaus olahraga putih dengan garis berwarna emas di lengannya. YoonA senang melihat Jeong Min bergerak bebas seperti saat ini. Ia sudah kenal sejak dulu bahwa Jeong Min paling menyukai kelas olahraga.

 

Hanya dengan memikirkan nama Jeong Min, air mata YoonA hampir saja menetes. Ia hanya bisa memandangnya dari jauh. Ya, memang ia bisa memandangnya dari dekat, tapi Jeong Min tidak bisa lagi menjadi miliknya. Alangkah senangnya jika mereka bisa saling menatap sambil tersenyum seperti dulu. Sekali saja.

YoonA sangat menyukai senyuman cerah Jeong Min yang seperti pangeran. Ia juga suka gurauan jail lelaki itu. Suaranya benar-benar lembut. Hanya membayangkan bahwa Jeong Min akan memanggilnya dengan raut ceria saja YoonA seakan terbang keawan.

 

Tidak, hal itu tidak mungkin terjadi. Meski YoonA mencintainya, Jeong Min tidak akan pernah menjadi miliknya lagi. Tidak, tidak, memang dari dulu Jeong Min tidak pernah menjadi miliknya. Ketika pertama kali bertemu dengan Soo Ji, jujur, YoonA memandang rendah gadis itu. Bajunya murahan dan rambutnya juga terlalu biasa. Ia hanya menganggap Soo Ji sebagai gadis sewaan Jeong Min untuk bermain sebentar.

 

Tetapi anggapan YoonA ternyata salah besar. Soo Ji yang seperti boneka itu juga disukai Direktur Lee dan disuruh tinggal di Sky House. Kelasnya juga bukan kelas biasa. Sangat berbeda dengan YoonA yang berusaha mati-matian masuk SMA Gamseong untuk Jeong Min. Ia benar-benar cemburu dengan Soo Ji.

 

“YoonA-ya, kau sudah dengar gosip terbaru?”

 

Soo Young, teman sebangku YoonA menepuk bahunya keras. Ternyata kelas Bahasa Inggrisnya ini sudah selesai ketika YoonA daritadi sibuk melihat Jeong Min. Jeong Min pun sekarang sudah merangkul teman-temannya masuk ke gedung sekolah. Tidak sekalipun, Jeong Min menoleh padanya. Ia sadar bahwa ia menyesal bahwa Jeong Min memang benar-benar sengaja mengabaikannya.

 

“Gadis yang masuk Sky House itu—yang katanya pacar Jeongmin itu..”

 

“Soo Ji?”

 

“Ya, dia benar-benar wah loh!”

 

“Hah, kenapa?”

 

“Katanya dia mempunyai kakak di kelas biasa, namanya Park Ji Yeon.”

 

“Kakak? Tapi kan marga Soo Ji itu Bae?” YoonA mengernyit mendengar ucapan Soo Young.

 

“Entahlah, latar belakang keluarganya cukup rumit. Tidak lama setelah ibu Bae Soo Ji meninggal, ayahnya menikah lagi dengan ibu Park Ji Yeon. Tetapi, Bae Soo Ji itu ternyata memiliki perangai yang buruk. Dia tidak mengakui Park Ji Yeon dan ibunya sebagai keluarga. Bahkan ia juga menolak keras perubahan marga Ji Yeon menjadi Bae.”

 

Solma…”

 

“Aku tidak bohong. Lalu dia juga sering menganiaya Park Ji Yeon. Ditambah lagi, Bae Soo Ji kan cukup cantik, jadi dia sering berhubungan dengan lelaki. Bahkan ia juga suka dihadiahi barang mahal. Dia benar-benar mata duitan.”

 

“Benarkah?”

 

“Kakaknya tadi menceritakan semua itu sambil terisak. Kasihan sekali Park Ji Yeon. Soo Ji keluar dari rumah setelah mendapatkan orang kaya. Bahkan ibu tirinya sakit-sakitan karena memikirkan Soo Ji.”

 

YoonA benar-benar tidak tahu harus merespon apa mendengar cerita Soo Young ini. Ia bingung. Ia berada di antara tidak percaya dan syok sekarang. Oke, ia benar-benar kasihan pada Park Ji Yeon mendengar cerita tadi.

 

“Ah ya, kau harus mengingatkan Jeong Min, YoonA-ya. Pasti sekarang Soo Ji berpacaran dengan Jeong Min hanya karena uang.”

 

“Oh… oh ya?”

 

Kalau diingat-ingat lagi, YoonA menemukan hal aneh dalam pertemuan pertamanya dengan Soo Ji dulu. Soo Ji tidak terlihat menyukai Jeong Min. Meski mereka berangkulan namun Soo Ji tidak menunjukkan rasa nyaman sedikitpun. Kalau memang mereka benar-benar saling menyukai, YoonA akan berdoa untuk kebahagiaan mereka. Tapi kalau ternyata Soo Ji mendekati Jeong Min dengan niat jahat seperti kata Soo Young, ia tidak akan tinggal diam. YoonA harus melindungi Jeong Min dan tidak membiarkannya terluka lagi.

 

 

Myung Soo mengerutkan kening mendengar cerita YoonA. Ia benar-benar tidak bisa mempercayai kata-kata yang baru saja meluncur keluar dari bibir gadis itu. Entahlah, ia tidak menyangka bahwa YoonA akan berkata seperti ini.

 

“Siapa yang berkata seperti itu, noona?” Myung Soo bertanya dengan ekspresi tidak peduli.

 

“Ini cerita yang menggemparkan kelas biasa!”

 

“Oh, benarkah?”

 

YoonA menggigit bibirnya cemas. Ia sudah menceritakan sifat Soo Ji yang sebenarnya pada Myung Soo agar Myung Soo bertambah marah kemudian membantunya memisahkan Jeong Min dan Soo Ji. Ternyata, Myung Soo hanya cuek hingga membuatnya curiga bahwa mungkin saja ada apa-apa di antara Soo Ji dan lelaki itu.

 

Tidak mungkin terjadi sesuatu kan di antara mereka kan?, Tangan YoonA mengepal erat-erat di pangkuannya.

 

Baiklah, YoonA memang sering pura-pura tidak tahu, tapi ia sebenarnya sadar betapa besar rasa cinta Myung Soo padanya. Dari dulu Myung Soo hanya melihat YoonA. Meskipun ada banyak gadis cantik di sekitarnya seperti Sun Young, perhatian Myung Soo tidak pernah teralihkan. Ia juga bahkan memiliki klub penggemar sendiri di mana-mana seolah seorang artis.

 

Karena YoonA menyukai Jeong Min, gadis itu hanya bisa pura-pura tidak tahu perasaan Myung Soo. Sejujurnya, ia bangga disukai oleh lelaki seperti Myung Soo. Apalagi dibanding dengan Sung Yeol, sang Tuan Muda Pertama dan Jeong Min, Tuan Muda ketiga, Myung Soo lah yang paling tampan dan normal. Memang, Sung Yeol terkenal ceria dan pintar namun ia sering dikira orang aneh karena kelakuannya dan wajahnya yang mirip seorang perempuan. Kemudian Jeong Min memang pintar bernyanyi dan mempunyai banyak teman namun ia seorang player dan termasuk anak bermasalah di sekolah.

 

“Kenapa noona melihatku seperti itu?” tanya Myung Soo dengan nada tidak nyaman.

 

“Tidak—apakah itu tidak apa-apa?”

 

“Hah?”

 

“Soo Ji—aku tidak berpikir Soo Ji jahat, tapi—Jeong Min kan sebenarnya agak polos. Kalau terjadi apa-apa dengannya, bagaimana?”

 

Noona berharap aku melakukan sesuatu?”

 

“Eum—tidak—“

 

“Terus, mengapa noona berkata seperti itu padaku?”

 

“Apa kau marah?”

 

“Ya. Aku tidak suka Noona mencemaskan lelaki lain di depanku.”

 

“Tapi dia kan adikmu.”

 

“Dia seorang laki-laki, dan kurasa untuk melindungi diri dia juga sudah bisa.”

 

“Baiklah, aku minta maaf,” YoonA pun memilih mengalah pada Myung Soo, ia tahu ia memang terlalu berlebihan.

 

“Tidak perlu minta maaf. Aku pergi dulu. Ah, tunggu sebentar—“

 

“Ya?”

 

Myung Soo bergeming sejenak menatap YoonA. Matahari berada di belakang Myung Soo, sehingga wajah lelaki itu tertutup bayangan. YoonA benci hal ini karena ia tidak bisa melihat wajah Myung Soo dengan jelas. Jujur, ia takut membuat Myung Soo marah atau membuat nama baiknya buruk di depan lelaki itu. Atau dengan kata lain ia tak mau Myung Soo membencinya.

 

“Bae Soo Ji—bukan gadis sejahat itu. Kurasa ada kesalahpahaman atas cerita noona tadi,” kata Myung Soo.

 

“Oh—“

 

“Kalau begitu, sampai nanti!”

 

Myung Soo berbalik kemudian berjalan meninggalkan YoonA yang masih membeku di tempatnya. Tubuh YoonA bergetar. Ia benar-benar tidak percaya akan ucapan Myung Soo tadi. Myung Soo membela gadis itu. Ya tuhan, apa dunia sedang terbalik? Kecemburuan di hatinya yang awalnya kecil kini mulai membengkak.

 

Aku dibuang. Aku juga sudah dibuang oleh Myung Soo. Bae Soo Ji, bagaimana bisa kau juga merebut hati Myung Soo?

*

Sung Yeol duduk santai di sofa sambil membaca bukunya serius, sementara Jeong Min berbaring di pangkuannya sambil mengutak-atik ponselnya. Sore itu, Sky House benar-benar sepi karena Myung Soo sedang tidur di kamarnya dan Soo Ji belum pulang. Jeong Min tiba-tiba bangun dari posisi berbaringnya.

 

Hyung, kita pasti membawa Soo Ji ke Thailand kan akhir minggu ini?”

 

Sung Yeol menutup bukunya mulai tertarik,”Ah, aku tahu kau khawatir karena ia akan beralasan kerja dan tidak ikut kan?”

 

“Ya, hyung. Aku takut jika dia akan marah jika kupaksa.”

 

Sung Yeol mengulas senyum puas di wajahnya dengan lucu,”Bagaimana jika waktu dia tidur, kita bawa saja diam-diam? Kita harus menyiapkan mobil dan pesawat antigoyang, lalu saat ia bangun ia sudah di Thailand?”

 

“Kedengarannya bagus. Aku akan membujuk Yi Fan gege untuk memintakan izin ke kakek deh.”

 

“Benar kan? Oh ya, belakangan ini ada gosip tentangnya, jadi mungkin saja ia merasa tertekan di sekolah.”

 

“Gosip apa?”

 

“Wah, wah, jadi kau belum tahu? Katanya temanmu banyak? Cium kakiku dulu deh baru ku beritahu,” Sung Yeol menggoda Jeong Min membuatnya memasang wajah dingin.

 

“Katanya Soo Ji menganiaya saudara tirinya.”

 

Terdengar selaan dingin dari belakang Sung Yeol yang sedang tertawa penuh kemenangan. Sung Yeol pun berbalik dan menatap cemberut Myung Soo yang baru saja datang dengan Sun Young. Ia benar-benar tidak percaya bahwa Myung Soo berani mengambil kesempatan emasnya untuk mengerjai Jeong Min.

 

“Huh, kau saja kalah dengan Myung Soo si binatang buas, Jeong Min-ah!” Sung Yeol pun memilih meledek Jeong Min kembali mengabaikan ucapan Myung Soo.

 

“Soo Ji menyiksa seseorang?” Jeong Min berkata heran.

 

“Itu sih kata teman-teman sekelasku. Ibu Soo Ji meninggal dunia. Kemudian ketika ayahnya menikah lagi, datanglah Park Ji Yeon. Dia sih katanya bersekolah di SMA Gamseong kelas biasa. Intinya, Soo Ji tidak mengakui Park Ji Yeon sebagai kakaknya dan sering membuatnya menderita.”

 

“Hm—“

 

Sun Young tiba-tiba mengalungkan lengannya pada lengan Myung Soo sambil tersenyum manis,”Ah, dan ada tambahan dari cerita Myung Soo oppa ini. Park Ji Yeon lah yang menceritakannya sendiri. Cerita menyedihkan yang penuh keputusasaan dan yang apa yang dikatakan Park Ji Yeon, cerita itu sangat ingin disembunyikan, malah diceritakan pada seluruh teman sekelasnya yang berkumpul dan meminta tidak disebarkan kemana-mana.”

 

Sung Yeol tertawa sarkastik,”Well, dengan kata lain minta disebar kemana-mana ya?”

 

“Kau benar, oppa. Aku sih tidak peduli apakah Soo Ji benar-benar menyiksa Park Ji Yeon atau tidak, tapi bagaimanapun Soo Ji temanku. Aku benar-benar suka padanya!”

 

“Aku setuju denganmu, Sun Young-ah. Aku tidak peduli bagaimana cara Soo Ji menjalani hidupnya sebelumnya, lagipua Soo Jo benar-benar keren saat menolong anak anjing dulu.”

 

“Aku juga tidak peduli, hyung. Kalau Myung Soo hyung?”

 

Myung Soo memasang wajah cemberut,”Aku tidak menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya dan aku tidak akan ikut ke Thailand jika dia ikut.”

 

“Myung Soo oppa benar-benar kekanakan ya?” Sun Young berceletuk sambil menggelengkan kepalanya.

 

“Apa?”

 

“Sikap oppa itu. Kalau dia di sana, aku tidak mau ikut. Huh, kalau begitu oppa sama saja dengan mengucilkan dia seperti anak SD.”

 

“Bukan begitu maksudku!”

 

“Jadi, oppa tidak keberatan kan kalau kami membawa Soo Ji?”

 

“—ugh—“

 

Oppa-oppa tersayang, Myung Soo oppa sudah tidak keberatan,” Sun Young berkata dengan ceria.

 

“Bagus. Sun Young-ah, kau harus segera mencari baju renang seksi untuk Soo Ji ya?” Jeong Min mengedip pada Sun Young.

 

“Beres. Dan kau juga harus berhasil membawa Soo Ji ya!”

 

“Oke.”

 

Begitu Sun Young pamit pulang untuk berbelanja dengan bersenandung, Sung Yeol dan Jeong Min mulai sibuk membuat rencana untk menerobos kamar Soo Ji. Myung Soo hanya duduk di sofa seberang sambil membaca komik. Tetapi karena tidak mau ikut-ikutan dengan rencana mereka, iapun bangkit dan berjalan menuju rumah kaca.

 

Myung Soo duduk di rumah kaca sambil menghela napas berat. Ia termenung memandani burung-burung sebelum melihat langit. Ia tidak melihat satupun bintang. Mungkin besok akan hujan ya, batinnya. Ini sudah hari keempat, Soo Ji tinggal di Sky House. Setelah pulang dari tempat kerja, Soo Ji selalu mampir ke rumah kaca. Mereka tidak pernah mengobrol, hanya duduk, bermain dengan burung dan melihat langit. Kalau sudah larut, keduanya kembali ke rumah sendiri-sendiri.

 

Kenapa aku memikirkan gadis itu?

 

Mendadak saja, pikiran itu terbersit dalam benak Myung Soo. Ia ingat wajah gadis itu yang selalu tersenyum seakan ingin menangis. Suara tawanya saat memberi makan burung-burung. Ia selalu senang ketika memberi makan burung-burung itu membuat Myung Soo sampai terpesona. Tidak,tidak, sadarkan dirimu, Kim Myung Soo. Karena itulah, Myung Soo menunggu untuk menghabiskan waktu bersama gadis itu di rumah kaca. Myung Soo menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menepis pikirannya.

 

“Oh, hari ini kau ke sini juga?”

 

Myung terlonjak kaget hingga terhuyung mendengar suara Soo Ji. Jantungnya berdetak keras dengan nafas yang terengah-engah. Ia hampir saja jatuh tetapi Soo Ji segea menahannya dengan mudah dengan lengannya.

 

“A—apa yang kau lakukan?” Myung Soo menarik dirinya dengan kasar dari Soo Ji. “Kau bukan perempuan ya? Kenapa bisa kuat seperti ini?”

 

“Memangnya perempuan tidak boleh kuat?” gerutu Soo Ji sambil mengangkat bungkusan makanan burung.

 

Burung-burung yang seolah terbiasa dengan gadis itu kini terbang ke arahnya dan bertengger di kepala dan bahunya. Pemandangan tersebut terlihat seolah sebuah lukisan di mata Myung Soo. Apa judul Gadis Pemberi Makan Burung cocok dengan lukisan itu? Atau mungkin Burung-burung yang sedang makan juga bagus?

 

Ya ampun, sadarlah Kim Myung Soo! Kenapa aku memikirkan judul lukisan yang mustahil ada?

 

Soo Ji yang tidak mengetahui perasaan Myung Soo yang berkecamuk, berkata sambil menruh makanan burung di telapak tangannya,”Kudengar sekolah ini… ujian kelas khusus juga sangat sulit, ya?”

 

“Terus?”

 

“Sensitif sekali sih. Aku kan hanya bertanya. Memangnya nilaimu tidak bagus?”

 

“Nilaiku oke-oke saja jadi jangan khawatir.”

 

“Wah, hebat sekali!”

 

“Jangan sok memuji begitu. Kau juga jangan sembarangan masuk ke rumah kaca orang lain.”

 

“Astaga, aku minta maaf jika menginjak wilayahmu, tapi kan aku selalu masuk jika ada dirimu.”

 

Myung Soo diam saja tak bereaksi pada jawaban Soo Ji. Begitupun Soo Ji yang tetap memberi makan burung-burung, tidak ada keinginan untuk keluar. Entah mengapa tiba-tiba saja Myung Soo merasa lega. Myung Soo kini ingin menjambak rambutnya mencoba menyadarkan pikiran gilanya ini.

 

“Oh, ya. Dong Woo sebentar lagi keluar dari klinik.”

 

“Apa itu?”

 

“Anak anjing.”

 

Soo Ji tersenyum. Senyuman penuh arti di wajah manisnya bagaikan panah yang langsung melesat ke hati Myung Soo. Myung Soo berjalan mundur sambil terhuyung membuat Soo Ji menelengkan kepala bingung pada sikap Myung Soo yang aneh.

 

“Ada apa? Apa kau takut dengan anak anjing?”

 

“Siapa yang takut dengan anak anjing?”

 

“Lalu kenapa sampai terhuyung? Apakah kau kurang sehat?” Soo Ji mendekati Myung Soo, khawatir. Sementara Myung Soo tanpa sadar melangkah mundur.

 

“Tuh kan, kau mau kabur.”

 

“Siapa yang kabur? Aku ini sedang menghindari kotoran.”

 

“Ya ampun, aku tidak menyangka bahwa kau dipanggil ‘Binatang Buas’ tidak sesuai dengan dirimu yang super bersih ini ya?”

 

Soo Ji terkikik geli. Jujur, Myung Soo tidak membenci itu. Ya tuhan! Myung Soo kembali mengepalkan tangannya mencoba mencegah pikiran aneh muncul kembali di benaknya.

 

“Sebenarnya, apa kau benar-benar baik-baik saja?”

 

Soo Ji tiba-tiba mendekati Myung Soo dan menanyakan itu. Myung Soo tidak dapat bergerak hanya bisa membeku menatap wajah mungil di hadapannya. Mata gadis itu manis seperti kucing dipenuh kekhawatiran membuat jantung Myung Soo berdebar kencang. Ia tidak pernah merasakan debaran sekencang itu. Debaran ini benar-benar membuatnya tidak nyaman.

 

Ini menunjukkan bahwa aku benar-benar membenci gadis ini kan?

 

“Jangan dekati aku!” Myung Soo menahan bahu gadis itu.

 

“Oh, maaf,” Soo Ji langsung saja minta maaf membuat Myung Soo tidak nyaman. Gadis lain pasti merengek jika diperlakukan seperti itu oleh Myung Soo. Tapi Soo Ji selalu tenang saat diancam ataupun dimarahi olehnya.

 

“Kau menyebalkan ya.”

 

“Oh, aku sudah sering mendengarnya.”

 

“Oh ya? Kau toh suka membuat saudara tirimu menderita dan mencoba mengusirnya dari rumah, sudah pasti—“

 

Ketika melihat raut wajah Soo Ji berubah, Myung Soo sadar bahwa ia sudah salah bicara. Sebenarnya ia tidak percaya oleh gosip itu. Ia melontarkan ucapan itu hanya karena ia sedang emosi. Ia yakin Soo Ji pasti bisa membalas ucapannya karena gadis itu selalu membalas kemarahannya dengan canda. Tetapi Soo Ji hanyalah tersenyum. Ia menangis dalam tersenyum sebenarnya. Myung Soo benar-benar benci hal itu.

 

“Jadi, kau sudah dengar? Aku tidak menyangka bahwa aku ketahuan secepat ini ya.”

 

“—jangan—tersenyum—“

 

“Apa?”

 

“Sudah kubilang, jangan tersenyum seperti itu di hadapanku!”

 

Soo Ji tersenyum canggung,”Jadi, aku harus menangis?”

 

Myung Soo benar-benar menahan tangannya dengan keras untuk tidak menyentuh gadis itu. Jika ia menaruh tangannya di bahu gadis itu, sepertinya emosi yang dipendam gadis itu akan meledak. “Kalau mau menangis, menangis lah.”

 

Sebelum tangan Myung Soo yang gemetar menyentuh bahu gadis itu, pintu rumah kaca lalu dibua menunjukkan Sung Yeol yang masuk,”Wah, ternyata kalian di sini!”

 

Syukurlah, Myung Soo membatin lega. Kalau saja kakak sepupunya ini tidak masuk, ia pasti harus berusaha berbicara macam-macam untuk menghibur gadis yang tidak disukainya ini. Myung Soo pun memilih keluar, Sung Yeol pun menghampiri Soo Ji dan merangkul bahu gadis itu dengan riang.

 

Oppa, apa semua lelaki keluarga Kang suka menyentuh ya?”

 

“Tidak, hanya aku. Kenapa? Myung Soo pegang-pegang tubuhmu?”

 

“Kenapa Oppa menggunakan kata seperti itu? Kan banyak kata-kata yang lebih halus?”

 

“Loh,pegang dan sentuh kan sama saja. Oh ya, apa yang kau lakukan akhir pekan ini?”

 

“Bekerja sepanjang hari tentu saja!”

 

“Bolos satu hari ya?”

 

“Tidak, ah. Lagipula besok kan Dong Woo keluar dari klinik.”

 

“Benarkah? Kuantar dengan motor ya?”

 

“Tidak ah. Sepertinya lebih aman naik mobil dengan Yi Fan gege.”

 

“Aku mengendarai motor selama satu tahun tnpa mengalami kecelakaan apapun loh!”

 

“Tidak mungkin. Dasar bodoh!”

 

Begitu Soo Ji masuk rumah, Jeong Min yang menunggu di ruang tamu langsung berlari ke arahnya dan memijat bahu gadis itu,”Istriku, kau pasti capek karena terus bekerja.”

 

“Jangan begitu, Jeong Min oppa. Tidak perlu dipijat.”

 

“Benar, Jeong Min. Soo Ji tidak suka dipegang-pegang.”

 

“Benarkah? Kalau disen—“

 

“Kakak-beradik sama saja. Jangan bilang dipegang-pegang ataupun disentuh-sentuh.”

 

“Enak saja, aku kan tidak seperti Sung Yeol hyung yang seperti choding ini. Aku juga tidak aneh sepertinya!”

 

“Hei, kau adik durhaka!”

 

“Aku keatas dulu ya!”

 

“Tidur yang nyenyak, Soo Ji­-ya!” Sung Yeol berkata ceria.

 

“Selamat tidur juga kalian berdua!”

 

Soo Ji pergi ke kamarnya setelah mengucapkan salam kepada dua bersaudara itu. Ia merasa ada yang aneh, tapi tidak tahu persis apa itu. Pasti ini hanya perasaannya saja. Tidak mungkin ada yang aneh di rumah sempurna ini kan?

-TBC-

Monday, September 29th 2014 – 3:21 pm

Haihai, readers! It’s me! Ini yang nulis gabungan kok, magnaegihyun dan evil_yeol. Well, aku sih nggak banyak bicara, cuma mau minta komennya doang kok. Maaf kalo kelamaan, aku udah kelas tiga soalnya, dan banyak banget tugasnya. Jadi cukup lama bisa updetnya. Dan, informasi buat next chapter, akan aku protect. Jadi buat kalian yang mau passwordnya bisa follow akun twitterku : @sharesherli7 terus mention ke aku dengan id kalian pas komen di ff ini ya. Ntar aku folback dan dm deh passwordnya. Ah ya, aku akan dm kalian kalau kalian sudah komen di setiap chapter. SETIAP CHAPTER ya. Jadi buat siders, nggak akan aku kasih passwordnya. Kalo kalian bener-bener mau passwordnya, komen dulu baru aku kasih passwordnya.

P.S:Jangan panggil aku thor‘, panggil aja namaku yaituSherli’ atau ‘Gihyun’ juga nggak papa. Dan komennya jangan cuma ’lanjut,thor!’ Hargai karya author dengan review kalian. Oke deh kalo mau komen panjang jawab pertanyaanku ini. Menurut kalian, apa hubungan sebenarnya dari Sung Yeol, Myung Soo, Jeong Min dan Sun Young? Nah tebak itu, chapter depan, aku akan bocorin jawabannya kok.

Love,

magnaegihyun

Advertisements

45 thoughts on “The Amazing Cinderella, Chapter 4

  1. Reblogged this on bsuji1994 and commented:
    10.10.14 #Happy21stSuzyBaeDay ♥
        ∧∞∧ eh?
       (・ω・〃)
       ⊂(  ⊃
        ○ーJ…

         OMG
      ∧∞∧≡=-
     (-ω-〃)-=-
      ⊂、⊂ヽ≡=-
       ○ー、_)≡=-

    ∧_∧_∧
    (*・ω・) ω<*)
    /⌒ づ⊂⌒ヽ i missed you~♡
    izin reblog

  2. suzy curiga tuh,moment myungzy nya hampir full,myungsoo dah ada gejala gejala nih,ditunggu kelanjutannya,nt aq minta pwnya yah ?-mutkyu(id lama)- -@mutia24_indah(twitter)

  3. Setelah menunggu sekian lama ^^-
    Aku mau kasih saran aja ya sher (sksd) itu waktu bagian percakapannya biar dijelasin siapa yang ngomong kaya “…”sahut… soalnya kalo 3 orang yg ngomong jadi bingung bacanya
    Keunde neomu daebak!!!!!!

  4. 10.10.14 #Happy21stSuzyBaeDay ♥

    sedih bacanya 。°(ಗдಗ。)°.
    y penting MyungZy dah deket,,,
    myungsoo jual mahal amat
    joha ama ceritanya

    twitternya langsung aku follow

  5. Ksian suzy difitnah yg engga” sama jiyeon ikhhhh jelas jelas yg jahat jiyeon ckckck
    Myungsoo mulai”jatuh cinta”sama suzy cieee wkwk lucu smoga myungsoo coetan sadar klo dia itu suka bukannya benci sama suzy keke benci sama suka beda beda tipis lohh..(?)
    Eh ya mian buat sherli eonni bukannya gk mksd jdi sider cuman baru komen dan baru tau ada wp nya myungzy disini so mian ne^^ cpetan dipost next nya gomawo ne^^

  6. Wawah,jiyeon memutarbalikkn fakta..yoona serakah mw k2ny..perasaan myungsooo da beruabh,kkk,mereka ber4 bkn manusia?,oy,ad typo suzy kan br tinggl bbrp hr bkn setahun..

  7. Untung aja keluarga baru Suzy msh syng sama Suzy walaupun denger gosip itu.
    Ga sbr nunggu part mreka nyulik Suzy k Thailand kkkk
    Oya id lama aku ibaegyu.

  8. Duuuuh, akhirnya di update jga ff ini u,u iri sma cemburu itu bahaya yah, bisa bkin seseorg buat fitnah gitu. Jdi takut yoona bakalan ikut2an jahat kaya jiyeon, apalagi kalo myung semakin memperhatikan dan membela sooji. Pasti yoona bakal cemburu & iri abis. Next ditunggu ya sher, semangat^^ ( biasanya aku manggil thor, jdi agak canggung yh kalo manggil sher hahaha )

  9. Myung kayak nya udah mulai jatuh cinta sama Suzy 🙂 jadi nggak sabar nunggu mereka jadian kk~
    di tunggu part selanjutnya ^_^

    twitter aku rusak n belum buat yg baru, kalo lewat fb boleh nggak?

  10. Marga mereka beda semuanya kan???
    jd direktr lee kenal sm oemmanya suzy..??
    suka semua scene dipart ini,apalg MyungZy di rumah kaca..myung mulai terpesona tu~~~
    ada apa dgn pengang2 dan sentuh2..keke
    lanjutt~~~~?!!!!

  11. omo myung, itu namanya bukan benci tapi suka. cinta myung. adoohh gemna sih myung masa gitu aja ga tau. emang bisa bilang dy suka ama yoona knp klo rasa deg2n aja ga tau.ckckckc myung2 yaampunnn. sherli aku ga ada twiter. klo pw nya di email bisa ngak???
    ditunggu lanjutannya ya
    oia rencananya jeong min ama sung yeol gmna itu? berhasilkah??

  12. myungsoo mulai tanda tanda nih…ehm…ehm…kayaknya next part bakkal seru nih,trip to thailand..moga moment myungzy nya bikin greget…jiyeon munafik,sebel bnget sama jiyeon,gak cukup apa bikin suzy sengsara dulu,bikin gemes aj…and last yoona!!!jangan ampe terpengaruh ama tu gosip…suzy eonni tu aslinya baik…ok^^ next thor!!

  13. Ceritanya makin lama makin keren euy…jadi penasarn sm kelanjutannya..apakah suzy jadi ikut ke thailand?cara apa yg dilakukan pr cwo2 itu agar bs membujuk suzy..omo2 penasaran bgt..
    Suka banget sm karakter suzy disini.. bener2 tegar.. dan g peduli sm omongan orang lain.. selalu semangat dan tersenyum walau kata myung semyum suZy bagaikan tangisan… ciee… pling sebel tokohnya jiyeon.. hny karena sifat irinya dia memfitnah suzy.. omoo mudah2an yoonA ga jd jahat yaa..
    Ditunggu next partnya yaa… gomawo sherli

  14. Sepertinya hubungan mereka bukan saudara kandung. Muung uda mulai suka dgn, tp nlm bisa menerimanya. Crrita bohong jiyon uda kesebar. Sabar suzyah.. tooba aja uda te akan gosip jiyon nggak betobot. Tp knp yoona nggaksuka gt myung bela suzyyy.

  15. Uwah ibu sooji ada hubungannya dengan direktur lee ya…?

    Myungzy moment udah nongol aja next chap ditunggu

    myungzy jjang 😀

  16. Uwah ibu sooji ada hubungannya dengan direktur lee ya…?

    Myungzy moment udah nongol aja next chap ditunggu

    myungzy jjang 😀
    Gi q gag punya twitter hhee(katrok) pwnya lewat email saja ya soalnya twiter q lupa kata sandi tenang q udah komen chap prolog-ini kok
    pwnya dikirin ke sini aja yha kalau boleh sih Wahyunisri6200@gmail.Com

  17. Myung mulai menyukai Suzy.
    Suzy benar2 yeoja yang kuat, walaupun di benci sekalipun dia selalu menghadapinya dengan tenang. Luar biasa…benar2 keren.
    Gomawoyo.

  18. akhirny post jgha…

    myung oppa it bkan benar2 bnci… tp mlai jatuh cinta..

    musnakn aj ji yeon.. knp mlah mefitnah suzy

  19. nyesek paz baca part ini..
    apalagi saat myungzy dirumah kaca,,
    sepertinya ibu suzy pernah kenal ato mungkin membantu direktur lee yach,,
    semakin seru,, joha,,

  20. kasian amat suzy difitnah begitu.. -_-
    yg sabbar yha suzy..
    hayoo myungsoo, udh rada2 mau suka tuh…
    kyk ny, myungsoo itu sepupu ny seong yeol sm Jeong Min dan Sun Young deh…
    ntar aku minta PW ny yha sherli eon, gomawo.. ^_^

  21. Huuuuuffftt leganya, aku kira jeong min, lee sung yeon n myungppa. Bakalan jauhin suzy, karena gosip yang gaje itu ternyata ngak senangnya:):)
    oiiaaa sherli aku mau nanya, kalo aku kan ngak punya twitter. Bisa ngak nanti pwnya dikirim langsung ke email aku??
    Stephanibere@gmail.com
    thanks ya:)

  22. Hmm kayaknya ibu suzy ada hubungan sama direktur lee deh *sok tau kekekke. Untung cucu direktur lee pada selow orangnya dan bisa berpikir positif jadi pada nggak percaya sama gosip murahan itu. Myung nggak sadar yaa udah suka sama suzy kekkee. Ah kenapa yoona berubah ya? Berharap yoona nggak jadi jahat -_- oh ya sherli aku mau minta pass nyaa yaa tapi aku udah gak ada twitter jadi bisa kirim emailkah? faapriliani27@gmail.com makasih sebelumnya ^^

  23. sooji tertariikk ama myung kah??
    tanpa sadar myung juga tertarikk ma sooji..
    si duo sung yeol n jeongmin lucuu hehe..

    hehhh yoonaa kaya manfaatiin myungg

  24. Myung mah gag peka x ya am prasaan dy sndri. Sma saudra yg lain jg akur ny msih kurg gtu.. Yoona jg plink” cma mw mnfaatin myung.. Myung sih lemot.. Ad suzy mnding lgsung d embat drpd d ambil yg lain. Kkk next fighting

  25. Hahaha myung yg slalu membenci suzy skarang jd jatuh cinta. Hmmm jiyeon msih jha cri gara1 buat srita yg gk2 pd uri suzy ckckc
    untung suzy menanggapin org dngan santai n mnerima

  26. Ceritanya makin keren. Dan fiuuuuh, untung aja para tuan muda dan tuan puteri gak terpengaruh sama fitnah Jiyeon. Sooji keren yaa, sampe bisa jantungnya buat si binatang bias berdetak cepat. Nah loh, Yoona bakalan membenci Sooji sepertinya.

  27. aku readers baru lam kenal ya sherli wuuah cerita sangat bagus lanjut sher net part nya boleh ya minta pwnya gomawo

  28. Myungsoo mulai suka Sooji, sampe dua sendiri bingung sama perasaannya… hubungan Sungyeol, Myungsoo, Jeongmin dan Sunyoung itu sepupu kah? tp mereka semua cucu direktur Lee kan? dan kenapa sepertinya Myungsoo benci dengan kakeknya? direktur Lee jg ternyata kenal sama ibu Sooji, apa hubungan mereka? Semakin penasaran… ijin baca next partnya author, gomawo 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s