Is It a Confession?, Oneshoot

 

Title : Is It a Confession? | Author : magnaegihyun | Main Cast : Bae Suzy, Kim Myungsoo | Support Cast(s) : Kwon Sohyun, Choi Jinri, Park Jinyoung | Length : Oneshoot(3.882 words) | Genre : Fluff, Romance, School life | Rating : T | Poster by nunaw

Soo Ji benar-benar tidak mengerti apa isi hati Myung Soo yang selalu dan selalu saja menggodanya. Huh, memangnya Soo Ji pernah berbuat apa padanya hingga ia selalu ketus padanya dan memanggilnya dengan panggilan aneh? Ya, memang terkadang Myung Soo benar-benar baik pada Soo Ji. Namun hal itu membuat Soo Ji benar-benar menjadi aneh. Ya tuhan, apa yang terjadi pada Soo Ji?

 for-magnaegihyun

Disclaimer : This storyline is belong to magnaegihyun. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the pairing? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

***

 

“Baiklah yang ikut lomba peluk balon yang terakhir adalah Soo Ji!”

 

Soo Ji mengerutkan kening mendengar namanya dengan mudah disebut oleh Ji Eun, selaku ketua kelasnya. Soo Ji tampaknya benar-benar harus merutuk dalam hati sekarang, menyadari ia kembali diberi tugas tidak menyenangkan oleh Ji Eun. Huh, iya sih, memang Soo Ji sudah kenal akrab dengan Ji Eun, tapi tidak seperti itu juga kan harusnya? Dasar Lee Ji Eun!, umpat Soo Ji dalam hati.

 

Soo Ji mengacak rambutnya frustasi sambil membuang napas berat. Ia melirik buku di depannya yang masih saja menampakkan tulisan abjad ‘P’ dan ‘R’ yang membuat perutnya jungkir balik tidak karuan. Ya, bukannya ia membenci mengerjakan tugas dari gurunya, hanya saja ini sudah benar-benar keterlaluan baginya. Ia memiliki jadwal penuh di rumah untuk mengurusi proyek menulisnya juga tugas sekolahnya. Ya, ia paham bahwa tugas sekolahnya harus menjadi nomor satu seperti nasehat ibunya yang selalu diulang-ulangi tiap ia memegang remote televisi untuk sekedar menonton drama favoritnya.

 

“Jadi, kau bersama kembaranmu?”

 

Soo Ji menoleh mendengar gumaman orang yang duduk di sebelahnya itu. Ya, itu adalah teman sebangku Soo Ji, Kwon So Hyun. So Hyun adalah contoh gadis yang fisiknya sangat diinginkan Soo Ji sejak dulu. So Hyun masuk tipe gadis kurus dengan perawakan mungil mirip ibunya yang menjadi salah satu guru di sekolahnya ini. Sedangkan Soo Ji adalah tipe gadis bongsor yang memiliki tinggi lebih daripada guru-guru wanita di sekolahnya.

 

“Ya, begitulah. Apa kata Ji Eun tadi? Aku dengan Jin Ri, Jin Young dan Jae Hwan? Hah, apa yakin Jae Hwan diperbolehkan oleh Hye Ri?” Soo Ji menjawab sambil mengangkat bahu.

 

“Entahlah. Tapi jika tidak diperbolehkan, lalu siapa satunya? Bukankah kau dan Jin Ri kembar identik, begitupun dengan Jin Young dan Jae Hwan yang tingginya tidak beda jauh, itu sangat sayang jika satu saja tidak ikut.”

 

So Hyun menjelaskan panjang lebar dengan semangat menggebu. Ya, ya, mungkin ini lah alasan anak-anak memilih Soo Ji mengikuti ini. Ia cukup sadar kok jika ia dan Jin Ri memiliki tubuh yang bongsor dan tinggi sama. Sehingga mereka sering dipanggil kembar dari postur dan gerak tubuh itu. Mungkin dikira lomba ini harus dibawa oleh pasangan orang kembar lain menurut Ji Eun.

 

“Ah tunggu, aku tahu siapa yang bisa menggantikan Jae Hwan jika tidak diperbolehkan!”

 

So Hyun berseru antusias seolah-oleh apa yang dikatakannya itu untuk hidup dan mati kelasnya itu. Soo Ji pun mengangguk-angguk sok penasaran. Ya, paling tidak ia tidak menghilangkan senyum dari wajah So Hyun kan. Soo Ji pun kembali melanjutkan kegiatannya membalas pesan sepupunya sambil merespon ucapan So Hyun.

 

“Oh ya? Siapa?”

 

“Kim Myung Soo. Dia adalah pasangan yang cocok untukmu.”

 

Soo Ji berhenti menggerakkan kegiatan jarinya dan melirik ke arah So Hyun dengan tatapan tak sukanya. Bagaimana tidak? Ia benar-benar tidak habis pikir, mengapa So Hyun terus menggodanya dengan Myung Soo padahal ia tidak pernah sok dekat dengan lelaki itu. Ah ya, ya, ya, tahun lalu ia dan So Hyun selalu duduk berdekatan dengannya dan ia selalu berbicara pada Soo Ji sedangkan teman sebangkunya, Il Hoon juga selalu berbicara pada So Hyun. Lalu, apa kini So Hyun balas dendam karena sebelumnya Soo Ji menggodanya bersama Il Hoon? Ya ampun, itu benar-benar tidak masuk akal.

 

“Kenapa? Itu benar, kan?”

 

“Hmm, bukannya itu kau yang selalu sekelompok dengannya? Lagipula dia bukan pasangan yang cocok bagiku, tapi bagi Jin Young.” Soo Ji membalas ketus.

 

“Jangan berisik, KissBae!”

 

Soo Ji dan So Hyun refleks menoleh pada siapa yang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka itu. Soo Ji mendengus menyadari siapa itu. Huh, siapa lagi? Memangnya siapa lagi yang memanggilnya KissBae seolah menyatakan Kiss Bye. Tentu saja, lelaki berambut hitam yang tampak seperti marmut sekarang bagi Soo Ji. Rambutnya terpangkas rapi sih dan juga lebih pantas untuknya dibanding rambut poninya semester lalu. Huh, kenapa Soo Ji jadi memujinya sih?

 

“Apa? Jangan ikut-ikut pembicaraanku!” Soo Ji memasang ekspresi cemberut yang lucu.

 

“Ya ampun, aku tidak ikut-ikut kok. Aku hanya ingin berbicara mengenai tugas biologi dengan So Hyun,” Lelaki itu tertawa geli.

 

“Well, kurasa kini siapa ya yang cocok terus-terusan?” Soo Ji berkata pendek kemudian bangkit dari tempat duduknya.

*

Soo Ji menopang dagunya sambil mengangguk-anggukan kepalanya seolah ia memahami apa yang dijelaskan gurunya di depan kelas itu. Well, jujur ia tidak terlalu mengerti bagaimana bisa perut keempat dari suatu gelombang n-nya menjadi tiga. Ya, beruntung, Hye Lim, si peringkat satu itu bertanya bagaimana asalnya kepada Ji sonsaengnim yang mengenakan kacamata tebalnya itu. Fisika bukanlah salah satu pelajaran favorit Soo Ji sejujurnya.

 

Beruntung, guru-guru fisika di sekolahnya bukan termasuk guru killer, well itu sih jika dibandingkan guru-guru matematika, mereka benar-benar tidak ada apa-apanya. Oke-oke, kecuali seorang guru wanitanya sih yang tidak pernah mengajar kelas Soo Ji. Itu benar-benar suatu keberuntungan karena jujur Soo Ji rasa fisika adalah pelajaran yang benar-benar sulit. Selama hampir tiga tahun, ia hanya menyukai penjelasan gurunya di kelas satu. Sedangkan di kelas dua dan kelas tiga, ia selalu mengernyit ketika ada soal yang menyimpang dari rumus biasa.

 

Soo Ji melirik So Hyun yang tampak lebih frustasi daripadanya. Ya, So Hyun adalah tipe orang yang menerima pelajaran jika dijelaskan berkali-kali dan perlahan. Sering sekali, setelah dijelaskan oleh guru, Soo Ji harus menjelaskan lagi pada So Hyun. So Hyun mengangkat bahu dengan raut memelas membuat Soo Ji tersenyum geli. Soo Ji pun menoleh kembali ke papan dan mencoba lebih fokus pada penjelasan guru itu.

 

Soo Ji melirik dua bangku di sebelah bangkunya mendengar suara barang yang jatuh. Ia dapat melihat Il Hoon, teman sebangku Myung Soo sedang tertawa kemudian menjatuhkan bukunya. Soo Ji pun hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan kegiatan menulisnya.

 

Oke, baiklah, Soo Ji sadar, ia menangkap sesuatu hal yang aneh sekarang. Ah, bagaimana ini?, Soo Ji membatin sambil menggerakkan giginya gelisah. Ia mencoba mengerjapkan matanya melupakan apa yang dipikirkannya itu. Meski itu benar-benar mustahil. Soo Ji pun hanya menggigit bibirnya kali ini. Ia benar-benar harus mengabaikan pandangan Myung Soo padanya itu. Tapi ia sadar itu benar-benar aneh karena Myung Soo terlihat sudah memandangnya sejak tadi. Lalu, lalu, memangnya kenapa jika Myung Soo memandangnya? Itu bukan hal buruk bukan? Ya tuhan, hapus prasangka yang terlalu percaya diri ini!

 

Soo Ji dapat melihat kini Myung Soo terlihat seperti orang yang sedang tertangkap basah saat Soo Ji kembali meliriknya. Iapun terlihat sedang mengerjapkan matanya lalu berdeham sebentar dan kemudian berbalik pada Il Hoon mengajaknya bicara. Tanpa sadar, Soo Ji mengulum senyum kemudian mengambil botol air minumnya dan meneguknya. Ya tuhan, kenapa Myung Soo benar-benar menggemaskan.

 

Tunggu, menggemaskan? Ya ampun, kenapa semakin hari Soo Ji semakin korslet saja otaknya? Auw, Soo Ji mengaduh dalam hati sambil mengelus perutnya. Ia melirik So Hyun sebal yang telah menyodok perutnya. Namun So Hyun tidak mempedulikan lirikan sebal Soo Ji dan malah menulis sesuatu di bukunya. Kemudian So Hyun menyodorkan bukunya ke arah Soo Ji saat Soo Ji memberikan tanda warna pada buku catatannya.

 

Kau tersenyum kenapa?

 

Soo Ji pun menghapus tulisan So Hyun itu kemudian membalasnya dengan menulis jawabannya disitu juga. Ia menambahkan emoticon dalam rangka membuat marah So Hyun. Ia tersenyum sebentar kemudian menyerahkannya pada So Hyun. Ya, tak lama kemudian, So Hyun memukul bahunya keras.

 

Tertawa melihat Il Hoon sedang memandangmu dengan tatapan penuh cinta~ xD

*

Soo Ji melemaskan otot bahunya kemudian menggandeng Jin Ri dengan senyumnya. Ia berjalan dengan ceria melewati koridor sepi kelas tiga yang jelas menunjukkan bahwa tidak ada seorangpun yang ada di luar kelas. Hari ini, ia ijin tidak mengikuti pelajaran untuk lomba peluk balon yang sangat ia tidak mengerti bagaimana lombanya.

 

Ia kini bahkan sudah memakai seragam olahraga lengkap bersama Jin Ri, beda dengan kedua lelaki yang berjalan malas di belakang mereka. Mereka berdua ternyata berniat mengikuti lomba dengan seragamnya itu. Lagipula keduanya juga mengaku tidak membawa seragam olahraga.

 

Well, ada beberapa hal yang harus disyukuri Soo Ji hari ini. Ya meskipun itu dibalik penderitaan yang ia alami juga sih. Yang pertama, ia harus bersyukur bahwa Jin Ri-lah yang mengikuti lomba dengannya, bukanlah So Hyun yang sejak tadi menggodanya. Yang kedua, ia juga harus bersyukur bahwa ia tidak sia-sia membawa seragam olahraga untuk lomba karena Myung Soo mau menggantikan Jae Hwan yang tidak dibolehkan Hye Ri ikut lomba. Well, hal inilah yang membuat So Hyun menggodanya sejak tadi. Yang ketiga, setidaknya kelasnya tidak diperbolehkan menonton oleh guru jadwal pelajarannya sehingga paling tidak So Hyun tidak dapat menggodanya.

 

Ia dan Jin Ri melihat Jin Young dan Myung Soo duduk-duduk santai di sebelah koridor toilet wanita tampak sedang menunggu. Soo Ji mengernyit, apa mungkin dua lelaki ini menunggunya dan Jin Ri. Sungguh hal aneh yang jarang terjadi.

 

“Kenapa kalian masih disini? Ayo ke lapangan, kurasa kita dapat melihat dan membagi tugas saat lomba jika tahu bagaimana lombanya.”

 

Soo Ji mengangguk menyetujui usul Jin Ri. Ia dan Jin Ri kemudian berjalan ke lapangan diikuti kedua lelaki itu. Beruntung jarak tempat tadi sangatlah tidak jauh dari lapangan sehingga mereka tidak butuh waktu lama untuk sampai di lapangan. Jelas sekali, suasana lapangan benar-benar ramai saat itu. Ia dapat melihat ada beberapa anak yang menjadi pendukung kelas masing-masing. Soo Ji jelas cukup terbelalak melihat mekanisme lomba itu hingga ia hampir menganga lebar.

 

Oke, oke, mungkin reaksi Soo Ji lah yang paling berlebihan. Keempat orang yang mewakili kelas masing-masing itu tampaknya benar-benar harus ikut berandil di lomba itu. Pertama, perempuan satu harus berebut mengambil balon yang belum ditiup dan mengisinya dengan air. Kemudian lelaki satu meniup balon itu dan diukur ke panitia untuk disesuaikan dengan ukuran standarnya. Kemudian perempuan dua dan lelaki dua membawa balon itu memutari dua botol itu tiga kali dan siapa yang tercepatlah yang menang.

 

Hal yang membuat Soo Ji menganga lebih tepatnya lah, kekasaran masing-masing saat mengambil balon yang belum ditiup itu. Ia benar-benar harus menyingkirkan yang lain dengan menggunakan kekuatan tubuhnya. Itu mungkin dapat menjadi suatu pelanggaran, tapi tampaknya itulah yang dicari. Soo Ji rasa dirinya tak akan mudah menang dalam hal seperti itu. Untuk alasannya, Soo Ji jujur akan lebih mudah terpancing emosi dan Soo Ji juga kurang pintar menyikapi saat berdesakan seperti itu.

 

 

“KissBae, ayo cepat kesini. Kita harus berunding dulu.”

 

Soo Ji mencibir mendengar Myung Soo masih saja memanggilnya dengan nama memalukan itu. Ya ampun, namanya kan Bae Soo Ji bukannya KissBae. Soo Ji pun berjalan mendekati Myung Soo, Jin Ri dan Jin Young yang sudah berkerumun di pojok lapangan.

 

“Untuk yang berdesakan, biar aku saja! Kurasa Soo Ji akan lebih mudah emosi dan memilih mengalah dan mengambil balon terakhir saja,” Jin Ri angkat bicara pertama kali mengerti sekali apa yang ada di pikiran Soo Ji.

 

“Oke, berarti Jin Young yang meniup balon ya. Aku tidak bisa mengatur napas dengan benar saat meniup.”

 

Soo Ji menolehkan kepalanya dengan kaku ke arah Myung Soo. Apa katanya? Jin Young yang meniup? Berarti yang membawa balon, dirinya dan Myung Soo? APA? Soo Ji membelalakkan matanya kesal. Apa-apaan lelaki ini? Dasar seenaknya saja.

 

Jin Young tersenyum menggoda,”Jadi kau ingin bermesra-mesraan membawa balon dengan Soo Ji ya?”

 

Soo Ji dapat melihat Jin Young kini benar-benar tertawa puas bisa menggoda Myung Soo bahkan Jin Ri juga ikut tertawa melirik Soo Ji dan Myung Soo. Soo Ji memasang wajah malas dan kesalnya sambil memberikan tatapan mematikan pada Jin Young. Ekspresi Soo Ji dan Myung Soo benar-benar kontras perbedaannya. Myung Soo tampaknya malah tidak kesal pada Jin Young sedikitpun. Ia hanya memasang wajah polosnya seolah tidak mengerti apapun. Namun beberapa detik kemudian, wajah polos itu berubah dengan senyum menggoda.

 

“Oh tentu saja. KissBae hanya boleh bermesra-mesraan denganku lah.”

 

Deg

 

Soo Ji membelalakkan matanya kemudian segera memasang raut kesalnya,”Huh, memangnya kau siapaku? Dasar maniak!”

 

 

Soo Ji menghela nafas sambil mulai fokus pada tugasnya. Ia dapat melirik kini semuanya sudah bersiap. Ia dan Myung Soo harus menunggu di garis start menunggu Jin Ri yang bersiap berdesakan mengambil balon juga Jin Young yang mulai mengatur nafasnya agar dapat meniup balon dengan cepat. Ia juga dapat mendengar suara teman-teman sekelasnya yang bersorak menyemangati mereka. Ia juga dapat melihat jelas ekspresi Sohyun yang begitu senang karena dapat menggodanya.

 

Priiit

 

Terdengar suara peluit ditiup menandakan bahwa lomba ini sudah dimulai. Soo Ji memandang ngeri melihat Jin Ri yang berdesak-desakan dengan junior yang tampaknya tidak mau mengalah. Jin Ri malah tidak mempedulikan itu dan terus mendesak junior-junior itu. Hingga akhirnya lima menit kemudian, Jin Ri keluar dari desakan itu dengan salah seorang junior dengan keduanya membawa balon yang belum ditiup.

 

Keduanya pun berlari cepat menuju keran air dan mengisi balon itu dengan air. Jin Ri yang sudah selesai mengisi itu segera berlari menghampiri Jin Young. Jin Ri menyemangati Jin Young meniup balon itu di sebelahnya. Jin Young terlihat berusaha keras meniup balon itu hingga melambung. Jin Young yang sudah kehabisan nafas pun menyerahkannya ke panitia lomba untuk mengecek ukuran balonnya. Bersamaan dengan itu teman sekelas junior yang tadi berdesakan juga ikut menyerahkannya.

 

Beruntung, ukuran balon itu sudah sesuai, sehingga balon itu langsung Jin Young berikan pada Soo Ji dan Myung Soo. Soo Ji bingung bagaimana ia bisa membawa balon ini dengan cepat dan tidak jatuh. Myung Soo pun menempelkan balon itu di wajahnya kini menarik tangan Soo Ji agar mengikuti. Soo Ji pun menurut segera mendekat. Soo Ji menempelkan wajahnya di permukaan balon itu dengan canggung.

 

Soo Ji terkesiap saat merasakan Myung Soo memeluk lehernya untuk mendekat. Soo Ji diam tak tahu harus berbuat apa hingga Myung Soo berseru.

 

“Cepat peluk aku, kita akan kalah jika begini!”

 

Soo Ji pun menurut dan mulai berjalan miring layaknya kepiting. Jujur, ia benar-benar tersipu. Ia rasa dalam tahap memeluk seseorang yang bukan siapa-siapa, ini sudah berlebihan. Lalu sekarang apa? Ia menurut saja dengan apa yang dikatakan Myung Soo. Ia dapat melihat wajah Myung Soo dengan jelas di depannya. Oke, harus ia akui lelaki ini cukup bisa disebut tampan. Tetapi jarak ini terlalu dekat. Soo Ji tak pernah berada sedekat ini dengan seseorang yang bukan siapa-siapa ini.

 

Tapi ini sungguh aneh. Tubuh Soo Ji malah ikut-ikutan bersikap aneh. Jantungnya berdetak tak karuan tidak sesuai ritmik normalnya. Bahkan ia juga dapat merasakan peredaran darahnya mengalir deras menuju pipinya. Ya ampun, ini benar-benar memalukan, batin Soo Ji kesal. Apalagi dalam keadaan seperti ini ekspresinya dapat dilihat jelas oleh Myung Soo. Bahkan mungkin sejak tadi Myung Soo hanya bisa melihatnya dalam keadaan seperti ini.

 

Priiit

 

Terdengar peluit menyadarkan Soo Ji. Soo Ji pun refleks menjauh dan melihat posisinya saat ini. Entahlah, mereka menang atau tidak, tapi jujur Soo Ji tak mau melakukan hal ini lagi dengan Myung Soo. Jin Young dan Jin Ri kini mendekati mereka berdua sambil menunggu keputusan panitia. Karena ia dan teman sekelas junior tadi yang berdesakan dengan Jin Ri sama-sama melewati garis finish. Kemudian junior tadi langsung bersorak mendengar keputusan panitia bahwa merekalah yang menang menyadarkan Soo Ji bahwa mereka benar-benar kalah hanya dengan satu kaki.

 

Soo Ji merengut,”Maaf, aku tidak bisa cepat.”

 

“Tak apa, Soo Ji-ya. Lagipula panitianya bodoh apa. Mereka kan memecahkan balon tepat di garis finish lalu kenapa mereka bisa menang?” Jin Young mengumpat kesal.

 

“Sudahlah. Tapi beruntung kita tidak menang, jika menang kurasa aku tak mau berdesak-desakan lagi.”

 

Jin Young mengangguk-angguk menurut lalu merangkul Jin Ri yang berada di sebelahnya untuk menghampiri teman-teman sekelas mereka yang ikut menonton. Keduanya tampak lebih akrab setelah lomba ini sangat berbeda dengan Soo Ji dan Myung Soo yang sama-sama canggung. Soo Ji berjalan di belakang ketiganya sambil menjaga jarak dengan Myung Soo. Ia rasa mungkin beberapa hari ini a tidak akan mampu menatap wajah Myung Soo lebih dari sedetik.

 

“Wuah, sayang sekali ya. Padahal tadi kalian semua luar biasa!”

 

Ji Eun sebagai ketua kelas menyemangati keempatnya yang rela mengikuti lomba ini. Inilah yang Soo Ji sukai dari ketua kelasnya itu. Ia baik dan peduli terhadap orang lain. Soo Ji menghela nafas berat sambil mendekati So Hyun yang tampak puas karena alasan tertentu ia bisa menggoda Soo Ji seminggu ini. Soo Ji hanya menunduk dan tidak memedulikan ekspresi teman sebangkunya.

 

So Hyun menggandeng Soo Ji merasa ada perubahan pada temannya itu. Ia bertanya-tanya dalam hati apa Soo Ji tidak enak badan hingga ia diam saja seperti ini. Soo Ji tidak bicara sepatah katapun dalam perjalanan dari lapangan sekolahnya hingga kelas mereka. Ini tentu hal yang aneh, karena yang ia tahu Soo Ji juga termasuk gadis cerewet jika bersamanya.

 

“Wah, kau senang ya bisa melakukan skinship dengan Soo Ji di lomba tadi. Kau tidak mau Jin Young-ah?” Jae Hwan menggoda Myung Soo dan Jin Young tanpa sengaja terdengar oleh So Hyun.

 

Jin Young mendengus,”Itu sih memang kemauan Myung Soo. Aku terlambat memintanya tadi—“

 

“Kau ingin memeluk Jin Ri kan? Setelah lomba saja kau merangkulnya!” Myung Soo memotong jawaban Jin Young.

 

YA!!!”

 

“Well, tapi aku benar-benar senang kok tadi.”

 

Terdengar jawaban pendek Myung Soo membuat teman-temannya tertawa. So Hyun pun mulai menyikut Soo Ji dan memanggil namanya dengan suara pelan. So Hyun benar-benar penasaran apa yang terjadi pada Soo Ji. Apa ia marah karena harus berpelukan dengan Myung Soo tadi? Ah, tapi Soo Ji bukan orang yang sedangkal itu. Ah, apa ia marah karena tidak berhasil menang tadi? Tidak, tidak, ia malahan pasti lebih memilih kalah dibanding harus ikut lagi.

 

Soo Ji tiba-tiba berkata pelan,”So Hyun-ah—kurasa aku menyukai Myung Soo.”

 

*

 

Soo Ji membuang nafas malas memandang pemandangan di depannya yang membosankan. Teman-teman sekelasnya mengajak menonton pertandingan klub sepak bola sekolahnya di lapangan. Jujur, menonton sepak bola bukanlah hobi Soo Ji, apalagi ia tidak terlalu mengerti sepak bola. Ia kini harus terdampar di lapangan berdesakan di samping So Hyun.

 

Soo Ji menoleh ke kiri mendapati Myung Soo berdiri dengan Il Hoon dan Na Eun tak jauh di sebelahnya. Iapun segera mengalihkan pandangannya mencoba tidak bertemu pandang dengan Myung Soo. Sudah seminggu ini ia tidak mau beradu pandang dengan lelaki itu semenjak lomba minggu lalu. Ia benar-benar mati kutu dan apalagi setelah ia bercerita pada So Hyun, So Hyun malah menyemangatinya untuk menyatakan pada Myung Soo. Huh, mana mungkin Myung Soo menyukainya, lagi pula perasaannya pada Myung Soo pasti hilang dalam sekejap mata.

 

“Myung Soo-ya, apa benar kau berpelukan di lomba itu tanpa dasar apa-apa? Bukankah kau orang yang tidak suka disentuh?”

 

Tanpa sengaja, Soo Ji mendengar ucapan Il Hoon. Ya tuhan, tidak! Soo Ji tidak ingin medengarnya. Huh, kenapa sih, teman-teman sekelasnya masih mempermasalahkan itu. Itu bukan hal yang besar kan? Soo Ji pun mulai memfokuskan diri menonton pertandingan itu. Namun beberapa detik kemudian, ia menyerah dan memasang telinganya untuk mendengarkan balasan lelaki itu.

 

“Aku—“

 

“Kurasa kau akan berkata itu tanpa dasar apapun kan. Rasanya, kau bukan orang yang mudah move on dari gadis yang kau ceritakan dulu. Sayang sekali ya gadis itu tidak menyadari perasaanmu, padahal sudah dua tahun,” Na Eun memotong perkataan Myung Soo membuat Soo Ji semakin mencelos mendengar perkataan itu.

 

“Na Eun-ah!”

 

“Oh, Jong In. Aku duluan ya!”

 

Dapat Soo Ji dengar derap langkah Na Eun menjauhi tempatnya berdiri. Mungkin gadis itu benar-benar menghampiri kekasihnya, Jong In yang berbeda kelas dengannya. Jujur, hati Soo Ji agak aneh sekarang. Soo Ji tidak sedang cemburu kan? Yang jelas, ia tidak cemburu pada Na Eun yang memang teman satu kursus Myung Soo dan dekat dengannya sejak dulu meski ia memiliki Jong In. Tapi ini berita baru lagi, bahwa Myung Soo menyukai seorang gadis dan tentu itu bukan dirinya.

 

“Huh, Son Na Eun selalu tidak berubah ya ketika Jong In memanggilnya sekali saja, ia akan langsung menghampiri Jong In. Tunggu, kau benar-benar belum melupakan gadis itu? Gadis yang masih tidak kuketahui namanya itu?” Terdengar suara Il Hoon yang merutuk lagi.

 

“Sudahlah. Jangan iri pada Jong In, lagipula ia kan kekasih Na Eun. Lebih baik sekarang kau cari kekasih saja sana!”

 

Soo Ji diam saja mendengar balasan Myung Soo itu. Ia berjalan mundur dan berjongkok menjauhi keramaian. Ia kini menunduk mencoba melupakan apa yang membuat hatinya merasa tidak enak. Ayolah Bae Soo Ji, jangan mempunyai perasaan lebih pada Myung Soo. Lagipula bukankah Soo Ji tidak suka Myung Soo yang selalu mengejeknya itu kan.

 

“Yo, KissBae. Kau tidak apa-apa?”

 

Terdengar suara dan panggilan familiar di telinga Soo Ji. Ia rasa ia tahu siapa ini. Duh, padahal ia sedang menghindari lelaki ini, tapi sekarang malah lelaki ini menghampirinya. Soo Ji pun mendongak dan berdiri. Ia memasang wajah ‘aku tidak apa-apa’ dengan percaya diri.

 

“Aku tidak apa-apa.”

 

“Syukurlah. Ah, apa kau sudah mengisi lembar jurusan untuk di universitas?”

 

Kenapa harus ‘syukurlah’? Memangnya Myung Soo harus bersyukur jika Soo Ji tidak apa-apa. Aduh, ada apa sih dengan dirinya hari ini?, Soo Ji membatin kesal. Ia benar-benar bertingkah aneh dan menjijikkan hari ini.

 

“Tentu saja. Kau mau masuk jurusan apa?” Soo Ji menjawab dengan balasan yang terlalu sok akrab.

 

“Hukum, bagaimana denganmu?”

 

“Ah, kurasa kau harus lebih cerewet jika menjadi jaksa atau pengacara, jika kau pendiam, itu tidak akan cocok. Aku akan mengambil manajemen.”

 

“Well, kau akan meneruskan ayahmu kalau begitu.”

 

“Begitulah.”

 

Soo Ji menjawab singkat merasa dirinya diperhatikan. Ya benar, dugaan Soo Ji tepat sekali bahwa teman-teman sekelasnya sedang memperhatikan mereka berdua dengan tatapan ‘ah, jadi mereka benar-benar berkencan’. Pandangan itu benar-benar ingin ia lenyapkan. Huh, buktinya ia tidak berkencan. Apalagi ekspresi menggoda So Hyun dan Jae Hwan lah yang paling mengganggunya.

 

“Sudahlah, jangan dipedulikan. Lagipula kita tidak mungkin berkencan, kan?”

 

Soo Ji terdiam mendengar jawaban Myung Soo yang seperti itu. Jadi ia dan Myung Soo tidak mungkin berkencan ya? Well, ia tahu Myung Soo sejak sekelas dengan lelaki ini, lelaki ini adalah orang yang jujur dan tidak suka bertele-tele. Oke, ia paham dan mengerti kok, batin Soo Ji.

 

“Ah, begitu ya. Aku pergi dulu ya!”

 

“Tu—tunggu!”

 

Soo Ji yang memilih berbalik lebih baik menghampiri Min Ah, salah satu teman masa kecilnya yang berbeda kelas dengannya namun ditahan oleh Myung Soo. Jujur, ada detakan jantung yang sedikit tidak normal bagi Soo Ji saat Myung Soo menahan tangannya seperti sekarang. Tapi tidak, detakan jantung itu sudah tidak berguna. Myung Soo tak akan menyukainya. Jangan berharap banyak Bae Soo Ji!

 

“Apa?”

 

“Maaf aku berbicara tanpa dipikir terlebih dahulu—“

 

“Bicara apa? Kurasa tidak ada yang perlu dimaafkan.”

 

Soo Ji memilih memotong pembicaraan lelaki itu. Ia tidak mau semakin jatuh dan semakin menyukai lelaki ini jika ia harus terlibat pembicaraan yang lebih lama dengannya. Soo Ji tidak boleh berharap. Kenyataannya lelaki ini menyukai gadis lain, dan tidak akan mungkin menyukainya.

 

“Ta—tapi—“
“Lepaskan tanganku! Kita tidak mungkin berkencan, kan? Jadi jangan timbulkan kesalahpahaman bagi orang lain dan bagiku.”

 

Soo Ji melepaskan pegangan tangan Myung Soo dan berbalik berjalan menjauhinya. Tidak, ini pilihan yang benar. Ia lebih baik memperjelas kesalahpahaman baginya itu daripada terus menyimpan perasaan tak berarti bagi Myung Soo. Lelaki itu tidak akan menyukainya kan? Bagi Soo Ji, ini bukan pertama kalinya ia menyukai seseorang dan ia juga tidak akan terlalu larut dalam perasaannya juga kan jika ia tidak disukai oleh orang itu.

 

 

 

“Lepaskan tanganku! Kita tidak mungkin berkencan, kan? Jadi jangan timbulkan kesalahpahaman bagi orang lain dan bagiku.”

 

Myung Soo terdiam membeku di tempatnya mendengar jawaban gadis itu. Ia memandang punggung gadis itu yang semakin berjalan menjauh darinya dengan pandangan kosong. Jadi, gadis itu salah paham atas perlakuannya? Bodoh, Kim Myung Soo bodoh! Tidak seharusnya, ia berkata hal mengenai kencan tadi. Harusnya, ia lebih peka bahwa siapa saja yang mendengar hal itu pasti merasa bahwa Myung Soo memang tidak akan mau berkencan dengannya. Padahal hal itu salah! Tanpa gadis itu ketahui, Myung Soo menyimpan perasaan padanya dua tahun ini. Gadis yang tidak bisa ia lupakan, gadis yang tidak pernah sadar perasaannya, gadis yang kembali membuat jantungnya berdetak hanyalah gadis itu seorang. Seorang Bae Soo Ji.

***

Tuesday, December 9th 2014 – 12.57 pm

Haihai, readers! Maaf sekali aku nggak muncul sama sekali bulan november kemarin. Aku bener-bener sibuk tugas dan uas. Ini aja aku nyempetin nulis di sela-sela uas. Nah, ini salah satu oneshoot selingan ya. Aku tahu ini nggak sebagus dan sefluff yang kalian pikir saat baca endingnya. Maaf, ini mood—ah bukan sih. Gimana ya? Gini, ide ff ini adalah aku sendiri saat ini yang well ada yang jadi Myung Soo buatku tapi nggak sefrontal ini ya. Memang ada lomba peluk balon di pengalamanku dan dengan ‘dia’ juga tapi nggak semirip itu kok. *curcol* nah, tapi banyak bumbu-bumbu imajinasi yang kukasih kok. Sebenarnya rencana awalku yang harusnya bikin happy ending, tapi karena moodku lagi turun jadinya endingnya gini ya. Well, hope you like it. Give me your appreciation, GIVE ME YOUR FEEDBACK>>>

Full of love,

magnaegihyun

Advertisements

35 thoughts on “Is It a Confession?, Oneshoot

  1. Ending.a gantung thor dibilang happy ending bukan ,sad ending jga bukan .need sequel thor sayang banget ffx bagus tpi ending.a gak jelas kaya gini.

    jadi sebenar.a zyeonn itu adalah yeoja yg dibicarakan ilhoon myungpa sma naeun bukan?
    Kalo iya kenapa myungpa gk jujur jj trus gk minta zyeonn untuk jadi yeojachingu.a ,

  2. Endnya memang gantung nih author, kenapa ga sampe Myungzy jadian? kan sebenernya mereka saling suka, tapi ada salah paham. Kalo bisa bikin sequelnya ya, dan ditunggu ff yang lain, thanks^^

  3. hai hai reader baru here 😀 baru nemu pas lagi search google^^
    atuh kenapa gantung thor?-..- kirain bakalan happy ending. Sequel juseyo kasian perasaan mereka belum terjawab kekekek^^v
    author jjang! myungzy jjang!

  4. Need sequel thor,,
    Ngegantung dan gk relaaa….
    Myungsoo kok malah gt??
    Dya suka Suzy apa gk sih??
    Ditunggu ff laennya ne,,
    Hwaiting…
    Myungzy jjaanngg…. Author jjaanngg…

  5. Myung udah suka sama suzy selama 2 tahun dan suzy juga udah sadar sama perasaannya? Kenapa nggak jadian aja. Iikh myung ngomongnya nggak dijaga -_- tapi rada rada seneng sih disini naeun bukan suzy kekkeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s