A marriage, Chapter 5B

Title : A marriage

Author : magnaegihyun

Main Cast : Jung Soojung, Choi Minho

Support Cast(s) : Choi Jinri, Lee Taemin, etc

Genre : Romance, Family, Married life, Friendship.

Rating : PG-17

Poster by Author

Jung Soojung dan Choi Minho adalah dua orang yang sama. Mereka benci kata pernikahan yang membuat orang yang mereka sayangi benar-benar terluka. Mereka seperti dua makhluk yang hidup tanpa rasa cinta. Mereka bertemu untuk menjalankan sebuah pernikahan tanpa dasar cinta dan tanpa perjodohan. Dua orang yang tidak mengenal satu sama lain menjalani hubungan pernikahan yang tanpa mereka sadari mengubah diri mereka…

 poster marriage photoshop

Ost : Knock Knock by Nasty Nasty(ZE:A’s Kevin, Nine Muses’ Kyungri, Sojin) | Disclaimer : This storyline is belong to magnaegihyun. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the pairing? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

karena beberapa masalah, saya tidak jadi memprotect. misalnya karena paketan internet saya habis 😀

***

 

 

Soojung membeku saat memasuki kamar tunangan—ah bukan, suaminya. Kini, ia berada di rumah keluarga suaminya setelah pernikahan tadi. Ia bingung harus melakukan apa kali ini. Ini bukanlah dirinya, yang biasanya bisa menempatkan dirinya dengan benar. Ia yang biasanya dingin dan tak peduli pada keadaan atau penampilannya tapi sekarang jujur di dalam hatinya kini dihinggapi banyak pikiran mengenai penampilannya. Jujur, meski ia seorang desainer, ia tak harus mengenakan baju bagus dan terbaik setiap hari kan. Nah, tapi keinginannya malam ini benar-benar memuakkan. Mengapa ia ingin tampil terbaik di hadapan Minho?

 

 

Soojung menoleh mendengar suara pelan pintu dibuka. Soojung menatap intens lelaki yang masuk dengan membawa koper Soojung itu. Soojung segera membuang muka melihat lelaki itu sadar bahwa ia dipandangi Soojung. Huh, lelaki itu pasti percaya diri saat ini.

 

 

“Hmm, Soojungie… Kau ingin mandi dulu atau membongkar koper?” Minho, lelaki yang membawa koper itu kini bertanya ramah pada Soojung.

 

 

“Koper… Kurasa aku akan membongkarnya dulu.”

 

 

“Baiklah, kalau begitu aku mandi dulu. Ah ya, lemari hitam itu milikmu.”

 

 

“Terima kasih.”

 

 

Soojung menjawab dengan canggung. Iapun melewati Minho yang berdiri diam untuk menutup pintu dan mengambil kopernya. Minho yang sepertinya menyadari kegugupan istri sahnya ini pun hanya tersenyum singkat kemudian masuk ke kamar mandi dengan membawa handuk. Ia melirik sebentar pada Soojung yang kini berjongkok sibuk membuka kopernya di depan lemari.

 

 

Soojung bersyukur dalam hati mendengar pintu kamar mandi itu sudah ditutup. Mungkin selama beberapa menit ia bisa sedikit santai dan tidak gugup. Jujur, sejak tadi Soojung sedang mencoba menenangkan kegugupannya dengan sok sibuk membongkar isi kopernya. Ia benar-benar tak paham dengan dirinya sekarang yang gugup entah kenapa.

 

 

Soojung pun mulai fokus membongkar kopernya. Ia menaruh beberapa bajunya yang udah ia lipat dan tata secara rapi di kopernya itu di lemari. Ia mengurutkan dan menata itu secara rapi juga. Tentu hal ini biasa bukan bagi Soojung yang seorang desainer pakaian. Ia tentu harus mengerti hal itu dengan baik pula kan. Ia menikmati kegiatannya menata pakaiannya itu sambil bersenandung pelan. Setelah beberapa menit, Soojung tersenyum puas melihat bajunya kini sudah tertata rapi di lemari itu.

 

 

Iapun ingat bahwa setelah ini ia harus mandi dan berganti pakaian dari gaunnya ini. Iapun mengambil handuk dan salah satu piyamanya yang berlengan pendek. Ia sempat sedikit ragu mengambil piyamanya itu mengingat obrolannya dengan ibunya dan Suzy kemarin. Ia melirik salah satu pakaiannya di bawah itu. Ia ingat kemarin Suzy menghadiahkan hal itu untuknya, tapi bukankah ia tidak menikah seperti Suzy yang memang saling mencintai dengan Myungsoo. Ia juga tidak ingin menggoda Minho yang seharusnya juga tidak akan tergoda pada wanita yang dinikahinya dengan perjanjian semata.

 

 

“Ibu tidak ingin kau seperti kakakmu, Soojung. Ibu yakin kau pasti bisa membahagiakan suamimu.”

 

 

Ucapan ibunya kemarin masih ia ingat jelas di telinganya. Sesungguhnya ia paham betul perasaan ibunya. Ibunya pasti tahu bahwa ia tidak bisa memaksa kakaknya yang mengalami trauma sejak keguguran bayinya bersama Jaejoong saat ia baru saja menikah dengan Donghae. Belum lagi, ibu Donghae yang memang sejujurnya menginginkan cucu hanya diam saja dan mendukung anaknya yang menyayangi kakaknya sepenuh hati itu. Ia tahu bahwa kakaknya memang belum bisa membahagiakan suaminya karena stres trauma yang dialaminya.

 

 

Tapi tidak, Soojung tidak bisa sebegitu mudahnya menyerahkan dirinya pada Minho. Ia dan Minho sama-sama tidak memiliki perasaan apapun. Tentu jika ia menyerahkan diri sepenuhnya, berarti ia harus yakin bahwa Minho akan bertanggung jawab. Tapi ini tidak, Minho pasti belum benar-benar mau bertanggung jawab pada dirinya. Lelaki itu hanya menikahinya untuk menghindari perjodohan dari ayahnya. Ia tidak bisa goyah semudah itu.

 

 

“Malam pertama adalah hal yang penting bagi sebuah pernikahan, Soojung-ah. Kau tahu bagi seorang pria, tanpa malam pertama adalah seperti makan malam tanpa lauk apapun hanya nasi putih. Hambar, kau tahu?”

 

 

Ia teringat kembali ucapan Suzy kemarin. Ia tersenyum singkat, tidak menyangka bahwa sahabatnya berubah sedikit berpikiran dewasa setelah menikah. Entahlah apa itu lebih tepatnya dewasa atau mesum? Ya, ya, ya, ucapan itu cukup menyindirnya. Tapi ini bukan pernikahan sungguhan kan sehingga ia tidak harus memenuhi keinginan ibunya ataupun sahabatnya itu. Mungkin ada saatnya ketika ia bisa mewujudkan itu atau mungkin tidak pernah jika Minho memang berkelakuan seperti yang diceritakan Kyuhyun, aktor musikal itu. Soojung pun menghela nafas berat dan menata kembali pikirannya. Iapun menutup lemarinya dan beralih ke lemari di sebelahnya yang tentu milik suaminya. Yang pernah ia baca di suatu tempat, kewajiban seorang istri yang lain adalah menata baju suaminya dengan baik. Baiklah, mungkin untuk kali ini, itu saja yang dilakukannya.

 

 

 

 

 

 

Minho membuka lemarinya perlahan. Ia ternganga menatap tampilan baru tatanan bajunya. Istrinya itu benar-benar hebat. Penataan bajunya kini benar-benar rapi sesuai tipe, warna dan motifnya. Seumur-umur lemarinya yang selalu ditatakan ibunya, ibunya tak pernah seteliti itu. Ibunya hanya meletakkan bajunya sesering mana ia memakainya berbeda dengan ini yang benar-benar seperti tatanan baju di toko. Well, jelas itu dilakukan dengan sempurna oleh istrinya sebagaimana pekerjaannya.

 

 

Minho pun tersenyum singkat kemudian naik ke ranjangnya bersiap untuk tidur. Iapun meraih tabnya untuk mengecek email dan pekerjaannya. Selama beberapa menit, ia terpaku dengan tabnya menekuni kegiatannya. Ia menggaruk kepalanya pelan tampak berpikir keras kemudian turun dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar.

 

 

Satu tempat yang dituju Minho sebenarnya. Kulkas. Well, ia dapat melihat lampu-lampu di rumahnya sudah dimatikan menunjukkan bahwa ayah-ibunya maupun kakaknya dan suami kakaknya sudah tidur. Ia dapat dengan santai mengubek-ubek kulkasnya paling tidak. Ia merutuk kesal menemui apa yang diharapkannya itu tak ada di kulkas. Iapun mengeceki satu persatu setiap sisi kulkasnya berusaha menemukan apa yang diinginkannya.

 

 

“Kau bisa menggodanya dengan mengajak minum bir, bro. Aku pernah mencobanya pada Suzy.”

 

Ia menyentuh pelan kaleng bir yang ditemukannya itu. Jujur, ia hanya haus saja dan berusaha menemukan sebotol air dingin di kulkas tapi yang ditemukannya hanya bir kalengan yang bisa ia minum. Ia meraih dan menaruh dua kaleng bir di meja dapur dengan ragu. Ia memandangi kedua kaleng bir itu seksama.

 

Tidak, tidak. Mengapa ia ingat cerita Myungsoo minggu lalu sih? Ia tidak berniat menggoda Soojung dengan bir. Ya, itu benar. Ia hanya ingin minum bir untuk menghilangkan rasa hausnya. Tapi tunggu… Mengapa ia mengambil dua kaleng? Ah, bukan. Ini pasti karena ia hanya ingin mengajak istrinya minum untuk menghilangkan kegugupan istrinya yang ia lihat tadi.

 

Minho menghela nafas kemudian membuka satu kaleng bir itu dan menyesapnya sedikit. Ia menggelengkan kepalanya kasar mencoba menghilangkan pikiran kotornya kemudian meraih satu kaleng bir utuh yang di meja itu. Ia berjalan menuju kamarnya sambil menggerutu sebal karena ia tidak dapat mengendalikan pikirannya. Ia cukup bersyukur bahwa keluarganya sudah tidur semua, paling tidak ia tidak kelihatan tidak waras di hadapan keluarganya. Minho mulai membuka pintu kamarnya dengan lengan dan masuk secara perlahan.

 

Minho sempat membeku sejenak setelah menutup pintu kamarnya. Soojung yang tampaknya sadar ada yang memasuki kamar itu ia menoleh dan menyapa Minho dengan senyum. Gadis itu kini duduk di depan meja riasnya sambil mengoleskan krim di wajahnya yang Minho tak paham jenisnya. Jujur, Minho paling menyukai Soojung ketika ia tanpa make up seperti kali ini. Tapi ada satu hal yang kini membuatnya teringat-ingat dengan ucapan Jonghyun, sahabatnya yang mesum itu. Iapun memilih berjalan perlahan duduk di ranjangnya mendekati Soojung yang duduk di depan meja rias di depan ranjang.

 

Minho meletakkan kedua kaleng bir itu di meja rias,”Kau mau minum bir denganku?”

 

“Ia baru keramas, Minho-ya. Bahkan aroma shamponya masih kuingat-ingat sampai sekarang. Istriku memang pintar dalam menggodaku.”

 

“Emm, boleh.”

 

Soojung menoleh sejenak sambil mengangguk. Kemudian, istrinya itu berbalik menyelesaikan mengolesi krim di wajahnya sambil menghadap cermin. Minho menggigit bibirnya menahan apa yang diinginkannya. Ia dapat dengan mudah mencium aroma shampo istrinya yang begitu memabukkan indra penciumannya. Ia bahkan bisa melihat tengkuk istrinya yang benar-benar menggodanya untuk merengkuh wanitanya itu.

 

Minhopun memilih meraih satu kaleng yang belum dibuka berniat untuk membukakan Soojung. Soojung kini juga sudah berbalik menghadap Minho. Soojung bersabar menunggu Minho benar-benar membukakan bir untuknya itu. Tiba-tiba kaleng bir itu memuncrat dan membuat bir yang didalamnya itu keluar. Minho dan Soojung refleks meminum bir itu dari pucuk kaleng. Ketika mata keduanya sudah tidak fokus pada bir, mereka baru sadar bahwa hidung mereka hampir bersentuhan.

 

Oh oh, you can trust me

I’m gonna raise the temperature

Make sur you don’t get burned

 

Mata keduanya seolah saling terkunci tidak dapat mengalihkan perhatian. Mereka berdua seolah-olah terhanyut dengan kegiatan saling memandang intens bola mata masing-masing. Minho tahu ini bukan niat awalnya tapi apa ia sedang diuji sekarang? Mungkin malaikat yang ada di dalam dirinya sejak tadi menolak apa yang ada di pikirannya. Huh, tapi entahlah, ia rasa ia sudah tidak peduli lagi. Ia kelihatannya akan lebih menuruti setan yang ada di dalam pikirannya sekarang.

 

Minho menaruh kaleng bir yang dipegangnya itu perlahan di meja rias belakang Soojung. Soojung diam membeku di tempatnya tak merespon apapun. Minho menyentuh pipi Soojung dengan tangannya lembut seolah-olah takut wajah Soojung terbuat dari kaca yang mudah pecah. Minho membelainya lembut kemudian menghapuskan jarak antara dirinya dengan Soojung. Ia menempelkan bibirnya itu pada bibir Soojung hati-hati.

 

Entah sudah merasa nyaman di bibir Soojung selama beberapa detik, Minho mulai menggerakkan bibirnya itu. Ia melumat bibir Soojung perlahan namun pasti. Tidak lama kemudian, Minho melepas tautan bibirnya itu. Ia menatap Soojung tepat di manik matanya seolah menenangkan Soojung bahwa ia bersungguh-sungguh. Ia meletakkan tangan Soojung yang menggantung bebas itu di bahunya kemudian kembali menautkan bibirnya di bibir Soojung. Ia menarik pinggang Soojung agar gadis itu duduk di pangkuannya.

 

Awalnya, Soojung memang diam saja seolah tidak tahu harus berbuat apa, tapi lama-kelamaan ia membalas lumatan Minho. Mereka saling melumat satu sama lain sembari semakin mendekatkan tubuh mereka. Mereka begitu menikmati malam itu melupakan apa yang mereka tekadkan awalnya. Mereka membiarkan setan dalam diri mereka menang. Mereka melanggar tekad mereka.

 

Minho melepaskan kembali tautan bibirnya sambil menatap Soojung dengan tatapan membaranya. Soojung balas menatap Minho seolah-olah ia pasrah terhadap apa yang terjadi selanjutnya. Minho membawa tubuh istrinya untuk berbaring di ranjang berada di bawahnya kemudian kembali saling melumat dengan mesra. Kecupannya turun ke dagu gadis itu, semakin turun ke leher gadis itu. Soojung mendesah pelan ketika merasakan bahwa Minho meninggalkan bekas kecupan di lehernya.

 

Dengan perlahan, Minho membuka satu kancing piyama Soojung. Ia mengecup dan mencumbu bahu gadis itu dengan mesra. Soojung kembali mendesah merasakan tangan Minho menggerayangi tubuhnya. Soojung lemah, ia lemah akan sentuhan, kecupan, maupun ciuman Minho. Ia tidak bisa, ia benar-benar tidak bisa untuk tidak tergoda terhadap apa yang dilakukan laki-laki itu untuknya. Mata lelaki itu membiusnya membuatnya tunduk di bawah naungannya. Mata lelaki itu mengunci matanya untuk selalu memandang lelaki itu. Tapi tunggu… Soojung membuka matanya lebar-lebar menyadari apa yang dilakukannya ini salah. Ia memandang Minho yang sekarang begitu bersemangat menggodanya dengan kecupan-kecupan ringan.

 

Ini salah. I—i—ini bukan saat yang tepat.

 

“M—M—Minho-ssi…”

 

Ia mendesahkan nama lelaki itu membuat sang lelaki tersenyum menang dalam hati. Mendengar desahan gadis itu membuatnya semakin ingin menggoda dan membuat gadis itu semakin dan semakin memintanya melakukan lebih. Minho menunduk mencumbu gadis itu. Ia tidak sadar bahwa namanya dipanggil bukan berarti gadis itu mendesah nikmat seperti sebelumnya. Ya, gadis itu, Soojung membuka matanya perlahan seolah-olah sadar bahwa apa yang dilakukannya ini salah.

 

“Ku—ku—kumohon berhenti!” Soojung mendorong bahu Minho menjauhkan bibir Minho dari tubuhnya.

 

Minho yang awalnya tidak sadar kini memandang penuh penyesalan pada Soojung,”Maaf… Maafkan aku…”

 

“…”

 

“Apa aku menyakitimu? Maafkan aku, Soojung-ah. Aku berjanji ini tidak akan terjadi lagi…”

 

Minho menatap Soojung merasa bersalah. Ia dapat melihat ada sedikit ketakutan pada mata gadis itu. Ia membuat gadis itu ketakutan sekarang. Ia menelan ludah merasa marah pada dirinya. Ia menggengam telapak tangan gadis itu lembut menaruh telapak tangan itu menutupi matanya, kemudian ia mengancingkan piyama gadis itu lembut. Gadis itu terdiam meski piyamanya sudah dirapikan dan Minho bahkan sudah tidak berani melihat tubuh gadis itu.

 

“Maafkan aku. A—a—aku akan tidur di luar–” Minho bangkit dari posisinya dan mulai berbalik berjalan keluar.

 

Sebelum Minho melangkahkan kakinya, tangan Soojung menahan tangannya,”Tidak—tidak apa-apa. Oppa bisa tidur disini.”

 

Minho tersenyum membuat gadis itu menundukkan wajahnya yang memerah. Minho mengelus lembut puncak kepala gadis itu. Ia sadar ia tidak akan sanggup melukai gadis yang begitu manis dan begitu rapuh ini. Ia tahu di balik sikap Soojung yang dingin, gadis ini kesepian. Gadis ini lemah dan ketakutan, ia paham gadis ini belum mempercayainya, belum percaya bahwa Minho menyayanginya dan mau menjaganya dari bahaya sebesar apapun yang datang pada gadis itu. Ia hanya perlu bersabar menunggu gadis itu siap dan juga yakin mau menyerahkan dirinya pada Minho. Ya, hanya itu.

 

“Terima kasih, Soojungie. Aku akan membereskan kaleng-kaleng bir itu lalu tidur. Kau bisa tidur. Selamat tidur, sayang.”

 

It’s not like that baby, you’re already mine

Hey, knock on my heart

 

Minho mengecup puncak kepala gadis itu penuh kasih sayang. Kemudian menuju meja rias mengambil kaleng-kaleng bir dan berjalan keluar kamar. Soojung masih membeku di posisinya. Ia jujur merasa bersalah. Ia merasa bersalah pada Minho yang ia tahu begitu sabar menghadapinya. Ia marah pada dirinya sendiri yang begitu lamban dan tidak dapat menyenangkan suaminya itu.

 

Dasar istri tidak berguna! Soojung merutuk pada dirinya sendiri kemudian menarik selimutnya bersiap tidur.

 

*

 

Soojung menghela nafas berat merasakan rasa lelah mendera tubuhnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa di dalam ruang kerjanya di butik. Ia tahu hari ini benar-benar melelahkan, begitu banyak pelanggan yang mengambil pesanan baju mereka hari ini sehingga mengharuskan Soojung tidak mengambil cuti dua hari setelah pernikahannya. Ia harus menyelesaikan baju-baju itu dengan segera juga karena minggu-minggu ini adalah minggu-minggu sibuk baginya.

 

Hari kemarin adalah hari yang sibuk dan biasa saja baginya. Ia memang seharian ada di rumah keluarga Minho, menjalankan aktivitas dan kewajibannya sebagai istri dan menantu. Ia memasak, menyiapkan baju untuk Minho dan lain-lain. Ia bahkan juga harus meminta maaf membatalkan kado bulan madu dari orang tua Minho karena kesibukannya dan Minho. Beruntung, mertuanya itu benar-benar baik, sehingga mereka memaklumi kesibukan mereka itu.

 

Ini sudah jam lima sore dan tentunya ia harus bersiap-siap pulang. Ia harus menyiapkan makan malam tentunya seperti kemarin. Hubungannya dengan ibu Minho terbilang akrab karena keduanya memang menyiapkan makanan setiap pagi dan malam. Sayangnya, ia jarang berbicara dengan kakak perempuan Minho. Ia tahu kakak Minho itu juga trauma seperti kakaknya tapi sungguh ia ingin mengenalnya lebih dekat.

 

Ia masih ingat pertemuan terakhirnya dengan kakak Minho itu. Mereka hanya bertiga dengan Minho yang diam saja. Kakak Minho itu hanya meneriakkan nama Yoona dan memeluk Soojung erat seolah sudah mengenal lama Soojung. Mungkin Soojung mirip dengan Yoona-yang disebut kakak Minho itu. Sejujurnya pertemuan itu terbilang cukup baik dibanding dengan pertemuan pacar Minho yang sebelumnya yang sering dimaki menurut cerita Minho. Jujur, ia hanya sedikit takut bahwa kakak Minho itu akan memperlakukannya sama dan membencinya.

 

Sudah, Soojung, lupakan saja!

 

Soojung membatin kesal. Ia mengambil tasnya dan memasukkan barang-barangnya kemudian berjalan keluar ruangannya. Ia berkata pada asistennya untuk menutup butiknya itu dan menyalami pegawainya itu seolah meminta izin untuk pulang duluan. Ia masuk ke mobilnya dan melemparkan tasnya ke kursi penumpang. Tak lupa ia merogoh tasnya mencari ponsel. Ia mengernyit melihat ada satu pesan yang masuk dari kakak kandungnya.

 

From : Sooyeon unnie

Soojung, aku hamil!

Well, ini sebenarnya kejutan untuk Donghae oppa. Besok ikut ya makan malam di rumah bersama Minho. Aku ingin memberikan kejutan. PS: Aku merindukanmu

 

.

 

 

“Yoona-ya, kau ada disini?”

 

Soojung mendesah pelan mendengar kakak perempuan Minho itu kembali memanggilnya dengan nama orang lain. Ia kesini hanya untuk mengantarkan makan malam karena suami kakak Minho ini tidak pulang sehingga kakak Minho ini mengurung diri di kamar. Soojung pun terdiam sejenak kemudian membalas dengan sopan.

 

“Maaf, aku bukan Yoona. Namaku Soojung.”

 

“Aku tahu.” Sooyoung membalas pendek. “Aku hanya ingat Yoona ketika melihatmu. Andai dia masih ada di sini…”

 

Soojung dapat melihat raut Sooyoung itu berubah sedikit. Ia tahu bahwa Sooyoung tampaknya begitu menyukai Yoona yang disebutnya tadi tetapi begitu mengatakan bahwa Yoona tidak disini, raut wajahnya berubah. Sooyoung terlihat menyesal?

 

“Maaf jika aku ikut campur, tapi dimana Yoona yang eonni sebutkan?”

 

“Yoona hanya pergi ke Jepang mengikuti suaminya. Begitu menyenangkan aku bisa berbicara denganmu seperti berbicara pada Yoona,” Sooyoung menjawab perlahan dengan tersenyum kecil. Soojung menatap Sooyoung, ia tahu wanita ini tidak separah yang diduganya. Mungkin ia bukan trauma, wanita ini hanya kehilangan seseorang? Atau ia merasa bersalah?

 

“Ya, eonni bisa berbicara padaku kapan saja,” Soojung menjawab dengan ramah.

 

“Terima kasih… Aku memang jahat, ya. Aku orang jahat. Pasti karena itu, Yoona pergi. Dasar jahat! Jahat!”

 

Sooyoung awalnya membalas ucapan Soojung dengan tulus kemudian merutuki dirinya sendiri. Ia menghujani kepalanya dengan pukulan tangannya. Soojung menghentikan pukulan itu, ia memegang tangan Sooyoung sambil menghibur wanita itu. Ya, ia benar. Sooyoung trauma karena perasaan bersalahnya.

 

“Tidak—tidak. Eonni tidak jahat.”

 

“Ya, aku jahat. Aku jahat pada adikku sendiri. Aku benar-benar jahat.”

 

Soojung terdiam mendengar jawaban Sooyoung kemudian bertanya dengan terbata-bata,”A—a—apa maksud eonni?”

 

“Aku Choi Sooyoung. Aku membunuh sahabatku sendiri, Kwon Yuri, cinta pertama adikku.”

 

“A—apa?”

To be honest the way you talk is so much fun

I’m falling more and more into you

-TBC-

Friday, January 2nd 2015 – 1.38 pm

Aloha, readers! I’m so sorry for late post, I’m really didn’t have mood for writing. This holiday, I spent for searching any ideas so this chapter can be written. Ahk! Jujur aku protect ini karena selain PG-17 dan well, aku cuman ngetes readers aja. Tenang di chapter-chapter depan aku akan beri spesial chapter buat masing-masing karakter. Untuk HaeSica, mungkin aku akan cari pencerahan ya. Kemungkinan aku akan ceritain masalah Sooyoung dan Sulli agar ff ini cepat selesai dan kalian nggak bosen. Bahkan aku udah dapet ide ff baru lagi loh. Well, maaf kependekan. Hope you like it~ GIVE ME YOUR FEEDBACK>>>

Sleepy,

magnaegihyun

Advertisements

18 thoughts on “A marriage, Chapter 5B

  1. iya nich kurang panjang:-) suka sama moment malam pertama Minstal….Chukkae Haesica mau dapat momongan….wahhh penasaran kenapa Sooyoung sampai bisa membunuh Yuri next nya sangat d tunggu

  2. iya ini kependekan… suka sama malam pertamanya minho sama jungie… membunuh yuri?? gimana ceritanya??? bener2 penasaran!!!

  3. Anyeong, reader baru nih,.
    Mianhae baru koment di part ini,. Ngebut baca dr part awal mlm ini,.
    Penasaran sama lanjutanny nih,,
    Ditunggu part 6nya. Hehe,
    Ayo author, keep writing 🙂

  4. Congrats soojung-ah dan minho-ssi!
    lumayan panjang juga chapter5 ini,

    jadi ini masalah sooyoung yg sebenarnya. Dan dari awal chapter gada nama yuri, jadi rada kaget, minho punya cinta pertama juga.
    apa minho tau? Trus soojung juga kaget gitu.

    ditunggu chapter selanjutnya sherli.
    ttp berkarya! 🙂

  5. Akhirnya di post juga kelanjutannya…
    Sebetulnya kurang panjang eon tapi enggk pa2 kok…
    HaeSica bakal punya Baby nih…
    Soojung sudah mulai dekat sama Sooyoung karena Soojung mirip sama adiknya Yoona…
    Minho bener2 jatuh cinta sama Soojung nih…

  6. Suka pake banget sama FF ini. Soalnya FF minstal makin jarang dimuka bumi ini. Tapi kenapa pendek banget ?? Akan lebih bagus lagi chapter ini kalo moment pernikahan minstal disertakan. . .
    maaf ya kalo komennya kepanjangan. hehe

  7. aw minho so sweet so fine bngeet sih ke soojung sumpeh bikin meleleh, tabah amat dtolak dmalam prtama, mg dnext chapter makin bxk moment mreka be2 keke
    n ttg sooyung juga bikin pnasaran, so update soon ok, thx u 🙂

  8. duh ini dua orang masih bingung ngekspressin perasaannya yaa
    haduh nama kwon yuri muncul perasaan jadi nggak enak hiks
    jangan bilang soojumg marah lagi yaa
    maaf banget ya sherly nggak bisa komen dr chapter awal
    maklum kuota terbatas dan via hp 😦

  9. Keren banget !! bahasa yg dipakai pas banget dan mudah dimengerti. cerita nya susah ditebak. pokoknya keren pake baget. Good Jib buat gihyun !! Daebak !? Keep writing yaaa:)

  10. Wahhh aku baru ngeliat ini lagiiiii
    Ya aampuunnn kenapa ?? Terus himana dong itu kwon yurinyaaa?? Krystalnyabkaget gaaa ?

  11. aku kira ff ini ga dilnjutin,pass ada chpter 7 aku lngsung nyari chpter ini ternyata ada,,seneng bnget deh mskipun telat bacanya.hhe

  12. daebak! keren! HaeSica mau punya anak cie^^
    MinStal manis banget.. soo ngapain yulyoong?
    kasih konflik yg rumit ya thor, jjang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s