Oh You!, Chapter 1

 

Oh You!

magnaegihyun presents

Starring by Byun Baek Hyun, Jung Eun Ji, etc

Included in Romance, School life, Comedy

Written under PG rating

Short Series(2.617 words)

.

Summary

Byun Baek Hyun, lelaki sangat narsis yang tidak bisa diam sedetikpun itu terkena jebakan menyebalkan dari sahabatnya, Do Kyung Soo. Kini ia tak berkutik dan mengunci mulutnya ketika ia harus menonton film bergenre itu sendirian tanpa seseorang yang dikenalnya. Sialnya, mentalnya kalah jauh dengan gadis di sebelahnya yang mengejeknya cengeng.

posterjadi

Music by G.O, ‘You(I Need Romance 3 OST)’

This storyline is belong to magnaegihyun. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the cast? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

***

 

From : soo dokyung

 

Jangan lupa janjimu kemarin! Jam 10 kau harus duduk sesuai tiket.

 

LED ponsel touch screen Baek Hyun berkedip-kedip menunjukkan bahwa ada pesan baru. Baek Hyun yang memang memegangnya dan membacanya dengan mata lubang kancingnya itu mengernyit. Ia lalu menaruh ponselnya itu dan memejamkan matanya lagi menyesuaikan tubuhnya yang masih belum bangun dari ranjangnya. Tampaknya ia tak ingin merespon apa yang sudah dibacanya itu. Terdengarlah hembusan nafas teratur yang menunjukkan bahwa Baek Hyun sudah masuk ke alam mimpinya lagi.

 

“Baek Hyun-ah, ada titipan untukmu. Cepat bangun!”

 

Baek Hyun membuka matanya dengan ekspresi malas dan kesal. Ia menggerutu dalam hati menyadari bahwa hyungnya sangat cerewet. Ini jelas terbukti dari teriakannya tadi. Tindakan hyungnya itu biasa dilakukan oleh seorang wanita paruh baya terhadap anaknya atau wanita muda pada adiknya. Lah, ini hyung? Jelas-jelas hyung adalah manusia berjenis kelamin pria yang biasanya masa bodoh bahkan cuek terhadap adiknya. Hyung Baek Hyun mungkin benar-benar memiliki kepribadian yang unik.

 

Akhirnya, Baek Hyun bangun dan menyandarkan punggungnya pada bantal lalu membuka ponselnya. Ia membuka aplikasi chatting Kakao Talk dimana saat itu penuh pemberitahuan pesan baru. Ia menunggu sejenak pesannya meloading dan mulai memandang kosong kamarnya. Ya, Baek Hyun sadar kamarnya berantakan. Ia belum menata buku-bukunya di rak sehingga buku-buku itu tergeletak di lantai dengan tumpukan yang tak sesuai ukuran.

 

JaeBum JB : Guys, I have a news!!!

 

MyungSoo L : Apa? Jangan sok inggris gitu deh, kuaduin SeungAh noona loh!

 

JaeBum JB : Ancamanmu dari dulu begitu saja yaa, KimMyung-_- Aku juga bisa mengadu pada SooJi-mu loh!

 

Soo DoKyung : Kalian jangan bertengkar dulu! Cepat apa beritamu, ImJae-yaa?

 

JaeHwannie : Nah tuh DoKyung bijaksana!

 

Cha BaRo : Setahuku ketika LeeJae datang, ia hanya mengiyakan perkataan orang lain.

 

JongDae : Sudah, sudah, ChaSun! Apa beritanya, ImJae?

 

JaeBum JB : Oke, oke. Tadi aku berhasil membuka akun KaTalk Sun Young dan kulihat mereka membicarakan sahabat Bo Mi yang akan masuk kelas kita seminggu lagi.

 

JinYoung JR : Benarkah? Wah, aku bisa mendekatinya dong, ganti Bo Mi begitu!

 

JaeHwannie : Youngie, ingat kenyataan sahabat Bo Mi itu benar-benar membencimu karena dikerjai di SMP!

 

Cha Baro : Hey, yang mendekati Bo Mi kan bukan kau, ParkJin-ah!

 

Soo DoKyung : ChaSun-ah, dia ada di grup ini loh!

 

JongDae : Tak apa-apa, DoKyung. Dia sedang off kan?

 

Baek Hyun terbelalak membaca pesan-pesan teman-temannya itu. Sejenak Baek Hyun ingin menyentil satu-persatu teman-temannya itu. Tidak, ia paham obrolan teman-temannya itu hanya bercanda dan obrolan bodoh. Ia pun segera mengetikkan balasan pada Group Chat itu dan menaruh kembali ponselnya. Sesegera mungkin, ia mengambil handuk dan masuk kamar mandi.

 

Hyun ByunBaek : Aku ON dan membacanya. DoKyung-ah, awas yaa jika kau datang terlambat!

***

Eun Ji mengaduk soft drink yang dibelinya dengan sedotannya bosan. Ia menyesal tak membawa ponselnya mungkin untuk mengalihkan perhatian. Ia ingat terakhir kali ia ke bioskop, ia datang bersama banyak temannya. Dan itu tentu tidak membosankan karena ada teman-temannya yang dapat ia ajak bicara. Sekarang, ia hanya menonton sendirian.

 

Ia akui film yang terputar di depannya itu tak terlalu membosankan. Ia cukup mengerti jalan ceritanya, tetapi jenis film ini adalah pembunuhan. Tentu, ia harus tetap bungkam ketika sadar perutnya terasa bergolak melihat darah-darah yang ada dimana-mana itu. Ia juga harusnya menolak tiket yang diberikan sahabatnya itu karena hal yang dijanjikan sahabatnya itu tidak benar-benar terjadi.

 

Sahabatnya berkata bahwa ia akan menonton dengan Sung Gyu, senior sahabatnya di SMA yang sejak dulu Eun Ji kagumi. Yang ada malah seorang lelaki yang benar-benar cengeng menurutnya. Lelaki itu menutup matanya ketika melihat ataupun mendengar ada adegan yang menonjolkan genre film tersebut. Lelaki itu benar-benar terlihat ketakutan dengan tangan berkeringat dingin yang tanpa sengaja menyentuh lengan baju Eun Ji. Eun Ji pun hanya bisa menggumamkan kata ‘dasar berlebihan’ tanpa suara.

 

Eun Ji kembali menonton film tadi yang menunjukkan adegan yang tampaknya lebih normal dan tidak membuat perutnya bergolak kembali. Ini adalah salah satu film thriller yang pernah Eun Ji dengarkan jalan ceritanya dari teman sekelasnya. Eun Ji melanjutkan melahap popcorn dengan nyaman. Eun Ji cukup memuji setting pengambilan gambar di film yang cukup bagus dan membuatnya kagum.

 

Sepuluh menit kemudian, layar lebar bioskop mulai menunjukkan adegan darah lagi membuat Eun Ji mengaduk minumannya lagi dengan sedotan dan mengalihkan perhatiannya lagi. Eun Ji refleks menoleh mendengar suara mual seseorang. Lelaki di sampingnya yang berwajah kekanakan itu menutup mulutnya tampak ingin memuntahkan sesuatu.

 

“Kau mau minum?”

 

Eun Ji menawarkan minumannya pada lelaki itu. Lelaki itu menggeleng dengan menutup mulutnya sambil mengeluarkan suara mual lagi. Eun Ji bingung. Ia panik dan mulai berpikiran buruk mengenai bagaimana jika lelaki itu muntah disini. Itu benar-benar tidak lucu bukan. Eun Ji pun segera memapah lelaki itu keluar dari ruangan itu dan menuju toilet.

 

Eun Ji membiarkan lelaki itu masuk sendiri dan ia bersandar di dinding sambil menyeruput minumannya. Jujur, tidak ada perasaan menyesal sedikitpun dalam hatinya setelah keluar meninggalkan film yang ia tonton tadi. Lagipula genre film itu bukanlah genre favoritnya. Lebih baik ia menonton film komedi saja sepuasnya dibanding film tadi. Memang dasar Bo Mi itu, pembohong! Ia juga tidak bertemu dengan Sung Gyu buktinya hingga sekarang. Apa aslinya Sung Gyu memang berniat tidak ingin menonton dengannya? Huh, dasar!

 

Eun Ji melempar gelas plastik minumannya yang sudah kosong ke dalam tempat sampah anorganik di sebelah tempatnya berdiri. Saat ia bergegas akan meninggalkan bioskop itu, lelaki tadi keluar dengan wajah tampak lebih normal dari tadi tapi ia masih sedikit pucat. Lelaki itu tersenyum berterima kasih padanya.

 

“Aku benar-benar berterima kasih. Ah, apa kau mau makan sesuatu? Kurasa aku harus mentraktirmu sebagai ganti tadi,” lelaki itu menyapanya dengan ramah.

 

“Ah, tidak, terima kasih. Kurasa lebih baik kau ke rumah sakit saja, setidaknya memastikan kau tidak sakit parah?”

 

“Ini bukan sakit parah, menurutku. Hanya reaksi berlebihan pada film tadi.”

 

Eun Ji dapat melihat lelaki itu kini tersenyum malu sambil memegang belakang kepalanya. Eun Ji rasa ini saat yang tepat untuk ia pergi. Lagipula ia tidak mengenal lelaki itu dan tidak harus berkenalan dengan lelaki itu. Huh, mana mungkin ia harus berkenalan dengan lelaki cengeng yang bahkan muntah karena sebuah film pembunuhan?

 

“Aku duluan,” Eun Ji mulai berbalik meninggalkan lelaki itu.

 

“Terima kasih ya.”

 

Eun Ji tiba-tiba berbalik dan menghela nafas menghadap lelaki itu dengan jarak dua meter. Ia tampak menyiapkan sebuah kalimat yang akan ia ucapkan untuk lelaki itu. Lelaki itu yang melihat Eun Ji berbalik saat ia mengucapkan terima kasih, benar-benar penasaran, apa yang akan dikatakan gadis ini.

 

“Ah ya, lain kali jangan bodoh memilih film lagi ya. Paling tidak, cari genre yang cocok untuk ukuran lelaki lembek sepertimu!” Eun Ji berkata dengan nada sarkastik kemudian meninggalkan lelaki itu yang tampaknya kehilangan kata-kata karena tidak terima.

For the day to stand before you
I don’t know what to do with my racing heart
In my faraway memories, you are…

***

Baek Hyun benar-benar tidak mengerti. Ini bahkan sudah seminggu terakhir kali ia bertemu gadis dengan mulut kasar itu. Tetapi, hal itu tampaknya bukan batasan baginya untuk melupakan gadis itu. Well, mungkin Baek Hyun sendiri bisa menemukan dan sadar apa motifnya tidak dapat melupakan gadis itu. Mungkin ia benar-benar tidak terima dengan kata-kata terakhir gadis itu sebelum pergi. Berani sekali gadis itu mengatainya lembek hanya karena ia muntah. Oke, mungkin itu terlalu memalukan baginya yang dengan bodoh tertipu oleh Kyung Soo, tapi gadis mana yang akan mengejek orang yang baru pertama ia temui selain gadis yang kasar. Tampaknya sebutan itu cocok untuk gadis itu.

 

“Yo, Byun Baek!”

 

Terdengar sapaan akrab yang ditujukan untuknya, Baek Hyun pun menoleh dan ingin tahu yang menyapanya. Well, dari panggilan itu, Baek Hyun dapat menyimpulkan pasti itu berasal dari salah satu teman-temannya sekelas. Bukannya terlalu percaya diri dalam hal menebak, tapi memang hanya teman-teman sekelasnya lah yang saling memanggil dengan nama keluarga dan suku pertama namanya. Baek Hyun langsung mengenali senyum ceria dan telinga besar mirip kurcaci milik Chan Yeol, sahabatnya itu.

 

“Tumben kau berangkat sedikit pagi, Park Chan?” Baek Hyun bertanya ketika Chan Yeol sudah berjalan di sampingnya.

 

Chan Yeol mengangguk,”Iya ya, aku juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba berangkat sedikit pagi. Ah ya, sahabat Bo Mi benar-benar masuk kelas kita loh!”

 

“Oh, lalu aku harus bagaimana?”

 

Baek Hyun menjawab pernyataan Chan Yeol dengan dingin membuat Chan Yeol menghela nafas. Chan Yeol tampaknya paham mengapa sahabatnya itu merespon dengan dingin. Jujur, Chan Yeol juga cukup canggung berbicara hal mengenai Bo Mi di depan Baek Hyun setelah apa yang terjadi akhir semester lalu.

 

“Aku ke kelas Joon Myeon hyung dulu ya!”

 

Chan Yeol menatap langkah kaki Baek Hyun yang sedang berlari meninggalkannya berbelok di tangga ujung koridor. Ia menghela napas berat mengetahui bagaimana kisah sahabatnya sejak SMP ini. Mungkin Chan Yeol akan merasakan hal yang sama jika ia menjadi Baek Hyun. Ia paham bahwa Baek Hyun pasti malu juga pada Chan Yeol.

 

Kejadian itu terjadi ketika hari penerimaan rapor. Chan Yeol yang tidak sengaja melihat Baek Hyun menggandeng Bo Mi, teman sebangkunya semester lalu ke atap sekolah. Chan Yeol yang saat itu hendak memberitahukan bahwa kakak laki-laki Baek Hyun itu sudah pulang pada Baek Hyun pun mengikuti keduanya. Chan Yeol benar-benar tidak tahu bahwa saat itu Baek Hyun sedang menyatakan perasaannya. Ia hanya bisa berhenti di balik pintu atap sekolah saat mendengar balasan Bo Mi.

 

“Maaf jika aku membuatmu salah sangka, Baek Hyun-ah. Selama ini aku hanya menganggapmu teman yang baik. Aku benar-benar minta maaf.”

 

Chan Yeol yang mendengar itu hanya terpaku di tempatnya tanpa tahu apa yang harus dilakukannya. Kemudian Bo Mi yang tiba-tiba membuka pintu tampak kaget melihat Chan Yeol yang membeku. Bo Mi yang malu melihat Chan Yeol mendengar semuanya pun langsung turun tanpa menyapanya. Yang Chan Yeol ingat, ia kemudian hanyalah membuka pintu atap dan berlaku polos memberitahukan pesan kakak laki-laki Baek Hyun.

 

 

Chan Yeol melirik Baek Hyun yang kini memejamkan mata ketiduran di bangkunya tak peduli. Meski ia duduk sendirian di bangkunya hasil undian tempat duduk itu, Baek Hyun tetap tidur dengan nyaman. Jujur, dalam hati Chan Yeol ada rasa bersalah sedikit. Apalagi hasil undian ini mengharuskan ia duduk dengan Bo Mi di depan Baek Hyun pula. Bagi Chan Yeol, hal yang lebih baik adalah ia saja yang duduk sendiri.

 

Chan Yeol ingat obrolannya dengan teman-temannya tadi. Baek Hyun telah dikerjai oleh Kyung Soo dengan menonton film thriller sendirian tanpa teman. Tentu itu membuat semua temannya menertawai Baek Hyun. Baek Hyun pun tampak tidak peduli malah bercerita bahwa ia bertemu gadis kasar yang mengejeknya saat ia muntah. Kejadian itu membuat Baek Hyun benar-benar ingin memakan gadis kasar itu hingga membuat semua teman-temannya terbahak lagi.

 

“Selamat pagi, anak-anak!”

 

Jun sonsaengnim memasuki kelas dengan seorang gadis familiar bagi Chan Yeol. Tunggu, diakah sahabat Bo Mi? Chan Yeol pun melirik Bo Mi yang melambaikan tangan menyapa gadis itu tanpa suara. Gadis itu pun balas tersenyum pada Bo Mi. Well, gadis itu tampak tomboy bagi Chan Yeol dengan caranya mengikat rambutnya dan yang tidak dipungkiri gadis itu cukup manis. Tunggu, apa Chan Yeol mengenalnya?

 

Gadis itu ikut berdiri di depan kelas dengan Jun sonsaengnim yang kini menyuruhnya mengenalkan diri. Iapun mengangguk pada guru itu dan mulai membungkuk menyapa murid-murid sekelas.

 

Anyeong haseyo, Joneun Jung Eun Ji imnida. Busan saram iyeyo. Bangapta!

 

Gadis itu memperkenalkan dirinya dengan percaya diri mengatakan asalnya. Jun sonsaengnim mempersilahkannya duduk di bangku yang kosong. Ia pun menurut dan menghampiri ke arah tempat duduk Chan Yeol. Chan Yeol sadar, pasti gadis itu akan duduk di samping Baek Hyun. Apa Baek Hyun akan baik-baik saja duduk dengan si anak baru? Apalagi Baek Hyun kan juga memiliki mulut kasar jika menghina orang yang tidak dikenal.

 

Chan Yeol benar-benar gelisah memikirkan nasib gadis si anak baru itu. Ia tampak tidak benar-benar fokus pada pelajaran di depan yang memusingkan itu. Ia ingat mood Baek Hyun hari ini tidak sebaik sebelum-sebelumnya malahan. Jika Baek Hyun berulah lagi, jangan bilang kegiatan klubnya dikorbankan lagi dan Chan Yeol juga yang akan dimarahi kakak Baek Hyun yang cerewet itu.

 

“Byun Baek Hyun, bocah satu ini tidak pernah berubah ya!”

 

Tiba-tiba saja, Jun sonsaengnim memekik di tengah-tengah pelajaran. Ah, tampaknya guru itu sudah sadar. Chan Yeol pun menyikut kepala Baek Hyun mencoba membangunkan lelaki itu. Tampaknya, Baek Hyun benar-benar tidak ternganggu sedikitpun. Si anak baru itu hanya memandang Baek Hyun yang duduk di sebelahnya dengan pandangan datar.

 

“Lebih baik kau diam saja, Park Chan Yeol. Nah, Jung Eun Ji, sebagai cara mendapat teman baru, coba kau bangunkan dia.”

 

“Ya, sonsaengnim.”

 

Chan Yeol dan gadis itu menjawab patuh. Seisi kelas kini menatap ke arah gadis itu. Jelas semuanya penasaran, bagaimana cara gadis itu membangunkan Baek Hyun yang seperti singa kelaparan saat dibangunkan meski wajahnya tidak segarang singa tapi amukannya itu benar-benar mengganggu.

 

“Baek Hyun-ssi…” Gadis itu menggerakkan tubuh Baek Hyun membuat Baek Hyun terganggu dan membenarkan posisinya agar lebih nyaman.

 

“Baek Hyun-ssi… Jun sonsaengnim ingin berbicara denganmu.”

 

Gadis itu menyelesaikan ucapannya membuat seisi kelas kini deg-degan menanti apa jawaban atau mungkin lebih tepat amukan yang akan diterima gadis itu. Bahkan Baek Hyun kini sudah mulai mengucek matanya. Baek Hyun tampaknya sudah sadar sepenuhnya dan mulai menoleh ke arah gadis itu.

 

“Siapa yang berani-berani… NEO!!!!!!”

 

Baek Hyun yang awalnya akan mengamuk pada siapa yang membangunkannya kini memekik histeris menyadari siapa yang membangunkannya. Eun Ji yang sadar bahwa kehisterisan itu ditujukan untuknya itu pun mulai mengingat-ingat apa ia mengenal lelaki ini. Ia diam sebentar kemudian menyadari siapa lelaki ini.

 

“Oh… Lelaki lembek kan?”

 

YAA, NEO!!!!”

 

“Byun Baek Hyun, Jung Eun Ji, CEPAT KELUAR DARI KELAS!!!!”

 

 

Eun Ji menghela nafas berat sambil menaruh buku yang sudah di datanya itu dengan kasar. Suara bantingan juga terdengar di sebelahnya, karena ia dan Baek Hyun selain diusir dari kelas juga dihukum mendata buku baru perpustakaan oleh wali kelasnya itu. Ini benar-benar hari pertama yang buruk bagi Eun Ji. Hari pertama yang diharapkannya adalah ia dapat bertemu dengan teman baru sebanyak-banyaknya. Well, meski saat istirahat tadi ia berkenalan dengan banyak teman baru selain Bo Mi yang merupakan sahabatnya sejak kecil. Tapi harusnya ia sekarang ikut bergabung dengan Sung Gyu, kakak kelasnya di SMP yang sejak dulu ia kagumi di klub vokal bukannya bersama lelaki lembek ini menerima hukuman.

 

Jujur, Eun Ji bisa bersyukur lega bahwa tinggal dua buku yang harus ia data. Tadi kata wali kelasnya, ia hanya harus mendata satu kardus buku kan? Sangat berbeda dengan lelaki sebelahnya yang masih memiliki setengah kardus yang harus didata. Eun Ji pun hanya melirik kesal. Tidak hanya lembek ternyata, ia juga orang yang lamban, batin Eun Ji sambil menaruh buku terakhirnya di kardus yang menunjukkan bahwa semua sudah didata.

 

YA! Byun Baek Hyun, bisakah kau tunjukkan ruang musik di lantai berapa?” Eun Ji mengajak bicara Baek Hyun dengan malas.

 

Baek Hyun mendongak dengan ekspresi sebal,”Tidak bisakah kau memanggil dengan sopan sedikit? Apa semua orang busan sekasar dirimu?”

 

“Khusus untuk dirimu, yang mungkin saja ketiduran kapan saja, aku harus memanggilmu begitu.”

 

“Issh, gadis ini…” Baek Hyun mencibir. “Tunggu, ruang musik? Kenapa kau tidak mengikuti sahabatmu ke klub penyiaran?”

 

Eun Ji menoleh sambil memandang Baek Hyun aneh,”Memangnya kenapa? Tidak boleh? Lagipula Bo Mi mengikutinya selain sebagai hobinya juga agar dekat dengan Chan Yeol—“

 

“Apa? Chan Yeol?”

 

Baek Hyun berceletuk kaget. Ia yang awalnya hanya membalas ucapan-ucapan gadis kasar-baca: Eun Ji-itu dengan malas kini sedikit tertarik. Kenapa tiba-tiba gadis itu sekarang menyebut nama Bo Mi dan Chan Yeol bersamaan? Ya, ya, ya meski keduanya sekarang duduk satu bangku di depannya, tapi setahu Baek Hyun keduanya tak sedekat itu hingga sahabat Bo Mi ini menyebut keduanya bersama-sama.

 

“Iya, Chan Yeol. Bo Mi menyukainya sejak SMP. Kasihan sekali ya, perasaan Bo Mi dihiraukan begitu saja oleh Chan Yeol. Eh, kenapa aku malah bercerita sih? Jangan bilang siapa-siapa ya, Byun Baek Hyun?”

 

Eun Ji menjawab dengan santai. Tanpa sadar bahwa ia menceritakan rahasia sahabatnya. Inilah yang Eun Ji benci dari dirinya, selalu saja keceplosan. Beruntunglah, ia keceplosan di depan Baek Hyun, bukannya Chan Yeol. Eun Ji kini merasa sedikit aneh, lelaki itu tak membalas ucapannya sedikitpun. Ia menatap Baek Hyun heran yang sekarang sedang membeku di tempatnya.

 

“Heol, aku pergi dulu ya, Byun Baek Hyun!”

Come to me, who has waited for you

***

Friday, January 2nd 2015 – 3.00 pm

Hi, guys! Aku baru kali ini nyoba nulis ff exopink dan nemunya baekji. Well, jujur aku pembaca setia ff exopink loh tapi belum pernah bisa nulis ff mereka. Ini sebenarnya kado buat sahabatku yang ngefans baekhyun tapi karena aku anggurin akhirnya aku ganti Ocnya jadi Eunji karena karakternya. Well, ini pendek kok. Hope you like it, guys~ GIVE ME YOUR FEEDBACK>>>

In dream,

magnaegihyun

Advertisements

2 thoughts on “Oh You!, Chapter 1

  1. halloohaa Sherliii 🙂
    Pertama-tama…selamat yaa untuk debut FF dg cast BaekJi hahaha….
    akhirnyaaa persediaan pasokan ff exopink bertambah hehe…
    duhh, begitu selesai bacanya, yang pertama kali terlintas adalah…loh? udahan nih? terus gimana kelanjutannya?
    ahh sayang banget. pas lagi asik2nya baaca mlah berakhir 😦 tapi gak papa. aku menunggu update-annya..
    dan wuzz si eunji galak amat. tapi di realnya nggak begitu kan yaa.. hehe..
    tyt si baekki ditolak sm bomi yaa.. kasian amat haha..
    ditunggu benih2 cinta mereka yaa 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s