The Amazing Cinderella, Chapter 5

Title : The Amazing Cinderella | Author : magnaegihyun & Evil_Yeol ‘^_^’ | Length :Chaptered(7.771 words)| Genre : Romance, School Life, Family, Other | Rating : PG | Main Cast : Bae Soo Ji, Kim Myung Soo, Lee Jeong Min, Lee Sung Yeol, Wu Yi Fan and others | Poster by nunaw

Previous Chapter

Bae Soo Ji tidak sengaja bertemu dengan seorang kakek yang sedang kesakitan. Tentu saja, dengan sigap ia menolong kakek itu ke rumah sakit meski menyadari bahwa ia sudah terlambat bekerja. Ia merasa aneh ketika ia ditanyai apa impiannya oleh kakek itu. Meski begitu, ia tetap menjawab dan bercerita pada kakek yang baru dikenalnya itu. Tanpa disangkanya, keesokan harinya impiannya benar-benar menjadi nyata. Inilah kehidupan barunya yang ia rasakan layaknya seorang Cinderella.

 the-amazing-cinderella

Disclaimer : This storyline is belong to magnaegihyun & evil_yeol. This fanfiction is inspired by ‘Cinderella dan Empat Ksatria’, a novel by Bae Myo. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the pairing? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

karena beberapa masalah, saya tidak jadi memprotect. misalnya karena paketan internet saya habis 😀

*

Sejenak setelah terdengar pintu kamar Soo Ji ditutup, Sung Yeol dan Jeong Min saling memandang dan mulai mendekat untuk berunding sesuatu lagi. Mereka tampak sibuk kemudian dengan ponselnya masing-masing tampak mencari sesuatu. Keduanya benar-benar sibuk menelepon seseorang hingga kemudian Sung Yeol mulai berteriak lega.

 

“Aku menemukannya!”

 

“Fiuh, hyung memang hebat. Ah, lalu bagaimana dengan rencana membawanya ke pesawat?” Jeong Min bertanya santai.

 

Sung Yeol mengernyit,”Bukankah seharusnya kau meminta tolong Myung Soo? Lee Jeong Min, kakakmu ini ada pelatihan menjelang ujian kelulusan.”

 

“Ya,ya, ya, dan hyung toh sudah pasti menjadi peringkat satu bagaimanapun. Otak hyung kan benar-benar encer.”

 

Sung Yeol akhirnya memilih mengalah dan ikut menuruti keinginan adiknya itu,”Baiklah, kalau begitu apa kita perlu meminta tolong Yi Fan gege?”

 

Jeong Min mengirim pesan pada Yi Fan agar segera datang menemui mereka. Beruntungnya, Yi Fan masih berada di Sky House. Yi Fan yang datang sambil membawa beberapa berkas pekerjaan mendengarkan penjelasan Tuan Mudanya dengan seksama. Yi Fan mendesah pelan mendengar rencana mustahil itu.

 

“Apakah Tuan Muda yakin rencana itu akan berhasil?”

 

“Tentu saja. Aku sudah merencanakannya dengan baik!”

 

“Tuan Muda, sebelum dibawa ke mobil pun pasti Nona sudah terbangun,” Yi Fan menjawab dengan sabar.

 

Hyung, tidak mau membantu kami?” Jeong Min menunjukkan raut memelasnya pada Yi Fan.

 

“Tapi rencana Tuan Muda itu pasti akan gagal.”

 

“Jangan meramalkan hal buruk seperti itu dong, ge!” Sung Yeol merajuk

 

Akhirnya, Yi Fan menyetujui rencana Tuan Mudanya dengan pasrah satu setengah jam kemudian. Yi Fan padahal terus menerus mengingatkan bahwa Soo Ji pasti akan marah jika mereka memasuki kamarnya sembarangan. Tetapi keduanya tidak mempedulikannya malah memilih meneruskan rencana mereka.

 

Yi Fan pun hanya bisa mendesah. Dasar Tuan Muda yang belum dewasa. Meski Sung Yeol yang dikenal pintar dan akan segera lulus SMA maupun Jeong Min yang terkenal seorang gentleman. Mereka berdua tampaknya belum tahu betapa bahayanya memasuki kamar gadis yang sedang tidur. Kalau saja keduanya bukan Tuan Mudanya, Yi Fan pasti menolek mentah-mentah rencana mereka ini. Ketiganya pun diam-diam berjalan menuju kamar Soo Ji.

 

Myung Soo yang kebetulan membuka pintu kamarnya heran melihat tiga orang yang bersikap benar-benar seperti ingin menculik anak orang,”Apa yang sedang kalian lakukan?”

 

Sung Yeol menempelkan jari telunjuknya di bibir menyuruh Myung Soo diam. Myung Soo pun hanya mengangkat bahu kemudian berlalu melewati mereka dan berjalan ke bawah.

 

Mereka membuka pintu kamar Soo Ji sepelan mungkin mencoba tidak menimbulkan suara sedikitpun. Di tengah tempat tidur besar, Soo Ji tidur sambil meringkuk tanpa selimut. Melihat pemandangan seperti itu, ketiganya terpaku. Soo Ji seolah-olah seekor anak kucing kedinginan yang telah bersusah payah mencari tempat bernaung untuk melarikan diri dan tidur meringkuk karena khawatir akan ada bahaya yang menyerangnya lagi.

 

Melihat cara tidur Soo Ji, Yi Fan benar-benar tidak tega mengganggu tidur gadis itu. Tapi apa yang bisa ia lakukan lagi, ia pasti lebih-lebih tidak tega Tuan Mudanya yang menyentuh-nyentuh gadis polos itu. Jeong Min memberikan isyarat padanya kemudian Yi Fan mendekati tempat tidur dengan sangat perlahan. Baru Saja Yi Fan mengulurkan tangan—

 

Buk!

 

Soo Ji yang dikira ketiga orang itu tidur nyenyak tiba-tiba mencengkeram lengan Yi Fan dan menariknya kemudian menjatuhkan pengawal itu di tempat tidur. Soo Ji lalu menduduki tubuhnya dan mengarahkan kepalan tangannya ke leher Yi Fan. Semuanya terjadi tiba-tiba dalam sekejapan mata. Sung Yeol dan Jeong Minyang berdiri di pojok ruangan tidak bisa mempercayai kejadian yang terjadi di depan mereka. Myung Soo yang sudah kembali dari lantai bawah hanya mengintip dari luar kamar dengan terkekeh.

 

“Sudah kuduga,” Myung Soo bergumam pelan menyadarkan Soo Ji yang kemudian menurunkan kepalan tangannya.

 

“Ah—Gege. Maaf,” kata Soo Ji pendek dengan suara serak baru bangun tidurnya.

 

Soo Ji segera turun dari bada Yi Fan, kemudian sadar bahwa Sung Yeol dan Jeong Min berdiri di pojok kamarnya. Raut keduanya pucat ketakutan. Kemudian di belakang keduanya terlihat Myung Soo yang tertarik melihat situasi tersebut.

 

“Ke—kenapa kalian berada disini?”

 

“Oh..” Jeong Min tergagap. “Ti—tidak, hanya saja…”

 

Surprise!” Sung Yeol berteriak sambil melemparkan kedua tangannya ke atas.

 

Soo Ji mengerutkan keningnya heran,”Ada apa?”

 

“Hari ini kami berencana merayakan masuknya Bae Soo Ji di Sky House. Kau terkejut kan?”

 

Jinjja?” Soo Ji melirik Yi Fan dengan nada curiga.

 

Yi Fan memasang aktingnya sebaik mungkin sambil menatap Nona Mudanya itu,”Benar, Nona”

 

“Hmm, apa itu tidak berlebihan? Aku sudah sangat bersyukur karena diperbolehkan tinggal di rumah seperti ini.”

 

“Jangan bilang seperti itu, Tuan Putri. Malah aku bersyukur karena bisa melihat istriku setiap pagi sebelum berangkat sekolah.”

 

Jeong Min memasang wajah tenang sambil menggamit lengan Soo Ji. Begitu Jeong Min membawa Soo Ji keluar kamar, Sung Yeol menghampiri Yi Fan yang masih berbaring di tempat tidur.

 

Ge, gwenchana?”

 

“Ah—ya.”

 

“Bagaimana ini? Apa ada tempat untuk pesta?”

 

“Tenang saja, saya akan menghubungi pihak hotel untuk segera menyiapkan ruangan untuk pesta. Tuan Muda bisa membawa Nona kesana.”

 

“Tolong disiapkan ya dan terima kasih, gege. Aku akan menghubungi Sun Young untuk membantu.”

 

“Baik.”

 

Sebenarnya hanya berniat jalan-jalan bersama ke Thailand, tetapi tiba-tiba rencana berubah mendadak sehingga mereka harus menyelenggarakan pesta di pagi-pagi buta. Myung Soo yang sejak awal memandang adik dan kakaknya kasihan mengetahui rencana mereka gagal, dipaksa Sung Yeol segera bersiap-siap untuk pesta. Sung Yeol pun yang merasa bertanggung jawab dengan rencana spontannya segera menelepon Sun Young.

 

“Tentu saja aku ikut. Tidak mungkin aku melewatkan kesempatan ini. Akhirnya, kita bisa mendandani Soo Ji secantik-cantiknya,” balas Sun Young di telepon dengan riang meski baru bangun tidur.

 

“Huh, untung saja!” Sung Yeol bersungut-sungut sambil menutup pintu kamar Soo Ji. “Tapi Soo Ji benar-benar keren tadi.”

 

Mungkin bisa saja Soo Ji hanya kebetulan menjatuhkan Yi Fan tetapi tadi gerakan gadis itu benar-benar cepat dan tepat. Sulit dipercaya bahwa gerakan itu dilakukan oleh gadis itu yang baru saja bangun tidur. Apalagi tatapan mata Soo Ji ketika duduk di atas tubuh Yi Fan. Tatapannya benar-benar buas seperti sorot mata harimau yang kelaparan.

 

“Sangat-sangat keren,” Sung Yeol bergumam sendiri dengan tersenyum kemudian menuruni tangga.

 

 

.

 

 

Sun Young tidak datang sendirian ke Sky House. Di belakang gadis itu, sederet orang berbaris sambil membawa puluhan tas belanjaan. Soo Ji menganga heran melihat belanjaan yang ditumpuk setinggi gunung.

 

“Ini—apa?”

 

“Gaun.”

 

“Gaun?”

 

“Ini kan pesta. Apa artinya pesta jika kita tidak datang dengan mengenakan gaun,” Sun Young menjelaskan dengan skeptis.

 

“Tapi Tuan Putri Sun Young kan sudah cantik walaupun tanpa berdandan,” Sung Yeol memotong dialog kedua gadis itu.

 

“Ya ampun. Seorang wanita itu harus berdandan. Tidak berdandan saja cantik apalagi jika berdandan pasti akan semakin cantik kan, oppa?”

 

“Itu benar, hyung!” Jeong Min ikut menimpali.

 

Myung Soo melirik malas pada Sung Yeol dan Jeong Min yang menimpali ucapan Sun Young. Ia duduk dengan bersedekap, sebal terhadap apa yang terjadi pada pagi-pagi buta ini. Ia tidak suka pergi ke pesta, lebih-lebih baik ia tidur dan mengurung diri di dalam kamarnya. Huh, kalau saja Sung Yeol tidak mengancamnya, ia pasti tidak akan ikut.

 

“Ayo, ganti baju dulu.”

 

“Aku juga harus ganti?” tanya Soo Ji dengan terperangah.

 

Sun Young tampaknya tidak peduli pada respon Soo Ji yang tidak antusias. Ia menyeret Soo Ji masuk ke kamarnya sendiri diikuti sederetan orang yang membawakan tas belanjaan itu. Sun Young pun menyuruh pelayannya itu mengeluarkan apa yang ada di tas itu. Soo Ji mengerjapkan matanya syok begitu melihat banyak sekali gaun berenda yang membuatnya risih. Gaun pastel yang terlihat di salah satu tas belanjaan itu membuat Soo Ji heran dengan rendanya yang begitu banyak. Bahkan Soo Ji sering menganggap gaun panjang itu sebuah pakaian yang benar-benar tidak nyaman.

 

“Jangan yang berenda, Sun Young-ah. Pasti benar-benar tidak cocok denganku.”

 

“Jangan bodoh, Soo Ji. Gaun-gaun ini pasti cocok kau pakai. Seleraku dalam memilih baju benar-benar baik loh. Kau mempunyai wajah putih dengan pipi bulat. Kalau memakai gaun berenda warna putih ataupun gelap, wah kau akan begitu manis.”

 

“Ta—tapi…”

 

“Kau pasti benar-benar cantik, Soo Ji!” Jeong Min memotong ucapan Soo Ji membuat Sun Young mencibir.

 

“Kau benar-benar tidak sopan merayu Soo Ji di depanku, Jeong Min-ah.”

 

“Mau bagaimana lagi? Motto hidupku adalah hidup dengan jujur. Salahkan istriku dong yang memang cantik.”

 

Myung Soo yang mendengar itu dari luar kamar semakin lama semakin sebal. Tapi jujur ia sendiri tidak mengerti mengapa ia begitu jengkel. Padahal ini bukan pertama kalinya ia mendengar Jeong Min merayu dan melakukan hal-hal bodoh. Myung Soo pun menggelengkan kepalanya menghapus pikiran anehnya.

 

Ia dapat melihat kemudian Sun Young mendorong Jeong Min keluar dan menutup pintu kamar dengan keras. Semuanya terkikik melihat Jeong Min yang turun dengan raut keruh kemudian disadarkan dengan kembalinya Yi Fan.

 

“Hotel sudah mengurus semuanya termasuk koki terbaik yang akan memasak makanannya. Apa ada hal lain yang harus saya urus?”

 

“Panggil beberapa artis juga. Kita harus mengundang beberapa orang untuk menyanyi. Apa gege tahu siapa artis yang disukai Soo Ji?”

 

“Sayang sekali, saya tidak tahu. Bagaimana jika saya tanyakan sahabat nona?”

 

“Ah, begitu ya. Undang beberapa idol yang baru comeback saja. Ah, jemput sahabat Soo Ji juga, kurasa ia pasti senang melihat sahabatnya juga datang.”

 

“Baik,” Yi Fan mulai permisi dan berbalik untuk menelepon beberapa manajer artis sesuai permintaan Sung Yeol itu.

 

Jeong Min mulai membuka suara membahas kejadian tadi,”Yang dilakukan Soo Ji tadi… Bukan kebetulan saja kan?”

 

“Ya, kemampuan bela dirinya benar-benar keren.”

 

“Ya, hyung. Aku sampai kaget sendiri melihatnya.”

 

“Kelihatannya kau tidak begitu mengenal pacarmu dengan baik ya,” Myung Soo yang sejak tadi diam saja mulai berkomentar dengan sinis.

 

Jeong Min tertawa riang memandang hyungnya,”Well, bukankah itu gaya berpacaran zaman sekarang. Kami saling mengenal secara perlahan dalam hubungan itu.”

 

“Aaaahhh…!”

 

Terdengar jeritan tajam dari lantai dua. Ketiganya yang sedang berbincang santai terlonjak kaget. Yi Fan yang sedang menelepon di pojok mencengkeram ponsel erat-erat sambil memandang ke lantai dua, sebelum bergegas berdesakan menaiki tangga.

 

Sung Yeol membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa,”Apa yang terjadi?!”

 

“Ha? Kenapa semuanya ke sini?”

 

Dengan bingung, Sun Young berdiri di depan Soo Ji untuk menyembunyikan gadis itu. Karena Sun Young mengenakan high heels yang cukup tinggi sehingga ia dapat menutupi tubuh Soo Ji yang sebenarnya lebih tinggi darinya itu, tidak ada yang kelihatan kecuali ujung rok berwarna biru gelap.

 

“Tadi kan ada yang menjerit…” Yi Fan bergumam pelan.

 

“Ya ampun… Jadi karena itu semuanya ke sini? Bahkan, Myung Soo oppa juga?”

 

Myung Soo yang berdiri di belakang bergumam dengan wajah merona,”Ini hanya refleks. Ya, hanya refleks…”

 

“Apa nona baik-baik saja?” Yi Fan bertanya tajam.

 

“Ada, masalah yang benar-benar gawat,”

 

“Apa nona baik-baik saja?” Yi Fan maju selangkah ke depan khawatir mendengar jawaban Sun Young.

 

Sun Young tersenyum menang sambil bergeser sedikit ke samping,”Soo Ji benar-benar cantik.”

 

Soo Ji memakai dress biru tua selutut dengan lengan baju pendek berwarna putih. Warna hitam itu benar-benar kontras dengan tubuh Soo Ji yang putih. Di tangannya ia memegang sebuah tas tangan putih polkadot hitam. Rambutnya dibiarkan tergerai indah tidak seperti biasanya yang sering ia ikat. Wajah putihnya diberi riasan tipis dengan lipstik merah.

 

Bagia empat lelaki itu, Soo Ji yang berdiri dengan raut kebingungan dan merasa canggung benar-benar tampak seperti seorang bidadari yang turun ke bumi. Tidak heran, Sun Young menjerit kaget. Bahkan seorang gadis yang juga cantik seperti Sun Young mengakui kecantikan Soo Ji.

 

“Berlebihan sekali,” Myung Soo yang menyadari dirinya berpikir Soo Ji cantik, langsung bergumam kesal. Ia melontarkan ucapan sinis itu kemudian menunduk.

 

Sun Young tertawa puas,”Kenapa? Saking cantiknya oppa tidak sanggup memandangnya?”

 

Awas kau, Sun Young! umpat Myung Soo dalam hati sebelum menyahut,”Siapa yang cantik? Sama sekali bukan tipeku?”

 

“Benarkah? Tapi wajah oppa kok merah?”

 

“Ini hanya karena disini sangat panas!” teriak Myung Soo kesal, kemudian turun ke lantai satu.

 

“Apakah di hati hyungku satu itu tumbuh perasaan cinta?” gumam Jeong Min.

 

“Cinta yang tak mungkin terbalas,” komentar Sun Young sambil tertawa geli.

 

“Oh, benarkah?”

 

“Soo Ji kan kekasihmu, Jeong Min!” Sun Young mengingatkan.

 

“Yah—tapi kan cinta bisa berpindah. Kalau Myung Soo hyung itu benar-benar mau bersaing, aku juga akan bersungguh-sungguh. Tapi Myung Soo hyung—cih… tidak mungkin.”

 

“Sudah pasti,” angguk Sung Yeol.

 

Soo Ji benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan ketiga orang di sekitarnya itu. Yang pasti, ia benar-benar tidak nyaman sekarang. Ini pertama kalinya ia mengenakan rok selain seragam. Mungkin ia pernah mengenakan beberapa kali saat masih kecil, tapi itu benar-benar sudah lama. Ini pertama kalinya ia mengenakan rok yang cukup ketat dan pendek, benar-benar tidak nyaman. Ia jadi ingat Jin Ri yang begitu menyukai rok dan tentu beda dengannya dan Soo Jung yang lebih suka memakai celana.

 

“Kalau aku berpakaian seperti ini, aku tidak bisa melawan jika diserang dari belakang,” gerutu Soo Ji tanpa sadar.

 

Yi Fan segera menanggapi,”Siapa yang berani menyerang Nona? Kalaupun ada, dia harus melawan saya dulu sebelum berani mencari gara-gara dengan Nona.”

 

“Ah, benarkah—“ Soo Ji menunduk melihat penampilannya sendiri. Ia benar-benar tidak suka. Setiap ia berjalan dengan cepat, kakinya tertahan rok. Benar-benar tidak enak.

 

“Apa tidak boleh aku memakai celana jeans dan kaus?”

 

“Sama sekali tidak boleh. Sia-sia saja dong aku mendandanimu begitu cantik.” Sun Young berkata dengan nada ketus mendengar kata kaus. “Aku sama sekali tidak mengerti kenapa kau suka sekali memakai kaus.”

 

“Apa Tuan Putri tidak memakai kaus di rumah?”

 

“Aku mengenakan pakaian seperti ini di rumah.”

 

“A—apa?”

 

“Ya ampun, kita harus selalu berpenampilan cantik. Kita tidak akan tahu kapan dan siapa yang mungkin datang berkunjung kan?”

 

Ketika mendengar jawaban Sun Young, Soo Ji diam tak menanggapi. Ia benar-benar heran betapa luar biasanya Sun Young. Benar, kalau menyangkut keluarga Sun Young, siapa pun bisa datang berkunjung kapan pun. Apa mungkin semua anak perempuan orang kaya memang harus berpakaian seperti Sun Young ya? Well, inilah gaya hidup yang benar-benar tidak dimengerti Soo Ji.

 

 

.

 

 

Ruang pesta hotel yang mereka gunakan begitu luas dan benar-benar mewah. Karena didekorasi untuk pesta, interiornya yang sebenarnya bagus terlihat sedikit berlebihan. Di pangung yang menghadap pintu masuk, ada grup idol terkenal yang sering dilihat Soo Ji di televisi dan mereka sedang bernyanyi. Tunggu, apa namanya? Got7? Hah, entahlah.

 

Saat itu jam dua pagi. Tadinya Soo Ji pikir tidak akan ada yang datang, mengingat jam itu jam-jam tidur. Tapi itu salah besar, tamu yang kebanyakan berasal dari SMA Gamseong banyak yang datang. Banyak dari mereka yang bersikap seolah mengenal Soo Ji, padahal Soo Ji mengetahui namanya saja tidak. Tetapi mereka semua hanya mengobrol sendiri dan tidak ada yang mendekati Soo Ji. Kecuali dua sahabatnya yang benar-benar tidak Soo Ji sangka hadir juga.

 

“Well, aku harus berterima kasih ya pada lelaki tinggi tampan itu karena membelikanku dan Soo Jung gaun yang bagus,” Jin Ri melirik dengan penuh pemujaan pada Yi Fan membuat Soo Ji terkikik geli.

 

“Walaupun dini hari, banyak yang datang ya?” Soo Ji bertanya polos.

 

“Tentu saja. Pangeran-pangeran grup Gamseong yang mengadakan, siapa yang mau ketinggalan?” Soo Jung menjawab dengan sinis.

 

“Grup Gamseong benar-benar luar biasa ya.”

 

“Kalau kau bergantung terus pada kekasihmu itu, memangnya siapa yang berani mengganggu? Grup Gamseong kan benar-benar berkuasa.”

 

“Ada apa sih, Soo Jung-ah? Kenapa kau benar-benar sinis?” Soo Ji mengerucutkan bibirnya sebal mendengar jawaban Soo Jung yang dingin.

 

“Asal kau tahu, kekasihnya kan bekerja di hotel ini dan mereka tak jadi berkencan tadi malam karena acara-acara seperti ini—“

 

YA! CHOI JIN RI—“ Soo Jung membungkam mulut Jin Ri dengan telapak tangannya sehingga membuat sedikit keributan membuat Soo Ji tersenyum ceria mengingat kejadian seperti inilah yang dirindukannya.

 

Myung Soo memperhatikan mereka tanpa ekspresi. Ia bahkan tidak sadar Sung Yeol mengaitkan lengan ke lengannya. Suasana hatinya benar-benar buruk karena keramaian ini dan dirinya yang kurang tidur. Tempat ini benar-benar bukan tempat yang sesuai dengannya.

 

“Ini kan pesta, perbaiki ekspresimu itu, adikku sayang. Seram, tahu,” komentar Sung Yeol.

 

Setelah pinggangya dicolek dari samping oleh kakaknya barulah Myung Soo tersadar bahwa lengan kakaknya itu… Ia mengernyit dan menarik lengannya dengan kasar dari pelukan Sung Yeol. Sung Yeol mencibir dan memasang raut seperti anak anjing lucu melihat kelakuan adiknya itu.

 

“Kau kasar sekali pada hyungmu. Aku tersinggung nih.”

 

“Tersinggung, apaan? Kenapa sih kita berada di sini sekarang?”

 

“Maksudmu kenapa kita saling mencolek di sini sekarang?”

 

Hyung bercanda?”

 

“Tidak lucu ya?”

 

“Sama sekai tidak,” balas Myung Soo dingin, kemudian duduk di kursi kecil di pojok sembari memejamkan matanya.

 

Sung Yeol yang ditinggalkan sendiri tanpa peduli mencari adik terkecilnya yang pasti berkumpul dengan teman-temannya itu diam saja tak berusaha mencari teman. Well, tidak perlu sebetulnya, karena para gadis itu langsung mengerubunginya tak lama kemudian. Walaupun kerumunan gadis itu mencoba mengajaknya bicara, namun Sung Yeol diam saja karena pandangannya hanya tertuju pada Soo Ji. Soo Ji yang sekarang tersenyum lepas karena bertemu dengan sahabatnya.

 

Ah… aku bersedia melakukan apapun untuk gadis itu. Sung Yeol terkejut dengan jalan pikirannya yang tiba-tiba itu. Apa sih yang kaupikirkan, Lee Sung Yeol? Soo Ji kan pacar Jeong Min.

 

Soo Ji tergelak mendengar lelucon yang diceritakan Jin Ri. Jujur, Soo Ji capek setengah mati berada di sini. Ia memang berterima kasih pada mereka yag mengadakan pesta penyambutan ini untuknya, tetapi ini benar-benar berlebihan. Ia pikir ia setuju dengan ucapan Myung Soo tadi. Cukup kumpul-kumpul di ruang keluarga, meikmati makanan ringan, minum soda kalengan lalu berbincang-bincang dengan keluarga ataupun dengan sahabat, Soo Ji sudah senang dengan pesta kecil seperti itu. Soo Ji melirik Sung Yeol yang dikerumuni gadis-gadis, Jeong Min yang mengobrol dengan teman-teman yang tidak dikenal Soo Ji atau Sun Youg yang berbicara dengan ramah pada idol yang mengisi pesta ini.

 

“Apakah Nona capek?”

 

Soo Ji, Soo Jung dan Jin Ri kaget mendengar suara berat Yi Fan menyela obrolan mereka. Yi Fan yang ternyata sedari tadi berdiri di pojok seperti bayangan menghampiri mereka lebih tepatnya menghampiri Soo Ji. Jin Ri menatap Yi Fan dengan penuh kekaguman membuat Soo Ji memiliki ide untuk menggoda sahabatnya itu.

 

“Ternyata gege masih di sini. Ah ya, apa gege sudah memiliki kekasih? Sahabatku ini benar-benar penasaran.”

 

Soo Ji mengucapkan hal itu dengan santai membuat Soo Jung menahan tawanya. Jin Ri yang sadar bahwa kata ‘sahabatku’ itu dimaksud untuknya mendelik ke arah Soo Ji. Pipinya dan Yi Fan refleks merona mendengar pertanyaan pribadi yang ditanyakan Soo Ji.

 

“No—nona—“

 

“Tidak usah malu, ge. Jika gege tidak punya pacar, kurasa Jin Ri mau berkencan dengan gege.”

 

Yi Fan terdiam mengetahui pipinya semakin merona mendengar ucapan Soo Ji yang tepat sasaran. Ia bingung harus menjawab apa, begitupun dengan Jin Ri yang tertunduk malu mengetahui sahabatnya ini benar-benar tega mempermalukannya.

 

“Lupakan ucapanku tadi, ge. Aku hanya bercanda. Aku hanya mengantuk dan capek.”

 

“Baik kalau begitu mari saya antarkan pulang.”

 

“Bisakah? Ini pesta untukku tapi aku boleh pulang duluan, bukankah itu tidak sopan?”

 

“Tentu saja boleh. Nona boleh melakukan apa saja yang Nona mau.”

 

Yi Fan menjawab skeptis menunggu balasan Soo Ji. Soo Ji pun hanya mengangguk dan tersenyum senang kemudian mengajak kedua sahabatnya berjalan keluar ruangan itu. Soo Ji sedikit terharu terhadap kebaikan hati yang dimiliki pengawalnya ini. Ia merasa hangat kembali.

 

Aku… Sepertinya aku menyukai orang ini.

 

*

 

Bibir Ji Yeon bergetar penuh kebencian mendengar cerita mengenai pesta penyambutan Soo Ji di Sky House semalam. Katanya mereka mengadakan pesta di Hotel milik Grup Gamseong dengan mewah hingga mengundang idol terkenal pula. Sebagian besar murid kelas khusus menghadiri pesta tersebut.

 

Tidak mungkin. Ji Yeon tidak mengerti kenapa mereka mengadakan pesta penyambutan segala. Lagipula bagaimana bisa sahabat Soo Ji, dua orang miskin itu juga diundang? Ini benar-benar memalukan, bagaimana jika kedua sahabat Soo Ji itu menyebarkan bahwa Ji Yeon yang mengaku termasuk orang kaya dan terkenal di SMA Gamseong malah tidak datang kemarin malam. Bukankah dia di rumah itu sebagai pembantu? Kenapa semuanya bersikap berlebihan seperti itu?

 

Gosip tentang Soo Ji menyebar dengan baik sesuai perkiraan Ji Yeon. Walaupun ada pembagian kelas khusus dan kelas biasa, ada murid kelas biasa yang dekat dengan murid kelas khusus. Ah Reum misalnya yang dekat dengan kakak kelas di kelas khusus. Melalui mereka, murid kelas khusus pasti mendengar juga gosip tentang Soo Ji itu. Tapi, kenapa sampai sekarang belum ada tanggapan?

 

Yah, sudahlah. Pasti akan terjadi hal besar sebentar lagi. Berbahagialah selagi kau bisa, Bae Soo Ji. Lihat saja, kau pasti akan dibuang lagi.

 

 

.

 

 

“Kudengar kemain anak-anak kelas khusus mengadakan pesta, ya?” tanya YoonA hati-hati.

 

Myung Soo yang sedang fokus memotret bunga sakura dengan kameranya itu terdiam sebentar. Ia mengangguk kemudian setelah menyelesaikan kegiatannya memotret bunga itu. Ia sebenarnya tidak begitu tertarik dengan topik yang dibicarakan YoonA.

 

“Katanya pestanya untuk Soo Ji.”

 

“Ya.”

 

“Ah, begitu.”

 

“Keputusannya tiba-tiba. Jadi tidak begitu banyak yang diundang.”

 

Myung Soo menjawab dengan cuek kemudian memfokuskan kameranya untuk memotret bunga sakura lagi. Ucapan Myung Soo itu terdengar seperti alasan di telinga YoonA. YoonA tersenyum samar, kemudian menggenggam tangan Myung Soo lembut. Sampai sekarang YoonA memang jarang menggenggam tangan Myung Soo lebih dulu, sehinngga Myung Soo terkejut dan menoleh ke arah gadis itu.

 

“—Ada—apa?”

 

“Myung Soo, aku—ingin melupakan Jeong Min.”

 

Myung Soo bingung. Ia tidak dapat menemukan tanggapan yang cocok atas ucapan YoonA yang tiba-tiba itu. YoonA gadis yang rapuh dan mudah hancur. Karena itulah ia sangat berharga di mata Myung Soo. Entah karena alasan apa, oarang yang disayanginya ini tiba-tib ingin melepaskan orang yang selama ini mengisi hatinya. Ini sata yang sejak dulu ditunggunya, ucapan yang selama ini ingin didengarnya, lalu kenapa sekarang ia malah tidak tahu harus merespon apa?

 

“Myung Soo-ya… Tolong bantu aku.” YoonA menatap Myung Soo dengan mata berkaca-kaca. “Aku… benar-benar ingin melupakan Jeong Min.”

 

Nuna… ingin aku melakukan apa?” Myung Soo bertanya dengan suara serak, ia kehabisan kata-kata.

 

“Denganku—aku ingin kau berpacaran denganku, Myung Soo-ya.”

 

Ini adalah saat-saat yang dinantikan Myung Soo sejak dulu. Ia selalu berharap berada di sisi YoonA sejak dulu sebagai pacarnya walaupun hanya satu jam. Tetapi—

 

Kenapa aku teringat wajah cewek itu?

 

Di pikiran Myung Soo muncul wajah dengan pipi bulat dan kulit putih yang menyunggingkan senyum penuh tangisan di bola mata kucingnya. Di otaknya muncul sosok yang memejamkan mata dengan bahagia saat memberi makan burung-burung kecil.Myung Soo tidak bisa melihat wajah YoonA dengan jelas karena saat melihat mata sedih gadis it, yang terlihat hanyalah wajah Soo Ji. Sesaat Myung So hanya diam terhanyut dengan pikirannya. YoonA menggenggam tangan Myung Soo lebih erat lagi seakan tidak sabar.

 

“Tolong pacaran denganku, Myung Soo-ya,” desak YoonA.

 

“Ya—“

 

Sambil menelan ludah, Myung Soo menyingkirkan bayangan wajah Soo Ji,”Ya.”

 

Bayangan wajah Soo Ji muncul di pikirannya walau sebentar, itu pasti karena gadis itu pacar Jeong Min. Pacar laki-laki yang sangat dicintai YoonA. Karena itu wajah Soo Ji terbayang di benaknya. Ya, pasti tidak ada alasan lain. Hanya alasan itu yang masuk akal sekarang.

 

“Terima kasih, Myung Soo-ya.”

 

YoonA membenamkan wajah di dada Myung Soo sambil tersenyum sedih. Ia merangkul bahu gadis itu dengan aku seperti robot, kemudian memejamkan matanya menghilangkan pikiran anehnya. Meskipun sekarang hati YoonA penuh dengan Jeong Min, pelan-pelan Jeong Min yang ada di hatinya akan hilang dan tergantikan oleh Myung Soo. Benar, itu pasti bisa terjadi.

 

Tetapi kenapa hatinya kini terasa berat?

 

*

 

Dalam perjalanan ke tempat kerja paruh waktu, Soo Ji mampir sebentar ke klinik hewan. Dongwoo jauh lebih sehat sekarang. Anjing itu sudah bisa berdiri dan mengibaskan ekornya. Ketika melihat sorot mata hitam Dongwoo yang polos, perasaan Soo Ji juga menjadi baik.

 

“Dongwoo, semangat ya. Senin minggu depan kau usdah boleh pulang.”

 

Dongwoo menggonggong seakan mengerti maksud Soo Ji. Ia menyentuh hidung Dongwoo sebelum berangkat menuju restoran tempatnya bekerja. Tidak ada seorangpun di ruang ganti baju karyawan. Ketika membuka loker, Soo Ji mendesah. Ada yang menyobk seragamnya. Gurauan yang tidak lucu dan keterlaluan.Soo Ji sebenarnya bisa menduga siapa yang melakukan itu, tapi ia tidak memiliki bukti. Ini ruang ganti baju, tentu tidak ada kamera pengawas.

 

Bagaimana ini?

 

Karena hal seperti ini sering dialami Soo Ji, ia sudah tidak sanggup marah lagi. Waktu Soo Ji masih SMP, baju olahraganya sering disobek oleh Ji Yeon. Hal itu keihatan sekali bahwa sobekan itu dibuat dengan silet. Di rumahnya yang memiliki silet hanyalah Ji Yeon, tetapi ibu tiri dan ayahnya malah berkata, “Kau sendiri yang ceroboh, makanya sobek kan? Pakai saja setelah kau jahit kembali.”

 

Memangnya kurang hati-hati bagaimana lagi Soo Ji agar tidak terjadi hal seperti itu? Ia tidak pernah melakukan hal yang menyinggung orang lain ataupun berkelahi dengan orang lain. Ia sebal mengapa orang lain begitu mudahnya melakukan ini padanya. Ternyata memang susah hidup bersama orang lain. Padahal jauh lebih baik meeka berterus terang berkata tidak suka atau mengusir Soo Ji daripada membuat susah orang lain. Soo Ji tersenyum pahit, lalu pergi mencari manajer yang berdiri di dekat dapur.

 

“Seragamku sobek.”

 

“Oh, benarkah? Bagaimana bisa?” tanya manajer yang baik hati pada Soo Ji.

 

“Aku tidak tahu.”

 

“Tentu saja karena ceroboh,” kata Yoo Jin yang tiba-tiba menghampiri mereka dari dalam dapur dengan sinis.

 

“Kalau begitu, Yoo Jin. Cepat beri Soo Ji seragam lain.”

 

Ketika mendengar perkataan manajer itu, Yoo Jin mengernyit dengan gusar,”Hah, yang benar saja. Dulu saat Ga Eun mengotori seragam, Anda menyuruhnya pulang dan mencucinya.”

 

“Waktu itu kan kotor, jadi bisa dicuci. Tapi kalu disobek, tidak ada yang bisa dilakukan, kan?”

 

“Itu kan kesalahannya. Suruh saja dia menjahit seragamnya, lalu memakainya lagi.”

 

“Hah—“ Raut muka manajer itu menjadi tidak enak. Ia tidak mungkin mengabaikan Yoo Jin yang sudah lama bekerja di restoran ini.

 

Soo Ji menatap Yoo Jin tajam. Wajah Yoo Jin memerah seolah-olah panik takut bertemu mata dengan Soo Ji,“A—apa?”

 

“Loker. Aku sudah mengunci lokerku, tapi ada yang menyobek seragamku.”

 

“Lalu?”

 

Eonni kan yang memberikanku kode kunci loker?”

 

YA! Kau menuduhku menyobek bajumu?”

 

“Jadi bukan eonni?”

 

“Kenapa aku menyobeknya? Jangan sombong! Kau kan yang cari perhatian dengan menyobek-nyobek bajumu agar diperhatikan manajer.”

 

“Hm…” Soo Ji tidak punya bukti, jadi ia tidak bisa menyelesaikan masalah ini hanya dengan menuduh Yoo Jin lebih lanjut. Lebih baik ia berhenti bertanya dan mulai menjahit seragam. Entah apakah seragam itu bisa dipakai setelah dijahit mengingat kemampuan menjahitnya benar-benar parah. Tidak mungkin kan ia ke rumah Jin Ri untuk meminta tolong dijahitkan?

 

“Kau mau pergi kemana, hah? Kita belum selesai bicara dan kau mau mengabaikanku? Adikku anggota geng motor yang terkenal di daerah ini. Kau pikir semua laki-laki di dunia ini akan membelamu karena kau cantik?”

 

“Aku tidak pernah berkata seperti itu. Aku tidak mengerti mengapa eonni mengungkit-ungkit hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini. Aku mau pergi menjahit seragam.”

 

Dengan sebal Yoo Jin memandang Soo Ji yang pergi meninggalkannya menuju ruang ganti. Soo Ji mengeluarkan seragamnya lagi. Ia mendesah pelan melihat seragamnnya yang disobek sampai tak berbentuk. Sepertinya akan sulit menjahitnya kembali seperti semula. Lagipula, Soo Ji juga tidak memiliki peralatan menjahit sama sekali di sini. Soo Ji pun memasukkan seragam ke tas belanja dan meminta izin ke manajer untuk cuti satu hari.

 

Manajer melirik Yoo Jin sebentar kemudian berkata,”Ya. Hati-hati kalau pulang.”

 

Padahal Soo Ji ingin hidup tenang setelah pergi dari rumahnya. Kalau ia sudah menjadi dokter hewan, ia mau hidup tenang sambil mengobati hewan-hewan. Soo Ji sangat iri dengan orang eksentrik atau pensiunan yang hanya bisa bertemu beberapa orang saja.

 

“Nona keluar lebih cepat,” Yi Fan yang menunggu Soo Ji di parkiran seperti biasa, menghampiri Soo Ji.

 

“Ya, hari ini aku mau langsung pulang.”

 

“Apa ada masalah?”

 

“Ada yang menyobek seragamku.”

 

Ketika mendengar jawaban gadis itu, raut wajah Yi Fan berubah dingin,”Ada yang menyobek seragam Nona? Apa ada yang sengaja melakukannya?”

 

Orang ini bisa jadi menyeramkan ya.

 

Ini pertama kalinya Soo Ji berpikir seperti itu mengenaik Yi Fan. Pengawal yang selalu terlihat tenang dan pikirannya selalu tidak bisa ditebak itu sekarang memasang raut wajah dingin yang menunjukkan bahwa ia sanggup melakukan apa saja jika ia tahu siapa yang menyobek seragam Soo Ji.

 

Soo Ji menelan ludah, lalu menggeleng, ”Bukan… bukan seperti itu.”

 

“Kalau ada apa-apa, jangan segan-segan memberitahu saya.”

 

Soo Ji masuk mobil sambil menggeleng keras-keras menghilangkan bayangan apa kira-kira yang dilakukan Yi Fan jika tahu Yoo Jin begitu jahat padanya. “Gege, tidak usah menungguku juga tidak apa-apa.”

 

“Ini sudah semestinya saya lakukan.”

 

“Tetap saja. Selama aku bekerja, gege juga bisa melakukan hal lain. Memangnya benar ya gege tidak punya pacar?”

 

“Ya, saya memang tidak punya.”

 

“Eiii, mana mungkin, gege kan tampan.”

 

“Tidak semua orang tampan punya pacar.”

 

“Jadi gege mengaku tampan?”

 

“AH, apa ucapan saya seperti itu?”

 

Soo Ji tertawa geli, ”Gege kan tinggi, pintar, tampan. Apa selera gege yang terlalu tinggi?”

 

“Selera saya tidak tinggi.”

 

“Benarkah? Kalau begitu yang seperti apa? Sahabatku Jin Ri benar-benar penasaran.”

 

Yi Fan balas memandang Soo Ji melalui kaca spion lalu menjawab, ”Gadis seperti Nona.”

 

Soo Ji tertawa terbahak-bahak,”Ya ampun gege bisa saja menggodaku. Tidak kusangka gege pintar merayu ya?”

 

“Saya laki-laki yang sangat polos.”

 

“Huh, terserahlah—“

 

Di Sky House hanya ada Sung Yeol. Lelaki itu sedang berbaring membaca komik di ruang keluarga. Ketika mendengar suara Soo Ji masuk, Sung Yeol langsung bangkit dan menghampiri Soo Ji denga terburu-buru.

 

“Soo Ji!” teriak Sung Yeol dengan ceria. Soo Ji merasa nyaman bersama Sung Yeol karena lelaki itu selalu menunjukkan ekspresi yang sesuai dengan isi hatinya.

 

“Wah, menyenangkan sekali kau bisa pulang seawal ini. Apalagi Jeong Min tidak ada di rumah.”

 

“Apa yang oppa lakukan sendirian?”

 

“Aku belajar tentang manusia melalui membaca komik.”

 

“Belajar?” Soo Ji kadang-kadang heran mendengar jawaban lelaki itu yang tidak masuk akal.

 

“Aku jadi tahu bahwa kau lebih cantik daripada gadis-gadis di dalam komik.”

 

“Jangan bercanda, oppa!”

 

Karena bicaranya yang seperti anak kecil, Soo Ji sering merasa bahwa Sung Yeol lebih muda darinya. Padahal Sung Yeol lebih tinggi dan dua tahun lebih tua darinya. Tetapi Soo Ji merasa bahwa lelaki itu seperti adiknya. Pasti menyenangkan jika memiliki adik laki-laki.

 

Sung Yeol memperhatikan tas belanjaan yang dibawa Soo Ji,”Apa itu? Makanan?”

 

“Bukan, bajuku sobek jadi aku mau menjahitnya.”

 

“Beli yang baru saja.”

 

“Aku orang yang biasa berhemat.”

 

“Ah iya ya. Kalau begitu aku akan meminta pelayan menyiapkan alat menjahit ya?”

 

“Terima kasih,oppa!”

 

Sung Yeol memanggil pelayan untuk segera mengambilkan Soo Ji alat menjahit. Soo Ji memandang alat menjahit yang lengkap di depannya itu. Ia mengambil salah satu jarum dan benang secara hati-hati dan mulai menjahit bajunya tidak beraturan. Sung Yeol yang melihat itu hanya tersenyum.

 

“Soo Ji-ya. Apa kau punya paspor?”

 

“Paspor?”

 

Soo Ji tersenyum pahit. Ia ingat pernah membuat paspor. Waktu SMP, ada beasiswa untuk belajar bahasa di luar negeri. Di antara anak-anak yang mempunyai peringkat sepuluh besar, sekolah akan memilih lima dan membiayai anak-anak tersebut untuk belajar bahasa inggris di Amerika. Soo Ji membuat paspor ntuk ikut mendaftar di program itu.

 

Nilainya bagus. Ia juga banyak mengikuti ekstrakulikuler. Kemampuan bahasa inggrisnya juga tidak begitu buruk. Soo Ji yakin, ia bisa terpilih. Ia tidak bisa melewatkan kesempatan untuk menjah dari keluarganya meski hanya enam bulan. Tetapi pada har pengumuman, ia frustasi melihat daftar nama yang terpilih.

 

“Kenapa aku tidak dipilih?”

 

Mendengar pertanyaan Soo Ji, wali kelasnya itu memandangnya aneh,”Kau kan tidak ikut mendaftar. Kalau mendaftar, kau pasti dipilih.”

 

Soo Ji mendaftar. Tidak mungkin ia tidak mendaftar. Ia bahkan memeriksa formulirnya beberapa kali dan mencocokkannya dengan milik Soo Jung dan Jin Ri. Ia juga menyerahkan formulirnya pada hari pendaftaran bersamaan. Namun mengapa Soo Jung yang berada di bawah peringkatnya terpilih dan ia tidak? Iapun bertanya pada ketua kelas tentang hal itu. Ketua kelasnya itu menjawab dengan perasaan tidak enak.

 

“Ketika aku hendak ke ruang guru, Ji Yeon bilang ingin membantuku..”

 

Saat itu, Soo Ji mulai sadar bahwa Ji Yeon lah yang selama ini selalu menghalanginya. Tapi ia sungguh tidak mengerti apa alasan Ji Yeon melakukan hal itu. Bukankah itu kesempatan bagus untuk mengusir Soo Ji dari rumah? Tapi mengapa Ji Yeon malah menyembunyikan formulirnya dan tidak membiarkannya pergi?

 

“Alasannya apa coba?” Tanpa sadar, Soo Ji bergumam pelan.

 

Sung Yeol yang awalnya menunggu jawaban gadis itu sambil membaca komik kini mendongak,”Alasan? Alasan apa?”

 

“Ah—itu—itu…”

 

Sung Yeol tersenyum kecil melihat Soo Ji kebingungan. Ia melirik Soo Ji yang menjahit bajunya sendiri semakin tidak berbentuk. Ia mengulurkan tangannya,”Coba berikan padaku.”

 

Soo Ji menyerahkan bajunya sekaligus jarum dan benang itu pada Sung Yeol dengan malu-malu. “Kau tidak bisa menjahit ya?”

 

“Bagiku menjahit adalah hal yang paling sulit.”

 

“Kalau begitu biar aku yang menjahit.”

 

Oppa bisa? Wah, hebat!” Soo Ji berseru ketika melihat Sung Yeol mengembalikan jahitan buruk Soo Ji dengan cepat dan cekatan.

 

“Omong-omong, alasan mengenai apa?” tanya Sung Yeol dengan fokus pada kegiatan menjahitnya.

 

Soo Ji kira ia bisa menghindari bahaya, tapi ternyata Sung Yeol belum melupakan pertanyaannya tadi. Ia ragu-ragu sejenak sebelum bercerita,”Jadi—ada A dan B. B benci pada A padahal A tidak pernah melakukan hal buruk pada B. Suatu hari ada kesempatan bagus agar A pergi dari hadapan B. B tidak peduli terhadap kesempatan itu tetapi ia menghalangi A untuk mendapatkan kesempatan itu. Lalu apa alasannya B menghalangi A? Padahal B tidak akan memperoleh apa-apa jika melakukannya.”

 

“Mengenai dirimu ya?” tanya Sung Yeol.

 

“Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.”

 

“Kalau B membenci dan mengganggu A, berarti B iri dengan A.”

 

“Iri? Tapi A tidak punya apa-apa.”

 

“Tetap saja itu namanya iri. Walaupun A tidak punya apa-apa, tapi B tetap iri ketika A akan mendapatkan sesuatu ataupun ketika A senang. Ada kok orang semacam itu. A itu pasti dirimu, lalu B itu siapa?”

 

“Ah, itu hanya di novel.”

 

“Benakah? Aku benci loh terhadap orang yang tidak jujur.” Sung Yeol berhenti menjahit dan menatap Soo Ji tajam. Matanya yang lebar seperti anak anjing berbinar-binar seolah mencari kebenaran dari mata Soo Ji. Namun Soo Ji yakin ia menemukan sorot mata kejam yang membuat Soo Ji merinding.

 

“Apa yang akan oppa lakukan jika tahu siapa B?”

 

“Aku akan menyingkirkannya.”

 

Oppa yakin?”

 

“Ya, aku menyukaimu. Jadi jika ada orang yang mengganggumu berarti ia musuhku. Aku orang yang sangat pintar menggolongkan orang yang kusuka dan kubenci loh. Jadi, siapa B?”

 

“Aku tidak mau membahasnya.”

 

“Well, kurasa aku tahu siapa dia.”

 

“Benarkah?”

 

“Park Ji Yeon.”

 

“…”

 

“Anak ibu tirimu. Aku benar, kan?”

 

“Bagaimana—bagaimana bisa?”

 

“Ada gosip yang menyebar di sekolah. Sejujurnya aku tidak suka gosip, tapi aku mendengarnya tanpa sengaja. Park Ji Yeon menggambarkanmu seperti gadis jahat, tapi dia lupa Grup Gamseong punya penyelidik handal. Tinggal bertanya sedikit pada tetanggamu, kita bisa langsung tahu sifat dan kepribadian seseorang. Orang yang sering mengganggu itu Park Ji Yeon kan? Kau benar-benar Cinderella yang tidak punya siapapun yang membelamu di rumah itu. Meskipun diganggu, kau tidak pernah berkata apapun, hanya diam saja. Ketika SMP, kau sangat ingin keluar dari rumah melalui pergi ke luar negeri, tetapi Park Ji Yeon merusak semuanya kan.”

 

Kata-kata tersebut meluncur keluar dari mulut Sung Yeol tanpa emosi apapun. Sung Yeol tahu cerita itu tidak pernah diceritakan Soo Ji pada siapapun. Bahkan sahabatnya pun tahu itu tanpa sengaja saat mereka bermain ke rumah Soo Ji. Soo Ji bingung harus menjawab apa pada cerita panjang Sung Yeol. Ia hanya menatap lelaki itu dengan bingung.

 

Bagaimana bisa tahu sampai sejauh itu?

 

“Bukan hanya aku yang tahu. Jeong Min, Myung Soo bahkan Sun Young mengetahui semua itu.”

 

“Ah… benarkah?”

 

“Kau sekarang anggota keluarga Sky House. Walaupun kau tidak bilang apa-apa, musuhmu adalah musuh kami juga. Kau hanya bilang tidak menyukai Park Ji Yeon. Maka kami akan menyingkirkan gadis itu.” Sung Yeol memandang Soo Ji yang membeku.

 

“Aku tidak pernah mengharapkan itu,” Soo Ji menjawab dengan spontan.

 

Soo Ji tidak pernah mengharapkan Ji Yeon menghilang. Ia hanya ingin tahu kenapa Ji Yeon begitu membencinya. Padahal Soo Ji tidak memiliki apapun untuk diirikan. Ia hanya gadis yang terlahir di dunia ini dengan kenyataan ia kehilangan ibunya di usia muda karena kecelakaan.

 

Kenapa Ji Yeon begitu membencinya? Dia sudah merebut semuanya dari Soo Ji. Bahkan ia memiliki ibunya dan ayah Soo Ji. Ji Yeon kurang apa lagi? Sekarang ia mau merebut apa lagi? Tetapi Soo Ji bersyukur ia kini baik-baik saja. Ada orang-orang yang mengerti dirinya. Bahkan Sung Yeol sudah mengucapkannya tadi.

 

Anggota keluarga Sky House.

 

Keluarga. Sudah lama Soo Ji tidak mendengar kata itu. Walaupun yang dikatakan Sung Yeol itu hanya ketidakpedulian sesaat selama ia tinggal di Sky House, hati Soo Ji tetap merasa hangat. Ketika pulang, ada yang menyambutnya dengan senang hati dan mengucapkan ‘selamat datang’ saja ia sangat bersyukur.

 

Karena itulah, aku tidak apa-apa.

 

Sung Yeol tersenyum ceria dan mulai menjahit lagi. Ketika termangu memperhatikan tangan Sung Yeol yang bergerak begitu luwes ketika menjahit, mendadak Soo Ji sadar bahwa kemampuan Sung Yeol itu bukan hanya kemampuan menjahit biasa.

 

Oppa sangat cekatan ya.”

 

“Ya, aku sering menjahit.”

 

“Kukira para tuan muda tidak melakukan hal seperti ini.”

 

“Benar apa katamu. Setelah aku menjadi tuan muda, aku tidak melakukannya.”

 

“Setelah menjadi tuan muda? Apa ada saat sebelum menjadi tuan muda?” Soo Ji mengernyit heran.

 

“Ya. Aku menjadi tuan muda rumah ini ketika SD… sekitar sepuluh tahun yang lalu?”

 

“Ha?”

 

Setahu Soo Ji yang namanya tuan muda ya dari awalnya juga tuan muda. Tapi kata Sung Yeol, ia menjadi tuan muda baru saat SD? Walaupun dia cucu kandung dari Direktur Lee? Sung Yeol yang paham melihat ekspresi kebingungan Soo Ji pun mulai menjelaskan.

 

“Kakek kami menikah dua kali. Istri pertama beliau minta bercerai dan anaknya yaitu ayahku meminta keluar dari rumah mengetahui kakek menikah lagi dengan nenek Myung Soo dan Jeong Min. Tepi tak lama kemudian nenek Myung Soo dan Jeong Min minta bercerai karena sudah muak. Hampir semua anak-anak kakek tidak mengenal kakek.”

 

Soo Ji mengendalikan dirinya agar tidak menganga lebar. Ia benar-benar tidak mengerti semua itu. Ternyata kehidupan orang kaya sebegitu rumitnya ya.

 

“Semua ayah-ibu kami mendapat uang untuk pendidikan mereka sehingga mereka masing-masing hidup dengan nyaman. Karena itu orang tuaku, orang tua Myung Soo atau orang tua Jeong Min tidak ada hubungannya dengan Grup Gamseong. Mereka mempunyai pekerjaan sendiri, hidup mandiri lalu melahirkan kami. Tapi entah kenapa, tiba-tiba kakek meminta mengumpulkan semua cucunya dan menempatkan kami di rumah lain. Kalau orang tua kami tidak mau mengirim ke Sky House, Kakek mengancam tidak akan memberikan uang untuk membesarkan kami hingga dewasa. Karena kakek memberikan uang itu sebelumnya, orang tua kami yang bekerja di perusahaan biasa-biasa saja termasuk cukup kaya. Jika kakek tidak memberikan uang itu tiba-tiba maka kami harus berhemat.”

 

“Ah…”

 

“Tapi sejujurnya apa ada orang tua yang ingin berpisah dengan anaknya? Meskipun tidak bisa mendapatkan uang, orang tua tetap tidak mau membiarkan anaknya pergi. Namun sepertinya mereka dibujuk nenek. Katanya kami akan lebih baik untuk masa depan kami. Kami bisa masuk sekolah yang didirikan Yayasan Gamseong, lalu masuk Universitas Gamseong dan setelah itu pasti dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan. Lagipula orang tua kami disuruh menganggap bahwa kami sedang belajar di luar negeri. Akhirnya dengan berat hati, orang tua kami menyetujuinya. Kalau kami, yah… kami oke-oke saja.Kami bisa hidup bebas dan watu itu ami juga masih kecil. Tapi masalahnya…” Raut wajah Sung Yeol berubah masam. “Orang tua Myung Soo…”

 

“Mereka berkeras tidak mau Myung Soo oppa pergi?”

 

“Bukan.. kebalikannya.”

 

“A—apa?”

 

“Ayahnya menurutku benar-benar busuk.”

 

“Busuk?”

 

“Ha.. Bagaimana ya? Ayahnya tukang selingkuh sehingga ayah dan ibunya sering bertengkar. Keduanya memilih bercerai dan tidak mau membawa Myung Soo. Ibunya terpaksa tidak membawanya karena suaminya itu mengusirnya dulu dari rumah itu. Setelah ayahnya menikah lagi, Myung Soo diserahkan ke rentenir untuk melunasi hutang ayahnya. Ketika baru masuk Sky House, Myung Soo baru berusia lima tahun, tapi tubuhnya sudah penuh memar karena dipukuli rentenir.”

 

“…”

 

“Kakek tahu bahwa ibu Myung Soo adalah anaknya pun menyuruhnya mengirim Myung Soo dengan memberikan uang untuk menebus Myung Soo. Ibunya yang memang sakit-sakitan akhirnya meninggal dunia. Karena itu, Myung Soo lah anak pertama yang masuk ke Sky House.

 

“Te—ternyata begitu—“ Karena itulah sorot mata Myung Soo seperti binatang buas yang terluka.

 

“Karena itu Myung Soo selalu bersama YoonA. Ibu YoonA yang waktu itu bekerja sebagai pembantu di Sky House. YoonA sering menjaga Myung Soo yang sendirian. Memang dari dulu YoonA begitu menyayangi Myung Soo seperti adik kandungnya. Myung Soo yang tidak pernah diperhatikan orang lain seperti itu. Jadi tidak heran, Myung Soo menganggap YoonA sebagai malaikatnya.”

 

“Ya.”

 

Akhirnya Soo Ji mengerti perasaan Myung Soo terhadap YoonA. Bukan hanya perasaan cinta, tapi juga kepercayaan dan rasa sayang yang sangat dalam. Myung Soo selalu menatap YoonA dengan perasaan seperti itu. Jujur, Soo Ji sering merasa sedikit cemburu kepada YoonA yang dipandang seperti itu.

 

“Kasihan Myung Soo. Masalahku tidak ada apa-apanya. Aku yang sering diganggu karena aku juara kelas atau aku harus berpisah dengan Sun Young yang sebenarnya saudara tiriku, tetapi ia dan ibunya dibuang oleh ayahnya sendiri.”

 

Terdengar gemerisik yang membuat mereka berdua terlonjak kaget dan menoleh ke belakan. Ada Myung Soo yang sedang berdiri menatap tajam pada mereka berdua. Mata hitam rubinya berkilat-kilat penuh kemarahan. Kemarahan yang sanggup membuat orang lain merinding.

 

“Kalian membicarakan apa di belakangku?” tanyanya dengan suara sinis.

 

“Ah… Myung Soo. Sudah pulang?” Sung Yeol menyambut Myung Soo dengan senyum ceria seperti biasanya, sama sekali tidak mempedulikan kemarahan adiknya.

 

“Memangnya hyung punya hak membicarakanku?”

 

“Itu bukan hal yang perlu dirahasiakan, Myung Soo-ya.”

 

“Tapi itu bukan hal yang patut dibicarakan ketika aku tidak ada kan?”

 

“Tapi lebih seru kan membicarakan orang ketika orangnya tidak ada?”

 

Hyung kira aku hanya pura-pura marah begitu?”

 

Myung Soo melayangkan tinju ke arah Sung Yeol. Tanpa sadar, Soo Ji mencengkeram erat pergelangan tangan Myung Soo untuk menahannya. Dibandingkan rasa bersalah karena menahan lelaki itu memukul Sung Yeol, Soo Ji lebih merasa bersalah melihat sorot mata lelaki itu yang penuh amarah. Sudah jelas, lelaki itu marah. Mereka salah karena membicarakan penderitaan Myung Soo ketika dirinya tidak ada.

 

Myung Soo menepis tangan Soo Ji dengan kasar,”Menyenangkan sekali ya? Karena sekarang statusmu sudah naik, kau bisa dengan nyaman menggali-gali aib orang di belakang.”

 

“KIM MYUNG SOO! Apa maksudmu bicara seperti itu?” sergah Sung Yeol marah.

 

“Selagi aku menghormatimu, hyung lebih baik diam saja. Dan kau… Jangan sekali-kali kulihat kau mengorek-ngorek informasi tentangku. Cewek sepertimu itu benar-benar membuatku muak.”

 

Setelah Myung Soo keluar ruangan itu dengan perasaan dongkol, Sung Yeol menatap Soo Ji dengan raut wajah yang sangat bersalah,”Maaf, Soo Ji-ya. Gara-gara aku—“

 

“Tidak, itu bukan salah oppa. Kita sama-sama bersalah karena membicarakan Myung Soo oppa di belakangnya.”

 

“Bukan kita, tapi aku. Aku yang menceritakan semua itu. Setelah menjahit, aku yang minta maaf.”

 

Seragamnya menjadi bagus seperti baru. Memang jahitannya kelihatan di mana-mana, tapi kalau dari jauh, tidak kelihatan. Sung Yeol sudah membantunya dengan jahitan yang sangat rapi. Ketika selesai, Sung Yeol memberikan seragam itu kepada Soo Ji sambil berkata.

 

“Jangan khawatir, aku akan minta maaf. Myung Soo marah padamu juga karena aku.”

 

Benarkah begitu? Soo Ji tahu kok bahwa sejak awal Myung Soo membencinya. Seperti sekarang pun, terlihat sekali bahwa Myung Soo lebih marah padanya daripada kepada Sung Yeol. Well, jika Soo Ji naik ke lantai dua dan meminta maaf pada Myung Soo, cowok itu pasti tetap membencinya. Soo Ji merasa getir. Perasaannya sakit karena ia lagi-lagi dibenci orang yang tinggal serumah dengannya. Soo Ji menyeruput teh yang sudah dingin. Teh itu terasa begitu pahit, mungkin karena suasana hatinya tidak baik.Ia melipat seragamnya dan memasukkannya ke tas. Ia berniat masuk kamar, tetapi mendadak kelopak matanya terasa berat. Mungkin karena kecapekan nanti malam.

 

Padahal aku harus belajar matematika.

 

Soo Ji begitu mengantuk sampai rasanya ia tidak bisa bangkit untuk masuk kamar. Begitu menyandarkan kepalanya di pinggiran sofa, Soo Ji langsung tertidur.

 

.

 

“Myung Soo sayang, marah ya?”

 

“Keluar.”

 

“Aku tidak sengaja menceritakannya.”

 

“Sudah, keluar sana!”

 

Sung Yeol tidak menggubris bentakan Myung Soo, malah merangkul leher adiknya itu. Karena mersa terganggu, Myung Soo berusaha melepaskan diri, tetapi Sung Yeol merangkul dengan kuat. Tidak mungkin Myung Soo menghajar kakaknya ini kan. Ia hanya mendesah kesal. Sung Yeol kemudian melontarkan ucapan bodoh.

 

“Sejujurnya, aku ingin membuat Soo Ji tertarik padaku.”

 

“—Apa?”

 

“Hmm… Jeong Min kan selalu menempel pada Soo Ji, jadi aku tidak punya kesempatan untuk berbincang-bincang padanya. Hari ini kebetulan Soo Ji pulang lebih awal, jadi aku ingin mengobrol banyak dengannya. Karena itu tiba-tiba tersambung dengan ceritamu.”

 

“—Dasar—“ Myung Soo kehilangan kata-kata. Bagaimana bisa ia marah pada Sung Yeol yang selalu jujur menunjukkan perasaannya seperti anak SD? Myung Soo membuang nafasnya sambil mendorong Sung Yeol.

 

“Aku mengerti, jadi lepaskan tanganku!”

 

“Sudah tidak marah lagi, kan?”

 

“Ya.”

 

“Baguslah. Kalau begitu, ayo bantu pindahkan Soo Ji.”

 

“Pindahkan?”

 

“Kupikir kita tidak akan berhasil kalau aku diam saja dan tidak mengeluarkan obat tidurku. Jadi aku memasukkan sedikit ke tehnya…”

 

Hyung, itu kan tindakan kriminal!”

 

“Apa boleh buat, aku ingin membawa Soo Ji jalan-jalan ke luar negeri tapi dia tidak mau dan kita tidak mungkin membiarkannya sendirian selama kita melakukan kegiatan klub?”

 

“Ya ampun, apa sih yang kalian sukai gadis tidak normal seperti itu? Mana ada gadis yang menolak jika diajak ke luar negeri sih?”

 

Sung Yeol tersenyum lebar melihat Myung Soo ikut turun sambil menggerutu,”Kenapa senyum-senyum?”

 

“Karena aku menyukaimu.”

 

Hyung selalu mengucapkan hal-hal yang membuat orang merinding.”

 

“Dasar rewel.”

 

“Berisik ah!”

 

Mereka terpaku sejenak melihat Soo Ji yang berbaring di sofa. Karena posisi tidurnya meringkuk seperti anak kucing terlihat begitu manis, tanpa sadar jantung keduanya berdebar kencang.

 

Perasaanku tidak enak, Myung Soo mengernyit. Ada apa ini?

 

Wajah Sung Yeol memerah. Ia menoleh ke samping agar Myung Soo tidak melihat perubahan ekspresinya. Ya ampun… Mati aku. Kenapa kakek mengirim gadis semanis ini ke tempat tinggal yang dipenuhi laki-laki? Bagaimana kalau dia diapa-apakan?

 

Tapi pikiran aneh ini tidak berlangsung lama saat matanya menyadari sekilas sosok Yi Fan yang sedari tadi berada di pojok ruangan. Yi Fan, sang pengawal berdiri dengan raut datar. Tanpa seizin Yi Fan, tidak akan ada yang bisa menyentuh baju Soo Ji sedikitpun.

 

“Saya tidak setuju,” kata Yi Fan. “Ini tindakan kriminal.”

 

“Tuh kan, hyung. Apa kataku?” timpal Myung Soo kesal.

 

“Tuan memberikan obat tidur. Nona pasti marah kalau tahu.”

 

“Tapi aku membawanya ke Thailand untuk memberinya makanan yang lezat-lezat dan membuatnya senang.”

 

“Apakah Tuan Muda Jeong Min sudah ada di pesawat pibadi?”

 

“Sudah. Katanya ia sedang menyiapkan tempat tidur untuk Soo Ji bisa berbaring dengan nyaman.

 

“Kalau begitu, aku yang akan membawa Nona—“

 

“Ah!”

 

“Kenapa? Apa Tuan Muda bermaksud memeluk Nona ketika Nona sedang tidur?”

 

“Hah—“ Wajah Sung Yeol memerah. “Eh.. aku hanya… Apa-apaan sikap itu? Gege kan hanya bawahan.”

 

“Saya bawahan Pak Direktur. Perintah pak Dirktur hanya satu, menjaga Nona Bae Soo Ji. Apa ada masalah?”

 

“Tidak. Sama sekali tidak,” gerutu Sung Yeol sambil menyingkir ke samping.

 

Yi Fan memeluk Soo Ji dengan hati-hati. Ketika melihat pengawal itu membopong Soo Ji dengan lembut—walaupun memang harus dengan lembut karena gadis itu sedang tidur—Myung Soo jengkel. Saat sedang berganti sepatu, terlintas di benaknya bahwa Soo Ji dan Yi Fan yang dewasa dan sopan terlihat seperti pasangan dalam lukisan. Pikiran orang bodohku kembali.

 

“Menyebalkan…” Myung Soo menggerut.

 

“Hmm, adik. Adik,” Sung Yeol menelengkan kepalanya heran.

 

“Kenapa?”

 

“Kenapa adikku begitu sensitif terhadap hal-hal yang berhubungan dengan Soo Ji?”

 

“Siapa yang sensitif?”

 

“Nah ini kau sensitif.”

 

“Aku hanya tidak suka melihat cewek itu.”

 

Benar, aku tidak suka melihatnya. Setiap melihat wajahnya, jantungku berdebar-debar tidak karuan. Itu pasti karena aku sangat membencinya.

 

 

.

 

 

Jeong Min menatap YoonA yang berdiri di hadapannya dengan datar,”Kenapa memanggilku?”

 

YoonA mendongak menatap Jeong Min sambil menyelipkan rambut lurusnya ke belakang telinga. Walau matanya yang indah berbinar karena cahaya bulan, itu tidak membuat raut dingin Jeong Min berubah.

 

“Aku—pacaran dengan Myung Soo.”

 

“Oh… Lalu?”

 

“A—aku bersungguh-sungguh.”

 

“Aku tidak peduli kau berpacaran dengan siapa.”

 

“Jeong Min-ah…”

 

“Jangan bilang kau berpacaran dengan Myung Soo hyung dengan harapan aku bisa peduli lagi denganmu? Kau melakukan itu untuk menarik perhatianku?”

 

“Bukan begi—“

 

Buk!

 

Kepalan tangan Jeong Min meninju dinding di samping wajah YoonA. Ia menatap gadis itu dengan tatapan dingin dan ingin membunuh lalu berkata,”Dengar baik-baik, Im YoonA-ssi. Walaupun kami bukan saudara kandung seperti aku dan hyungku, Myung Soo hyung juga kakak yang sangat kusayangi. Jika kau menyakiti Myung Soo hyung seperti kau melukai hyungku dulu dengan sikap egoismu, aku akan membencimu selamanya.”

 

Wajah YoonA mengeruh,”Lebih dari sekarang?”

 

“Lebih dari yang kau bayangkan.” Jeong Min menjawab dengan jawaban menusuk ulu hati YoonA. Air mata YoonA mulai bercucuran, namun Jeong Min tidak menunjukkan reaksi apapun. Ia berbalik pergi dengan wajah tanpa ekspresi apapun.

 

“Aku selalu mencintaimu, Jeong Min-ah!” teriakan YoonA menembus kegelapan malam.

 

Jeong Min membalas tanpa menoleh,”Lalu kenapa?”

-TBC-

Wednesday, December 31st 2014 – 7.29 pm

Haihai, guys! It’s originally writen by me-read: magnaegihyun-. Well, first I’ll say Merry Chrismast and Happy New Year! I’d already told you that’s this part will protected by password so don’t angry to me. Mungkin akan muncul berbagai pertanyaan yap mengenai chapter ini. Tapi pertanyaan kalian di chapter sebelumnya terjawab kan. Siapa Sun Young ataupun kenapa Jeong Min membenci YoonA. Oke, alasan aku kasih password adalah banyak cerita-cerita yang penting udah terbongkar di chapter ini. Kemungkinan selanjutnya juga akan kuprotect karena chapter selanjutnya ada cerita tentang masa lalu Soo Ji dengan ibunya. Aku tahu ini chapter yang panjang dan melelahkan bahkan membosankan, tapi aku harap kalian mau membacanya. Just waiting for this. Hope you like it~ GIVE ME YOUR FEEDBACK>>>

Tired,

magnaegihyun

Advertisements

56 thoughts on “The Amazing Cinderella, Chapter 5

  1. Heol, Myungsoo gak suka sama Sooji karena asal liat Sooji jantungnya selalu bermasalah XD
    Kayaknya semua tuan muda + Yi Fan suka sama Sooji ya? Sungyeol udah ngaku ke Myungsoo kalo dia suka sama Sooji, Yi Fan udah bilang terus tenang ke Sooji tapi gak digubris Sooji, dan Myungsoo suka tapi masih gengsi. Tp sebenernya Jeongmin suka gak sih sama Sooji? Apa yang dilakukan Yoona dulu sampe Jeongmin benci sama dia?

  2. Ya ampun, ternyata kehidupan keluarga orang kaya itu jg rumit, bahkan lebih rumit dari orang yg biasa2aja, karena didalam keluarga mereka selalu ada silsilah dan kedudukan yg rumit… Jeongmin punya kakak kandung? tp sekarang ada dimana? dan apa hubungannya dengan Yoona? apa Myungsoo tau?
    Setiap melihat Sooji, Myungsoo selalu berdebar, dan itu karena dia suka, bukan karena benci Sooji, dasar bodoh… sekarang dia malah pacaran sama Yoona, kesel…
    Penasaran gimana dengan liburan mereka ke Thailand nanti, langsung baca next partnya ya author, gomawo 🙂

  3. Wah muncul banyak banget masalah….
    Sebenarnya dulu yonnA itu pcr siapa sih ??
    Q kok jadi binggung, apa mungkin joengmin punya kakak trs meninggal gara2 yonnA ??
    om tak tunggu kelanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s