Dracula, Chapter 1

 

Title : Dracula | Scriptwriter : magnaegihyun | Genre : Friendship, Fantasy, Romance, School Life | Duration : Series | Rating : PG-13 | Main Cast : Bae Soo Ji, Choi Sulli, Jung Krystal, Kang Ji Young, Kwon So Hyun, and the boys. | Backsound : Dracula by f(x)

Previous

.

Summary

Jika ada sekelompok gadis cantik, terkenal, dan begitu memesona saling bersahabat dan selalu bersama bahkan tinggal dalam satu rumah, begitu aneh bukan? Mereka tahu begitu banyak yang ingin saling menjauhkan mereka di satu keempatan saja, tapi itu mustahil. Lalu bagaimana jika tiba-tiba saja ada orang yang menghancurkan benteng kokoh kelima gadis itu? Menghancurkan benteng masa lalu yang mereka lupakan dan membuat mereka harus mengingat bagaimana mereka menjadi seorang drakula.

draculasulli

 

.

Disclaimer : This storyline is belong to magnaegihyun. This is inspired by Dracula, a song by f(x). The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the cast? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

*

 

“Hm—membosankan.”

 

Soo Ji, gadis berambut hitam kecoklatan panjang dengan bando bunga bergumam di balik buku tebal yang dibacanya. Ya, istirahat kedua yang biasanya ia isi dengan pergi ke kantin untuk makan, sekarang harus diganti ke perpustakaan. Ya, sejak dulu, ia selalu malas jika harus pergi ke perpustakaan. Apa yang menyenangkan dari membaca buku tebal? Tanpa membaca buku itupun, ia sudah menjadi peringkat satu semester lalu mengalahkan saingannya. Teman-temannya hanya meliriknya malas tanpa berniat merespon ucapan Soo Ji. Kecuali satu orang yang benar-benar setuju dengan ucapan Soo Ji itu.

 

“Ya, benar, Soo Ji-ya. Andai saja kita ikut kegiatan klub, pasti tidak membosankan,” sahut gadis itu mendukung ucapan Soo Ji.

 

Gadis bermata lebar dengan ekspresi dingin seperti seekor kucing manis mulai mengingatkan gadis itu,”Choi Sulli, jangan berandai-andai. Kita tidak akan mungkin masuk klub.”

 

Sulli mengerucutkan bibirnya dengan kesal,”Memangnya kenapa? Kita tetap bisa masuk satu klub yang sama, Jung Krystal.”

 

Gadis berpipi tembam dengan wajah bulat itu menoleh,”Ingat apa mimpi Soo Ji. Kita semua sudah sepakat untuk menghindari itu kan?”

 

“Ya, itu karena kita ingin menghindari masa lalu kan?”

 

Ucapan Sulli itu membuat keempat temannya terdiam. Gadis berpipi tembam dengan name tag seragamnya Kwon So Hyun itu kehabisan kata-kata mengingatkan temannya yang sangat tidak dewasa dan keras kepala itu. Gadis bermata kucing yang tadi dipanggil Krystal itu hanya menggeleng kemudian melanjutkan kegiatan membaca bukunya. Soo Ji malah memejamkan matanya mencoba tidur sebentar saja. Gadis yang rambutnya terikat dua yang sedari tadi diam itu membuang nafas pelan dan bangkit dari tempat duduknya.

 

“Sulli, antarkan aku ke toilet sebentar.”

 

Sulli yang paham bahwa ia sudah berbuat salah karena membuat suasana begitu canggung pun hanya mengangguk. Ia langsung mengikuti langkah teman yang memang paling mengerti dirinya. Keduanya berjalan berdampingan dalam diam berbeda dengan suasana yang terdengar begitu riuh memandangi keduanya. Mereka sadar, mungkin ini adalah pertama kalinya kelimanya berpisah menuju suatu tempat. Tentu saja, mereka sadar diri tak perlu membuang-buang waktu mendengar perkiraan-perkiraan konyol murid lainnya yang benar-benar terdengar jelas di telinga mereka.

 

“Aku tahu aku salah, Ji Young-a. Tapi jika kita begini terus, sampai kapan kita hidup dengan membosankan?” Sulli berkata dengan cepat begitu keduanya sudah sampai di toilet yang memang begitu sepi.

 

Ji Young mencuci tangannya seolah formalitas kemudian bersandar pada tembok menghadap Sulli,”Ya, itu benar. Tapi apa yang dikatakan So Hyun benar. Bagaimana jika kita ingat masa lalu kita?”

 

“Itu bukan masalah besar. Kita ingat, tidak akan membawa dampak begitu besar.”

 

“Tidak, Sulli. Kau salah, kita bukan vampir yang semudah itu berubah tanpa dasar apa-apa. Kita drakula, kau tahu kan dasar transformasi drakula, bagaimana?” Ji Young menggeleng pelan.

 

“Ya, aku tahu tapi—”

 

“Sulli, ini bukan hal yang harus dicoba-coba seenaknya saja.”

 

Sulli terdiam. Ia tahu bahwa apa yang dikatakan Ji Young itu benar. Ini jelas bukan pertama kalinya ia bersikap seperti ini. Sejak dulu, dialah yang paling ingin bebas dari kebiasaan mereka ini. Tentu, siapa sih yang ingin bersekolah hanya dengan berangkat saja tanpa mengikuti kegiatan apapun dengan teman kalian? Tapi itu mungkin hal yang terbaik bagi mereka, siapa sih yang ingin berteman dengan seorang drakula? Oh well, mungkin banyak yang mengira bahwa vampir dengan drakula sama, tapi Sulli tidak mengira bahwa keduanya begitu berbeda. Memang sejatinya keduanya sama peminum darah tapi ada perbedaan yang sangat mendasar yang membuat Sulli ingin berteman dengan manusia. Toh, lagipula ia dan keempat temannya tidak pernah bersikap di luar kendali.

 

“Jika kau sudah mengerti, Sulli. Ayo kita kembali, kurasa banyak orang yang mengira kita berlima bertengkar jika terlalu lama.”

 

Sulli mendengar Ji Young berkata ringan. Well, inilah Sulli yang selalu saja bisa ditangani Ji Young. Ia rasa ia tidak dapat mematahkan prinsip ini, well, lalu bagaimana rencananya nanti?

 

 

.

 

 

Ji Young menatap ke luar jendela mobil mereka seolah-olah bosan. Krystal yang menyetir disampinya juga hanya bersenandung sedikit-sedikit mengikuti lagu yang terputar dari radio mobil mereka itu. Sulli yang duduk persis di belakang Krystal menunduk memaminkan ponselnya. Ji Young cukup paham jika Sulli pasti sedang mencari barang-barang yang dijual online.

 

So Hyun hanya menunduk membaca buku pelajaran dengan ekspresi malas. Ia pasti tak benar-benar serius membacanya, hanya untuk menghilangkan kantuk. Di samping So Hyun, Soo Ji bersandar nyaman pada kursi sambil melihat keluar jendela dengan teliti, seolah-olah menghitung berapa banyak pohon yang telah mereka lalui.

 

“Apakah kita tidak ada rencana jalan-jalan malam ini?” Sulli tiba-tiba mengusik keheningan di mobil mereka itu.

 

Krystal menjawab dengan cepat,”Kurasa aku akan mengembalikan mobil sewaan ini nanti malam. Kau mau ikut?”

 

Ji Young hampir saja tertawa keras melihat ekspresi Sulli yang tampaknya sangat enggan menemani Krystal. Ia tahu, Sulli pasti berencana membeli barang-barang lagi. Jika ia pergi dengan Krystal, hasilnya ia pasti tidak akan diperbolehkan, tentu Sulli menolak jika pergi dengan Krystal untuk belanja.

 

“Aku saja yang ikut bersamamu, Krystal-a. Biarkan Sulli pergi bersama Soo Ji ke supermarket.”

 

So Hyun tiba-tiba membalas ucapan Krystal seolah-olah dapat membaca pikiran Sulli. Sulli pun memandangnya penuh terima kasih. Soo Ji hanya menghela nafas pelan. Ji Young sedikit bersyukur namanya tidak sekalipun disebut. Paling tidak kali ini, ia bisa tidur nyenyak tanpa ada keempat temannya yang pasti sangat ramai.

 

“Baik, selamat jalan-jalan untuk nanti malam. Terima kasih sudah memberiku waktu untuk tidur lebih lama.”

*

“Se Hun, fokus!”

 

Tae Min meneriaki lelaki dengan topi rajutan berwarna abu-abu itu. Lelaki itu hanya tersenyum memamerkan deretan gigi putih rapinya mengetahui seniornya itu mengingatkannya. Tae Min hanya menghela nafas berat begitu bosan selalu menyadari Se Hun kehilangan konsentrasinya saat menari. Ia yang memegang jabatan sebagai ketua klub tari, tentu saja punya hak memarahi lelaki itu kan. Dibandingkan dengan Tao yang berpasangan menari dengan Se Hun, Se Hun lebih terlihat luwes dan lincah sedangkan Tao sedikit kaku. Namun setidaknya, Tao tidak pernah tidak fokus atau tidak konsen.

 

Tapi tidak pernah ada seorangpun yang bisa Tae Min bandingkan dengan Jong In, sahabatnya sejak SMP itu. Sayang, meski tahun ini bukan tahun terakhir lelaki itu, Jong In memilih pasif dalam kegiatan klub semenjak Se Hun dan Tao bergabung. Ia tidak dapat berpikiran Jong In menghindari dua lelaki itu, tetapi tiba-tiba saja, Jong In yang Tae Min akui tidak terlalu pintar itu memilih mengambil begitu banyak jadwal pelajaran tambahan. Ini cukup aneh, seolah-olah Jong In mengikuti Tae Min yang akan segera lulus memang tidak boleh terlalu banyak mengikuti kegiatan klub. Meski begitu, Jong In tetap memilih berangkat bersama Tae Min walaupun jika pulang mereka memiliki kesibukan tersendiri.

 

“Baiklah, kalian berdua boleh berkemas. Jangan lupa power dan tempo gerakan ya. Ingat, tinggal seminggu saatnya tampil!” Tae Min berkata pada Se Hun dan Tao seusai keduanya selesai menari.

 

“Ya, sunbaenim.”

 

Keduanya menjawab dengan patuh kemudian berjalan keluar ruangan itu. Tae Min membereskan barang-barangnya sebentar kemudian memandang berkeliling memastika bahwa tidak ada yang tertinggal untuk dibereskan. Iapun berjalan mematikan lampu di sudut ruangan keluar ruangan itu dan menguncinya. Ia dapat melihat lorong sekolahnya itu tampak sepi meski masih ada nyala lampu namun tak ada seorangpun yang tampaknya tersisa disana. Meski ini masih jam delapan, nampaknya hari ini teman-teman satu sekolahnya memilih tidur di rumah apalagi dengan adanya angin bertiup khas akhir musim panas.

 

“Lee Tae Min, kau belum pulang?”

 

Ketika tiba di pertigaan lorong yang ada tangganya, seseorang menyapa Tae Min. Seseorang dengan rambut hitam legam, mata sipit serta lesung pipi yang cukup dalam di sudut pipinya yang Tae Min tahu membuat banyak orang terpesona olehnya. Tali tas punggungnya hanya satu dipakai membuat dirinya tampak lebih keren lagi membuat Tae Min cukup iri. Apalagi Tae Min cukup tahu diri kok jika dirinya lebih dikenal imut dan manis bukan tampan seperti lelaki yang menyapanya ini.

 

“Eoh, Myung Soo-ya. Kau ada apa kok masih di sekolah selarut ini?”

 

Tae Min merangkul Myung Soo mengajaknya berjalan bersama. Ya, tentu ia heran mengapa lelaki itu masih disini, apalagi meski dia selalu peringkat satu seangkatan, ia jarang ikut kegiatan klub hingga malam, ia tergabung dalam klub drama. Setahu Tae Min, lelaki itu tidak pernah mau menjadi pemeran utama, hanya pemeran ketiga dalam setiap drama yang klub itu tampilkan. Padahal dalam hal akting, pengetahuan, maupun tampang dia menjadi nomor satu, Myung Soo tidak pernah mau terlalu sibuk.

 

“Aku harus membereskan perpustakaan sebagai hukumanku terlambat tadi pagi. Tumben, kau tidak bersama adikmu?” Myung Soo menjelaskan dengan nada malas.

 

Tae Min sedikit mengernyit mendengar ucapan Myung Soo,”Adik? Jong In maksudmu?”

 

“Ya, dia adik kelas tapi sangat dekat denganmu, bukankah itu adik namanya?”

 

“Aku mengerti. Dia sibuk akhir-akhir ini, jadi aku selalu pulang sendirian,” jawab Tae Min sambil menahan tawa mendengar penjelasan Myung Soo.

 

Tidak salah, apa kata teman-teman mereka, pikiran Myung Soo memang susah ditebak. Bagaimana bisa ia memanggil Jong In adik Tae Min? Padahal teman-temannya yang lain memanggilnya sahabat Tae Min. Huh, lupakan. Tae Min dapat melihat bahwa Se Hun dan Tao, juniornya di klub masih belum pulang. Ia dapat melihat keduanya tampak berbicara serius di jejeran loker sekolah. Tae Min tidak begitu ambil pusing mengenai hal itu.

 

“Oh Se Hun dan Huang Zi Tao, mereka satu klub denganmu kan?” Myung Soo tiba-tiba bertanya.

 

“Ya, ada apa?”

 

Saat baru di luar area sekolah, Myung Soo baru menjawab Tae Min seolah-olah takut ketahuan membicarakan kedua juniornya itu,”Mereka berdua itu benar-benar aneh. Mereka selalu datang pagi-pagi dan pulang begitu larut, benar-benar mencurigakan.”

 

“Be—benarkah?”

 

Jujur, baru kali ini Tae Min mendengar itu. Ah, mungkin begini ya jika berteman dengan orang cerdas, tahu hal-hal yang tidak banyak ada di telinga anak-anak lain. Myung Soo yang ia tahu memang begitu pintar mengamati dan menganalisa. Tapi bedanya Myung Soo pasti bukan seperti para murid perempuan yang mengetahui hal itu pasti diceritakan pada orang lain dan disebarkan rumornya.

 

“Ya, aku kan selalu pulang terlambat seperti ini, kalau masalah berangkatnya, aku tahu karena mereka tetanggaku.”

 

Tae Min mengangguk mulai setuju pada pendapat Myung Soo,”Ya, berarti mereka sedang menghindari sesuatu atau apa ya. Sayang, aku tak terlalu dekat dengan mereka.”

 

Saat keduanya hendak menyebrangi jalan raya di zebra cross lampu merah, Myung Soo tiba-tiba bergumam pelan,”Choi Sulli—dan Bae Soo Ji?”

 

“Mana?”

 

Tae Min refleks bertanya dengan semangat, meski Myung Soo mengucapkan dengan pelan tapi untuk Choi Sulli, Tae Min pasti begitu peka. Ya, siapa yang tidak kenal Bae Soo Ji dan Choi Sulli di sekolah mereka. Keduanya satu angkatan dengan Jong In yang satu tahun di bawahnya. Bae Soo Ji, gadis cerdas dengan wajah cantik namun bermulut pedas, kira-kira dialah Myung Soo versi perempuan. Sedangkan Choi Sulli, gadis cantik, ceria dan ramah dibanding keempat temannya yang terlihat bergabung dalam geng yang sering disebut The Flowers oleh murid-murid lain.

 

Panggilan The Flowers diperoleh dari kelimanya yang memiliki wajah yang cantik dan sifat mereka masing-masing berbeda ala macam-macam jenis bunga. Yang pertama, Kwon So Hyun, sang bunga lavender, begitu pendiam tapi kehadirannya tampak menenangkan yang lainnya. Dia memiliki pesona tersendiri dari pipi tembam dan wajah bulatnya, matanya begitu bersinar seolah ia butuh perlindungan, tapi dialah yang paling dewasa. Kedua, Kang Ji Young, si bunga fresia, kehadirannya begitu mendominasi keempatnya namun ialah yang paling biasa mengobrol dengan orang lain. Tubuh tinggi, senyum manis yang terkadang terlihat berbahaya menjadikannya begitu kuat dibanding yang lain. Ketiga, Bae Soo Ji, sang bunga mawar, begitu dingin dan tidak peduli dengan sekelilingnya menjadikannya begitu terkenal di mana-mana. Tidak hanya mengenai kecerdasannya tetapi juga kecantikannya, gadis itu yang paling menawan. Keempat, Jung Krystal, si bunga krisan, begitu sinis sekaligus dengan tatapan mematikan. Wajah cantik, tubuh sempurna atletis, maupun ucapan sinisnya begitu menghipnotis dan membuat banyak orang semakin ingin mendengar ucapan sinisnya yang seolah-olah menjadi nyanyian merdu. Terakhir dan favorit Tae Min, Choi Sulli, sang bunga matahari yang begitu bersinar. Dialah satu-satunya yang paling ramah, baik dan murah senyum. Tubuh tinggi, wajah manis dan menenangkan menjadi nilai tambah selain sikap kekanakannya yang begitu terlihat.

 

Suara Myung Soo menyadarkan Tae Min dari pikiran melanturnya,”Di seberang jalan, mereka baru saja turun dari bus.”

 

Tae Min mengikuti ucapan Myung Soo, ya, ia dapat melihat Sulli mengenakan pakaian kasual selain seragam sekolah sedang menjelaskan sesuatu pada Soo Ji dengan ceria. Sedangkan Soo Ji tampak berkomentar pendek membalas ucapan Sulli. Bagi fans mereka, khususnya Tae Min, ini kesempatan emas. Pertama, keduanya tidak pernah memakai pakaian selain seragam yang sekarang membuat keduanya tampak sebagai seorang model butik pakaian. Selain itu, mereka berlima jarang keluar sendiri-sendiri seperti ini, namun ini adalah kesempatan bagus bagi Tae Min untuk berkenalan Sulli kan?

 

Myung Soo yang kemudian sadar bahwa Tae Min yang berada di sampingnya tidak merespon apapun bahkan dia berjalan tanpa melihat depan sehingga hampir saja menabrak tiang lampu merah seusai menyebrang Myung Soo pun berkata pelan,”Kau ternyata sama saja dengan yang lain, Tae Min-a. Terobsesi ya dengan mereka?”

 

Tae Min menoleh,”Ini bukan obsesi. Ya ampun, bagaimana bisa kau menyebut rasa suka sebagai obsesi? Myung Soo-ya, nanti jika kau sudah menyukai seorang gadis, kau pasti suka melihat wajahnya dan kau ingin dekat dengannya, lalu kau pasti akan menjadi sepertiku. Aku pergi dulu, ya!”

 

“Kau tidak berniat pu—”

 

Ucapan Myung Soo terputus melihat Tae Min sudah berjalan menjauhinya. Ia sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang akan dia lontarkan dari gerak-gerik Tae Min sendiri. Ya, Tae Min mengikuti dua gadis itu. Kalau saja Myung Soo menjadi Tae Min, ia lebih memilih menaiki bis yang sudah datang ini ketika mereka selesai menyebrang. Entahlah, Myung Soo tidak paham apa yang ada di pikiran Tae Min.

 

Duk

 

Jeosonghamnida!”

 

Myung Soo membungkuk minta maaf ketika sadar ia menabrak seseorang yang baru turun dari bus itu. Ia terlalu serius melihat Tae Min. Aneh, orang yang ditabrak Myung Soo itu berjalan dengan sempoyongan dan terdengar menggeram. Ia mengernyit namun kemudian mencoba mengabaikan hal itu. Namun sayang, saat ia sudah duduk di kursi bus dengan nyaman ia menoleh keluar jendela dan mendapati orang yang ditabraknya itu seolah-olah mengikuti Tae Min.

 

 

.

 

 

“Kau yakin Krystal tidak akan marah tahu kita pergi terlalu jauh dari rumah?”

 

Soo Ji menoleh menatap Sulli yang sekarang menggandengnya dengan senyum tersungging di wajahnya. Ya, Soo Ji memang orang yang tidak terlalu peduli pada apa yang diomelkan teman-teman yang tinggal satu rumah dengannya, selain itu Soo Ji juga jarang membuat kesalahan fatal. Berbanding terbalik dengan Sulli, ia selalu menerima omelan khususnya dari Krystal yang memang benar bagi Soo Ji untuk mengomeli Sulli. Sulli adalah tipe orang yang tidak suka dikekang dan menyukai keramaian. Sedangkan mereka berlima, harusnya menjadi sosok pendiam dan penyendiri, namun dengan adanya Sulli hal itu tampak mustahil didapat. Kepribadiannya yang begitu ceria dan selalu ingin berkomunikasi dengan orang lain, itu yang membuat kesepakatan mereka mustahil. Kesepakatan bahwa mereka tidak akan mendekat pada manusia untuk menutupi status mereka.

 

“Ayolah, Soo Ji! Aku benar-benar ingin pergi sekali ini saja! Aku tidak akan pergi tanpa izin lagi lain kali.”

 

Sulli beralasan sambil memamerkan raut memohonnya pada Soo Ji. Soo Ji menghela nafas berat, ia tahu Sulli ini sedang memanfaatkannya. Ya, pasti Sulli nanti memintanya untuk beralasan jika ditanyai yang lain. Huh, apa yang harus dipakai untuk beralasan nanti? Apalagi setahunya hanya Krystal dan Ji Young yang akan oke saja dengan alasannya, sedang So Hyun masih perlu dijelaskan lebih lanjut. Oke, ia tahu ini salah Soo Ji sendiri yang menyampaikan instingnya pada mereka. Insting itu awalnya dari mimpi Soo Ji saat ia baru masuk sekolah dulu. Ia bermimpi bahwa akan ada hal buruk terjadi jika ia terlalu dekat dengan manusia. Karena itulah dari sekarang mereka harus saling mengawasi dan bersama-sama dimanapun dan kapanpun.

 

“Kau mau kan membantuku beralasan, Soo Ji-ya?” Sulli menyadarkan lamunan Soo Ji dengan ucapan merayunya.

 

Soo Ji pun hanya mengangguk kemudian menoleh ke belakang sedikit merasa aneh. Ia dapat merasakan bahwa ada seseorang yang mengikutinya-ah bukan, lebih tepat mereka berdua. Soo Ji pun segera mengajak Sulli masuk ke supermarket dan belanja kebutuhan bulanan mereka dengan cepat. Soo Ji bahkan tidak terlalu memperhatikan obrolan Sulli sedari tadi. Ia hanya memasukkan barang yang memang harus dibeli untuk mengisi kulkas di rumah mereka agar mereka pulang lebih cepat. Apalagi ia merasakan bahwa ada orang yang mengikutinya itu membuatnya was-was sendiri.

 

“Soo Ji, kenapa kau sangat buru-buru?” Sulli yang sedang membawa snack agak cemberut mengetahui Soo Ji meninggalkannya ke kasir.

 

“Ada yang mengikuti kita tadi. Kurasa mereka sedang menunggu di luar sekarang,” bisik Soo Ji sambil menaruh snack yang Sulli bawa agar dihitung di kasir.

 

Sulli terdiam kemudian pandangannya meliar mencoba mencari tahu siapa sosok yang mengikutinya dan Soo Ji. Bulu kuduknya sempat meremang sebentar namun kemudian ia ingat tujuannya kesini dan ia belum memenuhinya. Bagaimana ini?, ia membatin putus asa. Jujur, hal seperti ini jarang terjadi padanya. Yang lebih sering dibuntuti adalah Krystal ataupun Soo Ji namun keduanya tidak pernah dibuntuti dengannya, lalu apa yang harus ia lakukan jika dibuntuti? Ia tidak benar-benar mengerti.

 

Sulli langsung mengangkat satu kantung belanjaan seusai Soo Ji membayar tagihannya dan ia berkata pelan pada Soo Ji sejenak,”Soo Ji-ya, aku belum pergi membeli keperluanku.”

 

Soo Ji keluar dari supermarket itu dengan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari siapa yang mencurigakan. Soo Ji pun hanya berkata dari pandangan matanya pada Sulli untuk ‘cepat selesaikan urusanmu, membuat Sulli mengangguk kemudian berjalan cepat ke tempat tujuannya diikuti Soo Ji. Ia dapat melihat bahwa tidak ada yang mengikutinya lagi sekarang langkah yang sebelumnya ia dengar seirama dengan langkahnya kini terdengar tak beraturan. Ia mengernyit sendiri sembari menunggu Sulli di depan toko yang dituju Sulli.

 

“Ayo pergi, aku sudah selesai!”

 

Sulli menepuk bahu Soo Ji pelan menyadarkannya bahwa ia sudah selesai. Soo Ji mengangguk kemudian berjalan di samping Sulli dengan langkah pelan. Jujur, Soo Ji masih penasaran kemana perginya orang yang membuntuti mereka hingga tidak terdengar lagi langkahnya.

 

“Soo Ji-ya, lebih bagus warna biru atau merah untuk dijadikan sya—”

 

“TO—LONG—”

 

Terdengar suara teriakan meminta tolong membuat Sulli menghentikan ucapannya. Sebenarnya tidak sekeras itu, hanya saja telinga seorang drakula tentu begitu peka dibanding manusia biasa. Sulli menoleh dan saling memandang dengan Soo Ji. Ini sudah malam, dan mereka tentu saja bisa menolong orang itu dengan kemampuan mereka. Tapi yang bermasalah, apa yakin jika menolong orang tidak akan membawa masalah bagi mereka sendiri?

 

“Soo Ji, ayo kita tolong, kurasa di belokan sepi itu,” Sulli berkata sambil berjalan pelan mendekati belokan kecil di sebelah toko yang tutup itu.

 

“Tapi, Sulli-ya—”

 

Soo Ji menahan tangan Sulli saat mereka sudah kurang dua langkah dari belokan itu. Soo Ji menggelengkan kepalanya perlahan mencoba mengingatkan Sulli bahwa mereka tidak boleh ikut campur masalah manusia. Sulli mengatupkan bibirnya kaku dan tidak mengindahkan isyarat Soo Ji itu malah mengintip apa yang terjadi di belokan sana. Kemudian berbalik menghadap Soo Ji dengan pandangan horor.

 

“Ada yang sedang dibunuh, Soo Ji! Kita harus menolongnya!”

 

Sulli melepaskan pegangan Soo Ji di tangannya kemudian bergerak menghampiri orang yang meminta tolong tadi. Soo Ji pun melupakan rasa khawatirnya dan menyusul Sulli yang kini menarik kerah baju si pelaku. Soo Ji sempat melirik korbannya kemudian ia sadar si pelaku ini bukanlah pembunuh biasa. Soo Ji dapat melihat darah segar korban yang masih berceceran di tangannya. Soo Ji mengontrol dirinya sendiri kemudian membantu Sulli membereskan si pelaku.

 

“Kau—Kim Ji Won?”

 

Sulli bergumam pelan ketika melihat wajah si pelaku dengan jelas. Si pelaku itu hanya menggertakkan gigi taringnya sehingga Soo Ji semakin menarik kerah baju si pelaku dan memojokkannya. Ya, Soo Ji juga mengenal si pelaku itu, Kim Ji Won, satu vampir yang masih saja memutari kota ini membuat Soo Ji dan teman-temannya bosan memojokkan lelaki ini yang selalu saja mencari mangsa seenaknya saja. Nah, kejadian ini salah satunya.

 

“Cepat pergi dari sini, atau akan kupanggilkan petinggimu yang kenal baik dengan Krystal. Sekali lagi kau menampakkan wajahmu lagi, kukuku ini tak berat hati untuk digorokkan di lehermu,” ancam Soo Ji sambil menunjukkan kukunya yang runcing.

 

“Cih, jika saja tidak ada ancaman itu—”

 

Ji Won yang sedang menjawab ancaman Soo Ji dengan ekspresi marah itu terpotong oleh geraman sinis Soo Ji,”CEPAT PERGI!”

 

“Soo Ji-ya, dia murid sekolah kita…”

 

Sulli bergumam menyadarkan Soo Ji dari pandangan sinisnya yang menatap kepergian Ji Won, vampir yang tidak pernah mau menyerah itu. Soo Ji berbalik mendekati Sulli yang sedang berjongkok di depan si korban. Soo Ji hanya berdiri sambil mengernyit membaui bau anyir darah dari korban yang ia lihat memakai seragam sekolahnya itu. Soo Ji tidak heran, ia sama sekali tidak tergoda untuk menghisap darah itu karena memang ia tidak mengenalnya-ah bukan tapi ia tidak merasakan apapun yang membuatnya tergiur menghisap darah itu meski ia seorang drakula.

 

Soo Ji dapat melihat jelas tubuh Sulli menegang hingga membuatnya mendelik. Jangan bilang, bahwa Sulli-lah yang tergoda oleh darah itu. Tidak, tidak, itu tidak boleh terjadi. Apalagi Soo Ji kini mengenali wajah korban yang sedang menggeliat kesakitan karena merasakan racun vampir mulai mengubahnya?

 

“Sulli! Choi Sulli!” Soo Ji memekik menyadarkan Sulli yang hampir saja menyentuh darah korban itu.

 

Sulli sadar kemudian menoleh pada Soo Ji,”Kita harus menolongnya. Kita tidak mungkin membiarkannya begitu saja disini.”

 

Soo Ji menatap tajam Sulli,”Kita hanya punya beberapa pilihan, Sulli-ya. Pertama, kita membiarkannya disini dan besok ia akan menjadi vampir—”

 

“Tidak—itu tidak bisa. Vampir tidak bisa menahan rasa hausnya—” potong Sulli sambil menggeleng kuat tidak menyetujui pilihan itu.

 

Soo Ji mengangguk setuju,”Ya, aku juga tidak akan memilih itu. Kedua, kita biarkan dia mati dengan menghabiskan darahnya—”

 

“Bae Soo Ji, itu bukan pilihan tapi tindakan kriminal!”

 

Soo Ji menyeringai dirinya sendiri. Ya, ini jugalah salah satu alasan dirinya dan teman-temannya menjauh dari siapapun di sekolah. Ia tidak mau menjadi seorang pembunuh, sehingga ia harus benar-benar berhati-hati. Lagipula, ia dan teman-temannya bahkan tidak pernah minum darah langsung seingat mereka. Mereka hanya minum darah donor yang tanpa diketahui milik siapa.

 

“Baiklah, yang terakhir, kita mengubahnya menjadi makhluk seperti kita dengan menghisap racun vampir itu dan memasukkan racun kita.”

 

Sulli diam. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ini sudah terlambat, ia tidak bisa mundur lagi. Ia harus menolong lelaki ini. Apalagi ia adalah teman satu sekolah mereka, ia pikir lelaki ini lebih aman tetap menjadi manusia. Tapi pilihannya hanya itu. Harus ada yang menghisap racun vampir itu.

 

“Choi—Sul—li—to…long…”

 

Dalam sekaratnya itu, si korban masih sempat menyebut nama Sulli. Pasti lelaki ini menyukai Sulli, ya pasti. Karena itulah, Sulli mungkin sekarang bingung apa yang terjadi padanya, ia pasti tergiur oleh darah lelaki ini, sesuai dengan hukum drakula. Kita hanya bisa meminum darah seseorang yang mempunyai perasaan lebih pada kita, ya, Soo Ji ingat itu. Ya, Sulli pasti bisa menolongnya, menolong lelaki ini—Lee Tae Min. Soo Ji tidak kenal tentu saja, ia tahu nama itu dari nametag yang terpasang di seragamnya.

 

“Sulli-ya. Kau bisa menolongnya, hisap racunnya sekarang!”

 

“Kau yakin?”

 

“Ya… Tolong—AHK!”

 

Di sela-sela keadaan sekaratnya, mungkin karena ia benar-benar tidak tahan akan sakitnya racun vampir itu mengubah dirinya, ia terus minta tolong. Jujur, ia tidak tahu bagaimana rasanya ketika dia berubah, bukan hanya dia namun semua temannya. Sekarang ia dapat melihat transformasi seseorang seperti ini, ia kasihan, betapa sakit rasanya. Ya, mungkin pilihan yang benar hanyalah itu, Sulli yang bisa menolong Taemin, bukan Soo Ji.

 

“Sulli-ya, bukankah kau yang meminta kita menolongnya dari tadi? Jadi, tolonglah sekarang!” Soo Ji meyakinkan Sulli.

 

Sulli menatapnya dengan raut kebingungan,”Tapi, kalau aku tidak bisa berhenti, bagaimana?”

 

“Aku akan menghentikannya dengan segala cara.”

 

Soo Ji menatap Sulli dengan tajam meyakinkan gadis itu. Sulli pun mengangguk dan meraih pergelangan tangan si korban kemudian mulai menghisap racun vampir dari tempat yang sama dimana si vampir tadi menghisap darah korban itu. Soo Ji mengalihkan perhatiannya dari Sulli dan Tae Min itu. Ia mulai mengecek jalanan, was was jika tiba-tiba ada yang memergoki mereka.

 

Soo Ji yang merasa bahwa ini sudah beberapa menit sejak Sulli menghisap racun Tae Min. Soo Ji pun mulai menoleh dan ia berhasil dibuat ngeri oleh Sulli. Sulli tampaknya seolah-olah dibuat ketagihan oleh darah Tae Min dan ia masih saja menghisap darahnya. Gigi taringnya keluar dan di sisi bibirnya belepotan darah.

 

“Choi Sulli, hentikan!” Soo Ji berteriak menyadarkan Sulli namun hanya dianggap oleh angin lalu oleh Sulli yang seolah lupa dengan dirinya sendiri.

 

“Sulli—kau bisa membunuhnya, hentikan!”

 

Soo Ji menggerakkan tubuh Sulli mengingatkan Sulli pada janjinya tadi. Sulli pun yang mulai sadar melepaskan hisapannya pada tangan lelaki itu. Ia menghapus bekas darah yang belepotan di sudut bibirnya kemudian menatap Soo Ji dengan perasaan menyesal. Ia sadar bahwa ia hampir saja membunuh si korban tidak sesuai dengan janjinya sendiri yang berkata ingin menolong lelaki itu.

 

“Maaf Soo Ji­-ya…”

 

Soo Ji hanya menghela nafas sadar bahwa itulah susahnya mereka yang berstatus penghisap darah jika harus menahan atau menghentikan kegiatan makannya. Tentu siapa yang mau dihentikan. Apalagi, ia benar-benar lapar. Ya, beruntung mereka berlima tidak pernah menghisap darah sebelumnya, jika pernah, dipastikan mereka pasti akan sering membunuh orang.

 

“Tidak apa-apa, Sulli. Ayo kita cari taksi dan membawa anak ini ke rumah untuk diobati Ji Young.”

 

“Oke, dia bisa memakai jaketku untuk menutupi lukanya.”

 

Sulli melepas jaketnya kemudian mengalungkannya pada si korban. Bersama-sama, Soo Ji dan Sulli memapah si korban menuju trotoar jalan raya sambil menunggu taksi yang lewat. Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang mengamati mereka dengan santai dan tenang.

 

Tidak menyangka, bahwa mereka ternyata benar-benar drakula, batin seseorang sembari tersenyum kemudian berbalik pergi.

 

Deep in the darkest night

When there’s no one around

***

Haihai, guys! Ini chapter 1-nya yaa. Oke, aku sadar diri sih, chapter ini cukup hancur dan jelek menurutku. Feelnya aku rasa kurang banget, apalagi ini pertama kali aku nyoba genre kayak gini. Aku minta maaf yaa kalo nggak sesuai harapan kalian. Ini masih awal ya, jadi gitulah, nggak jelas sekali. Butuh kritik, saran agar aku menjadi lebih baik. Semakin panjang komen kalian semakin suka aku bacanya semakin semangat aku ngelanjutinnya~ GIVE ME your REVIEW and FEEDBACK»»»

Sleepy,

magnaegihyun ❤

Advertisements

15 thoughts on “Dracula, Chapter 1

  1. waduh temin diubah ama sulli. Yaampunnn akkhhh itu siapa yg ngebuntutin mereka? Btw myung manusia apa bukan yaa?? Apa dia masuk jajaran drakula atao vampir jga. Hrmmm penasaran ama sehun dan tao disinI antagonis sepertinya ya? Jongin kmnaa yaaa

  2. taemin berubah jd drakula jg.. sukurlah dri pd jd vampir hehe
    .. oh sehun manusia kah??
    yang ngintipp myungpa bkn?

  3. penggambaran karakternya kayanya cocok banget huaaa
    emang sulli paling ceriaa.. sulii-taemin otpkuuu
    masih berharap minstal sih tp yaudah lah wkwk
    myungsoo-suzy kan pasti? aku blm ada clue jiyoung sama sohyun siapa pasanganny
    ga ngebayangin taemin jd vampire muka imut gitu hahaha. tp gapapa sih as long as itu sama sulli
    btw siapa yg ngintip mereka? siapa yg ngikutin taemin td? apakah orang yg sama?
    ohyaa bias kesayangan si sehun pasti sama krystal ya? kalo jongin item kesayangan?

  4. Oh baru sadar kalau ternyata ini di shoot per character ya. Sepertinya ini part sulli sooji. Udah ada clue kalau keduanya pasangannya myungsoo dan taemin. Am I right? Waah yang lainnya belum dapet clue pasangannya siapa. Uhuhu.. Beberapa character mulai muncul di part pertama ini. Ditunggu chap kedua ya.. Dengan beberapa character tambahan yang mungkin bakalan muncul. 🙂

  5. Sehun tao drakulakah? Yang ngintip siapa? Myungkah? Kyaaaaa penasaran tingkat akut hahhahha. Suka banget sama semua karakter disini cocok haha. Ditunggu banget kelanjutannya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s