Bad, Songfic

 

Title : Bad | Scriptwriter : magnaegihyun | Genre : Romance, Angst | Duration : Oneshoot(4.008 words) | Rating : PG-15 | Starring : Kim Myung Soo, Bae Soo Ji | Inpired by Infinite’s song ‘Bad’ | It’s a songfic, It’ll be better if you read it with listening the song

.

Summary

Myung Soo tidak pernah tahu apapun tentang Soo Ji. Myung Soo sama sekali tidak tahu bahwa di saat mereka sudah tidak bertemu, Soo Ji sudah berubah. Meski begitu, tidak, Myung Soo tidak akan mau melepaskannya begitu saja, karena ia telah jatuh pada pesona seorang bad girl bernama Bae Soo Ji itu.

Bad edit

.

Disclaimer : This storyline is belong to magnaegihyun. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the cast? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

*

 

Your eye have grown cold again

Your sharp tongue digs into me, please stop

I can’t take it anymore

 

Tidak, tidak, aku tidak boleh menolak dan aku harus tetap bertahan dalam posisi ini. Aku bukan orang yang mudah menyerah tentu saja, yang benar adalah aku tidak bisa menyerah. Jemari gadis ini bergerak sensual menyentuh lenganku naik ke bahuku. Jujur, aku bukanlah orang yang suka disentuh malah cenderung tidak suka disentuh. Tapi ini terakhir bukan, ini terakhir setelah itu aku tidak akan melakukan hal ini lagi.

 

Saat ini, aku berada di klub malam bersama Chan Yeol, Baek Hyun dan Ho Won. Tanpa kusadari kepergianku ke klub ini membuatku bertemu dengannya lagi. Dia yang pernah membuatku berdebar sekali semasa aku SMA. Dia masih sama dengan rambut panjangnya dan mata bersinarnya. Oke, sejujurnya berbeda, pandangan matanya tidak bersinar hangat seperti dulu, kini mata itu bersinar begitu dingin tanpa ada ketulusan sedikitpun.

 

“Maaf, aku harus benar-benar melakukan ini,” katanya pelan.

 

Aku tahu ini salahku memang yang sok berani mengikuti tantangan sahabatku itu untuk mendekatinya. Sekarang disinilah aku berada di tengah-tengah lantai dansa namun tidak berdansa malah saling menempelkan erat tubuhku dan dia seolah-olah kami pasangan kekasih yang sedang mesra-mesranya. Tangannya berhenti di lenganku dan ia menyentuhnya sensual menggodaku.

 

Aku membelalakkan mataku merasakan bibirnya jatuh tepat di atas bibirku. Dia lebih dulu yang melakukannya, padahal akulah yang harus melakukannya. Jadi ini arti dari semua sentuhan tangannya tadi. Ia ternyata berniat menciumku, ah bukan, ia berniat menempelkan bibirnya di bibirku. Ia bahkan memejamkan matanya seolah-olah menikmatinya namun aku tahu dia sedang menahan malu.

 

Ia melepaskannya tautan bibir kami begitu saja dan mulai sedikit menjauhkan tubuhnya dariku,”Terima kasih sudah mau diam saja.”

 

Ia berbalik pelan namun kutarik lengannya hingga ia jatuh dalam dekapanku. Aku mendekatkan wajahku padanya kemudian menempelkan kembali tautan bibir kami. Berbeda dengan yang tadi, aku tidak hanya menempelkannya tetapi aku melumat bibirnya tanpa ampun. Menyalurkan perasaanku tanpa batas. Awalnya aku merasakan tubuhnya kaget namun lama-kelamaan, ia meresponnya dan saling melumat mesra tanpa mempedulikan siapapun yang melihat kami.

 

 

 

You came to me like you have me,

you wrap around me

 

Aku ikut tersenyum membalas senyumannya. Sejujurnya hari ini aku bahagia, sejak hari itu. Di saat aku dan dia bertemu lagi dan berciuman mesra, kami berdua semakin dekat, bahkan seolah-olah kami memang sepasang sekasih sejak saat itu, padahal itu salah besar. Aku tidak mau ambil pusing mengklarifikasi apa yang dipikirkan orang lain tentang kami, aku hanya mau melakukan apa yang memang seharusnya kulakukan.

 

Saat ini, aku dan dia berada di salah satu mal milik keluargaku, Grup Taeyang. Aku dan dia semakin lengket. Bahkan aku tidak pernah menyangka, bahwa aku yang sekalipun sering mendengar rengekan ibuku untuk mengantarnya belanja selalu kutolak, namun sekarang aku mengantar gadis ini belanja. Oke, mungkin jika ibuku mulai mendengar ini, ia akan protes kepadaku, namun aku tidak akan peduli tentu saja.

 

Aku sudah menelpon manajer mal ini untuk menyediakan barang-barang berwarna gelap atau putih di etalase, karena itulah warna kesukaan gadis ini. Aku bukan tipe orang yang suka membeli barang-barang secara berlebihan namun sesekali untuk gadis ini kurasa tidak apa-apa kan. Lagipula aku akan menumpahkan tagihan belanja ini ke black card-ku sendiri.

 

Ketika kami sampai di salah satu outlet baju, dia menyeretku ke jejeran gantungan baju pria, aku bertanya pendek,”Kenapa ke sini?”

 

Ia menjawab dengan senyum manisnya,”Aku ingin membelikanmu baju yang benar-benar membuatmu terlihat lebih tampan lagi.”

 

“Tapi akulah yang harusnya membelikanmu baju,” ucapku datar.

 

“Bagaimana kalau kita saling membelikan baju? Bukankah dengan begitu impas artinya?”

 

Ia membuka deretan baju dengan hati-hati dan begitu serius membuatku tersenyum sendiri melihatnya. Gadis ini benar-benar memiliki pesona tersendiri. Ia tampak memegang beberapa baju di tangannya kemudian melirik padaku dan mencoba mengangkat satu-persatu baju tersebut mencocokkannya denganku. Ia kemudian menggerutu sendiri membuatku heran.

 

“Kenapa?”

 

“Kenapa semua baju terlihat bagus di tubuhmu, Myung Soo-ssi?”

 

Aku tersenyum kecil kemudian mengambil baju-baju itu,”Tidak apa-apa, aku bisa membeli semuanya kok.”

 

Ia menggeleng kemudian mengambilnya kembali,”Tidak, itu namanya aku tidak membelikanmu.”

 

“Baiklah, aku akan menurutimu, Soo Ji-ssi,” kataku mantap sembari mengangguk.

 

 

 

Then you disappear like a dream

With no time to touch,

I’m captivated by you

 

Aku mengacak rambutku kesal. Sedari tadi moodku belum saja membaik meski aku menyibukkan diri dengan tumpukan pekerjaanku. Aku bahkan belum pulang ke rumah dan menghubungi siapapun sejak kemarin. Aku benar-benar bermood buruk sejak tiga hari yang lalu. Ya, sejak Soo Ji tidak menghubungiku, membalas pesan-pesanku maupun mendatangiku seperti biasanya.

 

Oke, aku akui aku semakin aneh gara-gara gadis itu. Jelas, aku aneh, biasanya aku tidak peduli siapapun gadis yang mengikutiku ataupun menempel padaku hingga ke kantor sudah berhenti mengikutiku. Namun aku menjadi uring-uringan sendiri karena hal ini sekarang. Sekretarisku, Yoo Ji Ae, yang biasanya bisa pulang cepat bersama kekasihnya saja kusuruh lembur membuatnya menyumpahiku, namun aku tak peduli. Bahkan asisten kepercayaanku, Lee Sung Yeol ikut uring-uringan karena terus-terusan mencari alasan saat ditanyai orang tuaku, mengapa aku tidak pulang ke rumah.

 

“Ada apa dengan ekspresimu itu, Myung Soo-ya?”

 

Baek Hyun, sahabatku itu masuk dengan seenaknya sendiri kemudian duduk di sofa ruanganku. Aku hanya mendecak kesal kemudian kembali fokus pada pekerjaan. Byun Baek Hyun adalah sahabatku yang paling luang dibanding Chan Yeol dan Ho Won. Pekerjaan Baek Hyun yang menjadi seorang aktor musikal memudahkannya pergi kemana saja dan melakukan apa saja. Salah satu aktivitas favoritnya adalah pergi ke kantorku dan merecokiku dengan ocehannya yang benar-benar tidak penting.

 

“Omong-omong, kemana Bae Soo Ji? Kudengar dari Sung Yeol hyung, akhir-akhir ini kau mulai kencan dengannya.”

 

“Itu bukan urusanmu, Baek Hyun. Lalu, bisakah kau tidak menggangguku?” Aku menjawab dingin.

 

“Santai, Myung Soo. Aku hanya menyampaikan undangan dari Jong Dae mengenai pesta bujangannya akhir minggu ini,” katanya dengan santai sambil mengutak-atik ponselnya.

 

“Aku tidak akan datang,” aku membalas cepat.

 

Huh, siapa sih yang mau ke pesta bujangan, kurang kerjaan sekali. Lagi pula, Jong Dae adalah tipe orang seperti Baek Hyun dan Chan Yeol yang cerewet dan tidak bisa diam. Myung Soo jelas bukan teman dekat dengannya, ia sudah cukup pusing dengan mendengar ocehan Baek Hyun dan Chan Yeol saja. Satu hal lagi, Myung Soo juga bukan tipe orang yang suka pesta sehingga ia sama sekali tidak menyesal untuk memilih menyelesaikan pekerjaannya dibanding datang ke sana.

 

“Kau yakin? Kudengar calon istri Jong Dae juga teman Soo Ji, kau tidak mau datang bersama Soo Ji?”

 

Perkataan Baek Hyun itu menghantamku begitu keras membuatku mendongak dan memandang Baek Hyun,”Oh, benarkah?”

 

“Kau tidak tahu?” Ia bertanya dengan nada sarkastik.

 

Aku tidak mempedulikan nada suaranya dan kembali menjawab,”Baiklah kalau begitu, akan kuusahakan datang.”

 

“Heol, kau datang hanya karena Bae Soo Ji kusebut kan?”

 

Aku diam saja tidak berniat menjawab perkataan Baek Hyun itu dan kembali membaca laporan pekerjaan. Oke, aku rasa aku harus mengangguk setuju atas ucapan Baek Hyun itu. Hanya karena ada kata Bae Soo Ji, aku akan mengikuti apapun itu. Dialah yang menjadi satu-satunya alasan mood burukku dan harus kuakui aku sudah jatuh dalam pesonanya.

 

 

 

I’m afraid that I’m being ruined by you

Though you’ll shake me up and turn around

Betting on you

I’m betting on you

 

Aku keluar dari mobilku sambil membanting pintunya keras. Ya, moodku sepertinya masih belum mengalami perubahan, masih saja buruk. Aku tidak bisa menyalahkan Bae Soo Ji saja yang masih saja tidak ada kabar sampai sekarang karena ibuku lah yang membuat moodku semakin parah. Ia mengatur beberapa kencan buta dengan gadis-gadis pilihannya yang benar-benar tidak ada apa-apanya dibanding Bae Soo Ji. Aku selalu saja menerima omelan seperti baru saja, karena aku selalu membuat gadis-gadis itu menangis tersinggung karena komentar dinginku.

 

Sejujurnya aku tidak setidak sopan itu terhadap perempuan biasanya. Aku akui aku memang dingin dan pendiam tapi aku jarang berkomentar kecuali menjawab pertanyaan yang tidak aneh mengenai diriku dalam kencan buta seperti itu. Mungkin sesuai dugaanku, setelah aku bertemu Soo Ji, aku sedikit-sedikit berubah. Meskipun ia seenaknya saja pergi dan mendatangiku, namun itu bukan salahnya, kami hanya teman kencan tanpa ada label apapun kan.

 

“Moodmu belum membaik, Myung Soo-ya?”

 

Aku menoleh mendengar suara yang sudah akrab di telingaku. Ya itu adalah suara Ho Won yang rendah dan khas bukan seperti suara Baek Hyun yang melengking namun merdu dan suara Chan Yeol yang berat. Dibanding duo beagle Baek Hyun dan Chan Yeol, Ho Won lebih pendiam dan mudah canggung. Bahkan leluconnya benar-benar tidak lucu, namun di antara kami bertiga, dialah yang paling baik imejnya di mata semua orang. Ya, Baek Hyun dinilai terlalu cerewet, Chan Yeol yang terlalu sok akrab dan aku yang terlalu dingin. Ho Won selalu saja sopan.

 

Aku hanya mengangkat bahu menjawab pertanyaannya malas, ia kemudian tersenyum,”Well, kau pasti sedikit lebih baik setelah masuk, aku sudah melihat Soo Ji disana.”

 

“Benarkah?” Aku bertanya dengan nada datar.

 

“Kau bisa mengeceknya sebentar lagi, aku pergi dulu ya.”

 

Aku mengangguk membalas perkataan Ho Won. Aku kemudian masuk saja bersamaan dengan Ho Won yang berjalan meninggalkanku. Suara hingar-bingar klub malam yang sesungguhnya tidak terlalu kusukai itu mulai terdengar. Begitu memekakkan telinga. Aku menelisik setiap sudut klub mencoba mencari Baek Hyun atau Chan Yeol, paling tidak aku tidak harus menjadi orang tolol yang tidak tahu apa yang harus dilakukan.

 

Gadis itu. Aku dapat melihat dengan jelas meski lampu tampak temaram dan dari jarak jauh. Dia tampak sadar sedang kutatap pun balik menatapku. Tatapannya sulit diartikan. Ia memandangku begitu dingin seperti pertama kali kami bertemu lagi. Itu jelas berbeda ketika saat ia memandangku saat dia menempel padaku dan aku menyukai pandangan itu.

 

Aku melonggarkan dasiku kasar ketika lelaki di sampingnya menyeringai padaku. Hwang Chan Sung yang biasanya memandangku penuh amarah kini menyeringai padaku sadar akan tatapanku pada gadis di sampingnya. Ia kemudian mengulurkan tangannya untuk merangkul gadis itu dan membawanya duduk lebih dekat. Aku hanya bisa mengatupkan bibirku kaku.

 

“Kau sudah melihatnya ya, Myung Soo?” Chan Yeol tiba-tiba datang menyapaku.

 

Aku menoleh dan menjawab singkat,”Itu bukan urusanku.”

 

“Toh kau bersamanya hanya karena taruhan kita berempat saja kan?” Chan Yeol mengangguk-angguk sambil mengajakku pergi.

 

Bad Bad Bad bet a bad bad girl

 

Aku tahu aku hanya akan menjadi seseorang munafik saja yang hanya bisa duduk dan melihatnya dari jauh. Aku hanya mengucapkan mantra dalam hati supaya aku tidak menjadi orang bodoh yang mengekspos perasaanku yang sebenarnya. Perasaan ingin melemparkan tinjuku pada wajah sombong Hwang Chan Sung yang berani-beraninya melingkarkan tangannya pada tubuh Soo Ji. Aku hanya bisa meneguk wine yang dipesankan Chan Yeol untukku sebanyak-banyaknya.

 

“Well, aku tidak tahu bahwa moodmu seburuk ini hingga kau minum bergelas-gelas, Myung Soo-ya. Kau yakin bisa pulang sendiri nanti?” Baek Hyun menatapku prihatin.

 

“Jangan pedulikan aku. Kau bisa pulang duluan dengan tunanganmu kok,” jawabku.

 

“Baiklah. Tapi kau benar-benar baik saja kan? Kau tidak hancur kan mengetahui Bae Soo Ji ternyata sekretaris Chan Sung?”

 

“Kenapa aku harus hancur? Aku ini Kim Myung Soo, bodoh,” aku mulai merasakan kepalaku sungguh berat, mungkin aku mulai benar-benar mabuk.

 

Chan Yeol yang duduk di sebelahku mulai bersuara,”Syukurlah, berarti kau tidak memberitahukan apapun mengenai perusahaanmu padanya.”

 

“Ya, tentu saja. Aku pergi dulu, oke?”

 

Aku berdiri kemudian mulai berjalan sempoyongan keluar klub itu. Semua yang kujawab pada Baek Hyun dan Chan Yeol sejujurnya aku tidak dapat memastikannya seratus persen. Ketika aku bersamanya, aku hanya bisa menikmati berjalannya waktu tanpa ada batasan. Aku benar-benar tidak dapat menjamin apapun. Yang kutahu hanyalah, bahwa Bae Soo Ji adalah seorang bad girl.

 

 

 

Even your lies are sweet,

your lip are like a warning, like a red

You whisper in my ears

Lose my focus because of your spell

 

Aku menyesap americano dari cangkir sembari melihat berkeliling kafe ini yang berada tidak jauh dari kantorku. Beberapa hari yang lalu sehari setelah pesta bujangan Jong Dae, Soo Ji menghubungiku dan meminta bertemu denganku. Akupun menyetujuinya tanpa beban meskipun ia sudah membohongiku tapi moodku malah membaik dan aku pikir itu bukan masalah besar bagiku. Walaupun aku memang merasa aku bisa gila karenanya tapi aku tidak harus menunjukkannya kan, itu tidak penting. Sebenarnya ia minta bertemu hari itu juga tapi karena aku saat itu berada di Incheon maka baru hari inilah kami berdua bertemu.

 

Mood burukku sedikit-sedikit mulai terlupakan memang setelah mengetahui kenyataan mengenai dirinya. Meskipun Hwang Chan Sung bersikap seolah-olah pasangan kekasih namun semua itu hanyalah akting. Aku sudah menyuruh Sung Yeol hyung untuk menyelidiki semuanya. Sebenarnya, Soo Ji hanyalah salah satu pegawai biasa di perusahaan Chan Sung namun dia terbelit hutang dalam perusahaan. Sehingga suatu hari Chan Sung menawarkan uang padanya dengan menyuruhnya melakukan hal-hal yang disebut merayu para lelaki pemilik perusahaan saingan Chan Sung kemudian Soo Ji mendapatkan imbalan berupa rahasia mengenai proyek barunya atau apapun yang penting mengenai pekerjaan mereka. Tidak heran, Soo Ji terkenal sering bergonta-ganti teman kencan selama ini.

 

Aku mungkin seharusnya menyesal karena selama ini ia memanfaatkanku, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa karena aku sadar bahwa aku menyukainya. Kenyataan yang lebih mengagetkan lagi adalah bahwa ia melakukan semua itu hanya untuk biaya operasi ibunya yang sampai sekarang koma di rumah sakit sejak dua tahun yang lalu. Ya, sejak ia mulai bekerja di perusahaan Chan Sung. Sejak dulu, ibunya memang sakit-sakitan namun sejak ia mulai bekerja di perusahaan Chan Sung, ibunya terkena serangan jantung hingga menyebabkan koma. Selain itu, adik kandungnya masuk juga berada di pusat rehabilitasi karena mengkonsumsi narkoba dengan dosis tinggi. Aku jelas tidak mungkin menyalahkan apapun terhadapnya dengan kenyataan itu.

 

“Maaf aku terlambat,” sapanya dengan senyum lebar.

 

Aku sedikit terhenyak melihatnya memakai setelan seragam kantoran yang jelas jarang dipakainya di hadapanku. Bagaimanapun dia akan selalu tampak cantik di mataku, tidak pernah berubah sekalipun. Aku menyodorkan secangkir latte yang sudah kupesankan tadi untuknya. Iapun tersenyum berterima kasih kemudian menyeruput lattenya.

 

“Kupikir aku boleh saja kan bertanya, apa maksudmu mengajakku bertemu lagi?” Aku bertanya dingin.

 

Ia tetap saja tersenyum seolah-olah senyum palsunya itu menipuku,”Aku hanya ingin menjelaskan bahwa aku dan Hwang Chan Sung tidak memiliki hubungan apapun. Kami hanya atasan dan teman akrab, tidak lebih.”

 

“Tentu saja, aku tahu. Aku tidak perlu repot-repot mendengarkan penjelasanmu karena aku sudah tahu semuanya apa tujuanmu,” jawabku dengan senyum berbahaya.

 

Tentu saja, aku tahu segalanya. Beberapa hari yang lalu, dua merek baju mengakhiri kontrak sewanya terhadap mal keluargaku yang aku datangi dengannya. Maksudnya membelikanku baju saat itu adalah agar dia mengetahui berapa pajak yang harus dibayarkan untuk menyewa di mal keluargaku itu. Sayangnya, itu tidak membuahkan banyak hasil bagi Chan Sung, meski ia mengambil salah satu daya tarik mal itu namun tidak lama kemudian aku menandatangani kontrak baru dengan merek baju yang lebih bagus dan menarik pelanggan. Sekarang, ia mendekatiku lagi jelas-jelas dengan maksud yang tidak jauh dari hal yang sebelumnya tentu saja.

 

Soo Ji yang awalnya mengerjapkan matanya syok kini menguasai dirinya lagi dan bertanya seolah-olah kebingungan,”Tu-tujuanku?”

 

“Ya, tujuanmu, pegawai Hwang Chan Sung.”

 

“A-aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu,” balasnya sambil mengernyitkan keningnya.

 

“Tentu saja kau tidak mengerti bahwa aku sudah menyelidikimu. Kau sekarang yakin masih ingin mendekatiku seperti korbanmu sebelumnya? Kaupikir aku mau memberikan rahasia perusahaanku jika kau bersedia naik ke ranjangku seperti yang kau lakukan pada korbanmu sebelumnya,” jawabku mengeluarkan semua amarahku, ya aku marah mengetahui ia bukan lagi Soo Ji yang lugu seperti dulu, dia terkenal sering bermesraan dengan korbannya sejak awal.

 

Pipinya merah padam karena malu dan marah, ia membuka suara dengan geram,”Aku bukan orang yang serendah itu, Kim Myung Soo-ssi. Asal kau tahu, aku tidak akan sudi berbuat seperti itu.”

 

“Oh, jadi kau hanya menawarkan bibir manismu dan mendapat rahasia begitu saja ya? Sayang, kupikir kau tidak mendapatkannya dariku karena kau tampaknya menyukai juga ciumanku.”

 

“A-apa?” Sudut matanya basah tergenang air mata karena sakit hati.

 

Aku menelan ludahku dan memejamkan mataku sejenak mencoba menahan diriku untuk tidak merangkulnya kemudian kembali berkata dengan kejam,”Kuharap ini terakhir kalinya kau menemuiku, dasar penipu.”

 

 

 

Things getting erased one by one,

I can only see you

I’m not afraid of tomorrow

 

“Kau bodoh jika kau membohongi perasaanmu sendiri, Kim Myung Soo. Kau tidak membantunya, berpikir kau bisa menolong perusahaanmu sekaligus Soo Ji, sayangnya kau malah membuatnya dipecat olehku sekarang. Kau membuat dirimu dibenci sekaligus membuat hidupnya berantakan, bodoh.”

 

Aku mengacak rambutku frustasi mengingat perkataan Hwang Chan Sung tadi melalui telepon. Ya, setelah pertemuanku dengan Bae Soo Ji hari itu, aku langsung berangkat ke Jepang untuk kepentingan pekerjaan. Aku bahkan seolah-olah menulikan telingaku mengenai semua berita lain selain pekerjaan. Akhirnya terjadilah hal yang selalu kukhawatirkan. Ya, Bae Soo Ji benar-benar hilang ditelan bumi tanpa kabar.

 

Semuanya terasa tidak baik-baik saja bagiku. Aku menjadi orang linglung akhir-akhir ini. Sibuk menelepon sana-sini untuk menanyakan dimana Bae Soo Ji. Pekerjaanku begitu banyak yang harus kuabaikan hanya untuk mencari informasi tentangnya. Betapa sia-sia seharusnya, namun aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal sia-sia tersebut.

 

Aku sudah terus-terusan mendengarkan omelan ibuku mengenai kencan buta kemarin. Aku hanya datang ke tempat kencan itu kemudian menyuruh teman kencanku memesan makanan dan membayarnya seolah-olah aku hanya berniat memberi makanan pada teman kencanku itu. Tentu, siapa saja akan tersinggung bukan dan ibuku lah yang meluapkan rasa tersinggung teman kencanku padaku sekarang. Tapi aku tidak akan peduli tidak seperti biasanya.

 

Hal-hal yang kubenci dari Bae Soo Ji seolah-olah lenyap begitu saja dari pikiranku. Bahkan aku tidak dapat mengingat siapa gadis terakhir yang kukencani atau kupeluk selain Bae Soo Ji. Semua hal seolah-olah terhapus dari benakku. Hanyalah Bae Soo Ji pusat pikiranku. Aku tidak dapat mengelak dan aku tidak dapat lagi khawatir akan hal lain selain untuk khawatir pada Bae Soo Ji.

 

 

 

I keep losing you,

Like you’re slipping through my fingerss

It’s like I can see you but I can’t

 

Aku menghentikan mobilku di depan rumah yang tampak sederhana tanpa satupun penerangan dari dalamnya itu. Terdapat papan nama keluarga ‘Bae’ di depan situ membuatku yakin bahwa aku harus menunggu sedikit lebih lama lagi. Aku mematikan mesin mobilku kemudian duduk bersandar dengan santai menatap spion ataupun jalanan di depanku yang tampak lengang.

 

Tak perlu mengira-ngira lagi, aku akhirnya menemukan alamat rumah Bae Soo Ji. Kebetulan sekali, istri Jong Dae adalah sahabat Bae Soo Ji sehingga ia sedikit tahu banyak tentangnya. Hidup Bae Soo Ji ternyata jauh lebih menyedihkan dibanding apa yang ku ketahui. Bae Soo Ji harus menghadapi kejaran rentenir setiap hari demi membayar hutang pamannya yang gemar berjudi. Karena itulah dia memilih menerima pekerjaan dari Chan Sung. Apalagi sewaktu-waktu penyakit ibunya bisa kambuh dan ia harus segera membayarkan pengobatan ibunya itu.

 

Aku beringsut ke bawah menyembunyikan bayangan tubuhku di jendela mobil mendengar langkah kaki seseorang. Aku melirik intens siluet orang yang berjalan terburu-buru itu. Aku dapat mengenalinya hanya dengan sekali lihat bahwa itulah Bae Soo Ji. Ya, tebakanku benar. Aku hanya harus menunggu sedikit kemudian Bae Soo Ji akan pulang.

 

Akupun menegakkan tubuhku bersiap keluar dari mobil untuk menemuinya ketika tiba-tiba dua lelaki berbadan besar datang menyudutkannya. Aku dapat melihat dengan jelas bahwa Bae Soo Ji sedang memohon dan membujuk dua lelaki itu. Namun dua lelaki itu tampak menolak dengan keras kepala dan mulai menarik tas Bae Soo Ji.

 

“Tolong lepaskan gadis ini,” aku segera berbicara sesopan mungkin untuk sedikit meredakan emosi dua lelaki itu.

 

Kedua lelaki itu menoleh bersamaan dengan Bae Soo Ji yang kaget melihatku berada di depan rumahnya. Aku tahu ia pasti tidak menyangka bahwa aku akan menemuinya setelah pertemuan terakhir kami yang tidak begitu berakhir baik. Aku tak memedulikan tatapannya dan memandang kedua lelaki berbadan besar itu sok berani.

 

“Oh, jadi kau sudah mendapatkan lelaki baru sekarang, nona Bae, nah mari kau lunasi dulu hutangmu kalau begitu, atau rumahmu dan dirimu sendiri gantinya.”

 

Kedua lelaki berbadan besar itu tertawa pada lelucon mereka sendiri. Soo Ji di sampingku diam saja tapi tampak geram namun ia tidak dapat melampiaskannya. Jelas kami berdua seolah-olah dua ikan mas yang jelas akan gampang ditelan dua lelaki berbadan besar yang layaknya hiu.

 

“Nah, pacar nona Bae, sekarang berikan uangku!”

 

Salah satu lelaki berbadan besar itu mulai maju mau menagih uangnya dariku. Aku juga sudah kehilangan akal. Jika aku tadi tidak bersikap sok pahlawan, ini tidak akan seperti ini. Aku dan Soo Ji tidak akan terpojok seperti ini. Sialnya, aku tidak membawa dompetku sekarang, aku jelas tidak bisa menjamin apapun sekarang. Aku hanya terpikirkan satu hal sekarang.

 

“WAH, ITU JUN JI HYUN!!!”

 

Aku menjerit sekeras-kerasnya ke arah berlawanan kemudian menarik tangan Soo Ji mengajaknya kabur. Selagi kedua lelaki tadi mencari-cari Jun Ji Hyun-ah bukan maksudku kebohonganku, aku mengajak Soo Ji masuk mobilku dan kami pergi dari situ.

 

Dari jarak dua ratus meter kedua lelaki itu bahkan masih mengejar kami, sehingga kupercepat mobilku meninggalkan daerah rumah Soo Ji itu dan meraih jalan raya. Kami berdua hanya diam tak tahu harus berbicara apa. Aku pun juga bukan tipe orang yang mudah memulai pembicaraan. Well, mengetahui mulutku yang cukup berbisa jika aku tidak mengerem ucapanku.

 

“Kau bisa menurunku di halte itu, kok,” sahut Soo Ji ketika kami mencapai halte daerah Namsan.

 

“Kau yakin? Kau akan tinggal dimana malam-malam be–”

 

Soo Ji memotong ucapanku dengan cepat,”Ya. Kau tidak usah bersikap baik pada seorang gadis jahat sepertiku. Kau tak takut akan kumanfaatkan?”

 

Soo Ji berkata hal itu dengan menyeringai. Walaupun rautnya seperti itu, aku sadar bahwa ia begitu lelah. Ia pasti bolak-balik dari rumahnya ke rumah sakit. Apalagi sekarang ia tidak memiliki pekerjaan. Ia pasti melakukan pekerjaan serabutan untuk menghidupi dirinya dan ibunya.

 

“Sebutkan alamat rumah sakit ibumu, aku akan mengantarnya,” jawabku pendek.

 

Ia tetap berkeras hingga akupun memilih menurutinya,”Turunkan aku, Kim Myungsoo.”

 

“Kau benar-benar keras kepala, Bae Soo Ji.”

 

“Terima kasih atas bantuanmu. Lagipula aku tidak ke rumah sakit, aku harus kerja sambilan, kalau begitu, sampai jumpa!” Soo Ji mendengus pelan kemudian menutup pintu mobilku dengan perlahan.

 

 

The answer is you

Now I can’t turn back

I can’t stop myself now

 

Aku benar-benar gila sekarang. Di saat aku masih bingung sendiri bagaimana memperbaiki hubunganku dengan Soo Ji, ibuku membuat semuanya makin tak berjalan sesuai keinginanku. Ia menginginkanku menerima pertunangan dengan anak perempuan sahabatnya. Apa-apaan itu, memangnya sekarang ini jaman kerajaan apa, aku harus menyetujui pertunangan dari orang tuaku.

 

Tak hanya itu, ya jelas tak hanya itu. Karena ayahku mendukung ide gila ibuku itu, ia semakin menyiksaku. Oke, mungkin itu terlalu berlebihan, tapi memang benar, sudah dua hari ini aku bekerja sendiri tanpa sekretaris. Yoo Ji Ae, sekretarisku sejak tiga tahun lalu itu dipindahkan tugas atau lebih tepatnya dijadikan sekretaris adikku yang baru-baru ini juga masuk kantor. Kata ibuku, agar aku lebih mengenal tunanganku, dia akan bekerja di sini bersamaku sebagai sekretarisku. Huh, awas saja, dia pasti akan ku kerjai.

 

Asisten keluargaku, Sung Yeol semakin hari semakin menyebalkan saja. Dengan wajah sok kerennya dia di hadapan keluargaku menjamin bahwa ia tak akan membantuku menolak pertunanganku. Padahal dia sendiri saja di balik itu bersikap seperti choding. Aku kembali ingat pertemuan terakhirku dengan Soo Ji sejak kejadian Jun Ji Hyun itu. Well, jujur aku mencoba mengorek-ngorek informasi dari teman-temannya dan Sung Yeol yang kumintai tolong untuk mengawasinya. Tapi aku tak mendapatkan apapun, malah Sung Yeol menyuruhku lebih fokus pada pertunanganku.

 

“Ya ampun, Kim Myung Soo, ruanganmu…”

 

Aku mendengar gerutuan yang ku kenal. Ya, itu ibuku tersayang yang menyusun pertunangan gila itu. Aku mendongak mengalihkan pandangan dari layar laptopku memandang ibuku. Aku sendiri heran melihatnya di sini sekarang. Setahuku, dia tidak akan mungkin datang ke kantor tanpa tujuan tertentu.

 

“Ya, kan ibu tahu aku bekerja sendiri sekarang, jadi beginilah…”

 

Ibuku menggeleng-geleng mendengar jawabanku,”Baiklah, setelah ini kau tidak bisa beralasan lagi karena tunanganmu sudah datang. Soo Ji, masuklah!”

 

Aku diam sejenak. Apa aku salah mendengar? Nama sekretaris atau lebih tepatnya tunanganku Soo Ji? Ah itu pasti hanya kebetulan, nama Soo Ji di negara ini bukan hanya milik Bae Soo Ji kan. Pasti ada Kim Soo Ji, Lee Soo Ji, ataupun Soo Ji-Soo Ji yang lain. Itu pasti kebetulan, ya kebetulan.

 

Tapi semua anggapanku itu langsung hancur ketika aku melihat tunanganku yang sudah berjalan masuk ke ruanganku. Dengan baju kerja standar yang sudah ia pakai ia membungkuk memperkenalkan diri padaku dengan sopan,”Anyeong haseyo. Bae Soo Ji imnida. Jalbutakterimnida.

 

Aku hanya bisa membatu di tempat tidak dapat mempercayai ini semua. Ini mimpi ya? Gadis memakai setelan kerja pegawai standar berwarna hitam itu hanya khayalanku kan? Mana mungkin aku bisa menjadi tunangangannya, ini mustahil.

 

“Kau pasti terpesona pada tunanganmu ini kan? Nah, baik-baik padanya, ibu pergi dulu!”

 

Setelah ibunya pergi, Myung Soo bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat,”Bagaimana…”

 

“Aku sebenarnya juga tidak tahu. Tapi ternyata ibu kita bersahabat,” jawab gadis itu pelan.

 

“Aku benar-benar tidak menyangka seperti ini–”

 

“Aku juga tapi inilah akhirnya.”

 

“Ya, aku tidak bisa membiarkanmu pergi lagi, Bae Soo Ji.”

 

Bad Bad Bad bet a bad bad girl

I can’t just let you go

 

-FIN-

January, 14th 2016 – 2.51 pm

Hai, guys?

Sori untuk mengupload baru lagi. Untuk mengatasi kangenku sendiri pada MyungZy aku nulis ini. Sebenarnya ideku ini udah dari mv Bad keluar loh, seriusan karena urusan kuliah dan aku baru nemu ide lagi sekarang. Nah gimana? Nggak sempet baca lagi, entah deh typonya. Jangan sungkan memberi kritik saran. GIVE ME YOUR FEEDBACK»»»

 

Love,

magnaegihyun

Wait a lil bit more for update A marriage, I’ve written a half of it and found the backsound already.

Advertisements

15 thoughts on “Bad, Songfic

  1. ini sih myngsoonya y bad boy..
    amazing cinderellanya juga diupdate yah
     。*゚゚*。   。*゚゚*。
     *。 *。semangat *
     ゚*。。*。。*☆*。。*。。*゚
      。*゚。*゚ ゚*。゚*。
     *゚  *゚  ゚*  ゚*。
     *☆。*゚    ゚*。☆*
       ∧_∧ ∧_∧
      (´∀`)(・∀・*)
    *。。*☆〇☆〇〇☆〇*。。*☆

  2. Welcome Back ^__^
    suka sm ceritanya.. sedikit terenyuh dengan keadaan sooji..kkk
    btw kangen banget sm amazing cinderella.. kapan ya bisa di updaate? 😉
    tetap semangatt..

  3. Memang jodoh ga kemana, setelah melalui berbagai kejadian, ternyata mereka malah dijodohkan…
    Suka sama ceritanya, ditunggu ff yg lain, gomawo autgor 🙂

  4. Dan pada akhirnya Sooji jadi tunangan Myungsoo juga. Baguslah. 🙂
    Yah walaupun tadi sempet kesal sama Myungsoo karena ngehina Sooji seenak jidatnya. Hemeehhh
    Untunglah dia sadar kesalahnnya.

  5. aigoo so sweet sekali endingnya
    Bener2 ga kepikira bahwa ibu2 mereka bersahabat daebak
    Chukae myungsoo sdh berhasil dapetin sooji jgn disakitin lg ne meskipun sooji bad girl tp itu karna dia py alasannya sendiri
    Very nice story…jinjja joha
    Ditunggu karya lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s