A marriage, Chapter 8

 

Title : A marriage

Author : magnaegihyun

Main Cast : Jung Soojung, Choi Minho

Support Cast(s) : Choi Jinri, Lee Taemin, etc.

Genre : Romance, Family, Married life, Friendship.

Rating : PG

Poster by Author

 Previous

Jung Soojung dan Choi Minho adalah dua orang yang sama. Mereka benci kata pernikahan yang membuat orang yang mereka sayangi benar-benar terluka. Mereka seperti dua makhluk yang hidup tanpa rasa cinta. Mereka bertemu untuk menjalankan sebuah pernikahan tanpa dasar cinta dan tanpa perjodohan. Dua orang yang tidak mengenal satu sama lain menjalani hubungan pernikahan yang tanpa mereka sadari mengubah diri mereka…

poster marriage photoshop

Ost : Nightmare by Yong Junhyung feat Gayoon, Ost Yong Pal| Disclaimer : This storyline is belong to magnaegihyun. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the pairing? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

***

It’s too dark here
Shine a light on me

 

“Jinri-ya, ini tempatnya.”

 

Sohyun berkata pendek menyadarkan lamunan Jinri, sahabatnya yang sedari tadi diam saja. Ia cukup pusing sendiri memikirkan sahabatnya ini yang sangat keras kepala tidak mau menuruti bujukannya malah meminta hal lain. Ia benar-benar sudah frustasi untk menebak bagaimana isi pikiran sahabatnya ini. Jinri bukanlah orang yang berpikiran cerdik mengenai keputusannya bahkan lebih tepatnya ceroboh. Sejak ia bersahabat dengannya di SMP bersama Jiyoung, Jinri lah yang paling ceroboh dan selalu mengajak mereka memberontak di usia remaja itu.

 

“Kita langsung turun saja?” jawab Jinri singkat.

 

“Kupikir begitu, yang kudengar tadi dia akan mempertimbangkanmu saat kukatakan kau bisa mendesain aksesoris. Ya sesuai dengan yang kukatakan sebelum berangkat, dia ingin melihat desainmu.”

 

Sohyun menjelaskan begitu panjang namun hanya dibalas anggukan singkat oleh Jinri. Sohyun pun hanya melepas seatbeltnya kemudian merapikan sedikit bajunya sebelum keluar dari mobil. Sohyun sebenarnya tidak begitu tahu mengenai butik ini. Ia hanya mendapat rekomendasi dari butik langganannya untuk melihat beberapa baju di sini. Kata pemilik butik langganannya, baju desain butik ini lebih beragam dan terkenal. Selain itu, pemilik butik ini katanya sahabat pemilik butik langganannya, jadi kemungkinan mereka akan sama-sama baik. Ia jadi sedikit percaya membiarkan Jinri menjadi pegawai di sini.

 

J&K collections tertulis begitu jelas di pintu depan outlet itu. Ini jelas butik yang lebih besar dari butik langganannya, pikir Sohyun begitu melihat begitu besar tempat itu. Well, mungkin Sohyun bisa cuci mata sebentar setelah mengantar Jinri di sini. Ini cukup membuang waktu mengingat dia tidak mempertimbangkan rekomendasi butik langganannay lebih awal. Mungkin ia dapat punya beberapa baju baru untuk menghadiri acara perusahaan keluarganya.

 

“Ada yang bisa saya bantu?” Seorang resepsionis-atau sekretaris, entahlah Sohyun tidak tahu- menyapa manis dia dan Jinri begitu sampai di ujung tangga.

 

“Ah iya, saya nona Kwon yang sudah menelepon kemarin pada nona Jung. Katanya kami bisa bertemu dengannya di kantor hari ini.”

 

Si resepsionis atau apalah itu menjawab tunggu sebentar dengan ramah kemudian menelepon seseorang, mungkin bosnya atau nona Jung itu. “Ah, iya anda sudah ditunggu nona Jung di atas, mari saya antar.”

 

Sohyun dan Jinri pun mengikuti si resepsionis itu tanpa banyak protes. Lagipula memang itu kan untuk bertemu dengan pemilik butik ini. Jinri hanya diam sedar tadi mengherankan bagi Sohyun. Tapi ia tidak banyak protes dan tidak ada niatan untuk memecah kebungkaman Jinri itu. Mungkin Jinri memang sedang banyak pikiran akhir-akhir ini. Ia sedikit mengerti karena memang ini pertama kalinya Jinri benar-benar lepas apapunnya dari keluarganya.

 

“Choi Jinri?”

 

Sohyun mendongak melihat siapa yang hendak ditemuinya. Oh tidak, dia lupa mengecek nama asli pemilik butik ini. Ia baru ingat sekarang. Jinri di sampingnya pun hanya bisa membatu menyadari siapa nona Jung yang ditemuinya. Padahal orang di depan mereka ini salah satu orang yang sedang Jinri hindari. Namun takdir berkata sebaliknya, malah membuat mereka bertemu. Oke, Sohyun akui ini termasuk dalam kecerobohannya. Ini salahnya dan dia mungkin harus menanggung omelan Jinri nanti. Ya tentu saja, karena yang ditemuinya sekarang ini adalah Jung Soojung, istri Choi Minho, kakak angkat-ah bukan, mungkin lebih tepat sepupu Jinri.

 

 

 

Things that I could only see faintly don’t even have an after image anymore

They turn against me

 

“Kau harusnya pulang, Choi Jinri,” saran Soojung setelah menaruh teh untuk Jinri.

 

“Jangan sok kenal padaku, jika kau tidak berniat memberikanku pekerjaan, kurasa aku sebaiknya pergi.”

 

Jinri tahu dia tidak seharusnya berkata sinis seperti itu pada Soojung mengingat dialah yang akan memberikan Jinri pekerjaan. Tapi Jinri tidak dapat menahan nada suaranya untuk tidak sesinis itu karena memandang wajahnya saja, membuatnya ingat bahwa dia istri Minho, lelaki idamannya yang sayangnya adalah saudaranya. Di kantor ini, kini hanya tinggal mereka berdua tanpa Sohyun yang tadi disingkirkan dengan halus untuk turun dan melihat beberapa baju koleksi butik ini.

 

Soojung menatap Jinri sejenak kemudian fokus memandang beberapa desain yang Jinri bawakan untuknya,”Baiklah. Kurasa aku tidak perlu meragukan desainmu yang merupakan lulusan luar negeri. Karena aku sendiri memang membutuhkan desainer aksesoris sepertimu, kupikir kau sudah bisa bekerja besok.”

 

Jinri memandang Soojung tak percaya mendengar keputusan gegabah itu,”Kau yakin? Kau sama sekali tidak berpikiran aku sedang berniat buruk padamu mengingat kelakuanku.”

 

Soojung mendongak dan tersenyum singkat,”Sebelumnya aku sudah mengatakan padamu, bahwa aku sangat membutuhkan desainer aksesoris mengingat begitu meledaknya pesanan baju pengantin akhir-akhir ini. Mengenai kepercayaan, aku yakin kau tidak akan merugikanku mengingat keadaanmu yang terjepit tak memiliki uang, kan?”

 

“Ka—kau tahu darimana?”

 

“Tenang saja, nona Kwon bukanlah orang yang mengatakannya padaku. Kupikir keadaanmu sekarang ini sudah terlihat jelas. Kau bukanlah seorang pekerja part-time berpengalaman sehingga dapat menghidupimu, kau jelas sekali tipe putri yang dimanja. Aku juga bukan orang yang akan menyia-nyiakan bakatmu itu.”

 

Soojung menjelaskan jawabannya membuat Jinri terdiam. Sedikit demi sedikit, ia sadar dan smakin membenci dirinya sendiri yang mampu membenci Soojung. Ia tahu, sejak dulu ia selalu saja menjadi si antagonis meski ia tahu status dirinya tidak begitu bagus, tetapi ia selalu saja memilih menjadi si putri yang sombong. Ia benci akan hal itu.

 

“Baiklah, kalau begitu terima kasih,” jawab Jinri singkat.

 

“Tunggu—tak bisakah kau menelpon eommonim. Dia sibuk menghubungi teman-temanmu sejak minggu lalu.”

 

Jinri tersenyum pahit sadar bahwa ibu angkatnya pasti yang kelimpungan bukan ibu kandungnya,”Tak perlu sok perhatian, kau pasti hanya menahan dirimu untuk mengejekku sebagai anak angkat kan?”

 

“Bukan begitu, hanya saja kau harusnya bersyukur bisa bertemu ibu kandung—“

 

“DIAM! Kau benar-benar tidak tahu apa-apa!” Jinri meninggikan suaranya tanpa sadar.

 

Soojung diam sejenak melihat raut muka Jinri yang terlihat menahan perasaannya kemudian melanjutkan ucapannya pelan,”Kalau begitu, beritahu aku, Choi Jinri.”

 

 

 

Your hands can’t reach my spreading tears

Please rain on my coldly frozen heart so I can breathe

Please wake me from this nightmare

 

Choi Jinri. Memang namaku ini terdengar manis tapi aku tidak begitu menyukainya. Nama yang diberikan oleh ibu kandungku sebelum pergi. Tenang saja, kisahku tidak setragis drama-drama mellow yang digemari Sooyoung unni, kakak angkatku. Nama keluargaku Choi, ya dikenal sebagai keluarga kaya. Dulu aku mengira aku mendapatkannya karena aku menjadi anak angkat mereka, tapi tidak, nama itu memang sudah melekat sejak aku lahir.

 

Awalnya, aku berpikir aku anak kandung mereka, Choi Siwon dan Hwang Miyoung, tapi tidak. Kakekku-atau haruskah kusebut kakek kakak angkatku-menolak mentah-mentah aku disebut anak kandung mereka. Setiap ada acara keluarga, aku selalu disebut si anak angkat. Orang tua angkatku menolak bahkan sempat berdebat dengan kakek tua itu mengetahui kesedihanku yang dibedakan dengan kakak-kakak angkatku. Tapi tidak, kakek tua itu menolak dan malah mengancam saham perusahaan tidak akan ia wariskan satupun pada ayah angkatku, orang tua angkatku pun mengalah.

 

Entah bagaimana, aku tumbuh menjadi gadis pemberontak. Meski tidak pernah kutunjukkan di rumah. Di rumah, aku hanya bisa menjadi gadis yang patuh akan semuanya, mengingat aku sendiri hanyalah anak angkat. Aku menjadi putri yang begitu disayang oleh kedua kakak angkatku dan orang tua angkatku. Mungkin saja jika kalian melihatnya, aku akan tampak sebagai orang yang bahagia dengan semua itu.

 

Tapi itu mustahil, entah ini dari watakku sejak lahir atau bagaimana, aku selalu saja penasaran. Sejak dulu, aku selalu bertanya-tanya siapa orang tua kandungku yang membuangku ke keluarga kaya ini. Apa musuh si kakek tua, hingga si kakek itu begitu bencinya padaku. Bahkan istrinya, atau nenek angkatku itu hanya memalingkan wajahnya setiap melihatku, tak pernah sedetikpun ia mau berbicara denganku. Beruntunglah, aku tidak tinggal dengan mereka, mereka tingal di Daegu dengan alasan kesehatan.

 

Pernah suatu hari, aku mendatangi orang tua angkatku dan berbicara enam mata dengan mereka. Aku bertanya mengenai mengapa mereka mau mengadopsiku. Mereka hanya menjawab bahwa akulah tanggung jawab mereka dan akulah adik yang tepat bagi kedua kakak angkatku. Lalu aku bertanya kembali mengenai siapa orang tua kandungku dan apakah aku mengenalnya. Mereka hanya menjawab bahwa ini belum waktunya aku untuk mengetahui hal itu. Mereka melarang keras diriku untuk menyelidiki apapun mengenai orang tua kandungku.

 

Akupun marah dan menunjukkan sikap pemberontakku. Meski tanpa seorangpun tahu, bahwa aku tumbuh dengan rasa sayang yang lebih pada kakak angkatku, Choi Minho. Kakak angkatku itu selalu menjadi lelaki idamanku. Ia tak pernah absen menghadiri mimpiku setiap malam. Ia selalu memberiku kasih sayang lebih tapi aku tahu itu mungkin hanya kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya. Aku bahkan memberi tahu perasaanku terhadap kedua sahabat setiaku, Sohyun dan Jiyoung. Kwon Sohyun, gadis manis keluarga Kwon yang begitu baiknya padaku, bahkan tidak peduli statusku apa, keluarganya selalu menyayangiku.Kang Jiyoung, gadis cantik yang hidup di keluarga biasa namun selalu saja masuk jejeran peringkat atas di sekolah, ia selalu saja mau menjadi sahabat yang mengerti aku dan Sohyun.

 

Saat tahu hal itu, mereka sempat mengatakan itu mustahil bahwa aku bisa bersama dengan kakak angkatku. Tapi aku tetap saja ngotot bahwa aku harus bisa. Mereka malah mengomeliku karena aku selalu saja keras kepala. Akupun sempat diam selama beberapa hari pada mereka, namun mereka malah memberiku saran bahwa aku harus mengatakannya pada kakak angkatku itu. Akupun mulai menuruti itu. Tapi sayang, ketika aku gencar-gencarnya ingin mengatakan hal itu, kakak angkatku selalu sibuk dengan kakak Sohyun. Aku baru sadar bahwa kakak angkatku itu menyukainya. Aku menjadi semakin jauh dan semakin jauh darinya, membuatku jadi frustasi sendiri.

 

Hingga beberapa hari setelah itu, aku mendapat ide yang brilian namun cukup gila. Aku akan meminta orang tua angkatku untuk mengadakan pertunangan antara aku dan kakak angkatku. Mereka jelas menolak hal itu dengan keras. Selain mempermalukan nama baik keluarga dengan mengadakan pertunangan sesama saudara meskipun aku hanya anak angkat, ternyata hal itu membuatku tahu akan siapa orang tuaku sebenarnya. Aku sempat marah mendengar mereka menolak ideku, namun akhirnya orang tua angkatku itu angkat suara mengenai orang tua kandungku.

 

“Tidak, Jinri-ya. Ayah tetap akan menolak idemu itu. Kau selamanya tetap anak kami dan tidak akan berubah kenyataan itu.”

 

“Tapi, ayah. Meskipun aku nantinya menikah dengan Minho oppa, aku tetap menjadi anak kalian. Lagipula jangan pedulikan pandangan orang lain sekali ini!”

 

“Ya tuhan, apa salah kami, hal itu benar-benar tidak boleh, sayang.”

 

“Kenapa itu tidak boleh? Jelaskan kenapa, ayah, ibu. Jika ini memang bukan karena nama baik keluarga, lalu kenapa?”

 

“Jinri… Kau sedarah dengan Minho…”

 

“A—apa? Tapi—bagaimana?”

 

“Kau adalah anak adik kandungku, Jinri. Kakekmu memintaku untuk mengangkatmu menjadi anak kami mengetahui adikku melahirkanmu tanpa menikah.”

 

“Ti—tidak, itu mustahil. Ayah hanya bohong kan? Itu hanya lelucon kan?”

 

“Ayah tidak bohong, sayang. Kedua kakakmu juga tahu tentang ini…”

 

Aku hampir saja memilih bahwa mungkin aku maih di dalam mimpi, namun mimpi buruk itu begitu nyata. Aku dapat merasakan sakit hatiku begitu nyata saat itu. Kenyataan buruk lainnya tentangku, tidak hanya aku seorang anak angkat, tetapi aku juga anak yang lahir di luar pernikahan. Ternyata diriku begitu hinanya,hingga ibu kandungku sendiri malah tidak mau merawatku dan menyuruh kakaknya untuk menjadikanku anak angkat.

 

Aku diam saja ketika Jiyoung dan Sohyun menjemputku pergi ke pesta ulang tahun kekasih Jiyoung. Sejujurnya moodku benar-benar sudah buruk mengetahui kenyataan tentang diriku. Aku tidak berbicara satu patah katapun pada kedua sahabatku itu, mereka juga tidak menggangguku tahu bahwa aku berada di mood yang buruk. Aku bahkan tidak pamit pada kedua orang tua-bukan, paman-bibiku saat berangkat tadi.

 

Ketika, kami bertiga berpisah. Jiyoung langsung mendatangi kekasihnya sedangkan Sohyun langsung pergi mendatangi teman satu klubnya. Aku hanya memilih duduk di bar sambil memesan wine mencoba menenangkan perasaanku dengan minum. Sayangnya aku tak sendirian yang memilih meneguk wine daripada menikmati pesta seperti ini yang biasanya kunikmati. Seorang lelaki berpakaian rapi tampak mabuk itu kembali meneguk wine yang dituangkan bartender.

 

“Hoh, Choi Jinri?”

 

Ya, lelaki itu Lee Taemin, teman sekelasku sejak TK. Kami hanya tumbuh menjadi teman akrab namun tidak begitu dekat. Karena kedua keluarga kami mengenal satu sama lain, aku sering bertemu dengannya. Dia bukanlah seorang pemabuk selama aku mengenalnya, namun melihatnya mabuk sekarang, rupanya tak hanya aku yang memiliki hari yang buruk.

 

“Kau sudah mabuk ya? Ya ampun, di hari ulang tahun sahabatmu, Jongin, kau malah mabuk, dasar bodoh!”

 

“Aku hanya berusaha memperbaiki hariku, Jinri-ya. Tunggu, bukannya kau tidak seharusnya hanya duduk disini?”

 

“Ya, sama sepertimu, aku juga mempunyai hari yang buruk.”

 

“Kalau begitu lebih baik kita melupakan hari buruk kita dengan minum sepanjang malam.”

 

“Ya, itu ide yang bagus.”

 

Saat itu aku benar-benar bodoh memang mencoba meluapkan kekesalan hatiku dengan minum sepanjang malam. Tapi apa yang bisa kulakukan, setidaknya aku bisa melupakannya sebentar saja hanya pada hari itu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya membuat hari Lee Taemin begitu buruk hingga mau menemaniku atau mungkin lebih tepatnya bersamaku minum. Bahkan kedua temanku saja tidak bersamaku tidak seperti biasanya. Tapi aku memaklumi itu, Jiyoung jelas harus menemani kekasihnya yang mana si empunya pesta sedangkan Sohyun pasti hanya bisa menjadi gadis manis di depan kekasihnya.

 

Aku tahu aku memang harus mengakui kesalahanku untuk tidak memikirkan apapun resiko yang terjadi ketika aku minum semalaman. Tentu saja aku mabuk dan tidak sadarkan diri, tapi keadaanku saat itu benar-benar tidak kuduga dan terkira sama sekali. Ketika aku bangun, aku sadar bahwa aku tidak berada di kamarku, karena sangat tidak mungkin Jiyoung mengantarku dengan keadaan mabuk sekiranya tahu bagaimana tegasnya ayah-ah bukan, pamanku itu. Kepalaku begitu berat saat itu tidak mengingat apapun yang terjadi dan ketika aku membuka mataku aku melihat punggung telanjang seorang lelaki di sampingku, aku hanya bisa membeku. Melihat rambutnya yang begitu kukenal, aku sadar siapa sosok lelaki ini. Yang kupertanyakan di kepalaku, bagaimana bisa aku bisa berada di sini bersamanya. Akupun memilih tidak mempermasalahkan hal itu dan bangun dengan selimut yang meliliti tubuhku lalu memunguti bajuku dan masuk kamar mandi.

 

Ketika aku sudah selesai mandi dan keluar dengan baju yang lengkap, aku melihat lelaki itu sudah bangun. Ia menatapku dengan wajah bingungnya. Akupun hanya bisa menjawab bahwa kami tidak sengaja tidur bersama. Ia bahkan sempat meminta maaf padaku atas kejadian kemarin tapi aku menjawabnya dengan datar dan menyuruhnya untuk melupakannya saja. Aku pikir hal ini terjadi karena ketidaksengajaan kami berdua jadi tidak ada satu orangpun yang bisa disalahkan apalagi itu ketika kami berdua mabuk, ya kami adalah aku dan Taemin.

 

Setelah kejadian itu, hal-hal yang tak pernah kusangka terjadi. Aku mulai melanjutkan kehidupanku seolah-olah sesuatu tak pernah terjadi. Aku bersikap seperti biasa pada semuanya. Aku mulai menyibukkan diriku dengan sekolah dan teman-temanku dan menganggap bahwa keluargaku bukanlah segala-galanya lagi. Aku dan Taemin bahkan menjadi lebih dekat dari biasanya. Jiyoung dan Sohyun heran sendiri padaku, mereka tahu bahwa aku tak pernah begitu suka dekat dengan anak lelaki kecuali untuk seperlunya saja. Tapi tidak untuk Taemin, aku merasa cocok dengannya dan ia begitu mengerti diriku. Aku bahkan officially dating dengannya ketika ia mengatakan ingin berkencan denganku. Aku hanya merasa nyaman dan percaya padanya. Ia begitu jujur dan menurutiku, bahkan lebih bersikap baik padaku dibandingkan sikap Minho oppa yang dulu begitu kusukai.

 

Whether my blackened memories met the light or was erased from the dazzling light

Your warm arms that embraced me was heaven

Now I can’t find you anywhere, it’s hell

 

Tapi kebahagiaan dan ketenanganku tidak dapat berlangsung selamanya. Aku berpikir bahwa Taemin adalah orang yang tepat bersamaku selamanya, tapi tidak hal itu tidak terjadi. Ketika ada anak baru di sekolah bernama Son Naeun, aku mulai kembali terpuruk. Hal yang kucoba kulupakan kembali mulai muncul ke permukaan. Aku tahu bahwa dia begitu menyukai Taemin apalagi dia adalah teman kecil Taemin, dia tidak begitu suka padaku. Ketika Taemin mencoba menolak permintaan orang tuanya mengenai pertunangannya dengan Naeun, Naeun mengancamku untuk melepaskannya. Awalnya aku tidak begitu mempedulikannya, karena ia pasti hanya ingin mendapatkan Taemin. Tapi ketika hari kelulusan, ia membuktikan perkataannya. Ia berdiri di depan podium pada pesta kelulusan seolah-oah menjadi panitia pesta ingin memberikan sambutan.

 

“Nah, sebelum kita lulus dan berpisah, ada hal yang harus kita lakukan bukan seperti membuka rahasia yang kita miliki? Nah, Choi Jinri, silakan sampaikan rahasiamu terlebih dahulu sekarang!”

 

“Son Naeun, kau tidak bisa—“

 

Awalnya aku heran mendengar perkataan Naeun itu. Ia bukanlah teman dekatku namun bagaimana ia bisa tahu rahasiaku. Namun, kemudian aku sadar ketika Taemin mencoba memotong perkataan Naeun itu. Taemin yang membocorkan rahasiaku? Kekasihku sendiri?

 

“Tidak ada lagi yang bisa kututupi, tunanganku tersayang. Kekasih dari tunanganku yang bernama Choi Jinri ini adalah anak angkat dan ia tidak memiliki orang tua. Dasar gadis buangan!”

 

Sejak itu, aku tidak pernah muncul atau lebih tepatnya dianggap sebagai teman sekelas lagi oleh teman-temanku yang mungkin dulu mendekat denganku agar tenar. Aku hanya bersama Jiyoung dan Sohyun, mereka tahu itu dan mereka menerimanya. Aku tidak melakukan apapun pada Naeun, lagipula aku tidak ingin membuang-buang waktuku dengan sia-sia. Aku tahu gara-gara kenyataan itu tersebar, nama baik keluargaku menjadi sedikit surut, tapi keluargaku tidak berkomentar apapun, mungkin bagi mereka itu hanyalah hal biasa, jelas tidak bagiku.

 

Hidupku yang semula kuanggap baik-baik saja kutata kembali. Aku memutuskan hubunganku dengan Taemin. Ia tidak mau menerima keputusanku bahkan ia minta maaf pada ayah angkat alias pamanku dan meminta kami bertunangan atau apapun yang berhubungan dengan itu. Tapi, semua itu digagalkan oleh kedua orang tuanya yang jelas tidak akan menerimaku yang statusnya anak haram. Aku sudah tidak sakit hati namun aku hanya mengatakan pada Taemin untuk menyerah dan mengatakan bahwa aku kembali menyukai kakak angkatku sebagai alibi sehingga percuma saja ia meminta-minta hal yang jelas sudah tidak kuinginkan-baca:dalam artian aktingku pada Taemin. Ia pun menyerah dan aku memilih kuliah ke Hongkong memulai hidup baru dan berpisah dengan kedua sahabatku, Jiyoung ke Tokyo dan Sohyun yang menetap di Seoul. Tanpa kusadari, aku tetap memiliki perasaan yang sama pada Taemin sejak dulu yang bahkan lebih kuat dibanding untuk Minho oppa yang semula adalah perasaan yang benar-benar akan bertahan lama. Aku marah pada istri Minho oppa bukan karena aku cemburu dia dapat memiliki Minho oppa, aku hanya cemburu melihatnya bisa membuat keluargaku bahagia dan bahkan membuat nama baik keluargaku semakin baik lagi, bukan sepertiku yang membuat nama baik itu terbuang seperti diriku yang memang terbuang.

 

 

 

 

“Kau bukanlah orang yang seperti itu—“

 

“Jangan sok tahu, kau tidak tahu apapun!” Jinri berseru memotong ucapan Soojung.

 

Soojung menghela nafas, ia paham perasaan Jinri itu. Ia tahu perasaan yang bagaimana yang dirasakan ketika nama baik keluarganya hancur, ia merasakan itu ketika kakaknya mulai memiliki penyakit mental akibat Jaejoong. Tapi ia harus mengingatkan pada Jinri bahwa semua itu bukanlah salah Jinri. Ia sudah bertemu dengan ibu kandung Jinri di pesta pernikahannya, ia begitu baik dan cantik seperti Jinri. Sayang, ia harus menerima kenyataan selama hampir dua puluh tahun berpisah dengan putri kandungnya dan memilih bekerja sepanjang hidupnya tanpa melakukan hal apapun selain itu untuk mencoba memperbaiki kesalahannya dulu.

 

Soojung diam sebentar kemudian berkata dengan bijak,”Aku tahu perasaan itu, Jinri. Kakakku memiliki penyakit mental dan sekarang ia menjalani terapi, seperti apa yang kau katakan padanya dulu, ya dia gila dan semua orang tahu itu. Tapi kau hebat, kau mungkin bisa menjadi penyebab nama baik itu hancur, namun kau bertahan dan berusaha memperbaikinya, tidak seperti kakakku yang memilih jalan seperti itu kan?”

 

Jinri tertegun tak bisa menjawab apapun dari pernyataan Soojung, ia tahu bahwa perkataan Soojung memang benar. Tapi inilah yang membuatnya semakin membenci dirinya sendiri. Dia tidak bisa seperti Soojung yang dewasa dan mampu mengerti hal-hal seperti itu. Ia benci dirinya, ia benci dirinya benar-benar kurang dibanding Soojung yang notabenenya kakak iparnya itu.

 

“Kurasa kau harusnya bisa membuka hati pada keluargamu, mereka setia menunggumu dan menyayangimu, Choi Jinri.”

 

Please wake me from this nightmare

The scars nailed into my heart can’t be erased

I can’t forget you, who crossed over the darkness and came to me

-TBC-

Thursday,March 24th 2016 9.38 pm

Hai guys! Aku minta maaf banget karena telat banget ngelanjutinnya. Chapter ini juga chapter yang membosankan dan susah menurutku, karena moodku berganti-ganti saat menulisnya. Ini kulanjutin sama inget-inget tugas UTS, aku bukan sedang hiatus tapi di kampusku memang yang sibuk itu ya pas semester 1 dan 2 karena ada kuliah bahasa arab tiap hari dan sampai jam malam. Well, nggak mau banyak bicara deh, Cuma mau minta doa buat UTS ku senin ini, doain lancar ya 😀 Hope you like it~ GIVE ME YOUR FEEDBACK>>>

Advertisements

5 thoughts on “A marriage, Chapter 8

  1. Akhrinya update juga setelah sekian lama. Semoga chapter selanjutnya bisa segera di publish ya… dan juga di chapter selanjutnya ada moment soojung dan minho dong wkwk.. semangat!!

  2. Akhirnya update juga ini ff hampir satu tahun gak update. Chapter ini khusus jinri feeling ya. next chaptnya moment minstalnya tonjolin ya. gomawo..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s